Kalau ada akhwat yang mempesona itu sih udah biasa, tapi kalau ada ikhwan yang mempesona kan jarang-jarang ada, hehe… Ups, sori! Jaga hati neng!
Tulisan ini terilhami dari salah satu postingan temanku, Adi. Di mana Adi pernah bercerita tentang seorang akhwat yang dijumpainya dalam perjalanan Jakarta-Bandung, akhwat (yang tidak dikenalnya) tersebut telah mengingatkan Adi tentang beberapa hal yang sempat dilupakannya. Mending baca sendiri ya, di postingan Adi ini, sekaligus kenalan sama Adi bagi yang belum kenal. Nih Di, aku bantuin promosi blogmu lho
Cerita ini tentang seorang ikhwan, yang aku jumpai dalam perjalanan dari MPI ke DT hari Ahad beberapa pekan yang lalu. Seorang ikhwan yang tidak aku kenal, dan aku pun tidak ingin kenalan dengannya (ngapain lah?)
Seperti biasa, selesai kajian di MPI banyak yang meneruskan untuk ikut kajian di DT. Jarak yang begitu dekat (hanya sekitar 1 km), membuat lebih enak berjalan kaki daripada naik angkot. Ya iya lah, kalau naik angkot kan harus ke jalan Setiabudi dulu.
Nah, waktu itu ada dua orang ikhwan berjalan di depanku. Tentang perawakannya aku udah lupa, ngapain juga nginget-inget! Satu orang di antaranya membuatku ‘terpesona’ karena perbuatannya. Inget ya, ini bukan masalah hati!
Mungkin kalian yang sering ke MPI sudah hafal bahwa di sekitar jalan keluar (Geger Kalong Hilir) ada banyak orang yang memiliki profesi ‘krida lumahing tangan’ (peminta-minta). Nah, si ikhwan tadi selalu ngasih uang ke setiap peminta-minta yang ada. Walau (yang aku lihat dari belakang) hanya sekeping uang untuk satu orang peminta-minta.
Hal ini mengingatkanku. Sudahkah aku bersedekah hari ini? atau bahkan pekan ini? Hmm… aku emang bukan orang yang memiliki banyak uang. Tapi aku jadi inget baju-bajuku di lemari ada beberapa yang jarang aku pakai lagi, buku-bukuku ada beberapa yang udah selesai aku baca, ilmuku ada yang belum aku sampaikan ke orang lain, dan masih banyak lagi.
Cerita selanjutnya, saat ayunan kakiku sampai di jalan Geger Kalong Tengah, ku lihat di tengah jalan ada ranting pohon tergetelak. Ikhwan itu lalu menyingkirkan (baca: menendang) ranting pohon tersebut ke tepi jalan.
Hal ini kembali mengingatkanku akan sebuah hadits “Engkau menyingkirkan sebuah duri di jalan, adalah sedekah”. Ya, sedekah tidak harus berwujud benda, tapi bisa juga perbuatan kita yang memberi kemudahan kepada orang lain. Bahkan senyum kita kepada saudara kita pun sedekah. Aku jadi mikir, hari ini aku udah senyum belum ya?
Ketika hampir sampai DT, kedua ikhwan tersebut mampir ke sebuah warung. Berarti selesai donk kisah ini. Masak aku harus ngikutin masuk ke warung untuk melihat akhlaqnya yang lain, hehe… Ntar niat ke DT nya berubah donk
Ya sudah, berarti kita berpisah… Kecewa? Nggak lah!
Kejadian ini mengingatkanku akan kata Ali bin Abi Thalib, “Allah tidak mempertemukan kita dengan seseorang, kecuali ada pelajaran yang dapat kita ambil”. Juga taushiyah seorang kawan, “Setiap kejadian bukanlah tanpa makna, melainkan ia adalah tarbiyah dari Allah”.
Syukron, jazakallah akhi… atas ‘pelajaran’ yang telah kau berikan padaku. Semoga Allah senantiasa mengistiqomahkan setiap ayunan langkah kita.
Artikel terkait:
