Alhamdulillah… setelah hampir 9 bulan ini menjalani masa pengobatan intensif, aku dinyatakan sembuh!
Bagi yang telah mengenalku lebih lama, tentu masih ingat bulan Juli tahun 2007 kemarin (hari-hari menjelang wisudaku), aku menjalani rawat inap di Rumah Sakit. Kalau belum tahu, silakan baca cerita bersambung (1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10) ini 
Episode itu sebenarnya belum berakhir…
Setelah cairan di paru-paruku diperiksa, hasilnya… aku dinyatakan positif mengidap penyakit tuberculosis (untuk selanjutnya disingkat TB).
Sebuah ujian yang cukup berat kuterima (waktu itu).
Tapi aku bersyukur… karena dilahirkan di jaman modern, di mana sudah tersedia obat-obat dan peralatan medis canggih untuk mengobati penyakitku. Berbeda dengan jaman dahulu, orang terkena TB itu harus diasingkan, dan kata seorang dokter “jaman dahulu orang kena TB pasti akhirnya mati” (maksudnya mati disebabkan penyakit tersebut). Kata-kata dokter tersebutlah yang membuatku bersemangat, bahwa aku harus sembuh, malu ah masak aku mati karena terserang TB.
TB adalah penyebab kematian orang tertinggi ketiga di dunia, setelah penyakit jantung dan kanker.
Tapi aku bersyukur… penyakit ini hanya menyerang paru-paruku. Sedangkan ada orang di luar sana yang menderita TB tulang, TB darah, TB otak, dan sebagainya. Mycobacterium tuberculosis memang bisa tinggal di bagian tubuh mana saja. Dan penyakit TB paru merupakan penyakit paling ringan dibanding TB-TB lainnya.
Untuk sembuh dari penyakit TB, penderita harus menjalani pengobatan intensif selama minimal 6 bulan. Selama itu, pengobatan tidak boleh terputus. Satu hari saja lupa minum obat, akan menyebabkan virus tersebut kebal, dan pengobatan harus diulang dengan dosis ditingkatkan. Jika setelah menjalani pengobatan tersebut, ternyata penderita tidak mengalami perkembangan ke arah lebih baik, maka dilanjutkan ke pengobatan berikutnya, yaitu pemberian injeksi (suntikan) setiap hari selama 3 bulan tanpa putus. Jika pengobatan tersebut gagal juga, maka penderita tersebut dinyatakan tidak dapat disembuhkan, dan untuk memperpanjang umurnya ia harus minum obat setiap hari selama hidupnya!
Ngeri ya? Aku juga merasa ngeri ketika mengetahui penyakit yang aku derita merupakan penyakit kronis.
Tapi aku bersyukur… meski aku mengidap TB, aku tidak merasa seperti orang sakit. Seorang temanku mantan penderita TB pernah bercerita bahwa pada saat sakit, ia sering mengalami batuk darah. Sedangkan aku, batuk aja hampir tidak pernah, kecuali saat menjelang disedot dulu. Aku hanya sering merasakan… rasa sakit di dada di awal waktu.
Dan aku bertekad, aku harus sembuh!
Awalnya, aku sering mengeluh, kenapa harus aku yang menderita penyakit ini? Aku yang dulu paling susah menelan obat, kini dipaksa menelan 10 butir obat setiap hari. Aku yang dulu paling takut melihat jarum suntik, kini harus merelakan lenganku diambil darah setiap minggu. Kenapa harus aku?
Tapi aku menemukan jawabannya. Kenapa harus aku yang menderita semua ini? Karena aku percaya, Allah sedang menyiapkan tempat terbaik untukku. Bukankah jika seseorang menghadapi cobaan, maka ada dua kemungkinan: azab dari Allah atas dosa-dosanya atau Allah akan mengangkat derajatnya.
Maka, aku bertekad mulai saat itu tak ada keluhan. Ketika aku harus menghadapi kenyataan yang tidak sesuai harapanku, maka kucoba untuk selalu tersenyum sambil berdoa, Ya Allah, jika sakitku ini merupakan azab atas dosa-dosaku di masa lalu, maka gugurkanlah dosa-dosaku. Ya Allah, jika sakitku ini merupakan kehendak-Mu yang ingin menaikkan derajatku, maka jadikan aku dalam golongan orang-orang yang sabar.
Aku sengaja menyembunyikan penyakitku ini pada teman-temanku, kecuali beberapa orang saja. Karena aku tidak ingin diperlakukan seperti orang sakit. Aku ingin tetap berktivitas seperti biasa, seperti orang sehat pada umumnya.
Satu ujian lagi… awal masa pengobatan ini adalah saat aku sedang ta’arufan sama calon suami. Dan calon suamiku waktu itu berniat mengundur hari pernikahan sampai aku sembuh. Padahal aku ingin cepat menikah, biar ada orang yang merawat aku ketika sakit. Tapi kalau namanya sudah jodoh, kan tak ada orang yang bisa memajukan atau memundurkan, buktinya kami telah menikah 7 bulan sebelum aku sembuh 
Masa pengobatanku memakan waktu selama hampir 9 bulan. Dua bulan pertama aku bagaikan kelinci percobaan. Bermacam-macam obat diberikan, tapi tubuhku selalu menolaknya. Inilah mengapa setiap minggu aku harus menjalani tes darah, tes darah itu untuk memeriksa kondisi hatiku. Obat-obatan yang dikonsumsi dalam jumlah banyak setiap hari dapat memberikan efek buruk bagi hati. Aku bersyukur sekali, dokter yang menanganiku menyuruhku tes darah, karena ada dokter yang hanya memberikan resep obat tanpa memperhatikan dampak obat tersebut ke pasien.
Kini aku sudah sembuh, bukan penderita TB lagi, meski cacat di paru-paruku tak bisa hilang. Dulu aku pernah diceritakan temanku, kalau aku sembuh nanti, bekas luka di paru-paru tak kan hilang, ternyata benar. Ya, gpp lah. Emang siapa orang yang mau melihat foto thorax-ku? 
Apakah ikhtiarku telah berakhir? Tentu ikhtiar tak pernah berakhir sepanjang hidup. Karena aku pernah menderita TB, maka aku akan lebih mudah terserang TB lagi daripada orang yang belum pernah menderita TB. Pengalaman ini membuatku lebih memperhatikan kesehatanku. Bahwa kesehatan itu sangat mahal harganya, memanglah benar. Selama masa pengobatan ini aku telah menghabiskan uang lebih dari Rp 10 juta. Memang, mencegah jauh lebih baik daripada mengobati.
Alhamdulillah… satu ujian telah berlalu… Aku percaya setiap penyakit pasti ada obatnya. Dan faktor utama penentu kesembuhan adalah faktor spiritual dan keyakinan untuk sembuh.