<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Love and Life</title>
	<atom:link href="http://rita.dzikr.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rita.dzikr.com</link>
	<description>Sebuah catatan tentang cinta dan kehidupan</description>
	<pubDate>Thu, 03 Jul 2008 19:29:30 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.5.1</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Rihlah ke Dago Pakar dan Maribaya</title>
		<link>http://rita.dzikr.com/rihlah-ke-dago-pakar-dan-maribaya/</link>
		<comments>http://rita.dzikr.com/rihlah-ke-dago-pakar-dan-maribaya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Jun 2008 18:05:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amorita Kurnia Dewi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Perjalanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rita.dzikr.com/?p=227</guid>
		<description><![CDATA[Ingin berwisata di kota Bandung? Tapi ingin yang dekat-dekat saja? Bisa dicoba ke Dago Pakar dan Maribaya. Dago Pakar terletak di sebelah utara kota Bandung. Cukup 20 menit dari kampus ITB. Selain itu, dari Dago Pakar kita bisa berjalan kaki menuju Maribaya, ga jauh kok, cuma sekita 6 km, bisa ditempuh dengan kurang lebih 1.5 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ingin berwisata di kota Bandung? Tapi ingin yang dekat-dekat saja? Bisa dicoba ke Dago Pakar dan Maribaya. Dago Pakar terletak di sebelah utara kota Bandung. Cukup 20 menit dari kampus ITB. Selain itu, dari Dago Pakar kita bisa berjalan kaki menuju Maribaya, ga jauh kok, cuma sekita 6 km, bisa ditempuh dengan kurang lebih 1.5 jam jalan kaki.</p>
<p>Itulah yang membuat kami (aku bersama <a href="http://yarb.dzikr.com">suamiku</a>) memutuskan untuk pergi ke sana.  Sebelumnya aku sudah tiga kali ke Dago Pakar (ga bosen-bosen juga ya? <img src='http://rita.dzikr.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> ). Pertama, waktu mengikuti outbond <a href="http://www.gamais.itb.ac.id">Gamais</a> saat tingkat dua dulu. Kedua, waktu mengikuti rihlah peserta Tahsin-Tahfidz Salman ITB. Dan ketiga, waktu mengikuti acara Unit Pelatihan <a href="http://www.comlabs.itb.ac.id">ComLabs ITB</a>. Ketiga-tiganya gratis lho <img src='http://rita.dzikr.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> Kalau ke Maribaya aku baru satu kali, yaitu ketika berekreasi bersama ibuku dan Renni, temanku. Sedangkan suamiku belum pernah sama sekali ke Dago Pakar dan Maribaya.</p>
<p>Kami berangkat dari Simpang Dago naik angkot jurusan Ciroyom-Ciburial, dan turun di dekat objek wisata Dago Pakar (ada petunjuknya kok!). Kemudian dilanjutkan berjalan kaki menuju pintu gerbangnya. Di Dago Pakar, atau nama resminya Taman Hutan Raya Ir. H. Juanda.</p>
<p><a href="http://rita.dzikr.com/wp-content/uploads/2008/07/dagopakar1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-228" title="dagopakar1" src="http://rita.dzikr.com/wp-content/uploads/2008/07/dagopakar1.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Di sini terdapat patung Ir. H. Juanda. Siapakah beliau? Tanya orang yang asli Bandung aja ya <img src='http://rita.dzikr.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Juga terdapat taman-taman yang sejuk dan beberapa burung yang dipelihara. Karena berupa hutan, kawasan ini juga dapat digunakan sebagai area outbond.</p>
<p>Jika kita melangkah lebih dalam, kita akan menemukan Goa Belanda dan Goa Jepang. Konon, kedua goa ini dulunya digunakan sebagai tempat persembunyian ketika berperang. O ya, sebaiknya kalau mau masuk ke goa ini, bawa senter dari rumah. Karena di dalam goa gelap, dan banyak orang yang menyewakan senter dengan harga mahal.</p>
<p>Tak jauh dari kedua goa ini, kita akan menemukan jalan setapak menuju ke Maribaya. Medannya ringan kok, karena jalannya sendiri sudah diblok, cuma naik turunnya itu yang kadang bikin lelah. Tapi ga usah khawatir, di sepanjang jalan banyak tukang ojek menawarkan tumpangan. Lagi pula jalan kaki juga tidak terlalu lama, sekitar 1.5 jam saja, dan kita langsung tiba di Maribaya.</p>
<p>Di Maribaya, kita dapat menyaksikan air terjun dan beristirahat sambil menikmati udara sejuk dan pemandangan yang indah. Tapi siap-siap aja ya, di sini banyak pengamen, dan mereka biasanya menyanyi berkelompok dan agak maksa gitu.</p>
<p>Dari Maribaya, kami pulang naik angkot jurusan Lembang, kemudian disambung angkot Ledeng-Cicaheum menuju ke kosan. Perjalanan pulang lebih jauh daripada perjalanan berangkat, karena jalannya agak muter.</p>
<p><em># Di Maribaya ini aku terkenang, rekreasi terakhir dengan ibuku, tiga tahun silam.</em></p>
<p><em># Beberapa foto tidak bisa di-upload, ntar menyusul aja ya!</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rita.dzikr.com/rihlah-ke-dago-pakar-dan-maribaya/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Alhamdulillah (lagi)</title>
		<link>http://rita.dzikr.com/alhamdulillah-lagi/</link>
		<comments>http://rita.dzikr.com/alhamdulillah-lagi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Jun 2008 05:39:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amorita Kurnia Dewi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Diary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rita.dzikr.com/?p=199</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, setelah 9 bulan hidup berjauhan dengan suami, akhirnya mulai Juni ini kami bisa hidup bersama dalam satu atap. Meskipun statusnya masih ngontrak rumah yang bentar lagi habis masa kontraknya, suami juga masih nyari-nyari kerja, dan aku memilih bekerja di rumah, namun kami mensyukuri keadaan ini. Ya, kapan lagi kami bisa bersama-sama seperti ini, full [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alhamdulillah, setelah 9 bulan hidup berjauhan dengan <a href="http://yarb.dzikr.com">suami</a>, akhirnya mulai Juni ini kami bisa hidup bersama dalam satu atap. Meskipun statusnya masih ngontrak rumah yang bentar lagi habis masa kontraknya, suami juga masih nyari-nyari kerja, dan aku memilih bekerja di rumah, namun kami mensyukuri keadaan ini. Ya, kapan lagi kami bisa bersama-sama seperti ini, <em>full day</em> lagi.</p>
<p>Kalau aku pikir-pikir, aku punya kesamaan dengan Ust. M. Fauzim Adhim. Yaitu di awal pernikahan tinggal di rumah kontrakan dan sering berpindah-pindah. Pindah-pindah di sini maksudnya pindah dari satu sisi ruang ke sisi lain jika hujan lebat. Maksudnya, rumah (eh.. kamar) kontrakan sering bocor gitu lho.. <img src='http://rita.dzikr.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> Tapi alhamdulillah, sekarang udah jarang hujan.</p>
<p>Karena untuk saat ini kami belum dipenuhi kesibukan dan amanah, rencananya besok kami mau mudik ke Yogya-Solo selama seminggu. Udah dikangenin keluarga nih&#8230; <img src='http://rita.dzikr.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rita.dzikr.com/alhamdulillah-lagi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Blogku Suspended</title>
		<link>http://rita.dzikr.com/blogku-suspended/</link>
		<comments>http://rita.dzikr.com/blogku-suspended/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 May 2008 17:42:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amorita Kurnia Dewi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rita.dzikr.com/?p=67</guid>
		<description><![CDATA[Jadi ceritanya, beberapa hari ini blogku sempat suspended. Setelah aku tanyakan ke CS-nya, katanya ada script berbahaya di blogku, yang telah membuat servernya jadi down  
Aku sendiri ga tau script berbahayanya itu di mana, soalnya aku ga pernah sengaja naruh. Setelah aku ingat-ingat, waktu itu aku memodifikasi theme dan menambahkan beberapa plugin ke blogku, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jadi ceritanya, beberapa hari ini blogku sempat <em>suspended</em>. Setelah aku tanyakan ke CS-nya, katanya ada <em>script</em> berbahaya di blogku, yang telah membuat servernya jadi <em>down</em> <img src='http://rita.dzikr.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Aku sendiri ga tau <em>script</em> berbahayanya itu di mana, soalnya aku ga pernah sengaja naruh. Setelah aku ingat-ingat, waktu itu aku memodifikasi <em>theme</em> dan menambahkan beberapa <em>plugin</em> ke blogku, dan tiba-tiba aja blogku jadi nge-<em>hang</em>.</p>
<p>Padahal blog <a href="http://yarb.dzikr.com">suamiku</a> dan web <a href="http://dzikr.com">Dzikr</a> yang <em>notabene</em> aku kasih <em>plugin</em> yang sama dengan blogku baik-baik saja, kenapa cuma blogku yang bermasalah?</p>
<p>Atau mungkin penyebabnya <em>theme</em> <strong>newsblue</strong> yang kemarin aku gunakan ya? Soalnya aku sendiri juga mengalami keanehan selama menggunakan <em>theme</em> itu. Pas aku <em>install</em> sih hasilnya oke-oke aja. Beberapa hari kemudian, tiba-tiba aku melihat <em>ads</em> di blogku. Aku cek file PHP <em>theme</em> tersebut. Oh, ternyata memang ada <em>script</em> untuk menampilkan <em>ads</em>. Langsung aja aku hapus <em>script</em> tersebut. Ketika di rumah, aku cek file-file PHP dari <em>theme</em> <strong>newsblue</strong> tersebut, anehnya&#8230; tak kutemukan <em>script</em> untuk menampilkan <em>ads</em> tersebut. Nah, kesimpulannya dari mana <em>script</em> tersebut berasal?</p>
<p>Ya udah, daripada ntar bermasalah lagi, akhirnya aku ganti <em>theme</em> lagi. Syukurlah, dapat <em>theme</em> baru yang ga kalah bagus dari <em>theme</em> kemarin. Semoga kali ini tidak bermasalah lagi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rita.dzikr.com/blogku-suspended/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>40</title>
		<link>http://rita.dzikr.com/40/</link>
		<comments>http://rita.dzikr.com/40/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 May 2008 07:07:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amorita Kurnia Dewi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Diary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rita.dzikr.com/?p=53</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, resolusi ke-8 ku akhirnya tercapai. Berat badanku sekarang udah mencapai kepala 4, meski masih di angka 40.
Jadi benar kata dokter yang merawatku dulu. Kenapa dulu berat badanku ga naik-naik? Karena makanan yang masuk ke tubuhku tidak diserap oleh tubuh, melainkan dimakan oleh virus-virus. Huh, mubazir kan, udah makan banyak-banyak ternyata cuma memberi makan makhluk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alhamdulillah, <a href="http://rita.dzikr.com/resolusi-2008">resolusi</a> ke-8 ku akhirnya tercapai. Berat badanku sekarang udah mencapai kepala 4, meski masih di angka 40.</p>
<p>Jadi benar kata dokter yang merawatku dulu. Kenapa dulu berat badanku ga naik-naik? Karena makanan yang masuk ke tubuhku tidak diserap oleh tubuh, melainkan dimakan oleh virus-virus. Huh, <em>mubazir</em> kan, udah makan banyak-banyak ternyata cuma memberi makan makhluk lain.</p>
<p>Karena itu, hati-hati aja buat yang merasa udah makan banyak tapi berat badan ga naik-naik. Bisa jadi makanan yang dimakan tidak terserap oleh tubuh, mungkin diserap makhluk lain, mungkin penyerapan tubuhnya yang kurang baik, untuk lebih jelasnya konsultasikan saja ke dokter.</p>
<p>40 ini ternyata belum angka ideal. Soalnya menurut index berat badan ideal, angka tersebut masih berada di perbatasan berat badan normal dan <em>underweight</em>. Angka idealku sih 43 ke atas. Hehe&#8230; doakan saja ya supaya aku bisa mencapai angka tersebut <img src='http://rita.dzikr.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rita.dzikr.com/40/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Alhamdulillah&#8230;</title>
		<link>http://rita.dzikr.com/alhamdulillah/</link>
		<comments>http://rita.dzikr.com/alhamdulillah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 May 2008 18:14:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Amorita Kurnia Dewi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Diary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rita.dzikr.com/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[



Alhamdulillah… setelah hampir 9 bulan ini menjalani masa pengobatan intensif, aku dinyatakan sembuh!
Bagi yang telah mengenalku lebih lama, tentu masih ingat bulan Juli tahun 2007 kemarin (hari-hari menjelang wisudaku), aku menjalani rawat inap di Rumah Sakit. Kalau belum tahu, silakan baca cerita bersambung (1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10) ini 
Episode [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="entry-body">
<div>
<div class="item-body">
<div>
<p><em>Alhamdulillah… setelah hampir 9 bulan ini menjalani masa pengobatan intensif, aku dinyatakan sembuh!</em></p>
<p>Bagi yang telah mengenalku lebih lama, tentu masih ingat bulan Juli tahun 2007 kemarin (hari-hari menjelang wisudaku), aku menjalani rawat inap di Rumah Sakit. Kalau belum tahu, silakan baca cerita bersambung (<a href="../episode-sakit-bagian-1/" target="_blank">1</a>, <a href="../episode-sakit-bagian-2/" target="_blank">2</a>, <a href="../episode-sakit-bagian-3/" target="_blank">3</a>, <a href="../episode-sakit-bagian-4/" target="_blank">4</a>, <a href="../episode-sakit-bagian-5/" target="_blank">5</a>, <a href="../episode-sakit-bagian-6/" target="_blank">6</a>, <a href="../episode-sakit-bagian-7/" target="_blank">7</a>, <a href="../episode-sakit-bagian-8/" target="_blank">8</a>, <a href="../episode-sakit-bagian-9/" target="_blank">9</a>, <a href="../episode-sakit-bagian-10-tamat/" target="_blank">10</a>) ini <img src="../wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif" alt=":D" /></p>
<p>Episode itu sebenarnya belum berakhir…</p>
<p>Setelah cairan di paru-paruku diperiksa, hasilnya… aku dinyatakan positif mengidap penyakit <em>tuberculosis</em> (untuk selanjutnya disingkat TB).</p>
<p>Sebuah ujian yang cukup berat kuterima (waktu itu).</p>
<p>Tapi aku bersyukur… karena dilahirkan di jaman modern, di mana sudah tersedia obat-obat dan peralatan medis canggih untuk mengobati penyakitku. Berbeda dengan jaman dahulu, orang terkena TB itu harus diasingkan, dan kata seorang dokter “jaman dahulu orang kena TB pasti akhirnya mati” (maksudnya mati disebabkan penyakit tersebut). Kata-kata dokter tersebutlah yang membuatku bersemangat, bahwa <strong>aku harus sembuh</strong>, malu ah masak aku mati karena terserang TB.</p>
<p>TB adalah penyebab kematian orang tertinggi ketiga di dunia, setelah penyakit jantung dan kanker.</p>
<p>Tapi aku bersyukur… penyakit ini hanya menyerang paru-paruku. Sedangkan ada orang di luar sana yang menderita TB tulang, TB darah, TB otak, dan sebagainya. <em>Mycobacterium tuberculosis</em> memang bisa tinggal di bagian tubuh mana saja. Dan penyakit TB paru merupakan penyakit paling ringan dibanding TB-TB lainnya.</p>
<p>Untuk sembuh dari penyakit TB, penderita harus menjalani pengobatan intensif selama minimal 6 bulan. Selama itu, pengobatan tidak boleh terputus. Satu hari saja lupa minum obat, akan menyebabkan virus tersebut kebal, dan pengobatan harus diulang dengan dosis ditingkatkan. Jika setelah menjalani pengobatan tersebut, ternyata penderita tidak mengalami perkembangan ke arah lebih baik, maka dilanjutkan ke pengobatan berikutnya, yaitu pemberian <em>injeksi</em> (suntikan) setiap hari selama 3 bulan tanpa putus. Jika pengobatan tersebut gagal juga, maka penderita tersebut dinyatakan tidak dapat disembuhkan, dan untuk <em>memperpanjang umurnya</em> ia harus minum obat setiap hari selama hidupnya!</p>
<p>Ngeri ya? Aku juga merasa ngeri ketika mengetahui penyakit yang aku derita merupakan penyakit kronis.</p>
<p>Tapi aku bersyukur… meski aku mengidap TB, aku tidak merasa seperti orang sakit. Seorang temanku mantan penderita TB pernah bercerita bahwa pada saat sakit, ia sering mengalami batuk darah. Sedangkan aku, batuk aja hampir tidak pernah, kecuali saat menjelang disedot dulu. Aku hanya sering merasakan… rasa sakit di dada di awal waktu.</p>
