Sep '08
5

Pesona Kota Surabaya

Files under Perjalanan | 5 Comments

Alhamdulillah, aku diberi kesempatan Allah untuk mengunjungi kota Surabaya. Sudah lama aku ingin mengunjungi kota pahlawan ini. Dulu aku bertekad ingin mengunjungi semua ibu kota propinsi di Pulau Jawa, dan aku sebelumnya sudah pernah ke Jakarta, Bandung, Yogya, Semarang, dan Serang, tinggal Surabaya-lah yang belum pernah aku kunjungi.

Kami berangkat naik kereta api ekonomi Sri Tanjung dari Yogya tujuan Banyuwangi. Tiketnya cukup murah, untuk sampai Surabaya hanya Rp 21.000,- Sedangkan kalau naik kereta bisnis (Sancaka) bisa mencapai Rp 50.000,- Perjalanan memakan waktu cukup lama (maklum, kereta ekonomi sering banget berhenti di stasiun-stasiun), kami berangkat pukul 08.30 dan tiba di Surabaya sekitar pukul 15.00.

Surabaya sebuah kota besar, merupakan kota terbesar kedua di Indonesia. Surabaya lebih besar dari Bandung. Tapi meskipun kota besar aku tidak menemukan kemacetan di sana, berbeda dengan Bandung yang di mana-mana macet :)

Meski kata orang di Surabaya udaranya panas, waktu aku ke sana kok justru aku merasa dingin ya? Mungkin karena aku ke sana pas musim bedhidhing (pergantian musim hujan ke musim kemarau, biasanya udaranya dingin banget), aku ke Surabaya bulan Juni kemarin.

Yang unik dari kota Surabaya, hampir di setiap pinggir jalan ada aja orang berjualan es degan (kelapa muda). Mungkin karena Surabaya terletak dekat pantai, jadi banyak pohon kelapa.

Dan satu lagi, tarif warnet di Surabaya sangat murah. Meski aku tak mengunjungi satu warnet pun, tapi dengan melihat harga yang dipampang, tarif warnet di sini lebih murah daripada di Bandung, berkisar antara Rp 1.500 - Rp 3.000. Bahkan, aku belum pernah melihat warnet yang memasang tarif di atas Rp 3.000/jam.

Ke Surabaya tidak lengkap kalau tidak melihat Tugu Pahlawan Surabaya dan Jembatan Merah yang terkenal itu. Meski hanya sekedar lewat, hasilnya adalah jepretan di bawah ini.

Tugu Pahlawan Surabaya

Jembatan Merah, warnanya merah kan?

Peta Wisata Kota Surabaya

(bersambung)


Artikel terkait:
Sep '08
3

Matematika

Files under Diary | 3 Comments

Waktu kecil aku sering berkhayal, “Betapa bahagianya hidup ini, jika di sekolah hanya ada pelajaran Matematika!” Tentu khayalan itu hanya aku simpan dalam hati. Mana mungkin aku katakan di depan teman-temanku, bisa-bisa aku ditimpukin mereka, maklum Matematika adalah pelajaran yang cukup banyak ‘ditakuti’ teman-temanku.

Kuliah di jurusan Teknik Informatika, membuatku sedikit melupakan Matematika. Kadang terbayang di benakku, kapan ya aku bisa kembali berutak-atik dengan Matematika. Aku semakin menjauh dan menjauh. Melupakan Matematika.

Dan kini, takdir membawaku kembali untuk dekat dengan Matematika. Aku tersenyum, seperti kembali ke masa kecilku. Meski aku harus banyak memutar otak karena banyak memori tentang Matematika yang kulupakan. Aku bahagia, khayalan kecilku tercapai :)


Artikel terkait:
Sep '08
2

Bandung Kota Macet

Files under Diary | 2 Comments

Akhir-akhir ini mobilitasku cukup tinggi. Dan aku baru benar-benar merasakan, bahwa kota Bandung ini adalah kota macet. Di mana-mana macet, apalagi di jam-jam masuk dan pulang kantor/sekolah. Bagi orang yang menggunakan jasa angkot sebagai alat transportasi seperti aku, hal ini kadang menyebalkan. Perjalanan yang semestinya bisa ditempuh dalam waktu setengah jam, terpaksa aku lalui selama 1.5 jam, karena apa lagi kalau bukan karena macet.

Apakah kota Bandung yang sudah terlalu kecil atau penduduknya yang makin padat ya? Perasaan dulu ga semacet ini deh.

Pelajaran baru yang kudapat, jika aku harus berada di suatu tempat pada pukul x, maka pada pukul x-1.5 aku harus udah berangkat. Tapi tergantung tempatnya juga sih, jauh atau dekat. Selain itu, manfaatkan waktu selama kemacetan dengan baik, bisa dengan menghafal Qur’an, membaca, belajar, atau tidur, hehe…


Artikel terkait:
Sep '08
1

Marhaban yaa Ramadhan

Files under Diary | 1 Comment

Ramadhan dua tahun lalu…
Alhamdulillah, aku diberi karunia Allah untuk merasakan nikmatnya beri’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan.
Di sana ku berdoa, “Ya Allah, jadikanlah ini Ramadhan terakhirku dalam keadaan ’single’ (maksudnya belum bersuami :) ). Alhamdulillah, Allah mengabulkan doaku. Ramadhan itu benar-benar Ramadhan terakhirku dalam keadaan ’single’. Tiga hari sebelum Ramadhan tahun berikutnya, Allah memberikan jodoh padaku. Percaya kan, doa waktu i’tikaf itu memang makbul.

Ramadhan satu tahun lalu…
Adalah Ramadhan pertamaku bersama suami. Meski hanya bisa menemani suamiku buka dan sahur seminggu sekali, aku bersyukur.. Allah telah mengabulkan doaku satu tahun lalu. Meski aku tak mampu (sebenarnya sih ga boleh) berpuasa, aku bersyukur.. Semoga dengan keadaan ini aku memperoleh maghfirah-Nya.

Ramadhan tahun ini…
Ramadhan pertama yang kumasuki dengan menyisakan hutang puasaku. Aku baru dinyatakan boleh berpuasa pada bulan Mei kemarin. Dan sungguh, tenggang waktu 4 bulan tidak cukup bagiku untuk menuntaskan meng-qadha’ 29 hari hutang puasaku. Aku masih punya hutang 2 hari. Astaghfirullah, semoga Allah memanjangkan usiaku dan memberiku kesehatan sehingga aku mampu membayarnya.

Ramadhan tahun ini…
Ramadhan pertama kami bisa menikmati sahur dan buka bersama sebulan penuh. Terima kasih Allah… Kau berikan kami kemudahan, kelapangan, dan kebahagiaan untuk menikmati jamuan Ramadhan-Mu bersama, setelah Kau tempa kami dengan ujianmu. Ampunilah aku jika pernah merasa pesimis atas kemurahanmu.


Artikel terkait:
Aug '08
13

Taubat

Files under Kontemplasi | 2 Comments

Alkisah pada zaman dahulu ada seseorang yang telah membunuh 99 jiwa, kemudian ia ingin bertaubat. Ia menghadap seorang ‘alim kemudian menanyakan halnya. Sang ‘alim menjawab, “Tidak ada taubat bagimu”. Maka dibunuhlah sang ‘alim tersebut hingga genap 100 jiwa melayang di tangannya.

Kegelisahannya akan taubat membuat ia mencari orang ‘alim lain. Jawaban yang didapatnya dari sang ‘alim sungguh menenangkan jiwanya, “Selalu terbuka pintu taubat untukmu. Pergilah engkau ke suatu tempat di mana banyak orang taat kepada Allah, ikutilah mereka dan jangan kembali ke negerimu.”

Ia pun menuruti perintah sang ‘alim. Dalam perjalanan ia meninggal dunia. Malaikat rahmat dan malaikat siksa bertengkar soal tempat kembalinya. Allah SWT mengutus malaikat lain untuk menjadi penengah di antara keduanya. Maka diukurlah jarang yang terbentang antara mayatnya dan dua tempat tersebut. Jika lebih dekat ke negeri yang ditinggalkannya, maka malaikat siksalah yang berhak memegang ruhnya. Jika lebih dekat ke negeri tujuan, maka malaikat rahmatlah yang memegang ruhnya. Sungguh, Allah telah memerintahkan pada bumi yang dituju agar mendekat dan meminta bumi yang ditinggalkan menjauh. Ternyata, ia lebih dekat ke negeri tujuan. Perbedaan jaraknya tidak lebih dari sejengkal. Maka ruhnya pun dipegang oleh malaikan rahmat.

