Dulu waktu SD aku ini rajin menabung, tapi sekarang susahnya minta ampun. Padahal rekening tabungan aku punya beberapa, tapi semuanya sama, saldo hanya beberapa ribu rupiah. Ya, gimana donk, tiap aku ke bank untuk menabung, pasti keesokan harinya aku ke ATM untuk mengambilnya. Aku ini paling ga tahan nyimpen uang di bank (apalagi di dompet), pasti tiap ada uang sisa aku selalu tergoda untuk beli buku.
Sejak kelas 5 SD aku udah terbiasa dikasih uang saku per bulan. Uang saku pertamaku adalah Rp 5000 per bulan. Kemudian mulai meningkat, waktu SMA uang sakuku Rp 50.000 per bulan. Waktu SMA juga bisa dibilang aku masih rajin menabung.
Menginjak bangku kuliah, aku menuntut meminta uang saku Rp 500.000 per bulan. Mulai saat itu aku kenal yang namanya buku, dan sejak itulah aku tidak lagi rajin menabung. Tapi alhamdulillah uang saku selalu cukup, aku boleh dibilang orang yang sangat hemat untuk makan.
Beberapa tahun terakhir ini, aku tidak meminta uang saku lagi, meski kadang orang tua ga ‘tega’ -karena aku satu-satunya anak yang hidup di rantau- kalau aku ga dikasih uang saku, jadi kadang sering dikirimi. Ya, aku seneng-seneng aja dikirimi uang saku (baca: berharap), meski aku ga mau minta. [tak terhitung terima kasih buat almarhum ibu, yang sering merasa tidak tega anaknya tanpa uang saku]
Beberapa tahun terakhir inilah, aku mulai kenal yang namanya hutang-piutang. Ga tanggung-tanggung, kalau dulu paling pinjam uang Rp 20.000 ke teman kosku saat kiriman belum datang, sekarang aku dah berani pinjam uang dalam jumlah jutaan. Saat aku pindah kontrakan baru, beli laptop, semuanya berkat bantuan temanku yang baik sekali padaku mau pinjemin aku uang. Ya, aku kini merasa bahwa hidup paling tidak enak adalah saat kita punya hutang, hati merasa tak tenang, sering mikir kalau misalnya aku mati besok siapa yang bayar utangku, kalau ga dibayar kan berarti aku dosa. Aku kapok punya hutang, saat ini aku mencoba semaksimal mungkin ga akan berhutang lagi, kapok!! [buat teman yang pernah ngasih piutang, kalau kamu baca tulisan ini, makasih banget ya... udah banyak membantuku 'hidup', aku janji deh ga akan berhutang lagi, semoga Allah membalas kebaikan padamu. amin]
Kata temenku, sebaiknya kita bikin rencana keuangan tiap bulan. Justru inilah, rencana keuanganku tak tentu. Yang aku bikin sih malah rencana pembelian buku tiap bulan. Sebenarnya pengeluaran pokokku tiap bulan ga begitu besar. Untuk makan paling aku habis Rp 50.000 per minggu, jadinya sekitar Rp 200.000 per bulan. Alhamdulillah aku udah biasa puasa Senin-Kamis atau Daud. Ya, kalau diirit-irit seirit-irit mungkin, aku cukup dengan pengeluaran Rp 300.000 per bulan, di luar biaya kos (kosku aku bayar per tahun). Toh kosku dekat dengan kampus, jadi ga ngluarin uang transport. Aku juga ga pernah punya agenda belanja bulanan -seperti yang sering dikatakan teman-temanku- aku beli sabun ya ketika sabun itu habis, aku beli pasta gigi ya ketika pasta gigiku udah habis, itupun belinya di minimarket dekat kos. Aku paling males kalau pergi ke supermarket apalagi hipermarket.
Nah, yang bikin susah nabung itu, karena begitu besar gharizahku untuk beli buku dan teman-temannya. Sebulan aku bisa habis Rp 200.000 bahkan lebih untuk beli buku, majalah, dan sebangsanya. Ya, buku adalah hartaku yang paling berharga. Investasi masa depan, aku beli buku bukan untuk kubaca sendiri, melainkan bakal kuwariskan untuk anak-anakku dan keluargaku kelak.
Artikel terkait:
