Tahun lalu, ketika terdengar kabar bahwa novel Ayat-ayat Cinta akan difilmkan, aku termasuk yang mengatakan tidak setuju. Dengan alasan, sangat sulit membuat film yang mengisahkan keindahan Islam seperti novel Ayat-ayat Cinta.
Alhamdulillah, akhir tahun kemarin aku diberi kesempatan berjumpa Kang Abik di acara bedah buku di Masjid Salman. Komentar Kang Abik tentang novelnya yang akan difilmkan sangat positif, Kang Abik ingin bersilaturahim kepada orang-orang yang ‘kurang suka membaca buku’ dengan film Ayat-ayat Cinta ini.
Mulai saat itulah, pikiranku berubah. Aku jadi merindukan hadirnya film Ayat-ayat Cinta. Bahkan aku mengangendakan untuk nonton di bioskop bersama suamiku. Begitu menarik kah film ini bagiku? Sampai aku yang seumur hidup baru dua kali ke bioskop (waktu kelas 1 SD bersama keluargaku dan waktu SMU bersama teman-temanku) mengagendakan hal ini?
Aku pertama kali membaca novel Ayat-ayat Cinta awal tahun 2005 lalu, dengan meminjamnya dari temanku. Membacanya, membuatku tak berhenti meneteskan air mata. Di setiap babnya, hampir pasti ada kutipan ayat Qur’an, hadits, ataupun ibrah lainnya yang serasa ‘menohok’ diriku. Aku jadi merasa masih banyak pelanggaran (terhadap agama) yang sering ku lakukan.
Kembali ke masalah film, akhirnya film Ayat-ayat Cinta selesai diproduksi, termasuk bajakannya yang lebih cepat beredar daripada film aslinya. Aku pun mendapatkan bajakan film tersebut di salah satu FTP di kampusku. Aku download, dan aku tonton di rumah.
Kesan pertama saat menonton film tersebut adalah ‘aneh’. Kebetulan aku sudah membaca beberapa komentar orang terhadap film ini, aku tidak begitu kaget melihat ‘keanehan’ di film ini. Terutama jalan cerita yang banyak berubah dari novelnya.
Setelah melihat komentar-komentar orang tentang film ini, aku bisa menarik suatu kesimpulan.
Bagi orang yang belum pernah membaca novel Ayat-ayat Cinta, film ini sangat bagus. Ya memang, dibandingkan film-film pop atau film-film cinta jaman sekarang. Mana ada film-film cinta sekarang yang islami. Dan di film Ayat-ayat Cinta ini, label islaminya cukup terlihat.
Namun, bagi orang yang sudah pernah membaca novel Ayat-ayat Cinta, termasuk para aktivis da’wah, banyak yang kecewa dengan hadirnya film ini, termasuk aku. Memang, kalau aku lihat film ini bagus, tapi sayang nilai-nilai islamnya jadi tidak tersampaikan dengan benar.
Menurutku, film Ayat-ayat Cinta ini lebih pantas disebut “film cinta yang dilabeli islam” daripada “film islami”. Tapi biarlah, karena film Ayat-ayat Cinta tidak sama dengan novel Ayat-ayat Cinta.
Trus, apakah aku jadi menonton film ini di bioskop. Tidak! 20ribu rupiah masih termasuk harta mewah bagiku, bisa buat makan malam selama seminggu. Meski kata orang, film yang asli banyak perbedaan dengan film bajakannya, tapi aku sudah bisa menangkap jalan ceritanya.
Artikel terkait:

#1 By satriyo
on 7 Jun 2008 | Reply
assalaamu alaikum,
salam kenal. saya lihat link ini di milis yang kita sama-sama join.
eniwei, apa yang ukhti paparkan adalah satu dari sekian tanggapan atas film AAC, besutan Hanung. Walau ide awal adalah dari Novel karya kang Abik, praktis dalam perjalan pembuatan, hanya 75% (katanya) dari isi novel yang bisa difilmkan, dan selebihnya adalah murni inisiatif kontekstual Hanung atas segala kendala yang ada.
Hal lain lagi yang patut menjadi pertimbangan adalah, film AAC atau film apapun jelas bukan filial atau turunan dari karya tulisa macam novel. Jadi walau sama, tetap tidak sama. Sebagai sebuah produk sinematografi, AAC harus dilihat dari perspektif film, bukan novel.
Saya pribadi ketika menonton (melalui antrian dan tidak bisa nomat — kalo nomat yg 10000 juga ada) cukup tersentuh. Mungkin krn memang Hanung bisa meramu skrip dengan adegannya, mungkin karena saya sudah pernah membaca novelnya sehingga perasaan saya adalah ‘menonton’ novel, bukan film.
Intinya, tetap beda melihat produk resmi dan ‘halal’ dengan yang bajakan dan tidak jelas ’statusnya’ …
Tidakkah keluar ‘biaya’ juga ketika mendapatkan bajakannya ini?
Apapun juga, sebagai sebuah pioner film berbasis dakwah/islam, AAC patut kira syukuri, betapapun kekurangannya di sana sini.
salam kenal …
satriyo’s last blog post..melati’s anahata - Islam Memperkaya Mosaik Australia
#2 By indz
on 7 Jun 2008 | Reply
Buat mas satriyo, saya rasa kurang pas jika disebut bajakan, karena memperolehnya tidak komersil, tinggal copy file dari disk satu ke disk lainnya, tidak keluar biaya. Paling cost untuk meng-copy file saja dong. Statusnya jelas kok, draft copy-an ^_^;
Tentang AAC? no comment dech.. saya juga cuma nonton video yang masih draft, bagian ketiga (ending-nya) saja.
indz’s last blog post..Bunda: Besok kalau besar mau jadi apa, nak? Ananda: Sarjana bu..
#3 By satriyo
on 7 Jun 2008 | Reply
maaf, mba, jika terma ‘bajakan’ ini sedemikian lentur buat sementara kalangan. bajakan di sini artinya memperoleh dengan cara tidak lazim, yang dalam hal ini tentu tanpa mengeluarkan biaya atau dengan biaya tapi berasal dari sumber ‘tidak resmi.’ buat saya inilah maksud bajakan. semua kembali ke kita sih. saya hanya menaruh hormat kepada adhi-karya kang Abik ini (ustad dan kolega saya) dan mengharap berkah Allah dari filmnya juga. jadi, doa saya, semoga film ini Allah jadikan sarana dakwah, meski buat sementara bentuk dakwah yang dimilikinya jauh dari ’sempurna.’
memang, buat film AAC (kadang sering tidak jelas, AAC ini yang novel atau yang film), saya memang sedikit sulit menerima mereka yang sudi komentar tanpa ambil pusing membaca atau menonoton penuh filmnya. mending diam saja jika memang tidak tahu langsung. akan jadi debat kusir … spt saya amati di beberapa komunitas maya.
satriyo’s last blog post..melati’s anahata - Islam Memperkaya Mosaik Australia
#4 By indz
on 7 Jun 2008 | Reply
Resmi = halal, bajakan = haram? Hehe, ya sudah lah kalau demikian ^_^
indz’s last blog post..Bunda: Besok kalau besar mau jadi apa, nak? Ananda: Sarjana bu..
#5 By satriyo
on 7 Jun 2008 | Reply
you are just being modest, are you not …
satriyo’s last blog post..melati’s anahata - Islam Memperkaya Mosaik Australia
#6 By indz
on 7 Jun 2008 | Reply
Hmm.. Maybe yes.. maybe no..
indz’s last blog post..Bunda: Besok kalau besar mau jadi apa, nak? Ananda: Sarjana bu..
#7 By narpen
on 7 Jun 2008 | Reply
saya baca novel (jaman dulu sih..), nonton bajakan, sama nonton di bioskop..
baca perjuangan mas hanung di blognya, saya juga jadi lebih menghargai betapa beratnya menyuguhkan film ini ke depan kita semua..
klo kita termasuk yang berharap ke depannya akan ada yang sudi membuat film semacam ini lagi, menurut saya mari budayakan mendukung produk dalam negeri..
jika memang termasuk tidak tertarik, ya sudah tidak usah menonton. menurut saya menikmati bajakannya seperti mencuri barang, karena kita menikmati karya seseorang tanpa seizin pemiliknya.
-no offense-
apakah itu halal? atau memang dihalal-halalkan?
narpen’s last blog post..Driver D-ONE DM289
#8 By indz
on 7 Jun 2008 | Reply
Waduh, maaf kalau salah paham, saya tidak tau menahu tentang AAC karna memang tidak nonton, saya juga tidak melibatkan diri dalam ‘debat kusir’ spt yang dibilang mas satriyo. Saya hanya mencoba menjawab pertanyaan mas satriyo ‘tidakkah keluar biaya ketika memperoleh bajakannya ini?’, dan saya coba jawab tidak, krn tinggal copy paste. Saya juga tidak tahu halal atau haram, memang sebaiknya, JiKA mampu, gunakan yang asli, bukan bajakan. Meski saya akui saya masih sering berhadapan dgn bajakan, karna dari segi ekonomis saya tidak belajar kalau tidak pakai bajakan, dalam hal ini tentang Software bajakan. Kemudian, bukan maksud saya untuk tidak nonton sepenuhnya, tapi kbetulan teman saya hanya meninggalkan draft ketiga di flashdisk saya yang dia pinjam, jadi hanya sempat nonton ketiga saja,bukan karna suka atau tidak suka film nya. Maaf kalau ada kata yang tidak berkenan. Trims.
indz’s last blog post..Bunda: Besok kalau besar mau jadi apa, nak? Ananda: Sarjana bu..
#9 By Sang Penulis
on 7 Jun 2008 | Reply
suka baca juga?
Sang Penulis’s last blog post..1. Aku
Insya Allah, makasih ya.. atas kunjungannya…
#10 By ade triastanto
on 7 Feb 2009 | Reply
filmne kuk lucu tnuuuuuuuuuuuuun……………….
ekekekekekekekekekekeke………….
bkin terharu,,,,………..