Maha Suci Allah yang memiliki ampunan seluas langit dan bumi, yang membentangkan tangan rahmat-Nya pada tiap-tiap malam untuk menerima taubat orang-orang yang melakukan dosa di siang hari dan mengulurkan tangan pemurah-Nya di tiap-tiap siang agar bertaubat orang-orang yang berdosa di malam hari. Dan Allah berjanji, pintu taubat ini akan selalu terbuka bagi siapa pun yang mau mengetuknya hingga matahari terbit dari barat.


Artikel terkait:
Aug '08
12

Takdir

Files under Kontemplasi | 1 Comment

Kita bisa berencana atas apa yang ingin kita lakukan serta berharap atas apa yang ingin kita capai. Ada kalanya apa yang kita rencanakan atau kita inginkan terwujud, namun ada kalanya pula rencana dan keinginan kita pupus tak berbekas.

Manusia berencana, berusaha, dan berharap. Allah yang menentukan dan menjatuhkan takdir. Segala perkara baik dan buruk yang menimpa kita adalah hak mutlak Allah. Tugas kita hanyalah menata diri dan hati kita menyikapi perkara baik dan buruk, menyenangkan dan menyedihkan tersebut.

Benarkah ada takdir buruk? Sebenarnya hanyalah masalah sudut pandang, bagaimana kita memandang perkara. Apa yang di mata kita buruk, misalnya suatu keinginan yang tidak tercapai, bisa saja bernilai baik di mata Allah. Demikian pula sebaliknya, apa yang kita anggap baik, bisa saja tidak bernilai di mata Allah.

wa ‘asa an takrahu syaiaw wa huwa khairul lakum, wa ‘asa an tuhibbu syaiaw wa huwa syarrul lakum.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu.

(QS. Al Baqarah: 216)


Artikel terkait:
Aug '08
11

Bekerjalah

Files under Kontemplasi | 1 Comment

Ada cerita tentang seorang ibu yang harus bekerja keras demi perut dan pendidikan anak-anaknya. Setiap pagi, kala sang fajar belum menampakkan diri, ia telah bergegas bangun. Menunaikan kewajiban pada Rabbnya lalu menyiapkan sarapan ala kadarnya. Berbekal lembaran lusuh hasil penjualan kemarin, ia berbelanja sayur mayur dan bahan mentah lainnya. Belum lagi pukul enam pagi, dagangannya telah siap dijenguk para pelanggan.

Menjelang tengah hari, ia bersiap-siap pulang karena tak ingin tertinggal adzan Dhuhur. Setelah kewajibannya tunai, dibantu anak sulungnya yang mulai besar, ia meracik dan memasak sisa dagangan agar tak terbuang sia-sia. Dengan senyumnya yang ramah ia berkeliling menawarkan makanan siap santap pada tetangga dekat dan jauh. Di daerah itu, ia memang dikenal banyak orang. Mbok, ya ia cukup disapa Mbok. Mungkin tak seorang pun peduli siapa namanya.

Memang bukan cerita dan namanya yang penting, tapi semangat dan sikap optimisnya dalam menghadapi kehidupan yang perlu ditiru. Setiap pagi, kala keluar rumah menuju pasar, ia tak pernah berpikir soal berapa rupiah yang akan dibawa pulang untuk anak-anaknya. Ia berkata, Rezeki itu sudah diatur Gusti Allah. Gusti Allah ndak akan keliru.

Jika seorang penjual sayuran dengan kehidupan yang amat sederhana bisa tetap optimis dan tawakal menjalani kehidupan, tidakkah kita malu jika sering mengeluh, apalagi putus harapan akan adanya hari esok yang lebih baik…

Wa quli’malu fasayarallahu ‘amalakum wa rasuluhu wal mu’minun.

Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu.

(QS. At Taubah: 105)


Artikel terkait:
Aug '08
6

Monyet

Files under Diary | 4 Comments

Foto ini diambil di mana ya?


Artikel terkait:
Jul '08
31

One Day Tour ke Ancol, Gelanggang Samudra, Dufan, Police Academy Show (bagian 4-habis)

Files under Perjalanan | 2 Comments

Setelah puas bermain-main di Dufan, kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Carnaval untuk menonton Police Academy Show. Police Academy ini didatangkan langsung dari Italia, yang mempertunjukan ketangkasan polisi-polisi di sana dalam menjalankan tugasnya.

Di pertunjukan ini ceritanya ada penjahat yang merampok sebuah bank, kemudian para polisi ditugaskan menangkap perampok tersebut. Ada ketangkasan polisi mengendarai sepeda motor, mobil, maupun helikopter. Oya, acara yang berdurasi sekitar 30 menit hanya berlangsung antara pertengahan Mei sampai Agustus saja.

Pukul 21.30 kami meninggalkan Ancol untuk kembali ke Bandung. Dan kami tiba di Bandung pukul 12 malam.

# Berhubung pada show ini gerakannya cepat banget, jadi hasil foto-fotonya ga begitu bagus deh.


Artikel terkait:
Jul '08
26

One Day Tour ke Ancol, Gelanggang Samudra, Dufan, Police Academy Show (bagian 3)

Files under Perjalanan | 2 Comments

Berhubung tour leader-nya terlambat menjemput, kami baru tiba di Dufan pukul 14.00.

Wahana pertama yang kami kunjungi adalah Arung Jeram. Ngantrinya itu lho sampai setengah jam, sementara mainnya cuma 10 menit. Tapi di sini sudah enak, kita tinggal duduk dan nanti perahu karetnya akan berjalan sendiri mengikuti arus, tanpa perlu mendayung. Siap-siap berbasah ria aja ya…

Setelah itu kami menuju wahana Halilintar. Tak jauh berbeda dengan Arung Jeram, antriannya sendiri setengah jam. Halilintar ini berupa roller coaster mini, di mana kita naik kereta melalui jalan menanjak, menikuk tajam dan miring, menurun seperti terjun, dan akhirnya berputar-putar. Waktu berputar-putar itu lho, aku sampai tidak bisa membedakan atas dan bawah.

Wahana berikutnya adalah Istana Boneka. Di sini kami naik perahu dan di sepanjang perjalanan terdapat aneka boneka animatronik baik dari dalam negeri maupun luar negeri, yang diiringi lagu rakyat setempat. Rute yang kami tempuh cukup panjang juga, dan membuatku agak bosan karena aku ga suka boneka. Sepertinya wahana ini lebih cocok buat anak kecil.

Selanjutnya kami menuju wahana Lorong Sesat, yang berupa lorong berdinding kaca di setiap sisinya. Di sini kita seperti berada di dalam labirin dan berusaha mencari jalan keluar. Sebenarnya kalau kita sudah tahu polanya, maka kita dapat keluar dengan mudah kok.

Tak jauh dari wahana Lorong Sesat, terdapat wahana Rango-rango. Wahana ini berupa sebuah rumah yang di dalamnya, mulai dari lantai, tiang, perabotan rumah semuanya serba miring, yang membuat kita kesulitan berjalan di sini.

Wahana berikutnya adalah Niagara. Di sini kami naik perahu kayu, menaiki tanjakan setinggi 30 meter, dan meluncur seakan-akan kami meluncur dari air terjun Niagara. Siap-siap berbasah ria juga ya…

Selanjutnya kami menuju wahana Perang Bintang. Ceritanya kita sedang berada di luar angkasa dan mendapat misi untuk menyelamatkan planet Mars dari serangan makhluk asing. Dengan menggunakan senjata laser, kita dapat menembaki musuh-musuh kita, dan skor kita akan tampil di layar.

Karena sudah masuk waktu Maghrib, kami pun menunaikan ibadah shalat Maghrib di mushola. Setelah itu kami menuju wahana Gajah Bledug, semacam komedi putar berbentuk gajah dan agak besar. Di sini ada pedal untuk naik dan turun, tapi karena kami menaikinya berdua jadi gajah kami ga bisa naik-naik deh..

Selanjutnya kami mencoba wahana Kora-kora yang siang tadi antriannya panjang banget, karena sudah malam jadi kami tak perlu mengantri, bahkan di wahana ini hanya 1/4 kapasitas yang terisi. Wahana ini berupa perahu raksasa yang diayun 90 derajat.

Wahana terakhir yang kami kunjungi adalah Bianglala. Wahana ini berupa kincir raksasa setinggi 33 meter dan merupakan wahana tertinggi di Dufan. Dari atas kami dapat melihat keindahan Dufan di malam hari.

Waktu menunjukkan pukul 20.00, Kami pun berkumpul untuk melanjutkan perjalanan ke Police Academy Show.

# Gambar-gambar diambil dari sini.

(bersambung)


Artikel terkait: