Nov
29

Cerita Nikah: Hari Bersejarah (bagian 3)

Files under Pernikahan | Leave a Comment

9 September 2007

12.00

Setelah akad nikah dan pengajian, acara selanjutnya adalah istirahat sampai pukul 13.00. Kami hanya punya waktu 1 jam untuk shalat, makan, dan persiapan walimahan.

Sebenarnya makanan udah disiapkan di depan kami, tapi karena sudah masuk waktu Dhuhur, makan siangnya dipending dulu. Suami pergi ke masjid, sedangkan aku shalat di rumah. Setelah shalat aku lalu berganti pakaian untuk walimahan. Karena aku masih punya wudhu dari pagi, aku ga mau dirias lagi, padahal tukang riasnya udah datang, aku biarin aja. Untuk kali ini aku ga perlu berdandan lama-lama, karena baju yang kupakai baju biasa, dengan rok biasa, jilbabnya pun jilbab langsung. Tak sampai 10 menit aku udah selesai berdandan.

Selanjutnya kami mau makan siang, tapi di mana makanan kami? Hiks… ternyata makanan jatah kami udah disingkirkan. Mungkin karena terlalu lama belum dimakan jadi dikira tidak dimakan. Kami lalu makan di dalam, dengan lauk yang tinggal sedikit bahkan tidak selengkap makanan yang dihidangkan untuk para tamu. Makannya pun sambil tergesa-gesa, karena acara walimahan akan segera dimulai dan tamu sudah berdatangan.

13.00

Alhamdulillah, akhirnya nasyid Seismic -nasyid yang jadi favoritku di hari-hari menjelang nikah- terlantun dari sound system di acara walimahanku. Berikut playlist nasyid yang diputar:

  1. Seismic - Syukur
  2. Brother - Teman Sejati
  3. Seismic - Adalah Engkau
  4. Tazakka - Sahabat Perjuangan
  5. Seismic - Belajan Jiwa
  6. Brother - Satu Perjuangan
  7. Seismic - Ketika Dua Hati Menyatu
  8. Gradasi - Kupinang Engkau dengan Al Qur’an
  9. Seismic - Rumahku Surgaku
  10. Gradasi - Dinda
  11. Seismic - Terlabuhkan
  12. Alginat - Kesetiaan
  13. Seismic - Rindu Aku
  14. Fatih - Cinta

Jumlah tamu yang datang sekitar 150 orang, karena kami hanya mengundang tetangga-tetangga satu RW saja.

14.30

Acara berakhir, lebih cepat 30 menit dari waktu yang dijadwalkan, karena tamunya udah habis, ga ada lagi yang datang.


Artikel terkait:
Nov
27

Cerita Nikah: Hari Bersejarah (bagian 2)

Files under Pernikahan | Leave a Comment

9 September 2007

10.00

Sebelum akad nikah dimulai, bapak penghulu meng-’absen’ siapa saja yang wajib ada di sini, yaitu mempelai laki-laki, ayahku sebagai wali, dan dua orang saksi laki-laki muslim. Semuanya lengkap. Sedangkan aku berada di ruang sebelah ditemani kakakku, nenekku, dan calon mertuaku.

Keterangan gambar:

  1. Saksi
  2. Khatib nikah
  3. Penghulu
  4. Wali
  5. Pengantin laki-laki
  6. Saksi 2
  7. Ibu mertua
  8. Nenekku
  9. Aku
  10. Kakakku

Setelah semua personil lengkap -memenuhi rukun nikah-, acara pun dimulai.

Berikut susunan acara:

  1. Tilawah
  2. Khutbah nikah. Temanya tentang pernikahan. Aku sampai menangis mendengarnya.
  3. Ijab qabul, saat yang paling bersejarah dalam hidupku. Sebuah perjanjian yang kuat antara Allah dengan hamba-Nya, dan disaksikan para malaikat.
    Ucapan ijab

    Ananda Sriyanto
    saya nikahkan Amorita Kurnia Dewi
    anak perempuan saya untuk ananda
    dengan mas kawin hafalan Juz ‘Amma yang masih dihutang.

