May
7

Takut Menjadi Istri

Files under Diary | 4 Comments

Aku punya seorang teman akhwat, yang selama ini ia selalu merasa takut untuk menikah. Satu-satunya alasan kenapa ia takut menikah adalah karena ia takut menjadi istri.

Ketika aku bertanya, mengapa ia takut menjadi istri, ia pun dengan lancar menyebutkan belasan alasan:

  • istri harus patuh terhadap suami
  • istri harus menurut semua keinginan suami
  • jika suami minta istri melayaninya, istri harus memenuhinya saat itu juga
  • jika suami minta istri tidak bekerja, istri harus nurut
  • jika suami minta istri tidak boleh keluar rumah, istri harus nurut
  • jika suami beda pendapat dengan istri, istri harus mengalah
  • jika suami salah, maka istri tidak berhak menyalahkan suami
  • dan seabreg alasan lainnya.

Mungkin inilah akibat pemahaman terhadap Islam yang dangkal.

Sungguh, Islam tidak memperbudak perempuan, justru Islam sangat memuliakan perempuan. Memang seorang istri wajib mematuhi suaminya selama tidak melanggar larangan-Nya, tapi bukan berarti seorang istri meng-hamba pada suaminya.

Islam mengajarkan syura’ atau musyawarah dalam kehidupan, termasuk kehidupan suami istri. Suami tidak berhak memaksakan kehendaknya kepada istri. Suami tidak berhak memvonis istri, harus ini atau harus itu.

Bahkan, jika seorang suami memaksakan kehendaknya kepada istrinya, sehingga istri merasa tersakiti baik hati dan fisiknya, maka istri berhak mengadukan ke pengadilan. Dan jika pengaduannya diterima, maka jatuhlah talak satu kepadanya.

Menikah, bukanlah membuat diri menderita, namun membuat hati merasa lebih tenteram.

May
6

New Life

Files under Diary | 6 Comments

Mulai bulan Mei 2008 ini, aku resmi keluar dari ComLabs ITB. Bukan karena penghasilanku kecil, penghasilanku dari bekerja di sini lebih dari cukup, bahkan pernah melebihi penghasilan suamiku. Aku keluar atas keinginanku sendiri, bukan karena pengaruh pihak lain, bukan pula karena ‘diberhentikan’ seperti yang dialami beberapa rekanku.

Sesungguhnya, aku tidak pernah bercita-cita menjadi karyawan. Pengalaman Kerja Praktek di sebuah perusahaan besar di Jakarta tingkat 3 dahulu, telah membuatku bertekad tidak ingin menjadi karyawan, apalagi di sebuah perusahaan besar.

Lulus kuliah tahun kemarin, banyak tawaran kerja masuk ke emailku maupun telepon. Maklum, namanya juga fresh graduated Teknik Informatika ITB, begitu lulus banyak tawaran. Bukan tawaran kerja, tapi tawaran untuk mengikuti tes kerja di perusahaan mereka. Halah! Tak satu pun kugubris.

Desember kemarin aku ditawari untuk bekerja di ComLabs ITB. Sebelumnya selama 5 tahun ini aku memang aktif di ComLabs, dari menjadi asisten workshop mahasiswa baru, menjadi asisten pelatihan, sampai menjadi Instruktur Master yang memiliki jam terbang mengajar lebih dari 200 jam (tepatnya aku lupa :D). Dengan senang hati tawaran tersebut aku terima. Ah, menyalahi cita-cita awalku.

Awalnya aku merasa enjoy, tapi sebulan berlalu aku mulai merasa jenuh. Aku sangat diatur waktu, aku tidak bebas melakukan aktivitasku sendiri. Padahal aku punya hobby, harapan, dan cita-cita yang ingin aku wujudkan. Di sini aku merasa kering ruhiyah, amalan yaumi pun menurun. Setelah berkonsultasi dengan suamiku, akhirnya aku mantap untuk keluar setelah masa kontrakku berakhir.

Mei ini masa kontrakku berakhir. Sempat sedih juga keluar dari ComLabs, meninggalkan apa yang telah menjadi komunitasku selama ini. Tapi aku telah bertekad “Faidza ‘azamta fatawakkal ‘alallah“. Apabila kamu telah membulatkan tekad, maka berserahdirilah kepada Allah. Maka, aku pun mantap keluar dari pekerjaanku ini.

Aku mantap meninggalkan semua jabatan yang diberikan padaku, Ketua Tim Bidang Kompetensi Webmaster, Instruktur Master dengan jam terbang mengajar tertinggi, dan lainnya. Oya, meski sejak 2 bulan lalu aku sudah merasa jenuh bekerja, bukan berarti kinerjaku mengecewakan. Kinerjaku malah bisa dikatakan paling tinggi dibanding teman-temanku, dan selama bekerja di sini aku paling disiplin, tidak pernah satu kali pun datang terlambat.

Kini saatnya menyongsong hidup baru yang lebih cerah, saatnya mengisi waktu dengan hobby dan kegemaranku, saatnya mengejar impianku, saatnya meraih harapanku, saatnya mewujudkan cita-citaku. Ya, aku yang mengatur waktuku, bukan waktu yang mengatur aku!

# Postingan ini juga menegaskan bahwa aku tidak lagi bertanggung jawab terhadap pelatihan-pelatihan FWD, FWP/WPP, IWP, WDC, IWLN, IWDC, IWDV, ataupun lainnya.

Apr
28

Keliling Bandung dengan Angkot

Files under Diary | Leave a Comment

Pernahkah anda melakukan suatu aktivitas yang menurut sebagian orang bisa dikatakan kurang kerjaan, buang-buang waktu, atau buang-buang uang, namun menurut anda aktivitas tersebut justru menyenangkan dan menantang?

Akhirnya, di sore hari itu aku berhasil mengajak suamiku berkelana naik angkot selama hampir 3 jam. Dari Dago ke Riung Bandung, beli bakso, kemudian kembali lagi ke Dago. Naik angkot sejauh 15 km (pergi-pulang) hanya untuk membeli dua mangkok bakso seharga Rp 5000.

Awalnya, sore itu kami bermaksud mencari makan di Simpang Dago. Bosan dengan aneka makanan di Simpang Dago, aku mengajak suamiku mencari makan di tempat lain. Akhirnya kami naik angkot Dago-Riung Bandung, sambil tengok kanan-kiri di sepanjang perjalanan, siapa tahu melihat warung makan yang menarik.

Dipati Ukur, Gasibu, Diponegoro, Citarum, Riau, Kosambi, Cicadas, Binong, terlewati sudah. Sampai ke jalan Soekarno-Hatta, lalu angkotnya muter, belok ke Cipamokalan, dan akhirnya masuk ke Perumahan Riung Bandung. Angkot melewati kompleks perumahan.

Akhirnya kami turun di kompleks perumahan, karena takut kalau ditanya sopirnya “turun di mana?” Kami makan di warung Bakso yang kami jumpai di kompleks perumahan tersebut. Setelah selesai makan, kami pun kembali naik angkot ke Dago, dengan sebelumnya memastikan bahwa kami tidak naik angkot yang sama dengan waktu berangkat tadi.

Dulu sebelum menikah, aku sering melakukan hal ini. Beberapa angkot yang pernah aku coba antara lain:

  • Angkot Cicaheum-Cibaduyut, sampai ke poll angkot di Cibaduyut.
  • Angkot Sadang Serang-Caringin, sampai ke Caringin (Kopo).
  • Angkot Dipati Ukur-Panghegar Permai, ternyata ga sampai Panghegar Permai, angkotnya muter di jalan.
  • Angkot Sadang Serang-Gede Bage, cuma sampai Ujung Berung.

Bukan kurang kerjaan lho ya… Meskipun naik angkot tanpa tempat tujuan pasti, perjalanannya itu yang aku nikmati. Bisa mengetahui kehidupan kota Bandung, kalau dipikir-pikir sampai sekarang lebih banyak daerah yang belum aku kutahui daripada yang sudah aku ketahui. Dan naik angkot ini cukup aman, karena biarpun tersesat pasti dapat kembali lagi (dengan naik angkot yang sama).

Apr
24

MQ 102.7 FM

Files under Diary | Leave a Comment

Aku mengenal stasiun radio ini sejak duduk di tingkat 1. Waktu itu masih bernama Radio Ummat di frekeunsi 1026.5 AM. Awalnya, waktu itu di bulan Ramadhan setiap waktu sahur aku selalu mendengar siaran radio ini dari tetangga kamarku. Mendengarnya, rasanya enak banget, karena baru waktu itulah aku mengenal siaran radio yang benar-benar Islami.

Ketika aku mudik ke Yogya, aku meminta pada orang tuaku, supaya salah satu radio di Yogya boleh kubawa ke Bandung. Orang tuaku menolak, dengan alasan radionya berat, aku pasti kerepotan membawanya naik kereta sendirian dari Yogya ke Bandung. Akhirnya aku kembali ke Bandung dengan rasa sedih.

Beberapa hari setelah aku tiba di Bandung, ada kiriman paket dari Yogya. Alhamdulillah, aku dikirimi radio dari Yogya. Sebuah radio dengan merek National (sekarang masih ada ga ya?) yang bahkan usia radio ini lebih tua daripada usiaku. Ya, di rumah kami di Yogya memang ada banyak radio, kata orang tuaku belinya pas tahun 1970-an dulu.

Biarpun radio jadul (jaman dulu), tapi tetep saja bisa dipakai. Mulai saat itulah aku menjadi pendengar setia Radio Ummat. Dan akhirnya, pada bulan Agustus 2001 (kalau ga salah), muncul stasiun radio baru sebagai ‘anak’ dari Radio Ummat, yaitu radio MQFM di frekuensi 102.65 FM. Sejak saat itu aku beralih menjadi pendengar setia radio MQFM, yang sekarang frekuensinya berubah menjadi 102.7 FM.

Banyak manfaat yang aku dapat dari radio ini. Pengajian dari DT setiap pagi, taushiyah-taushiyah yang sering disampaikan penyiarnya, juga bisa mengetahui perkembangan nasyid-nasyid baru.

Ok, berikut aku tuliskan jadwal acara di radio MQFM ini.

04.00 - 05.00
Murrotal menjelang Subuh, azan Subuh, Al Ma’tsurat
05.00 - 06.00
MQ Pagi: pengajian langsung dari masjid DT
06.00 - 06.30
Tahajjud Call on Air: media komunikasi anggota Keluarga Insan Tahajud Call Indonesia
06.30 - 09.00
Inspirasi Pagi: menghadirkan rangkaian informasi aktual dan satu tema yang dibahas secara ringan dan menyenangkan
09.00 - 10.00
Ensiquest (Ensiklopedi by request)
10.00 - 12.00
Share and Care: ruang konsultasi berbagai persoalan keluarga bersama dengan narasumber yang kompeten di bidangnya
12.00 - 13.00
Azan Dhuhur
13.00 - 15.00
Senandung Qita
15.00 - 16.00
Azan Asar, Al Ma’tsurat
16.00 - 17.30
Oase Iman:
- Senin: Kajian Tafsir Tematik
- Selasa: Kajian Akhlaq
- Rabu: Islam dan Kehidupan
- Kamis: Kajian Hadits
- Jumat: Kajian Aqidah
- Sabtu: Kajian Fiqh
17.30 - 18.30
Menjelang Maghrib, azan Maghrib
18.30 - isya’
Q on Air: ruang belajar Al Quran dengan metode Tahsin
19.30 - 21.00
Bincang malam
- Senin: Bincang pencerahan bersama Mas Andri Maadsa
- Selasa: Bincang Al Quran dan sains bersama LPP Salman ITB
- Rabu: Bincang Bisnis bersama Dr .Ir. Budi Djatmico, M.Si. owner Bandung Bussines School
- Kamis: Pengajian Asmaul Husna
- Jumat: Jendela keluarga bersama Ust. Budi Prayitno
- Sabtu: Curhat Remaja bersama Ust. Darlis Fajar
- Ahad: Lentera Hikmah
21.00 - 24.00
Nuansa malam: ruang untuk berbagi cerita kehidupan sahabat MQ

Apr
23

Sebuah Perjalanan (bagian 3-habis)

Files under Perjalanan | Leave a Comment

Acara ’serah terima’ ini berakhir jam 22.30. Bayangkan, habis dari Maghrib sampai jam segini, aku sendiri sebenarnya udah ga betah berada di sana sejak jam 21.00. Kebanyakan hiburannya, acara intinya sendiri cuma sebentar.

Keesokan harinya, akad nikah dimulai pukul 9.00 sampai pukul 10.00. Setelah itu aku dan suamiku pulang dulu ke rumah karena kakak iparku datang dari Sukoharjo untuk mengantar komputer suamiku. Setelah itu kami ke KUA untuk mengurus surat nikah, yang intinya suamiku telah lunas membayar mahar yang dulu masih dihutang. Alhamdulillah…

Habis itu kami kembali lagi ke walimahan kakakku. Acaranya selesai jam 14.00. Hmm, kalau dihitung-hitung hari ini kami menempuh perjalanan dengan motor lebih dari 50 kilometer :D

Malamnya, kami kembali ke Bandung. Rencananya mau naik kereta Lodaya yang berangkat jam 21.00. Ternyata tiket kereta Lodaya untuk tempat duduk yang bersebelahan sudah habis. Jadi akhirnya kami naik kereta api Turangga yang berangkat jam 23.00.

Oya, aku sempat melihat Kamal di stasiun Yogya saat dia mau naik kereta Lodaya, tapi dari kejauhan dan Kamal tidak melihat aku. Lagipula aku ragu itu benar-benar Kamal atau bukan. Esoknya aku tanya ke Kamal, eh ternyata benar yang aku lihat tersebut adalah dirinya.

Sekian liputan ‘Sebuah Perjalanan’-ku ke Yogya selama 2 hari 1 malam, plus 2 malam di kereta. Sungguh perjalanan yang melelahkan, tapi menyenangkan.