Mar
6

Nafkah dan ‘Enak’

Files under Diary, Keluarga | Posted by Amorita Kurnia Dewi

“Enak ya jadi istri, nafkah ditanggung suami”

Kalimat sindiran yang sering kudengar dari teman-temanku. Benarkah menjadi istri itu enak hanya karena nafkahnya ditanggung suami? Jika jawabannya “ya”, maka betapa sempit pemahaman ‘enak’ dan ‘ditanggung’ dalam kalimat di atas.

Apakah menjadi istri itu enak? Lihatlah bukankah mayoritas penghuni neraka adalah wanita. Mereka adalah para wanita yang tidak bersyukur pada suaminya. Menjadi istri, tidak bisa dibilang enak atau tidak, karena itu sudah takdir Allah. Menjadi istri, haruslah bersyukur, karena dengan syukur itulah ia dijauhkan dari neraka, dan menjadi calon bidadari syurga.

Nafkah ditanggung suami? Bukan berarti istri bebas menggunakan nafkah pemberian suami. Tetap saja nanti di akhirat pertanggungjawabannya sendiri-sendiri, tidak ada yang namanya pertanggungjawaban ditanggung suami. Seorang istri akan mempertanggungjawabkan nafkah yang telah diberikan suaminya, untuk apa nafkah tersebut ia gunakan, apakah ia gunakan untuk kebaikan atau sebaliknya.


Artikel terkait:


7 Responses to “Nafkah dan ‘Enak’”

  1. #1 By fiksiNo Gravatar on 7 Mar 2008 | Reply

    wah. kalo ke depannya blog ini bisa jadi panduan pengantin baru bagus nih :D. jadi ntar tag-nya “why you have to learn from the beginning if you can learn it from me”.

    fiksi’s last blog post..Ekspedisi Pulau Sempu (2)

    panduan pengantin baru? ah, bisa aja mas. tapi semoga aja blog ini bermanfaat bagi semua orang ya…

  2. #2 By tantanNo Gravatar on 7 Mar 2008 | Reply

    Iya ya, bbrp artikel yg sy temukan ttg membina rumah tangga. Good luck mbak, jadi keluarga yg sakinah, mawaddah wa rahmah. amien…

    tantan’s last blog post..Kapanlagi.com bagi-bagi 50 juta rupiah

    Amiin… makasih ya mas, atas doanya :)

  3. #3 By RaffaelNo Gravatar on 7 Mar 2008 | Reply

    Aku rasa yang ngomong gitu ibu ibu yang pemikiran nya di dengkul, hueheuhuhe,

    Mungkin mereka belum paham aja mas…

  4. #4 By donnyrezaNo Gravatar on 7 Mar 2008 | Reply

    Ehehe, gimana ya? jadi penasaran pengen jadi pengantin :) )

    Yah, dinafkahi kok enak sih? ^_^ gk ’sadar’ apa kalau perempuan sering jadi ‘beban’? *Kabooorrrrrr*…:D *mode nyindir: on*

    Wah, nyindir nih ya? Tapi makasih juga, udah mengingatkan. Semoga aku tidak sering jadi beban suamiku ya..

  5. #5 By NikeNo Gravatar on 7 Mar 2008 | Reply

    Saya setuju, wong saya juga kerja kok, jadi bisa beli keperluan saya pribadi tidak dengan mengganggu penghasilan suami

    Nike’s last blog post..Tentang Kepergian

    Wah, bagus lah mbak kalau bisa mandiri sendiri.

  6. #6 By edratnaNo Gravatar on 7 Mar 2008 | Reply

    Saya bekerja, karena memang agar tak ribut soal pertanggung jawaban. Mosok cuma mau beli jepit rambut, peniti…dsb nya harus dipertanggung jawabkan. Walaupun suami, tetap orang lain…uang suami harus dipertanggung jawabkan penggunaannya oleh isteri.

    Saya suka bingung kalau melihat, ada isteri yang lebih galak dari suami, padahal dia nggak kerja….padahal cari uang tuh susaaaah….dan rupiah demi rupiah harus dikumpulkan….

    edratna’s last blog post..8-8-08

    Kalau gitu istri ga boleh lebih galak dari suami ya, Bu? :)

  7. #7 By rohniNo Gravatar on 7 May 2008 | Reply

    wah, mbak…perlu banyak belajar nih…

    rohni’s last blog post..Perjuangan…

    sama-sama ya… kami juga masih perlu banyak belajar nih…

Post a Comment