Sep '08
24

Kematian

Files under Kontemplasi | Posted by Amorita Kurnia Dewi

Entah kenapa akhir-akhir ini aku banyak berpikir tentang kematian. Banyak orang telah meninggalkan kita, kembali kepada-Nya. Kita pun tinggal mengunggu waktu untuk menyusulnya.

Penyebab orang mati bermacam-macam. Ada orang mati karena sakit, sebelum mati tentu ia merasakan puncaknya sakit. Ada orang mati karena kecelakaan di jalan, sebelum mati tentu ia merasakan sakit (misal: tertabrak, sampai berdarah-darah). Ada orang mati tenggelam di air, sebelum mati tentu ia merasakan sakit (ga bisa bernapas, air masuk ke paru-paru). Ada orang mati dibunuh, sebelum mati ia juga merasakan sakit (dipukul, ditusuk). Ada orang mati karena berdesak-desakan, sebelum mati ia pun merasakan sakit (kehabisan nafas, terinjak-injak).

Ada tidak ya, orang yang tidak merasakan sakit ketika mati?

Semua orang yang mati itu, telah mengalami sakaratul maut. Bagaimana rasanya sakaratul maut. Berikut ketika Rasulullah menghadapi sakaratul maut:

“Jibril, betapa sakitnya, sakaratul maut ini.” Perlahan terdengar desisan suara Rasulullah mengaduh.
Sedetik kemudian terdengar Rasulullah memekik kerana sakit yang tidak tertahankan lagi.
“Ya Allah, dahsyat sekali maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku,” pinta Rasul pada Allah.

Rasul saja kesakitan menghadapi sakaratul maut, bagaimana kita nanti?

Mendengar kabar ada orang meninggal, aku selalu berpikir “Orang itu telah mengalami masa paling menyakitkan dalam hidupnya”. Bagaimana ketika aku mati nanti? Mampukah aku menghadapi sakitnya sakaratul maut? Mampu atau tak mampu, kita semua pasti dan harus menghadapinya.

Nenekku meninggal karena sakit, beberapa hari sebelum meninggal beliau sering berteriak-teriak karena sakit yang dideritanya. Begitu pula ketika kakekku akan meninggal, meski beliau sudah tak bisa berkata-kata lagi, tapi aku yakin beliau merasakan sakit tiada tara. Pun demikian ketika ibuku meninggalkanku, beberapa hari sebelumnya ibu sudah tak mampu membuka mulutnya sehingga untuk makan harus lewat hidung, aku yakin ibu juga merasakan sakit. Makanya, sehari sebelum ibu meninggal, ketika kutahu sakit ibuku sudah semakin parah, aku memohon pada Allah supaya mempercepat proses sakaratul maut ibu. Aku tak tega melihat ibu menderita terlalu lama. Dan paginya, ketika ibu meninggal, aku merasa lega, sakaratul maut itu telah berakhir.

Aku tak tahu bagaimana aku mati kelak. Rasanya tak begitu penting membayangkan seperti apa kematian kita kelak. Toh sudah jelas, setiap sakaratul maut itu sakit. Yang lebih penting adalah bagaimana kita mempersiapkan agar ketika mati kita berada dalam keadaan husnul khatimah, bukan su’ul khatimah.

Taushiyah dari Aa’ Gym:

Jangan sampai kita mati dalam keadaan bermaksiat kepada-Nya. Mulut sering tak sadar menyenandungkan kemaksiatan, siapa tahu di situlah akhir hidup kita. Setiap saat, jangan pernah kita berhenti mengingat-Nya, karena kita tak tahu kapan ajal kita. Kematian bisa datang kapan saja, dan tak ada satu pun yang dapat menduganya.

Taushiyah dari Ustadz Budi Prayitno:

Kadang kita berpikir, kenapa ya ada orang shaleh yang akhir hidupnya mengenaskan. Itu karena Allah sangat mencintainya. Allah ingin mencuci dosa-dosanya di akhir hayatnya. Ketika ia mati, sakit yang ia rasa telah membersihkan dosa-dosanya. Sehingga ketika ia menghadap Allah, ia sudah bersih dari dosa.

Indah betul ya? Jadi ingat para syuhada’ yang syahid di medan perang. Mereka begitu merindukan mati di medan perang, karena mereka tahu, mereka sedang menjemput syurga.


Artikel terkait:


One Response to “Kematian”

  1. #1 By Rachmad VidyaNo Gravatar on 28 Sep 2008 | Reply

    astaghfirullah
    faghfirly ya Allah

    Rachmad Vidya’s last blog post..Olimpiade V KM ITB 2009

    amiin..

Post a Comment