Aku punya seorang teman akhwat, yang selama ini ia selalu merasa takut untuk menikah. Satu-satunya alasan kenapa ia takut menikah adalah karena ia takut menjadi istri.
Ketika aku bertanya, mengapa ia takut menjadi istri, ia pun dengan lancar menyebutkan belasan alasan:
- istri harus patuh terhadap suami
- istri harus menurut semua keinginan suami
- jika suami minta istri melayaninya, istri harus memenuhinya saat itu juga
- jika suami minta istri tidak bekerja, istri harus nurut
- jika suami minta istri tidak boleh keluar rumah, istri harus nurut
- jika suami beda pendapat dengan istri, istri harus mengalah
- jika suami salah, maka istri tidak berhak menyalahkan suami
- dan seabreg alasan lainnya.
Mungkin inilah akibat pemahaman terhadap Islam yang dangkal.
Sungguh, Islam tidak memperbudak perempuan, justru Islam sangat memuliakan perempuan. Memang seorang istri wajib mematuhi suaminya selama tidak melanggar larangan-Nya, tapi bukan berarti seorang istri meng-hamba pada suaminya.
Islam mengajarkan syura’ atau musyawarah dalam kehidupan, termasuk kehidupan suami istri. Suami tidak berhak memaksakan kehendaknya kepada istri. Suami tidak berhak memvonis istri, harus ini atau harus itu.
Bahkan, jika seorang suami memaksakan kehendaknya kepada istrinya, sehingga istri merasa tersakiti baik hati dan fisiknya, maka istri berhak mengadukan ke pengadilan. Dan jika pengaduannya diterima, maka jatuhlah talak satu kepadanya.
Menikah, bukanlah membuat diri menderita, namun membuat hati merasa lebih tenteram.

By Gelandangan on May 7, 2008 | Reply
salam kenal
rumah baru yah
salam kenal juga
iya, rumah baru.
By indz on May 8, 2008 | Reply
Hmm, mungkin takut punya anak juga kali mbak ^_^
indzs last blog post..FF Chartest
Bisa jadi. Kenapa juga harus takut punya anak ya? Bukankah anak adalah anugrah dari Allah, dan tidak semua orang dikaruniai anak
By ahmad on May 15, 2008 | Reply
ga tau betapa bahagianya ngeliatin adik kecil. walo ga bisa ngomong minta ini itu.. tapi dia dah bisa ngomong ‘maammma..’.
somehow.. it’s so relaxing just to watch her grow
dan membangun keluarga.. raising a family.. membangun ikatan lebih dari sekedar teman.. pengabdian.. true share.. responsibility.. excitement
ahmads last blog post..Berkemas
anak adalah keajaiban… keluarga adalah surga dunia…
By Syafrudin on Jun 19, 2008 | Reply
Menurut saya, Islam seperti yang tertera dalam Quran menganut faham kesetaraan laki - laki dan perempuan, suami dan istri, namun tetap menempatkan suami (laki - laki) semili lebih tinggi di atas istri (perempuan). Mengapa harus ada perbedaan meski cuma semili ? Karena dalam kondisi keduanya sama - sama benar, sama - sama punya dalil, harus ada yang berhak mengambil keputusan agar tidak deadlock, dalam hal ini suami (laki - laki).
Salah besar kalau istri harus selalu mengalah dan tidak berhak menyalahkan suami. Suami harus sadar dan mengalah, manakala istri benar (ada dalil syariatnya) dan suami salah (secara syariat).
Kepatuhan istri terhadap suami sebetulnya cuma ketika suami memang benar, atau dalam hal yang “semili” tadi. Dalam hal istri punya kehendak yang ada dalilnya, suami tidak bisa melarang istri berdasarkan pendapat sendiri tanpa dalil tandingan. Kalau secara syariat istri bekerja adalah sebuah kebutuhan umat (misalnya istri seorang bidan sedang di daerah itu tidak ada bidan), suami seharusnya tidak punya dalil untuk melarangnya.
Tentang kewajiban memenuhi keinginan jasmaniah atau batiniah suami, sebetulnya ini kewajiban timbal balik, suami juga wajib memenuhi keinginan jasmaniah atau batiniah istri.
Berkaitan dengan kewajiban hubungan suami - istri ini, saya jadi ingat bahwa di samping ada anjuran agar istri minta ijin puasa sunah ketika suami di rumah pada siang hari, maka ada juga teladan nabi untuk minta ijin sholat malam kepada istri. Jadi dalam hal ini menurut saya tidak ada lebih tinggi.
Masalahnya banyak di antara kita yang tidak bisa membedakan mana nilai Islam (yang Qurani dan Rabbani) dan nilai feodalisme / patriarki (yang diwariskan turun - temurun meski sebetulnya tidak Islami).
Dari sudut pandang feodalisme, suami adalah raja, sedang istri dan anak adalah rakyat. Maka tidak heran ada tradisi istri (dan anak) harus melayani suami seperti rakyat melayani raja. Dalam hal makan misalnya, suami harus makan terlebih dahulu, sedang istri terakhir, mendapatkan sisanya.
Padahal kalau kita melihat dari sudut pandang Islam, akan bertolak belakang. Suami adalah pemimpin, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Pemimpin adalah pelayan bagi yang dipimpinnya. Dalam hal makan misalnya, sebagai pelayan, seperti ucapan Umar, justru pemimpin harus yang pertama kali lapar dan terakhir kali kenyang.
Saya pribadi cukup sering minta maaf kepada istri karena takut perbuatan saya sebagai suami dilandasi oleh tata nilai feodal warisan tradisi, bukan dilandasi oleh tata nilai Islam yang Qurani dan Rabbani.
Maaf, dalam hal ini salah satu kunci sukses berumah tangga.
makasih mas, atas penjelasannya…