    Ucapan qabul

    Saya terima nikahnya Amorita Kurnia Dewi
    putri Bapak untuk saya Sriyanto
    dengan mas kawin hutang hafalan Juz ‘Amma.

  4. Doa
  5. Penandatanganan buku nikah
  6. Penyerahan buku nikah

11.00

Setelah acara akad nikah, dilanjutkan dengan:

  1. Serah terima dari keluarga pengantin laki-laki
  2. Serah terima dari keluarga pengantin perempuan
  3. Pengajian yang dibawakan oleh Ustadz Fauzan

Rekaman acara akad nikah bisa didownload di sini (7 MB, durasi 32 menit).
MC, pembukaan menggunakan bahasa Jawa. Khutbah nikah, ijab qabul, penutup menggunakan bahasa Indonesia.

Rekaman acara serah terima dan pengajian bisa didownload di sini (9 MB, durasi 41 menit).
Serah terima dan pengajian menggunakan bahasa Jawa.


Artikel terkait:
Nov
26

Cerita Nikah: Hari Bersejarah (bagian 1)

Files under Pernikahan | Leave a Comment

9 September 2007

Alhamdulillah, tibalah hari yang selama ini aku nanti-nantikan, hari pernikahanku.

06.00

Aku udah siap, udah makan, udah mandi. Tinggal menunggu periasnya datang. Kebanyakan orang yang akan menikah merasa deg-degan, tapi kok aku ga merasa deg-degan ya, perasaanku biasa saja. Bahkan aku merasa menikmati jam-jam di akhir masa lajangku ini, rasanya jam-jam ini lama sekali berjalan.

07.30

Periasnya datang, ada 3 orang. Aku pun dirias. Riasannya tebal sekali dan berlapis-lapis, macam-macam benda ditimpakan ke wajahku. Huh, tau gini aku ga mau dirias. Padahal dari awal aku udah bilang ingin riasan yang sederhana saja. Trus, aku disuruh memejamkan mata, tiba-tiba alisku digunting. Hiks … ga sempat menolak deh. Ya Allah, ampunillah aku, padahal aku tau kalau Allah melaknat wanita yang meminta dipotong alisnya. Tapi kan aku ga tau kalau alisku akan digunting, aku juga ga minta kok. Aku jadi merasa sebel sama ibu-ibu perias ini.

Trus, sekarang rambutku mau diapain lagi? Aku bilang supaya rambutku jangan diapa-apain. Tapi ibunya bilang “Saya ini sedang merias Anda. Anda harus patuh sama saya.” Langsung aja aku jawab “Yang dirias kan saya, saya ga mau diginiin.” Setelah itu terjadi perdebatan antara aku dan si ibu perias. Ibunya udah nyiapin roncean melati untuk dipakai di atas jilbabku, tapi aku ga mau pakai. Gimana mau pakai, aku kan udah pakai jilbab dobel plus hiasan bunga plus phashmina, masak mau ditambah melati lagi. Ibunya jadi sebel dan berkata “Saya nih sudah nyiapin roncean melati dari rumah, masak ga jadi dipakai” Aku pun ga kalah sebelnya dan kujawab “Ya udah, nanti semuanya dibayar penuh, tapi mau pakai atau ga itu terserah saya.” Akhirnya ibu itu pun diam. Emang siapa sih yang nikah? Yang nikah kan aku, aku cuma minta mereka merias wajahku, sekali lagi wajahku, itu aja. Soal hiasan apa aja yang aku pakai ya terserah aku donk!

08.30

Mas Yan udah datang ke rumahku, tapi perias-perias ini belum selesai ‘melukis’ wajahku, padahal aku udah bosen dirias. Saat mereka mau mengoleskan sesuatu -benda berkelip-kelip- ke kelopak mataku, aku langsung menolak dan aku menyuruh agar mereka segera mengakhiri aktivitasnya. Akhirnya selesai juga riasanku. Dan aku berharap mereka segera keluar dari kamarku.

08.45

Aku hanya punya waktu 15 menit untuk ganti baju pengantin dan pakai jilbab. Pakai jilbabnya ini yang lama. Tapi karena aku sudah berlatih, jadi bisa kuselesaikan dalam 15 menit. Pertama, pakai jilbab sutra warna putih, sesuai warna kebaya yang ku pakai, kemudian dilapis dengan jilbab sutra warna emas, dikasih hiasan bunga melingkar kepala, dan terakhir dilapisi phashmina. Jadi deh, jilbab cantik pertama kreasiku.

09.00

Sebelum akad dimulai, ada acara pribadi antara aku dan Mas Yan dengan ditemani kakakku, yaitu pencicilan penyetoran mahar. Aku meminta mahar berupa hafalan juz ‘amma, dan Mas Yan menyanggupinya walaupun belum hafal seluruh juz ‘amma. Pada hari ini Mas Yan baru menyetorkan 1/3 hafalan juz ‘amma.

09.30

Acara setor mahar telah selesai, tinggal menunggu acara akad yang akan dimulai pukul 10.00. Sudah 30 menit menjelang acara dimulai, tapi keluarga calon mempelai pria belum datang. Kami sudah sepakat, apabila sampai pukul 10.00 keluarga mempelai pria belum datang, maka akad tetap akan dilangsungkan tanpa disaksikan keluarga mempelai pria.

09.50

Keluarga mempelai pria datang sebanyak 15 orang, sambil membawa banyak sekali bingkisan.

Bersambung…


Artikel terkait:
Nov
20

Cerita Nikah: Hari-hari Menjelang Hari H

Files under Pernikahan | 1 Comment

Setelah aku tiba di Yogya pada H-4 sebelum menikah, ada beberapa hal yang harus kujalani:

Imunisasi

Aku disuruh datang ke Puskesmas untuk diimunisai TT dan juga Tes Kehamilan. Kenapa ada tes kehamilan segala? Sekarang setiap wanita yang akan menikah wajib melakukan tes kehamilan, katanya sih untuk survei saja. Untuk mengetahui berapa banyak wanita yang telah hamil dulu sebelum menikah. Hmm…

Pengarahan dari BP4

Untuk pengarahan ini, aku dan calon suamiku wajib datang bersama ke KUA. Di sana kami berdua diberi pengarahan tentang keluarga sakinah. Pengarahan berlangsung selama sekitar 1 jam. Selama pengarahan, calon suamiku mendengarkan dengan seksama, sementara aku tidur susah payah menahan kantuk.

Sehari sebelum hari H

Sehari sebelum hari H, di depan rumahku sudah dipasang tenda biru dan kursi untuk besok. Dekorasi pengantin juga sudah disiapkan. Sementara aku sibuk ngeprint label souvenir dan menempelkannya ke souvenirnya.

Hari ini juga banyak saudaraku dari desa yang berdatangan. Memang sudah menjadi kebiasaan, bahwa saudara jauh biasanya tidak datang pas hari H, tapi sebelum atau sesudah hari H. Mungkin biar lebih privasi, apalagi mereka membawa “kado” yang sangat banyak, seperti beras, kelapa, sayur-sayuran, gula jawa, tempe, tape ketan, kerupuk, dan sebagainya, ciri khas orang desa.


Artikel terkait:
Nov
19

Cerita Nikah: Persiapan Menjelang Hari H

Files under Pernikahan | 2 Comments

Kalau biasanya orang menyiapkan pernikahannya sejak beberapa bulan sebelumnya, bahkan beberapa tahun sebelumnya, maka aku hanya menyiapkannya dalam 3 minggu. Mesti ada kekhawatiran bagaimana kalau dalam 3 minggu ini surat nikah belum jadi, tapi alhamdulillah semuanya dimudahkan oleh Allah.

Berikut beberapa persiapan teknis menjelang Hari H:

Surat-surat Nikah

Berhubung setelah akad aku langsung kembali ke Bandung, maka surat-surat nikahku diurus oleh kakakku. Aku hanya ninggalin foto kopi KTP dan akta kelahiran, serta softcopy pas foto yang kukirim setelah tiba di Bandung. Kakakku yang mengurusnya dari RT, RW, Kelurahan, dan Kecamatan. Alhamdulillah, 2 hari sudah beres. Tinggal menunggu dokumen dari calon mempelai laki-laki.

Calon suamiku juga melakukan hal yang sama di Sukoharjo, tapi karena beberapa dokumen ditinggal di Surabaya, jadi agak lama. Akhirnya dokumen-dokumen tersebut dikirim ke Yogya. Dokumen milikku dan calon suamiku digabungkan lalu diserahkan ke KUA. Selesai sudah urusan. Waktu akad pun sudah ditentukan, yaitu hari Ahad, 9 September 2007 pukul 10.00.

Undangan

Makasih buat Mas Teguh (EL 99) yang udah ngasih undangan gratis buatku, katanya sih sebagai hadiah pernikahanku. Waktu itu kakakku bilang bahwa di Yogya tidak ada percetakan undangan untuk jumlah yang sedikit. Dan Mas Teguh menawarkan padaku undangan gratis sebanyak 100 buah.

Langsung aja aku dengan diantar Novi ke tempat Mas Teguh di Sarijadi. Di sana kami memilih-milih desain untuk kartu undangan. Kami memilih undangan berwarna biru muda, dengan ukuran kecil (1/2 halaman A4), karena memang untuk ukuran inilah aku dikasih gratis. Undangan jadi dalam waktu 3 hari.

Souvenir

Aku mencari souvenir di Pasar Baru. Sempat bingung juga karena ada banyak souvenir bagus, seperti gantungan kunci, hiasan kulkas, tempat lilin, tempat baju, sendok/garpu, gunting kuku, hekter, lilin, dan sebagainya. Setelah berdiskusi dengan calon suamiku, akhirnya aku membeli sendok/garpu mini.

Baju Pengantin

Untuk baju pengantin, aku meminjam punya kakak iparku. Untuk akad sudah ada kebaya warna putih, tapi ternyata ukurannya ketat, ngepress ke tubuhku. Jadi aku beli phashmina (semacam selendang panjang yang dipakai di luar jilbab, dari kepala sampai ke badan). Untuk jilbabnya, aku beli di Alisha. Kemudian untuk bawahan, sebenarnya di rumah ada banyak kain jarik punya ibuku, tapi aku ga suka pakai jarik, jadi aku beli rok motif batik di Pasar Baru.

Hehe… aku sampai menghabiskan waktu 3 hari untuk belajar pakai jilbab, karena aku sama sekali ga pernah pakai jilbab yang dimodif. Aku sampai mencoba beberapa macam gaya memakai jilbab, tapi hasilnya pada jelek, akhirnya aku pakai gaya yang sederhana aja. Jilbab putih ditumpuk dengan jilbab emas, kemudian taruh hiasan di atasnya. Luarnya dilapisi dengan phashmina lagi. Alhamdulillah, meski hasilnya jelek, tapi terlihat agak rapi, dan yang penting masih bisa menutup aurat dengan baik. Kebaya yang sebenarnya ketat jadi tidak terlihat karena terlapisi phashmina.

Untuk resepsi aku pakai baju pinjaman dari kakakku (lagi) setelan warna hijau, yang sebenarnya kebesaran, tapi bagiku ga masalah. Justru kalau kebesaran, aku jadi terlihat lebih gemuk, hehe… Aku tinggal beli jilbab dan phashminanya. Selain itu aku juga beli sepatu warna emas, harganya Rp 35.000 di Pasar Baru.


Artikel terkait: