Tulisan ini sudah pernah aku posting di sini, namun kembali aku edit dengan tambahan 3 tulisan sebelumnya. Bagi yang baru pertama kali mengunjungi blogku, silakan baca dulu 3 tulisanku sebelumnya.
—–
3 Januari 2007
Malam ini adalah malam pertama yang aku lalui tanpa ibu. Dan tentu saja malam ini adalah malam pertama ibuku di alam barzah. Seperti apakah di alam barzah sana? Tentu saja aku tidak tau. Aku berdoa semoga Allah memudahkan ibuku dalam menjawab pertanyaan di alam kubur, dan dijauhkan dari siksa kubur.
Malam ini aku tak bisa tidur, padahal tadi siang aku capek sekali. Aku ingin bercerita tentang pengalamanku sepanjang hari ini.
Aku mendapat berita bahwa ibuku meninggal dunia tadi pagi. SMS dari kakakku baru aku terima 1 jam setelah dikirim, tentu saja karena di kamarku jarang ada sinyal im3. Setelah menerima SMS dari kakakku, langsung saja aku telpon bulikku dan bulikku bilang aku akan segera dijemputnya untuk selanjutnya bersama-sama pulang ke Yogya.
Setelah itu aku langsung mandi dan mencuci bajuku. Maklum aku masih punya rendaman baju semalam, ga enak rasanya mudik sambil ninggali rendaman baju. Belum lagi tadi malam aku ga bisa tidur karena dispenserku bocor. Air galon yang kemarin sore masih penuh kini tinggal seperempatnya, sementara lantai kamarku tergenangi air, seperti kebanjiran. Jadi semalam aku sering-sering bangun untuk mengecek dan membetulkan letak dispenserku. Dan pagi ini aku tak punya banyak waktu untuk mengurusi dispenser ini. Aku biarkan aja airnya terus membanjiri kamarku, kalau aku pikir sih airnya tinggal seperempat galon, jadi bentar lagi juga pasti berhenti.
Setelah menjemur baju, bulikku pun datang. Aku langsung pergi bersama bulikku, paklikku, sepupuku, dan semua saudaraku yang di Bandung ini menuju Yogya. Sebenarnya aku ga suka melakukan perjalanan jauh naik mobil, kepalaku sering pusing kalau kelamaan naik mobil atau bis. Aku lebih suka naik kereta, kereta adalah satu-satunya kendaraan yang tidak pernah membuatku mabuk (selain becak tentunya).
Mobil dipacu dengan kencang, karena kata kakakku ibu akan dimakamkan jam 2 siang, sementara kami baru berangkat dari Bandung jam setengah 9 pagi.
Sudah kuduga hal ini akan terjadi. Semalam tak nyeyak tidur, makan pagi terlambat, sepanjang perjalanan aku menahan pusing. Mungkin lain kali aku harus minum Antimo sebelum melakukan perjalanan jauh. Makanan-makanan yang masuk ke perutku sepanjang perjalanan ini tak terasa nikmat. Keinginanku hanya satu, cepat sampai di tujuan.
Ibuku pasti sudah dimakamkan saat aku tiba, jadi aku tidak akan sempat menshalatkan ibuku. Agak sedih juga, seorang anak tidak bisa menshalati jenazah ibunya. Tapi tak mengapa, nanti saja shalat ghaib di rumah. Lagi pula aku agak-agak lupa bacaan shalat jenazah.
Pukul 4 sore, mobil yang kami tumpangi mulai memasuki proponsi DIY. Kami tidak langsung ke Yogya, tapi ke Ngepringan (di daerah Sleman) karena ibu dimakamkan di sana. Kami langsung menuju makam ibu. Di makam aku hanya membaca doa-doa yang aku hafal. Mata ini tak sanggup menangis, mungkin karena aku masih menahan pusing atau kerena belum bisa menangis.
Selepas dari makam, kami disambut saudara-saudara kami di sana. Karena sudah Maghrib kami segera pulang ke Yogya, ditambah lagi nanti malam di rumahku akan diadakan tahlilan.
Sampai di Yogya sekitar jam 7 malam, capek deh rasanya. Langsung aku mandi dan bantu-bantu nyiapin acara tahlilan.
Hari ini aku tak banyak bicara. Mulut ini sulit untuk berucap. Ah, biasanya di sini ada ibu, tempat melepas segala rasa penatku, tapi sekarang tak ada lagi. Sebagai anak bungsu, boleh dibilang aku kalau di rumah ini sangat manja pada ibuku. Tapi sekarang? Mungkin Allah memang menghendaki aku supaya tidak menjadi anak manja lagi.
Setelah acara tahlilan selesai, aku masih disibukkan dengan membereskan ruangan, dsb. Padahal badanku udah ga enak betul. Pukul 10 malam aku baru bisa bebas. Kurebahkan badanku di tempat tidur. Tempat tidur ini adalah kamarku waktu jaman SMA dulu, dan kamar yang sering digunakan ibuku selama beliau sakit.
Malam ini aku tak bisa tidur. Ada banyak hal yang menyebabkanku tak bisa tidur.
Pertama, kalau aku teringat bahwa malam ini adalah malam pertama ibu di alam kubur. Aku takut. Ya, aku takut membayangkan ibu sendirian di sana. Baru malam ini aku bisa menangis, setelah seharian aku ga bisa nangis.
Kedua, aku teringat masa-masaku dulu. Biasanya aku tidur di kamar ini dan ibu datang untuk menyelimutiku, dan aku selalu menolak untuk diselimuti, karena udara Yogya di malam hari cukup gerah. Ah, sekarang tak ada lagi ibu yang menyelimutiku. Sampai jam 12 malam aku terus menangis sampai aku tertidur.
Dan masih banyak lagi yang tentunya tidak bisa aku sebutkan satu per satu.
Keesokan harinya, aku lalui hari ini tanpa semangat. Hari ini terasa hampa, kekosongan melanda jiwaku. Jadi begini ya rasanya hidup tanpa ibu. Meski sudah bertahun-tahun jadi anak kos dan jauh dari ibu, baru kali ini aku merasa benar-benar “jauh-sekali” dengan ibu. Aku benar-benar merasa kehilangan.
Mengapa begitu cepat aku harus kehilangan ibuku, sementara cita-citaku belum tercapai.
Ibuku pintar masak, sedangkan aku tidak.
Ibuku pintar menjahit, sedangkan aku tidak.
Ibuku cepat pergi sebelum aku sempat belajar darinya.
Aku merasa hari-hariku penuh kekosongan di kota Yogya ini. Itulah sebabnya aku memutuskan segera kembali ke Bandung di hari ketiga. Jadi aku hanya selama 1 hari 2 malam saja di Yogya. Di Bandung aku merasa lebih tenang, ada teman-teman kos yang menemaniku, teman-teman di Comlabs yang bisa membuatku ceria, teman-teman di Salman (meski sekarang jarang kutemui), teman-teman di beberapa majlis ta’lim yang kuikuti, dan tentu saja ada radio MQFM yang setia menemaniku dari jam 4 pagi sampai 12 malam -halah, kok malah iklan-.
Sebelum pulang, aku membuka lemari baju ibuku. Aku cukup beruntung karena aku adalah ‘pewaris tunggal’ baju-baju ibuku. Hiks, pingin nangis lagi deh aku. Saat aku mematut-matutkan diriku dengan baju ibuku di depan cermin. Kalau kalian sekarang sering melihatku dengan baju baru, ketahuilah itu adalah baju-baju ibuku. Biarin kelihatan seperti orang tua, yang penting itu baju yang pernah dipakai orang yang paling aku cintai di dunia ini. Setidaknya aku ga perlu pusing ntar nikah pakai baju apa, kebayanya udah siap dari sekarang kok.
—–
Jika hari ini ibuku dipanggil-NYA, itu karena memang sudah takdir-NYA, sudah ditetapkan dalam Lauhul Mahfuzh-NYA. Bukankah sebelum kita lahir, sudah digariskan oleh Allah tentang usia, jodoh, dan rizki kita? Seperti yang dituliskan-NYA di salah satu ayat favoritku:
Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira[1459] terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. Al-Hadid: 22-23)
Kalau Allah memisahkan aku dengan ibuku,
itu karena aku cukup kuat menghadapinya,
aku lebih kuat dari yang lain!!
Dan tentu saja aku yakin, ini yang terbaik bagiku!!
Artikel terkait:
