Mahasiswa takut dengan dosen
Dosen takut dengan dekan
Dekan takut dengan rektor
Rektor takut dengan menteri
Menteri takut dengan presiden
Presiden takut dengan mahasiswa(Taufik Ismail, Takut ’66, Takut ’98)
Hari Sabtu di kampus ITB adalah hari kegiatan mahasiswa. Meski jadwal kuliah resmi hanya diselenggarakan pada hari Senin sampai dengan Jumat, bukan berarti ITB sepi di hari Sabtu. Ada beberapa prodi yang bandel tetap menyelenggarakan kuliah hari Sabtu, di kampus juga sering diadakan seminar-seminar, ataupun kegiatan-kegiatan Unit Kegiatan Mahasiswa.
Sabtu, 7 April 2007 lalu, adalah Sabtu yang lain di kampus ITB. Aku sampai di kampus sekitar pukul 9.30 untuk mengikuti acara Free Saturday Lesson (FSL) yang diselenggarakan di ComLabs. Aku mendapati banyak mahasiswa berkerumun di gerbang belakang (aku turun dari angkot di gerbang belakang). Ada apa gerangan? Ternyata tak hanya kerumunan mahasiswa yang kudapati, tapi juga patroli polisi.
Ternyata kampus ITB ditutup karena kehadiran RI-2 alias JK. Aku lihat banyak pengumuman ditempel di sekitar gerbang belakang, di antaranya acara FSL dipindahkan ke Gedung Rektorat, pertandingan UATM ditunda nanti sore, beberapa rapat ditunda/dibatalkan, dan sebagainya. Langsung saja aku menuju ke Gedung Rektorat (Annex) karena sejatinya tujuanku ke kampus adalah mengikuti FSL.
Di Annex, waktu sudah menunjukkan pukul 10.00. Acara FSL yang seharusnya dimulai pukul 9.00 belum dimulai. Aku dengar banyak orang menggerutu akibat penutupan kampus ITB yang terkesan semena-mena. Bagaimana tidak, pemberitahuan akan ditutupnya kampus baru dipublikasikan pukul 11 malam kemarin, itu pun tidak ke seluruh elemen kampus. Akibatnya banyak yang tidak tau kalau pagi ini kampus ITB ditutup. Bahkan ada temenku yang semalam nginep di kampus, kemudian pagi-pagi mau pulang dulu untuk mandi, eh saat balik ke kampus ternyata tidak boleh masuk.
Untuk acara FSL sendiri, alhamdulillah meski jumlah peserta yang hadir sedikit (tentu saja sedikit karena dipindahkan, dan harus naik angkot untuk pindah) acara berjalan lancar dan seru. Tema FSL kali ini adalah Tren Desktop 2007, menampilkan presentasi dari Windows Vista, Linux, Macintosh, dan Klorofil. Semua presenter menyajikan presentasinya yang hebat, menunjukkan kelebihan masing-masing desktopnya.
Aku sebut tindakan penutupan kampus ini adalah tindakan semena-mena, mungkin kata-kataku terlalu hiperbolis, tapi memang begitulah, banyak pihak dirugikan (baca: terdzalimi) karena tindakan ini. Salah satu yang dirugikan tentunya aku sendiri. Aku berniat download sesuatu dari internet di kampus, kalau aku menggunakan internet di kampus kan gratis dan bisa nyantai. Tapi gara-gara kampus ditutup dan aku ga mau menunggu sampai sore, aku harus ke warnet dan bayar, belum lagi koneksinya leleut amat. Selain itu aku juga ada janji sama teman di kampus siang ini, jadinya batal karena kampus ditutup.
Banyak pihak yang lebih dirugikan daripada aku. Berdasarkan sumber-sumber yang aku baca, kutemukan data berikut:
- beberapa UTS dibatalkan
- UTS anak SITH dipindahkan ke selasar Masjid Salman, selasar? berarti lesehan ya? dan ramai?
- beberapa seminar dipindahkan, salah satunya FSL tadi
- para mahasiswa TA di Biologi ga bisa masuk kampus, padahal mereka kan harus ngasih makan/vaksin binatangnya biar ga mati
- dan mungkin masih banyak hal lagi
Entah apa alasan penutupan kampus ini. Ada yang bilang karena kedatangan RI-2, tapi kenapa harus mendadak? Ada pula yang bilang karena bakal ada aksi BEM se-Bandung Raya atas kedatangan RI-2. Yang jelas intinya sih Presiden Wakil Presidan takut sama mahasiswa. Aneh, pemimpin kok takut sama yang dipimpin.
Masih ingatkah dengan tragedi tabrakan beruntun di jalan tol Jagorawi beberapa tahun silam? Waktu itu jalan tol tiba-tiba di-stop karena RI-1 mau lewat. Dan nyetopnya itu lho, hanya dari jarak kurang dari 300 meter. Padahal kalau di jalan tol itu bisa dipastikan kecepatan kendaraan rata-rata di atas 100 km/jam. Kalau di-stop mendadak dari jarak 300 meter, berarti pengemudi hanya punya waktu sekitar 10 detik untuk mengerem mobilnya hingga berhenti. Beberapa orang meninggal dan luka-luka atas insiden ini. Haruskan keamanan seorang pemimpin negara ditukar dengan nyawa rakyatnya?
Ya, inilah manusia jaman sekarang. Pemimpin kok takut sama yang dipimpin? Sebenarnya bisa ditebak, kalau orang takut sama orang lain biasanya karena orang tersebut telah berbuat salah. Nah lho? Apakah pemimpin-pemimpin bangsa kita sudah benar-benar merasa bersalah pada rakyat, sampai takut segala?
Jadi ingat akan dua orang pemimpin Islam jaman dahulu, Umar bin Khaththab dan Umar bin Abdul Aziz. Kenapa kedua Umar ini tidak mau dikawal? Mereka tidak memerlukan pengawal karena merasa dirinya aman. Kenyamanan seorang pemimpin berbanding lurus dengan kedekatannya dengan rakyat. Mereka terbiasa berkeliling di tengah gelapnya malam, mereka biasa tidur-tiduran di tempat umum berbaur dengan rakyatnya. Mereka berlaku adil, bersih, dekat dengan rakyat, maka rakyat pun mencintainya.
—
Link terkait liputan FSL ada di postingan Wisnu, koordinator Unit Koprs Asisten ComLabs 2007.
Postingan sejenis tulisan ini:
- Postingannya Wisnu
- Postingannya Wahyudi
Artikel terkait:
