Jul
24

One Day Tour ke Ancol, Gelanggang Samudra, Dufan, Police Academy Show (bagian 2)

Files under Perjalanan | Leave a Comment

Tiba di Gelanggang Samudera, kami langsung menyaksikan Pentas Singa Laut yang dimulai pukul 11.00. Di sini kami menyaksikan 3 ekor singa laut yang menampilkan atraksi menaikkan bendera, bertepuk tangan, berhitung, membuat lingkaran, mengambil gelang dalam air, memakai payung, bermain bola, dan membawa boneka. Pentas ini berlangsung selama 20 menit.

Pentas Singa Laut

Selanjutnya kami menuju Aquarium Air Laut dan Aquarium Air Tawar, di mana terdapat ikan air laut maupun tawar yang ditempatkan dalam aquarium-aquarium.

Aquarium Air Laut/Tawar

Pukul 11.30 kami menyaksikan Pentas Lumba-lumba. Mirip dengan pentas singa laut, di pentas lumba-lumba ini kami menyaksikan lumba-lumba menaikkan bendera, bermain bola, masuk ke dalam gelang-gelang api, dan sebagainya. Sayangnya, kami tak sempat menyaksikan pentas ini sampai usai, karena pukul 11.45 kami meninggalkan gedung pertunjukan untuk mengejar Sinema 4 Dimensi yang dimulai pukul 12.00.

Pentas Lumba-lumba

Di wahana Sinema 4 Dimensi ini, kami menyaksikan sebuah film berdurasi 10 menit yang menceritakan tentang kehidupan ekosistem makhluk hidup dan akibat perusakannya. Kami harus menggunakan kacamata 4 dimensi agar gambar terlihat nyata.

Selepas menyaksikan Sinema 4 Dimensi, kami pun menunaikan shalat Dhuhur di mushola. Setelah shalat, kami menuju ke Pentas Aneka Satwa yang sudah dimulai. Kami hanya sempat menyaksikan atraksi lingsang (kucing air) mendorong gerobak, naik sepeda, bermain basket, dan ‘berjualan’ bakso.

Pentas Aneka Satwa

Pukul 13.00 kami melanjutkan perjalanan dengan Gondola kembali ke stasiun A, untuk kemudian menuju ke Dufan. Biar di Dufan nanti lebih puas, kami pun makan siang di atas Gondola :)

(bersambung)


Artikel terkait:
Jul
23

One Day Tour ke Ancol, Gelanggang Samudra, Dufan, Police Academy Show (bagian 1)

Files under Perjalanan | 3 Comments

Ahad, 18 Mei 2008, kami mengikuti One Day Tour ke Ancol yang diselenggarakan d’Bay Cafe Paris Van Java. Di sini kami mengambil Paket B, dengan biaya Rp 178.000,- per orang kami mendapat fasilitas rekreasi Gondola, Gelanggang Samudra, Dufan, dan Police Academy Show, termasuk transport pulang-pergi Bandung-Jakarta dan snack. Harga ini jauh lebih murah daripada kita berangkat sendiri. Coba kita hitung berapa biaya yang harus kita keluarkan kalau berangkat sendiri, tiket masuk Ancol Rp 10.000, tiket Gondola Rp 35.000, tiket Gelanggang Samudra 60.000, tiket Dufan 100.000, tiket Police Academy Show Rp 50.000, belum lagi transport Bandung-Jakarta pp. minimal Rp 80.000. Total hampir Rp 350.000,- Nah, dengan mengikuti paket ini kita hanya membayar Rp 178.000,- Jauh lebih murah bukan?

Kami berangkat dari Paris Van Java jam 7 pagi. Walau saat beli tiket baru 1 orang yg daftar, ternyata saat berangkat udah 12 orang. Memang sih, untuk hari Ahad biasanya peserta lebih sedikit daripada yang hari Sabtu. Oya, One Day Tour ini hanya ada pada hari Sabtu dan Ahad. Jika peserta yang ikut sedikit, maka kita berangkat menggunakan mobil elf. Tetapi jika pesertanya banyak akan menggunakan bus.

Ada 4 paket One Day Tour ini:

  • Paket A : Ancol, Gondola, Dufan, Police Academy Show
  • Paket B : Ancol, Gondola, Gelanggang Samudra, Dufan, Police Academy Show
  • Paket C : Ancol, Gondola, Atlantis, Dufan, Police Academy Show
  • Paket D : Ancol, Gondola, Gelanggang Samudra, Atlantis, Dufan, Police Academy Show

Kami sempat berhenti di km 57 untuk beristirahat sejenak. Kemudian melanjutkan perjalanan hingga tiba di Ancol sekitar pukul 10.00. Tiba di Ancol, masing-masing dari kami diberi tiket sesuai paket yang diambil.

Acara pertama adalah naik Gondola (kereta gantung). Di Ancol ada 3 terminal Gondola, yaitu terminal A, B, dan C. Kami naik dari terminal A, melewati terminal B, dan turun di terminal C. Terminal C ini dekat dengan Gelanggang Samudra. Bagi yang mengambil paket A, begitu tiba di terminal C langsung kembali lagi ke terminal A.

Gondola

Terminal Gondola

Pemandangan dari Gondola

Dari Gondola ini kami bisa melihat pemandangan ke bawah. Di sebelah utara terbentang Laut Jawa yang biru menawan, di sebelah selatan kami dapat melihat Ancol dari atas (Dufan dan Atlantis), sementara di bawah kami banyak wisatawan yang sedang bermain-main di pantai.

Turun dari Gondola, kami pun berjalan menuju Gelanggang Samudra.

(bersambung)


Artikel terkait:
Jul
22

Olahraga Apa yang Kamu Sukai?

Files under Diary | 3 Comments

Bicara tentang olahraga, aku ini orang yang jarang melakukan olahraga, dan juga ga suka berolahraga. Nilai olah ragaku dari SD sampai SMA pasti berkisar antara 6 dan 7. Kalau dulu di sekolah diajarkan olahraga basket, voli, kasti, bola tangan, dsb, pasti aku ga pernah bisa. Hehe… Tapi kalau diadakan penilaian lari, aku sering di urutan pertama :)

Aku berpikir setelah kuliah di ITB, aku bebas dengan yang namanya pelajaran olahraga. Eh, ternyata tidak. Tapi aku bersyukur ternyata penilaian mata kuliah Olahraga di ITB hanya dari lari dan teori :) Semester 2, aku bingung mau milih olahraga apa (semester 2 di ITB, mata kuliah olahraga berupa pilihan dari 1 cabang olahraga), karena hampir semuanya bisa dipastikan aku ga bisa. Akhirnya aku memilih olahraga Panahan. Karena aku pikir olahraga ini ga banyak gerak dan hanya membutuhkan ketelitian. Selain ini kan ada sebuah hadits yang berbunyi “Ajarilah anak-anakmu berkuda, memanah, dan berenang”. Ternyata Panahan itu tak semudah yang kukira. Membawa busurnya aja aku keberatan, tapi lama-lama aku terbiasa. Yang susah itu memanah menuju ke titik sasaran, karena seringkali penglihatan tidak sama dengan kenyataan. Ada faktor-faktor lain, seperti angin, yang bisa mengubah arah busur kita.

Selepas tingkat pertama di ITB, aku pun bebas dari pelajaran Olahraga. Aku pun jadi jarang melakukan olahraga. Olahraga yang aku sukai hanyalah lari. Biasanya aku lari pagi di Sabuga sebanyak 10 putaran. Kenapa harus 10 putaran? Soalnya aku baru puas setelah melewati 10 putaran :)

Setelah menikah, aku ga pernah lari pagi lagi, soalnya suamiku ga suka lari pagi. Sebagai gantinya kami sering jalan-jalan ke Gasibu setiap hari Ahad. Rute perjalanannya biasanya lewat jalan pelosok. Dari Dago Atas ke Asrama Putri ITB Kanayakan, tembus ke Tubagus Ismail, Sekeloa, dan keluar ke Jalan Dipati Ukur.


Artikel terkait:
Jul
21

Jalan-jalan dari Dago Atas ke Punclut

Files under Perjalanan | Leave a Comment

Kemarin, kami jalan-jalan ke Punclut. Kata orang, Punclut merupakan kependekan dari Puncak Ciumbuleuit. Terletak di sebelah utara kota Bandung. Katanya sih, dari Punclut ini kita bisa melihat pemandangan kota Bandung.

Kami berangkat dari kosan pukul 05.30 naik angkot menuju terminal Dago. Karena kami sama sekali tidak tahu menahu rute ke Punclut, kami bertanya pada seorang ibu yang berjualan di depan terminal Dago. Ternyata arah ke Punclut ada di seberang terminal (belok kiri kalau dari bawah). Kami pun menyusuri jalan itu yang menurun tajam, eh… ternyata setelah melewati turunan yang tajam, jalannya menjadi tanjakan tajam. Yah, begitulah.. Jalan yang kami lalui naik-turun begitu tajam. Jalan di sini sudah diaspal dan kami sering menjumpai angkot Kalapa-Dago yang melewati jalan ini. Maklum lah, kalau tinggal di sini tentu capek sekali untuk menuju ke jalan raya.

Pukul 06.30 kami tiba di Punclut. Benar-benar perjalanan yang melelahkan. Meski jarak yang kami tempuh hanya sekitar 3 km, namun medan jalan yang naik-turun cukup membuat kaki pegal dan kehabisan nafas. Di Punclut ini ada pertigaan. Arah ke kanan menuju Lembang, dan arah ke kiri untuk turun ke Ciumbuleuit. Karena aku udah capek, jadi kami memilih pulang saja.

Kami berjalan kaki menyusuri jalan setapak menuju ke Ciumbuleuit. Sebenarnya jarak Punclut-Ciumbuleuit ini hampir sama dengan jarak Punclut-Dago Atas, tapi karena jalannya menurun kami bisa menempuhnya dalam waktu sekitar 30 menit.

Akhirnya kami tiba di terminal Ciumbuleuit melalui jalan Bukit Raya. Kami lalu naik angkot sampai ke pertigaan Siliwangi. Di sana ada Pasar Gandok. Kami beli buah markisa dan lengkeng. Rencananya mau sekalian beli sayur, tapi ternyata pasarnya kecil dan tidak lengkap. Akhirnya kami ke Pasar Simpang deh. Setelah itu kami pun pulang ke kosan.

Sampai kosan jam 08.30. Walau cuma 2 jam, perjalanan kali ini benar-benar melelahkan, tapi juga menyenangkan :D

Kapan-kapan aku pingin jalan-jalan dari Punclut ke Lembang, medannya berat ga ya? Atau mending dari Lembang ke Punclut yang jalannya menurun :) Ada yang mau ikutan?


Artikel terkait:
Jul
16

Kuliner di Rumah dan Alergi Bawang Putih

Files under Diary | 4 Comments

Aku termasuk orang yang awam dalam hal memasak. Sebelum nikah, aku jarang masak. Kalau pun masak, cuma masakan-masakan sederhana seperti nasi goreng, sayur bening, sayur asem, sayur lodeh, sayur bobor, capcay, soto, gulai, rendang. Atau bikin puding, bubur sumsum, bubur candil, pokoknya aneka bubur-buburan lah. Paling banter masak spageti yang hasilnya hancur-hancuran (tapi tetep ku makan).

Karena aku ingin jadi ibu rumah tangga yang baik, aku bertekad harus bisa masak. Sempet nyesel juga, kenapa dulu ga belajar masak dari ibuku, padahal ibuku jago masak. Syukurlah aku sudah punya ratusan resep masakan dari majalah-majalah koleksiku, jadi ga perlu bingung kalau cari resep masakan.

Alhamdulillah, impian kami untuk punya kompor terkabul juga. Minggu lalu, kami membeli sebuah kompor gas portable seharga Rp 143.000,- Sengaja kami memilih yang portable supaya mudah dibawa, maklum namanya juga anak kos. Sedangkan tabung gasnya cukup murah, seharga Rp 4.000,- biasanya habis dalam waktu 1 minggu. Dengan memasak sendiri kami bisa menghemat uang makan kami. Dan tentu saja makanan yang kami makan lebih sehat karena bebas vetsin.

Tapi ada satu hambatan, aku ini alergi terhadap bawang putih. Bukan alergi akibat makan bawang putih, tapi alergi menyentuh bawang putih. Tiap aku menyentuh bawang putih, esoknya jariku jadi berbintik-bintik berisi air dan gatal. Biasanya sembuh dengan sendirinya setelah 1 minggu tidak menyentuh bawang putih.

Ada yang punya solusi bagaimana menghilangkan alergi ini?


Artikel terkait: