Mulai bulan Mei 2008 ini, aku resmi keluar dari ComLabs ITB. Bukan karena penghasilanku kecil, penghasilanku dari bekerja di sini lebih dari cukup, bahkan pernah melebihi penghasilan suamiku. Aku keluar atas keinginanku sendiri, bukan karena pengaruh pihak lain, bukan pula karena ‘diberhentikan’ seperti yang dialami beberapa rekanku.
Sesungguhnya, aku tidak pernah bercita-cita menjadi karyawan. Pengalaman Kerja Praktek di sebuah perusahaan besar di Jakarta tingkat 3 dahulu, telah membuatku bertekad tidak ingin menjadi karyawan, apalagi di sebuah perusahaan besar.
Lulus kuliah tahun kemarin, banyak tawaran kerja masuk ke emailku maupun telepon. Maklum, namanya juga fresh graduated Teknik Informatika ITB, begitu lulus banyak tawaran. Bukan tawaran kerja, tapi tawaran untuk mengikuti tes kerja di perusahaan mereka. Halah! Tak satu pun kugubris.
Desember kemarin aku ditawari untuk bekerja di ComLabs ITB. Sebelumnya selama 5 tahun ini aku memang aktif di ComLabs, dari menjadi asisten workshop mahasiswa baru, menjadi asisten pelatihan, sampai menjadi Instruktur Master yang memiliki jam terbang mengajar lebih dari 200 jam (tepatnya aku lupa :D). Dengan senang hati tawaran tersebut aku terima. Ah, menyalahi cita-cita awalku.
Awalnya aku merasa enjoy, tapi sebulan berlalu aku mulai merasa jenuh. Aku sangat diatur waktu, aku tidak bebas melakukan aktivitasku sendiri. Padahal aku punya hobby, harapan, dan cita-cita yang ingin aku wujudkan. Di sini aku merasa kering ruhiyah, amalan yaumi pun menurun. Setelah berkonsultasi dengan suamiku, akhirnya aku mantap untuk keluar setelah masa kontrakku berakhir.
Mei ini masa kontrakku berakhir. Sempat sedih juga keluar dari ComLabs, meninggalkan apa yang telah menjadi komunitasku selama ini. Tapi aku telah bertekad “Faidza ‘azamta fatawakkal ‘alallah“. Apabila kamu telah membulatkan tekad, maka berserahdirilah kepada Allah. Maka, aku pun mantap keluar dari pekerjaanku ini.
Aku mantap meninggalkan semua jabatan yang diberikan padaku, Ketua Tim Bidang Kompetensi Webmaster, Instruktur Master dengan jam terbang mengajar tertinggi, dan lainnya. Oya, meski sejak 2 bulan lalu aku sudah merasa jenuh bekerja, bukan berarti kinerjaku mengecewakan. Kinerjaku malah bisa dikatakan paling tinggi dibanding teman-temanku, dan selama bekerja di sini aku paling disiplin, tidak pernah satu kali pun datang terlambat.
Kini saatnya menyongsong hidup baru yang lebih cerah, saatnya mengisi waktu dengan hobby dan kegemaranku, saatnya mengejar impianku, saatnya meraih harapanku, saatnya mewujudkan cita-citaku. Ya, aku yang mengatur waktuku, bukan waktu yang mengatur aku!
# Postingan ini juga menegaskan bahwa aku tidak lagi bertanggung jawab terhadap pelatihan-pelatihan FWD, FWP/WPP, IWP, WDC, IWLN, IWDC, IWDV, ataupun lainnya.

By phat on May 7, 2008 | Reply
selamat menempuh “hidup baru” mbak
terima kasih
By indz on May 8, 2008 | Reply
Waah, hosting sendiri.. Tp kok .com? Mw buat bisnis nantinya y mbak?
Hmm.. Jadi berhenti y mb, kalau gt skrg bisa sering2 blajar masak dong, hehe. O y,kirain tawaran kerja, tnyata tes aja. Kalw kerja aq juga mau dh. Eh, enaknya kerja atw sekolah lg y mb?
indzs last blog post..FF Chartest
Iya, alhamdulillah punya rezeki sehingga bisa beli hosting dan domain sendiri.
.com itu com-nya community, bukan commersial atau company. Seperti halnya rakhmawan.org, org-nya kan orang, bukan organization
Pinginnya belajar masak, tapi ntar nunggu dibeliin kompor sama suami dulu.
Enak kerja atau sekolah lagi, tergantung cita-cita lho, cita-citanya mau jadi apa dulu? Nah, untuk menuju ke cita-cita tersebut, mana yang paling mungkin, kerja atau sekolah lagi?
By za on May 8, 2008 | Reply
Semoga dilapangkan dengan pilihan kamu Rit! Ditunggu cerita aktivitas barunya ya. Salam kenal untuk suami.
zas last blog post..Cetak Mencetak
Amin, terima kasih doanya, Za!
Kamu dapat salam balik dari suamiku.
By ahmad on May 15, 2008 | Reply
enaknyaa.. jadi istri ga ada kewajiban tanggung jawab untuk nafkahin keluarga.
i hate being employee too :’(
pertama kali ikutan test rekruitmen indosat (kemarin).. pengalaman buruk melihat bagaimana mereka memperlakukan “calon pegawai”-nya (aku post flame buat test rekruitmen di salah satu blog)
jadi inget sms mbak rita.. sedikit tapi mengingatkan.. jauh lebih berarti daripada banyak yang melalaikan. (tapi aku pengen banyak yang mengingatkan.. hehe)
ahmads last blog post..Berkemas
kata siapa jadi istri itu enak karena ga wajib cari nafkah? coba baca ini
kalau ga suka jadi employee, coba jadi manager atau entrepreneur
kalau ingin banyak yang mengingatkan, ya nikah dulu sana.. hehe
By ahmad on May 17, 2008 | Reply
owh gitu… sedih yah berarti jadi istri (jadi paradox ama statementnya yah.. hehe)
manager atau CEO sejatinyapun employee, cuman dia sekaligus employer juga. tapi yang penting halal dan sesuai ama jiwa.. i think that’s ok
kalo dah nikah bakal banyak yang ngingetin ato bakal banyak diingetin? hihihi… (mentang2 dah nikah ni). mbak setelah istikharah tapi tetep ga mantep.. berarti ada yang salah ama istikharahnya? ato tuntunannya gimana sih?
ahmads last blog post..Berkemas
kok sedih sih? bahagia donk, kan separuh dien sudah terpenuhi. yang jelas, kita wajib tahu aja, bahwa sebagai suami ataupun sebagai istri, dua-duanya punya hak dan amanah yang harus ditunaikan, juga dipertanggungjawabkan kelak.
kalau dah nikah, bakal banyak yang ngingetin sekaligus bakal banyak diingetin
setelah istikharah ga mantep? bukannya jawaban dari istikharah itu mantep atau ga mantep?
By ragil on May 29, 2008 | Reply
wah sayang banget ya mbak..
tapi emang seharusnya gitu sih
selamat manempuh new life..
thanks for visiting
makasih kembali