Jan
13

Ini yang Terbaik (bagian 3)

Files under Diary | Posted by Amorita Kurnia Dewi

Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisanku sebelumnya. Silakan baca dulu tulisan sebelumnya di bawah postingan ini *biar lebih nyambung*
—–

Kata seorang saudaraku, pemasangan selang bagi penderita hydrocepallus ataupun sejenisnya bersifat fifty-fifty (baca: untung-untungan). Jika sedang beruntung, pemasangan selang hanya dilakukan satu kali dan selang itu dapat digunakan untuk seumur hidup tanpa masalah. Namun jika tidak sedang beruntung, pemasangan selang akan menimbulkan banyak masalah, dan harus sering dilakukan operasi ulang untuk memperbaikinya. Kondisi kedua inilah yang dialami oleh ibuku.

Untuk mempersingkat tulisanku, aku tidak menuliskan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada bulan November dan Desember. Intinya kondisi ibuku tidak menentu, kadang terlihat sehat, kadang harus terbaring di rumah sakit. Yang jelas, ibuku tiga kali harus dioperasi untuk diperbaiki selangnya.

2 Januari 2007

Aku mendapat kabar yang sangat menyedihkan. Kakakku bilang kondisi ibuku semakin memburuk. Sudah tidak bisa makan dan berkomunikasi, kesadaran pun kurang dari 20%. Makan tidak bisa lewat mulut, tapi harus pakai sonde.

Pikiranku menerawang, teringat akan almarhum kakekku yang mengalami hal serupa 2 tahun lalu. Makan harus pakai sonde. Dulu aku sering menangis saat aku ‘menyuapi’ kakekku lewat sonde. Dan sekarang, ibuku yang mengalami hal demikian. Aku tak bisa membayangkan.

Semalam aku menangis. Andaikan penderitaan itu bisa digantikan, aku memilih biarlah aku menggantikan ibuku menjalani penderitaan ini.

Pintaku (pertama) pada Allah, bukankah sakit itu penggugur dosa? Aku meminta gugurkanlah dosa-dosa ibuku melalui sakitnya ini.
Pintaku (kedua) pada Allah, ringankanlah penderitaan ibuku. Aku ikhlas jika KAU ambil ibuku, karena ibuku tak lain adalah milik-MU jua.
Pintaku (ketiga) pada Allah, jika penderitaan ini adalah proses sakaratul maut yang harus dilalui ibuku, maka cepatkanlah prosesnya.

3 Januari 2007

Allah mengabulkan pinta kedua dan ketigaku. Allah ambil kembali ibuku pada pukul 05.24 waktu RS Sardjito Yogya.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (nulisnya yang bener ya… soalnya ada beberapa temanku yang nulis kalimat ini aja salah).

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. (QS. Al-Anbiya’: 35)

—–
(tu bi kontinyud lagi ya…)


Artikel terkait:


One Response to “Ini yang Terbaik (bagian 3)”

  1. #1 By AnonimNo Gravatar on 7 Jun 2008 | Reply

    Terharu dan sedih, setelah baca 4 tulisan kamu (ini yang terbaik). Abis baca langsung pengen cepet2 pulang ke rumah. Kangen sama ibu dan bapak. Thx…

    Salam,
    awanlakmus

Post a Comment