<p>Dan aku bertekad, <strong>aku harus sembuh!</strong></p>
<p>Awalnya, aku sering mengeluh, kenapa harus aku yang menderita penyakit ini? Aku yang dulu paling susah menelan obat, kini dipaksa menelan 10 butir obat setiap hari. Aku yang dulu paling takut melihat jarum suntik, kini harus merelakan lenganku diambil darah setiap minggu. Kenapa harus aku?</p>
<p>Tapi aku menemukan jawabannya. Kenapa harus aku yang menderita semua ini? Karena aku percaya, Allah sedang menyiapkan tempat terbaik untukku. Bukankah jika seseorang menghadapi cobaan, maka ada dua kemungkinan: azab dari Allah atas dosa-dosanya atau Allah akan mengangkat derajatnya.</p>
<p>Maka, aku bertekad mulai saat itu tak ada keluhan. Ketika aku harus menghadapi kenyataan yang tidak sesuai harapanku, maka kucoba untuk selalu tersenyum sambil berdoa, <em>Ya Allah, jika sakitku ini merupakan azab atas dosa-dosaku di masa lalu, maka gugurkanlah dosa-dosaku. Ya Allah, jika sakitku ini merupakan kehendak-Mu yang ingin menaikkan derajatku, maka jadikan aku dalam golongan orang-orang yang sabar</em>.</p>
<p>Aku sengaja menyembunyikan penyakitku ini pada teman-temanku, kecuali beberapa orang saja. Karena aku tidak ingin diperlakukan seperti orang sakit. Aku ingin tetap berktivitas seperti biasa, seperti orang sehat pada umumnya.</p>
<p>Satu ujian lagi… awal masa pengobatan ini adalah saat aku sedang <em>ta’arufan</em> sama calon suami. Dan calon suamiku waktu itu berniat mengundur hari pernikahan sampai aku sembuh. Padahal aku ingin cepat menikah, biar ada orang yang <em>merawat</em> aku ketika sakit. Tapi kalau namanya sudah jodoh, kan tak ada orang yang bisa memajukan atau memundurkan, buktinya kami telah menikah 7 bulan sebelum aku sembuh <img src="../wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif" alt=":D" /></p>
<p>Masa pengobatanku memakan waktu selama hampir 9 bulan. Dua bulan pertama aku bagaikan kelinci percobaan. Bermacam-macam obat diberikan, tapi tubuhku selalu menolaknya. Inilah mengapa setiap minggu aku harus menjalani tes darah, tes darah itu untuk memeriksa kondisi hatiku. Obat-obatan yang dikonsumsi dalam jumlah banyak setiap hari dapat memberikan efek buruk bagi hati. Aku bersyukur sekali, dokter yang menanganiku menyuruhku tes darah, karena ada dokter yang hanya memberikan resep obat tanpa memperhatikan dampak obat tersebut ke pasien.</p>
<p>Kini <strong>aku sudah sembuh, bukan penderita TB lagi</strong>, meski <em>cacat</em> di paru-paruku tak bisa hilang. Dulu aku pernah diceritakan temanku, kalau aku sembuh nanti, bekas luka di paru-paru tak kan hilang, ternyata benar. Ya, gpp lah. Emang siapa orang yang mau melihat foto <em>thorax</em>-ku? <img src="../wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif" alt=":)" /></p>
<p>Apakah ikhtiarku telah berakhir? Tentu ikhtiar tak pernah berakhir sepanjang hidup. Karena aku pernah menderita TB, maka aku akan lebih mudah terserang TB lagi daripada orang yang belum pernah menderita TB. Pengalaman ini membuatku lebih memperhatikan kesehatanku. Bahwa kesehatan itu sangat mahal harganya, memanglah benar. Selama masa pengobatan ini aku telah menghabiskan uang lebih dari Rp 10 juta. Memang, mencegah jauh lebih baik daripada mengobati.</p>
<p>Alhamdulillah… satu ujian telah berlalu… Aku percaya setiap penyakit pasti ada obatnya. Dan faktor utama penentu kesembuhan adalah faktor spiritual dan keyakinan untuk sembuh.</p>
</div>
</div>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rita.dzikr.com/alhamdulillah/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
