10 September 2006
Tanpa rencana sebelumnya, malam ini tiba-tiba aku memutuskan untuk mudik besok. Mudik dadakan lah istilahnya. Setelah beberapa hari sebelumnya mendapat kabar bahwa ibuku sakit.
11 September 2006
Lima tahun tragedi WTC, sebenarnya dalam benak ini ingin bikin postingan tentang konspirasi tragedi tersebut, setelah aku membaca buku yang satu ini, tapi ga jadi. Hari ini aku mudik ke Yogya. Naik kereta api, tuut… tuut… tuut…
14 September 2006
Aku mengantar ibuku ke Rumah Sakit Dr. Sardjito. Di RS ini ternyata penuh orang. Ternyata rumah sakit sudah menjadi salah satu tempat ‘favorit’ orang. Antrinya pun berjam-jam. Setelah antri lama, ibuku pun dipanggil untuk diperiksa.
O ya, aku belum cerita. Ibuku menderita penyakit hydrocepallus, ada cairan di rongga kepala, ga tau bagian mana. Kalau pada bayi biasanya diikuti dengan pembesaran kepala, pasti kalian sering lihat di TV atau media lain kan? Tapi kalau pada orang dewasa tidak diikuti pembesaran kepala.
Gejalanya ditandai dengan pusing-pusing. Tapi bukan pusing biasa, tekanan darah ibuku pun tidak rendah. Sudah 14 kali ibuku mencoba pengobatan alternatif, tapi hasilnya nihil. Dokter menyarankan untuk operasi, tapi ibuku takut. Akhirnya, pada kesempatan ini ibuku pasrah, dan bersedia untuk dioperasi.
Seharian ini aku habiskan waktuku di rumah sakit. Ibuku diambil darahnya (ga tanggung-tanggung tuh ngambilnya), trus di-rontgen, kemudian mencari kamar karena dokter meminta ibuku untuk opname.
Setelah itu, sebelum pulang dulu untuk mengambil baju dan persiapan, kami pergi ke kantin di rumah sakit ini untuk makan. Masih kuingat betul, ibuku memesan soto dan aku memesan somay karena aku lagi malas makan, juga tempe mendoan dan ayam goreng. Aku tak pernah menyangka sebelumnya, bahwa makan ini adalah makan-terakhirku-bersama-ibuku-di-kantin.
Malamnya, aku kembali ke Bandung. Beberapa hari kemudian ibuku dioperasi, dipasangi selang dari kepala ke dada, dan sudah bisa pulang ke rumah.
—–
7 Oktober 2006
Aku masih ingat, malam ini malam 15 Ramadhan, purnama tertutup mendung, semendung hatiku. Sehabis shalat tarawih, aku langsung menuju stasiun. Malam ini kembali aku naik kereta api menuju Yogya. Alhamdulillah, aku tidak begitu mengantuk, rencana semula ingin menambah hafalan Qur’an di kereta bisa terlaksana, meski hanya nambah setengah bagian awal QS. Al-Mursalat (surat terakhir juz 29). Btw, QS. Al-Mursalat ini mirip dengan QS. Ar-Rahman, ada sebuah ayat yang sering diulang-ulang.
8 Oktober 2006
Sampai di Yogya pukul setengah 4 pagi. Tentu saja aku menunggu terang untuk pulang ke rumah, jam segini kan belum ada bis kota. Sayup-sayup terdengar suara Imsak berkumandang, disusul suara azan Subuh. Aku pun shalat subuh di mushola stasiun. Pukul 5 pagi hari sudah agak terang, aku pun pulang ke rumah naik bis kota.
Karena semalam hanya tidur sebentar, sampai rumah aku pun tidur dan baru bangun siang harinya. Aku langsung ke rumah sakit. Ibuku opname lagi karena harus operasi ulang, ada ketidakberesan di selangnya.
Malam ini aku tidur di rumah sakit, tepatnya tidur di atas kursi di samping ibuku. Tentu saja semalam aku tak bisa tidur nyenyak, tidur di atas kursi sangatlah tidak nyaman.
Aku tak pernah menyangka sebelumnya, bahwa malam ini adalah malam-terakhirku-bersama-ibuku-di-rumah-sakit.
—–
24 Oktober 2006 - 2 November 2006
Liburan lebaran, aku mudik ke Yogya. Ibuku di rumah saja, tidak di rumah sakit. Ibuku menghabiskan sebagian besar waktunya di atas tempat tidur, tapi ibuku masih bisa menerima tamu-tamu yang datang ke rumah.
2 November 2006
Saatnya aku kembali ke Bandung. Seperti biasa aku mencium tangan ibuku saat berpamitan. Aku tidak menyangka, bahwa pertemuan kali ini adalah pertemuan-terakhirku-dengan-ibuku-di-dunia-ini.
—–
(tu bi kontinyud)
Artikel terkait:
