Perlukah mengatur keuangan keluarga?
Sejak aku duduk di bangku SD ibuku mengajariku mengatur keuangan. Aku diberi uang saku di awal bulan untuk kupergunakan selama sebulan. Setiap hari aku mencatat pemasukan dan pengeluaranku. Namun lama-lama aku jadi malas mencatat.
Sekarang, setelah menikah aku kembali melakukan rutinitas tersebut, mencatat pemasukan dan pengeluaranku setiap hari. Tujuanku untuk mempermudah mengontrol keuangan, mengetahui seberapa besar kebutuhanku per bulan, dan mengevaluasi seberapa besar tingkat konsumsiku.
Aku mencatat arus keuangan keluarga dalam format Excel, sekedar untuk memudahkan saja. Berikut adalah bagian-bagian dalam laporan keuanganku:
Kas Awal - diisi awal bulan
Tabel Anggaran - per kategori, diisi awal bulan, bisa diubah sewaktu-waktu
Arus Kas, meliputi tanggal, uraian, kategori, dan nilai - diisi tiap hari
Arus Tabungan, segala sesuatu yang berhubungan dengan tabungan - diisi optional
Arus Hutang, segala sesuatu yang berhubungan dengan hutang - diisi optional
Tabel Tabungan - di-generate dari Arus Tabungan
Tabel Hutang - di-generate dari Arus Hutang
Tabel Pemasukan - di-generate dari Arus Kas
Tabel Pengeluaran - di-generate dari Arus Kas
Tabel Sisa - Tabel Anggaran dikurangi Tabel Pengeluaran
Cash In - total pemasukan
Cash Out - total pengeluaran
Cash Flow - total pemasukan dikurangi total pengeluaran
Kas Akhir - Kas Awal ditambah dengan Cash Flow
Tampak rumit? Tidak juga. Bikinnya saja yang agak rumit, tapi makainya gampang kok. Yang harus diisi tiap hari hanya bagian Arus Kas. Arus Tabungan dan Arus Hutang jarang, Kas Awal hanya tiap awal bulan, Tabel Anggaran bisa diubah-ubah sesuai kebutuhan, yang lainnya bekerja otomatis.
Artikel terkait:

#1 By za
on 7 Mar 2008 | Reply
Waah… dari SMA aku paling anti pelajaran akuntansi. Sekarang juga masih malas baca teori mengatur keuangan. Tapi aku selalu berusaha gak boros
Pengen beli rumah di pinggir pantai, Rit
za’s last blog post..Metamorfosis
Yup, aku pun dulu ga suka pelajaran Akuntansi. Tapi aku suka mencatat hal-hal yang kecil.
Kalau aku sih pinginnya di daerah pegunungan.
Kenapa di pinggir pantai, Za? Ga takut tsunami?
#2 By Indri
on 7 Mar 2008 | Reply
Wah,kucontek caranya y mbak. akhir2 ini aq tampaknya boros jg kyknya nggak,tp gak terkontrol
Silakan aja, Indri…
#3 By Raffael
on 7 Mar 2008 | Reply
aku punya excel nya.. dipake untuk dirumah
wah, sama donk…
#4 By Ooze
on 7 Mar 2008 | Reply
YOOOOOOOW….
waaaa….
pasti mba’ rita kangen2an terus nih… (^_^)
tapi at least ada orang yang merindukan dan dirindukan (^_^)
pengeeen… ** bukan long distancenya ya (^_^) **
Ooze’s last blog post..Proposal Daisakusen
Ya, gitu deh… Enaknya kalau hidup berjauhan, tiap hari bisa kangen-kangenan terus, jadi serasa pengantin baru
#5 By edratna
on 7 Mar 2008 | Reply
Rita, justru setelah menikah harus rajin mencatat (ajaran ibuku). Dan buku juga terbuka, agar suami ikut baca pencatatan kita. Hal ini agar tak menimbulkan kesalahpahaman, mengapa uang cepat habis, dan bisa menganggap isteri boros. Dengan mencatat, kita juga belajar, pos-pos mana yang bisa dibuat efisien…karena kita juga perlu menabung kan?
Jika awalnya masih tak bisa menabung, jangan patah semangat, makin lama kita makin lihai kok mengatur keuangan…..sssst…dan ini berguna juga saat kita menjadi pimpinan.
edratna’s last blog post..8-8-08
Makasih bu… Memang benar, dengan mencatat pengeluaran kita, kita jadi lebih ‘pandai’ memanajemen hidup.
#6 By b_meilani
on 7 Mar 2008 | Reply
mba aku mau dunks dikirimin contoh tabel cash flownya. maklum rada Lemot neh alias rada o’on hehehe..
thanks ya
nanti saya kirim ke email mbak.
#7 By ika
on 7 Mar 2008 | Reply
mba…
bisa minta dalam bentuk tabelnya gak?
(penginnya praktis…:P)
terima kasih sebelum dan sesudahnya.
boleh, nanti saya kirim ke email ya…