Kalau biasanya orang menyiapkan pernikahannya sejak beberapa bulan sebelumnya, bahkan beberapa tahun sebelumnya, maka aku hanya menyiapkannya dalam 3 minggu. Mesti ada kekhawatiran bagaimana kalau dalam 3 minggu ini surat nikah belum jadi, tapi alhamdulillah semuanya dimudahkan oleh Allah.
Berikut beberapa persiapan teknis menjelang Hari H:
Surat-surat Nikah
Berhubung setelah akad aku langsung kembali ke Bandung, maka surat-surat nikahku diurus oleh kakakku. Aku hanya ninggalin foto kopi KTP dan akta kelahiran, serta softcopy pas foto yang kukirim setelah tiba di Bandung. Kakakku yang mengurusnya dari RT, RW, Kelurahan, dan Kecamatan. Alhamdulillah, 2 hari sudah beres. Tinggal menunggu dokumen dari calon mempelai laki-laki.
Calon suamiku juga melakukan hal yang sama di Sukoharjo, tapi karena beberapa dokumen ditinggal di Surabaya, jadi agak lama. Akhirnya dokumen-dokumen tersebut dikirim ke Yogya. Dokumen milikku dan calon suamiku digabungkan lalu diserahkan ke KUA. Selesai sudah urusan. Waktu akad pun sudah ditentukan, yaitu hari Ahad, 9 September 2007 pukul 10.00.
Undangan
Makasih buat Mas Teguh (EL 99) yang udah ngasih undangan gratis buatku, katanya sih sebagai hadiah pernikahanku. Waktu itu kakakku bilang bahwa di Yogya tidak ada percetakan undangan untuk jumlah yang sedikit. Dan Mas Teguh menawarkan padaku undangan gratis sebanyak 100 buah.
Langsung aja aku dengan diantar Novi ke tempat Mas Teguh di Sarijadi. Di sana kami memilih-milih desain untuk kartu undangan. Kami memilih undangan berwarna biru muda, dengan ukuran kecil (1/2 halaman A4), karena memang untuk ukuran inilah aku dikasih gratis. Undangan jadi dalam waktu 3 hari.
Souvenir
Aku mencari souvenir di Pasar Baru. Sempat bingung juga karena ada banyak souvenir bagus, seperti gantungan kunci, hiasan kulkas, tempat lilin, tempat baju, sendok/garpu, gunting kuku, hekter, lilin, dan sebagainya. Setelah berdiskusi dengan calon suamiku, akhirnya aku membeli sendok/garpu mini.
Baju Pengantin
Untuk baju pengantin, aku meminjam punya kakak iparku. Untuk akad sudah ada kebaya warna putih, tapi ternyata ukurannya ketat, ngepress ke tubuhku. Jadi aku beli phashmina (semacam selendang panjang yang dipakai di luar jilbab, dari kepala sampai ke badan). Untuk jilbabnya, aku beli di Alisha. Kemudian untuk bawahan, sebenarnya di rumah ada banyak kain jarik punya ibuku, tapi aku ga suka pakai jarik, jadi aku beli rok motif batik di Pasar Baru.
Hehe… aku sampai menghabiskan waktu 3 hari untuk belajar pakai jilbab, karena aku sama sekali ga pernah pakai jilbab yang dimodif. Aku sampai mencoba beberapa macam gaya memakai jilbab, tapi hasilnya pada jelek, akhirnya aku pakai gaya yang sederhana aja. Jilbab putih ditumpuk dengan jilbab emas, kemudian taruh hiasan di atasnya. Luarnya dilapisi dengan phashmina lagi. Alhamdulillah, meski hasilnya jelek, tapi terlihat agak rapi, dan yang penting masih bisa menutup aurat dengan baik. Kebaya yang sebenarnya ketat jadi tidak terlihat karena terlapisi phashmina.
Untuk resepsi aku pakai baju pinjaman dari kakakku (lagi) setelan warna hijau, yang sebenarnya kebesaran, tapi bagiku ga masalah. Justru kalau kebesaran, aku jadi terlihat lebih gemuk, hehe… Aku tinggal beli jilbab dan phashminanya. Selain itu aku juga beli sepatu warna emas, harganya Rp 35.000 di Pasar Baru.
Artikel terkait:
