Jan '06
16

Rasa adalah Sebuah Fitrah

Files under Artikel | Posted by Amorita Kurnia Dewi

Bagi yang sedang jatuh cinta, harus baca tulisan ini (maksa!)
Bagi yang belum pernah jatuh cinta, harus baca tulisan ini (maksa juga!)
Bagi yang ingin jatuh cinta, harus baca tulisan ini (sekali maksa, tetap maksa!)

Gunung yang tinggi kan kudaki… Sungai penuh buaya kan kuseberangi… Lautan penuh badai (dan bajak laut serta ikan hiu) kan kuarungi, sambil berenang lagi… weks!
Yang namanya jatuh cinta memang dahsyat. Bisa bikin diri blingsatan sampai jungkir balik ga karuan. Makan tak enak, tidur pun tak nyenyak… kasian amat, kurus ntar!
Gula jawa serasa coklat, ikan asin serasa keju, air hujan serasa madu… ajaib bukan!

Tenang sodara-sodara!! Kali ini saya ga akan ngomporin kalian yang sedang jatuh cinta untuk nikah kok. Justru sebaliknya, saya ingin berbagi pengalaman untuk mengalihkan cinta tersebut. Ingat, mengalihkan! bukan menghilangkan! Yuk, bercinta yang sehat!

Sebelumnya, dengerin dulu apa kata Snada dalam syair Arti Cinta, berikut:
Ingin kukatakan arti cinta kepadamu dinda
Agar kau mengerti arti sesungguhnya
Tak akan terlena dan terbawa harumnya bunga asmara
Yang akan membuat dirimu sengsara

Sengsara? Ya!! Sengsara!
Ga percaya? Silakan coba sendiri!

O ya, perlu ingat pembahasan cinta kali ini, adalah cinta pada lawan jenis bukan mahram, di mana kita belum siap untuk nikah. Semoga bisa jadi topik yang menarik :)

Cinta Itu Fitrah

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran:14)

Namanya manusia, jatuh cinta itu hal yang wajar, karena cinta bersifat fitrah, karunia dari Allah. Namun jika kita salah menyikapinya, benarlah… akan membuat kita sengsara. Ah, tapi saya sering tuh lihat orang yang dilanda cinta enjoy-enjoy aja? Ya, kalau ga sengsara di dunia, ya di akhirat. Naudzubillah.

Mudharat Cinta

Jika kita sudah jatuh cinta, dunia serasa milik berdua aja, yang lain cuma ngontrak. Enak betul!

Ati-ati lho, karena kata Rasulullah:
“Cintamu kepada sesuatu membuat buta dan tuli.” (HR. Tirmidzi dan Abu Daud)

Yang haram bisa nampak halal. Yang salah bisa nampak benar! Banyak orang mengekspresikan rasa cinta ini dengan apa yang dinamakan pacaran. Hii… tentu kalian ga ingin sampai melakukannya bukan?

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’:32)

Tentang pacaran, saya tidak ingin membahasnya di sini, ingat, bahasan kali ini lebih ke arah “bagaimana menghilangkan rasa itu”, silakan baca buku-buku tentang pacaran yang banyak beredar di pasaran.

Bagaimana Jika Sudah Terlanjur?

Benarlah sabda Rasulullah,
“Sesungguhnya neraka diliputi hal-hal yang serba mengenakkan, menyenangkan dan nikmat, sedangkan surga diliputi hal-hal yang tidak menyenangkan.”

Bagaimana jika kita terlanjur memiliki perasaan tersebut? Bahkan mungkin perasaan tersebut telah mendarah daging dalam tubuh kita? Padahal kita tau bahwa itu tidak tepat.

Menyesal? Menangis sambil teriak-teriak? Atau paling parah, bunuh diri? Sekarang kan bunuh diri sudah ngetrend di Indonesia, anak SD juga bisa.

Jangan!! Lupakah kita, bahwa ampunan Allah sangat luas?

Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman:
“Sesungguhnya Aku menyukai orang-orang yang bertaubat. Jika anak Adam tidak berbuat salah, maka Aku akan menciptakan makhluk baru yang mereka berbuat kesalahan dan mereka bertaubat.”

Tips-tips a la Saya

Iman itu naik dan turun, naik karena ketaatan kita pada Allah dan turun karena maksiat.

Intinya, ingatlah pada Sang Pemberi Cinta. Berterima kasihlah pada-NYA yang telah memberikan rasa yang begitu ‘indah’ ini. Renungkan, kepada siapa lebih pantas cinta ini kita persembahkan? Kepada dia atau DIA?

Cintailah Allah! Kecintaan kepada Allah inilah yang akan membuat kita senantiasa membersihkan cinta kita, baik orientasi maupun tata cara yang sesuai syari’at. Agar cinta kita tetap illah (untuk Allah) dan fillah (karena Allah), bukan kepada ma’allah (tandingan Allah).

Apa yang kita rasakan apabila mendapat sms atau surat dari seseorang yang kita cintai? Kita baca pelan-pelan, kita hayati, kita pahami kata demi kata, kita simpan baik-baik supaya tidak hilang, bahkan kita bisa sampai hafal kata-kata yang ditulisnya. Nah, tips yang pertama, wujudkan rasa cinta kepada Allah dengan berinteraksi dengan Quran. Bukankah Quran adalah surat cinta Allah kepada kita. Sadarkah kita bahwa Allah begitu amat mencintai kita?

Coba simak, wahyu Allah kepada nabi Daud as ini,
“Seandainya orang-orang yang memikirkan Aku mengetahui bagaimana Aku menunggu mereka, bagaimanakah kasih sayang-Ku kepada mereka dan betapa keinginan-Ku agar mereka meninggalkan maksiat, niscaya mereka akan memilih kematian karena rindu kepada-Ku. Inilah kehendak-Ku terhadap orang-orang yang memikirkan Aku, maka betapa lagi yang Aku kehendaki bagi orang-orang yang menghadapkan dirinya kepada-Ku? Wahai Daud, Aku kasihan kepada orang-orang yang berpaling dari-Ku, dan Aku memuliakan orang-orang yang berada di sisi-Ku apabila ia kembali kepada-Ku.”

Subhanallah, betapa Allah sangat mencintai kita. Kita ga perlu bayar setiap tarikan napas yang kita hirup setiap helaannya. Maka, berinteraksilah dengan surat cinta dari Allah. Buatlah target harian, misal tilawah minimal 1 juz tiap hari, membaca tafsir, dan menghafal Quran. Jangan pernah satu harimu terlewat tanpa berinteraksi dengan Quran!

Kata Syaikh Muhammad Jibril,
“Quran itu bersifat pencemburu. Jika engkau meninggalkannya sehari, ia akan meninggalkanmu seminggu. Dan jika engkau meninggalkannya seminggu, ia akan meninggalkanmu sebulan.”

Jika kita jatuh cinta pada seseorang, tentu kita ingin selalu bertemu dan ngobrol dengannya bukan? Tips kedua, temuilah Allah, bercintalah dengan-NYA di sepertiga malam terakhir. Adukan semua perasaan kita pada-NYA. Menangislah sejadi-jadinya, tak perlu malu melakukan ini semua di hadapan Allah. Allah lah, tempat curhat paling oke!

Ketiga, carilah komunitas yang kondusif, yang mendukung keimanan kita. Carilah teman yang baik. Menurut beberapa ahli psikologi, teman mendatangkan ketentraman dan kenyamanan. Menurut Paul Henry Mussen, teman sebaya menyokong dengan cara yang unik dalam pembentukan kepribadian, perilaku sosial, nilai-nilai, serta sikap seseorang. Demikian pula kata Rasulullah, seseorang itu sejalan dan sealiran dengan kawan akrabnya, maka hendaklah kita berhati-hati dalam memilih kawan akrab.

Komunitas yang kondusif bisa juga kita dapatkan dari Majelis ‘Ilm. Cobalah rutin mengikuti ta’lim, minimal satu kali seminggu. Agendakan itu menjadi satu hal yang wajib. Jangan pernah meninggalkan tanpa alasan syar’i. Sekali kita meninggalkan, kemungkinan kita berbuat maksiat akan terbuka kembali.

Keempat, cobalah berpuasa sunah. Bisa puasa senin kamis, pertengahan bulan, atau puasa Daud. Puasa itu di samping menjaga kesehatan, sekaligus sarana berhemat di jaman yang semua harga serba melonjak ini.

Yang Kelima, perbanyaklah dzikir kepada-NYA. Sambil berjalan dari rumah ke kampus, daripada mata lirik sana lirik sini banyak aurat bertebaran, lebih baik sambil berdzikir. Perbanyaklah istighfar, mungkin pikiran kita telah habis tersita untuk memikirkan orang yang kita cintai daripada mengingat Allah.

Cukup lima saja ya tips dari saya, masih banyak tips lainnya, mungkin bisa kita bahas di lain waktu. Makanya sering-sering baca blog saya ya :)

O ya, sebenarnya tips di atas saya ambil dari salah satu lagunya Opick, yang ringtonenya menghiasi HP saya,
Obat hati ada lima perkaranya
Yang pertama baca Quran dan maknanya
Yang kedua sholat malam dirikanlah
Yang ketiga berkumpullah dengan orang sholeh
Yang keempat perbanyaklah berpuasa
Yang kelima dzikir malam perpanjanglah

Semoga tulisan di atas bisa kita ambil ibrahnya.
Semoga bisa jadi perenungan diri kita.
Benarkah kita telah mencintai Allah di atas segalanya?
Apakah kita lebih suka membaca sms atau surat dari orang yang kita cintai, daripada membaca Quran.
Apakah kita bahkan hafal kata-kata yang pernah diucapkan orang yang kita cintai, sementara Juz ‘Amma saja tidak hafal.
Apakah kita lebih sering chating dengan orang yang kita cintai, sementara kesempatan ‘chating’ dengan Allah di sepertiga malam terakhir sering kita lewatkan.
Apakah kita lebih sering mengingat-ingat orang yang kita cintai, sementara mengingat Allah jarang kita lakukan.
Apakah kita sering ‘mengemis’ cinta pada orang lain, sementara saat Allah bagi-bagi cinta, justru sering kita tinggalkan.
Nastaghfirullah aladzim….

Sekian dulu ya… lain waktu disambung lagi. Semoga kita bisa lebih bijak dan dewasa dalam memaknai cinta. Karena ia… begitu indah… Maka sudah seyogyanya dijaga agar tetap tulus, ikhlas, dan suci, semata-mata karena Allah dan untuk Allah. Allahu a’lam.

:: kupersembahkan tulisan ini untuk sahabat-sahabat yang kucintai.


Artikel terkait:

Post a Comment