Selepas mengunjungi lumpur Lapindo di Porong, Sidoarjo, kami kembali ke Surabaya. Tak lupa kami mampir ke Masjid Al Akbar Surabaya untuk menunaikan shalat Asar.

Masjidnya bagus ya
Besar dan luas, arsitekturnya juga indah.
Sayangnya, di masjid ini aku kok merasa banyak penjaganya ya. Di depan masjid ada penjaga yang menunggui kotak infaq. Di tempat wudhu akhwat (di ikhwan mestinya juga ada) juga ada penjaga yang menunggui kotak infaq. Jadi kurang bebas aja, infaq kok sepertinya ‘wajib’, di beberapa tempat lagi. Lebih nyaman di Masjid Salman, Pusdai, atau DT, kotak infaq tidak usah dijaga. Jadi tidak ada rasa sungkan atau ‘ga enak’, masak mau infaq aja dilihatin dan terkesan ‘wajib’ lagi.
Cerita di Surabaya berakhir di sini ya, udah cukup panjang nih, sampai makan enam postingan
Artikel terkait:

#1 By YoHang
on 29 Sep 2008 | Reply
Oleh-olehnya ditunggu mbak…
Lho, aku ke sana udah 3 bulan yang lalu kok.. :p
#2 By reezkasphere
on 16 Oct 2008 | Reply
kotak infaknya dijagain mungkin takut ada yg ngambil kali..
mungkin memang takut ada yang ngambil. terasa kurang nyaman aja kalau dijagain gitu.