Sering aku bertemu temanku di sebuah pertokoan, trus temanku bertanya “Sama siapa ke sini?” Aku jawab “Sendiri”. Trus kata temanku “Kasihan sekali…”
Halah… Emangnya kalau orang pergi sendiri itu patut dikasihani?
Aku memang suka sendiri, apalagi untuk urusan beli buku atau beli baju. Rasanya bisa bebas kalau pergi sendiri. Aku bisa berlama-lama melihat-lihat barang yang aku suka, bisa berpindah-pindah tempat tanpa ada yang marah kalau tiba-tiba aku tinggal.
Hobiku tahun kemarin adalah naik angkot tanpa tujuan, tujuanku ya ke ujung angkot itu berjalan. Dan aku benar-benar ga ingin ada orang mengikuti, apalagi temanku. Aku merasa puas bisa berjalan-jalan sendiri naik angkot, sambil mengenal daerah-daerah yang sebelumnya tidak aku kenal. Ga banyak sih angkot yang pernah aku coba, setidaknya aku jadi tau kalau angkot Dipati Ukur-Panghegar Permai itu sebenarnya ga sampai Perum Panghegar Permai, trus Riung Dago itu ternyata nama perumahan juga, trus angkot Sadang Serang-Caringin itu nanti muter di daerah Caringin (Kopo), angkot Cicaheum-Cibaduyut itu juga muter di Cibaduyut. Jadi sebenarnya ga ada lho terminal Cibaduyut, terminal Caringin, apalagi terminal Panghegar Permai.
Jadi teringat akan sebuah puisi ini,
Bahkan sekuntum mawar butuh tangkai tuk menyangganya
Bahkan sehelai daun butuh dahan tuk menopangnya
Bahkan sebatang pohon butuh akar agar tetap tegak berdiri
Namun
Sendiri atau tak sendiri
Sekuntum mawar tetap dapat memberi semerbak wanginya
Sehelai daun tetap dapat memberi kesegaran hijaunya
Sebatang pohon tetap dapat memberi kerindangannya
Sendiri atau tak sendiri
Artikel terkait:

#1 By Anonim
on 7 Jun 2008 | Reply
Sepertinya apa yang kamu tulis di postingan mengenai sendiri atau tak sendiri benar2 tentang diri saya. Saya bahkan ingin orang2 gak tahu siapa saya. Saya ingin menjadi Mr. Nobody, jadi gak ada orang yang tahu.
Puisi yang kamu tulis juga bagus, tapi saya gak terlalu suka dengan perumpamaan bunga mawar. Bunga yang saya suka adalah Teratai.
Salam,
awanlakmus