Hari Kedua di RSHS [1]
Pagi-pagi datang Devina[21] dan Wien[22]. Saat ini dokter Dolwy datang dan memeriksa. Aku ditanya apa yang kurasakan, aku jawab aku merasa baik-baik aja kecuali batukku yang makin parah. Dokter Dolwy lalu melihat hasil rontgen-ku, aku pun sempat melihatnya sekilas. Betapa terkejutnya diriku melihat hasil rontgen-ku, paru-paruku sebelah seperti “kroak”. Dokter Dolwy lalu berkata bahwa aku terkena paru-paru basah dan harus disedot.
Agak siangan datang Paklik[23] dan Bulik[24]. Betapa sedihnya aku mengetahui diriku terkena paru-paru basah. Aku merasa takut disedot. Aku lalu sms Denday minta dia datang, karena dia juga pernah disedot, jadi bisa berbagi pengalaman. Sebelum Denday datang kami sms-an dan Denday sempat meneleponku untuk meyakinkanku bahwa disedot itu tidak sakit karena kita dibius lokal.
Siang hari datang Anita Krisma[25], teman sekamar waktu di asrama dulu. Kemudian Andin[26], Dila[27], dan Dira[28]. Langsung aja mereka aku kerjain. Pertama, ganti diapers. Aku terlalu semangat nih saat ngasih komando kepada mereka langkah-langkahnya. Bahkan aku sempat berdiri untuk memudahkan. Hal ini mengakibatkan tanpa sengaja posisi tanganku ke bawah, padahal aku sedang diinfus. Aku baru sadar setelah selesai, darahku keluar sepanjang 20 cm di selang infus. Aku pun panik dan menyuruh teman-temanku memanggil perawat. Kata perawatnya sih tidak apa-apa, nanti juga darahnya turun sendiri.
Setelah itu aku shalat Dhuhur. Kemudian datang Fathah[29], Denday[30], Alam[31], dan Eric[32]. Akhirnya Denday datang juga. Denday datang dengan tersenyum-senyum dan pakai topi, membuatku tak bisa berhenti tertawa. Akibatnya aku terengah-engah karena kecapekan akibat tertawa, aku pun menjadi susah bernafas. Akhirnya, Denday aku usir!!! Aku suruh pergi!!!
Aku sampai menghabiskan waktu sekitar 2 jam untuk mengembalikan nafasku kembali normal. Akibatnya makan siangku terlambat menjadi jam 3 sore. Betapa jahatnya aku, udah meminta Denday datang, tapi begitu datang malah aku usir.
Wida dan Dewi sempat datang kembali, mungkin mereka khawatir aku ga ada yang menunggui. Tapi begitu mereka tau aku sudah ada yang menunggui, mereka lalu pergi lagi.
Sore hari dokter Prayudi datang memeriksaku. Mulai saat ini aku ganti dokter spesialis paru-paru. Dokter Prayudi menjelaskan bahwa aku terkena paru-paru basah, ada cairan di selaput paru-paruku, dan cairan ini harus disedot. Aku pun mengiyakan. Entah kenapa aku bisa berubah begini ya, tadi pagi aku menangis karena takut disedot, sekarang aku malah ingin cepat-cepat disedot biar lekas sembuh. Dokter Prayudi berkata bahwa aku akan disedot besok siang.
