Jul '08
23

One Day Tour ke Ancol, Gelanggang Samudra, Dufan, Police Academy Show (bagian 1)

Files under Perjalanan | 3 Comments

Ahad, 18 Mei 2008, kami mengikuti One Day Tour ke Ancol yang diselenggarakan d’Bay Cafe Paris Van Java. Di sini kami mengambil Paket B, dengan biaya Rp 178.000,- per orang kami mendapat fasilitas rekreasi Gondola, Gelanggang Samudra, Dufan, dan Police Academy Show, termasuk transport pulang-pergi Bandung-Jakarta dan snack. Harga ini jauh lebih murah daripada kita berangkat sendiri. Coba kita hitung berapa biaya yang harus kita keluarkan kalau berangkat sendiri, tiket masuk Ancol Rp 10.000, tiket Gondola Rp 35.000, tiket Gelanggang Samudra 60.000, tiket Dufan 100.000, tiket Police Academy Show Rp 50.000, belum lagi transport Bandung-Jakarta pp. minimal Rp 80.000. Total hampir Rp 350.000,- Nah, dengan mengikuti paket ini kita hanya membayar Rp 178.000,- Jauh lebih murah bukan?

Kami berangkat dari Paris Van Java jam 7 pagi. Walau saat beli tiket baru 1 orang yg daftar, ternyata saat berangkat udah 12 orang. Memang sih, untuk hari Ahad biasanya peserta lebih sedikit daripada yang hari Sabtu. Oya, One Day Tour ini hanya ada pada hari Sabtu dan Ahad. Jika peserta yang ikut sedikit, maka kita berangkat menggunakan mobil elf. Tetapi jika pesertanya banyak akan menggunakan bus.

Ada 4 paket One Day Tour ini:

  • Paket A : Ancol, Gondola, Dufan, Police Academy Show
  • Paket B : Ancol, Gondola, Gelanggang Samudra, Dufan, Police Academy Show
  • Paket C : Ancol, Gondola, Atlantis, Dufan, Police Academy Show
  • Paket D : Ancol, Gondola, Gelanggang Samudra, Atlantis, Dufan, Police Academy Show

Kami sempat berhenti di km 57 untuk beristirahat sejenak. Kemudian melanjutkan perjalanan hingga tiba di Ancol sekitar pukul 10.00. Tiba di Ancol, masing-masing dari kami diberi tiket sesuai paket yang diambil.

Acara pertama adalah naik Gondola (kereta gantung). Di Ancol ada 3 terminal Gondola, yaitu terminal A, B, dan C. Kami naik dari terminal A, melewati terminal B, dan turun di terminal C. Terminal C ini dekat dengan Gelanggang Samudra. Bagi yang mengambil paket A, begitu tiba di terminal C langsung kembali lagi ke terminal A.

Gondola

Terminal Gondola

Pemandangan dari Gondola

Dari Gondola ini kami bisa melihat pemandangan ke bawah. Di sebelah utara terbentang Laut Jawa yang biru menawan, di sebelah selatan kami dapat melihat Ancol dari atas (Dufan dan Atlantis), sementara di bawah kami banyak wisatawan yang sedang bermain-main di pantai.

Turun dari Gondola, kami pun berjalan menuju Gelanggang Samudra.

(bersambung)


Artikel terkait:
Jul '08
21

Jalan-jalan dari Dago Atas ke Punclut

Files under Perjalanan | Leave a Comment

Kemarin, kami jalan-jalan ke Punclut. Kata orang, Punclut merupakan kependekan dari Puncak Ciumbuleuit. Terletak di sebelah utara kota Bandung. Katanya sih, dari Punclut ini kita bisa melihat pemandangan kota Bandung.

Kami berangkat dari kosan pukul 05.30 naik angkot menuju terminal Dago. Karena kami sama sekali tidak tahu menahu rute ke Punclut, kami bertanya pada seorang ibu yang berjualan di depan terminal Dago. Ternyata arah ke Punclut ada di seberang terminal (belok kiri kalau dari bawah). Kami pun menyusuri jalan itu yang menurun tajam, eh… ternyata setelah melewati turunan yang tajam, jalannya menjadi tanjakan tajam. Yah, begitulah.. Jalan yang kami lalui naik-turun begitu tajam. Jalan di sini sudah diaspal dan kami sering menjumpai angkot Kalapa-Dago yang melewati jalan ini. Maklum lah, kalau tinggal di sini tentu capek sekali untuk menuju ke jalan raya.

Pukul 06.30 kami tiba di Punclut. Benar-benar perjalanan yang melelahkan. Meski jarak yang kami tempuh hanya sekitar 3 km, namun medan jalan yang naik-turun cukup membuat kaki pegal dan kehabisan nafas. Di Punclut ini ada pertigaan. Arah ke kanan menuju Lembang, dan arah ke kiri untuk turun ke Ciumbuleuit. Karena aku udah capek, jadi kami memilih pulang saja.

Kami berjalan kaki menyusuri jalan setapak menuju ke Ciumbuleuit. Sebenarnya jarak Punclut-Ciumbuleuit ini hampir sama dengan jarak Punclut-Dago Atas, tapi karena jalannya menurun kami bisa menempuhnya dalam waktu sekitar 30 menit.

Akhirnya kami tiba di terminal Ciumbuleuit melalui jalan Bukit Raya. Kami lalu naik angkot sampai ke pertigaan Siliwangi. Di sana ada Pasar Gandok. Kami beli buah markisa dan lengkeng. Rencananya mau sekalian beli sayur, tapi ternyata pasarnya kecil dan tidak lengkap. Akhirnya kami ke Pasar Simpang deh. Setelah itu kami pun pulang ke kosan.

Sampai kosan jam 08.30. Walau cuma 2 jam, perjalanan kali ini benar-benar melelahkan, tapi juga menyenangkan :D

Kapan-kapan aku pingin jalan-jalan dari Punclut ke Lembang, medannya berat ga ya? Atau mending dari Lembang ke Punclut yang jalannya menurun :) Ada yang mau ikutan?


Artikel terkait:
Jun '08
22

Jalan-jalan ke Unpad Jatinangor

Files under Perjalanan | 3 Comments

Desember kemarin, aku dan suamiku jalan-jalan ke kampus Universitas Padjadjaran di Jatinangor, Sumedang. Sebelumnya aku pernah ke kampus Unpad ini sebagai utusan dari ComLabs ITB untuk mengajar training Ganesha Digital Library.

Perjalanan menuju kampus Unpad Jatinangor cukup mudah. Kita bisa menggunakan bis kota jurusan Dipati Ukur-Jatinangor. Perjalanan memakan waktu sekitar 1 jam. Bis yang kita tumpangi masuk ke pintu tol Mohammad Toha, dan melewati jalan tol Padaleunyi sampai ke Cileunyi. Tarif yang kami keluarkan waktu itu hanya Rp 3.000,- Sekarang sih sudah naik menjadi Rp 4.000,-

Kampus Unpad Jatinangor tentu saja berbeda dengan kampus ITB.

Kampus Unpad lebih luas, untuk berpindah dari satu jurusan ke jurusan lain kita bisa menempuh perjalanan cukup jauh. Pemandangan alamnya pun lebih alami, dengan latar belakang alam pegunungan.

Karena kami ke Unpad pada hari Sabtu, maka situasi kampus ini sepi. Cukup capek juga jalan-jalan di sini. Akhirnya kami beristirahat di mushola Faperta Unpad, dan dengan pulasnya aku tertidur di sini :)


Artikel terkait:
Jun '08
15

SMA-ku Dulu dan Sekarang

Files under Perjalanan | 4 Comments

Desember lalu, SMA-ku mengadakan Lustrum Emas, dalam rangka HUT-nya yang ke-50. Setelah sekian lama tidak bersua, akhirnya aku diberi kesempatan lagi untuk bersilaturahim ke almamaterku.

Banyak perubahan di SMA-ku ini, tentu saja perubahan ke arah lebih baik. Beberapa bangunan baru, Masjid Al Uswah yang megah (dulunya cuma mushola kecil), serta fasilitas-fasilitas baru yang lain. Sempat iri juga nih, soalnya dulu sepertinya sekolahku tidak sebagus saat ini :D

Melihat ke ruang-ruang kelas, ada hal yang membuatku tertarik.

Oh, sekarang sistemnya lain dengan dulu. Kalau dulu ada ruang kelas 1-1, 1-2, 1-3, dst. Sekarang yang ada adalah Biology Class, Mathematic Class, Physics Class, dsb. Dulu, siswa menempati kelas yang sama dari jam pertama sampai jam terakhir dan guru mengunjungi kelas sesuai jam mengajarnya. Sekarang, guru menempati kelas yang ditentukan, siswa yang mengunjunginya. Jadi siswa yang berpindah-pindah dari jam pertama sampai terakhir. Kaya kuliah aja ya :)

Sekarang mari kita masuk ke ruang kelas.

Wah, sekarang tiap kelas ada TV dan DVD Playernya, juga ada OHP beserta layarnya. Bikin iri aja! Zamanku dulu di kelas ga ada TV, trus… OHP cuma ada satu di sekolah. Jadi kalau guru mau ngasih materi presentasi pakai plastik transparansi, kita harus ke Ruang Multimedia, dan karena ruangannya cuma satu, harus diatur-atur agar tidak bentrok dengan kelas lain.

Yah… zaman memang setiap saat berkembang. Dulu belum ada siswa yang memiliki HP, guru pun setahuku cuma satu orang yang punya. Sekarang… hampir setiap siswa punya HP, juga banyak yang bawa laptop ke sekolah.

Jadi ingat kata sayyidina Ali bin Abi Thalib : “Didiklah anak-anakmu, karena ia akan hidup di zaman yang berbeda denganmu!”


Artikel terkait:
Jun '08
8

Rihlah ke Dago Pakar dan Maribaya

Files under Perjalanan | Leave a Comment

Ingin berwisata di kota Bandung? Tapi ingin yang dekat-dekat saja? Bisa dicoba ke Dago Pakar dan Maribaya. Dago Pakar terletak di sebelah utara kota Bandung. Cukup 20 menit dari kampus ITB. Selain itu, dari Dago Pakar kita bisa berjalan kaki menuju Maribaya, ga jauh kok, cuma sekita 6 km, bisa ditempuh dengan kurang lebih 1.5 jam jalan kaki.

Itulah yang membuat kami (aku bersama suamiku) memutuskan untuk pergi ke sana. Sebelumnya aku sudah tiga kali ke Dago Pakar (ga bosen-bosen juga ya? :) ). Pertama, waktu mengikuti outbond Gamais saat tingkat dua dulu. Kedua, waktu mengikuti rihlah peserta Tahsin-Tahfidz Salman ITB. Dan ketiga, waktu mengikuti acara Unit Pelatihan ComLabs ITB. Ketiga-tiganya gratis lho :) Kalau ke Maribaya aku baru satu kali, yaitu ketika berekreasi bersama ibuku dan Renni, temanku. Sedangkan suamiku belum pernah sama sekali ke Dago Pakar dan Maribaya.

Kami berangkat dari Simpang Dago naik angkot jurusan Ciroyom-Ciburial, dan turun di dekat objek wisata Dago Pakar (ada petunjuknya kok!). Kemudian dilanjutkan berjalan kaki menuju pintu gerbangnya. Dago Pakar ini memiliki nama resmi Taman Hutan Raya Ir. H. Juanda.

Di sini terdapat patung Ir. H. Juanda. Siapakah beliau? Tanya orang yang asli Bandung aja ya :)

Juga terdapat taman-taman yang sejuk dan beberapa burung yang dipelihara. Karena berupa hutan, kawasan ini juga dapat digunakan sebagai area outbond.

Jika kita melangkah lebih dalam, kita akan menemukan Goa Belanda dan Goa Jepang. Konon, kedua goa ini dulunya digunakan sebagai tempat persembunyian ketika berperang. O ya, sebaiknya kalau mau masuk ke goa ini, bawa senter dari rumah. Karena di dalam goa gelap, dan banyak orang yang menyewakan senter dengan harga mahal.

Tak jauh dari kedua goa ini, kita akan menemukan jalan setapak menuju ke Maribaya. Medannya ringan kok, karena jalannya sendiri sudah diblok, cuma naik turunnya itu yang kadang bikin lelah. Tapi ga usah khawatir, di sepanjang jalan banyak tukang ojek menawarkan tumpangan. Lagi pula jalan kaki juga tidak terlalu lama, sekitar 1.5 jam saja, dan kita langsung tiba di Maribaya.

Di Maribaya, kita dapat menyaksikan beberapa air terjun, serta beristirahat sambil menikmati udara sejuk dan pemandangan yang indah. Tapi siap-siap aja ya, di sini banyak pengamen, dan mereka biasanya menyanyi berkelompok dan agak maksa gitu.

Dari Maribaya, kami pulang naik angkot jurusan Lembang, kemudian disambung angkot Ledeng-Cicaheum menuju ke kosan. Perjalanan pulang lebih jauh daripada perjalanan berangkat, karena jalannya agak muter.

# Di Maribaya ini aku terkenang, rekreasi terakhir dengan ibuku, tiga tahun silam.


Artikel terkait:
Apr '08
23

Sebuah Perjalanan (bagian 3-habis)

Files under Perjalanan | Leave a Comment

Acara ’serah terima’ ini berakhir jam 22.30. Bayangkan, habis dari Maghrib sampai jam segini, aku sendiri sebenarnya udah ga betah berada di sana sejak jam 21.00. Kebanyakan hiburannya, acara intinya sendiri cuma sebentar.

Keesokan harinya, akad nikah dimulai pukul 9.00 sampai pukul 10.00. Setelah itu aku dan suamiku pulang dulu ke rumah karena kakak iparku datang dari Sukoharjo untuk mengantar komputer suamiku. Setelah itu kami ke KUA untuk mengurus surat nikah, yang intinya suamiku telah lunas membayar mahar yang dulu masih dihutang. Alhamdulillah…

Habis itu kami kembali lagi ke walimahan kakakku. Acaranya selesai jam 14.00. Hmm, kalau dihitung-hitung hari ini kami menempuh perjalanan dengan motor lebih dari 50 kilometer :D

Malamnya, kami kembali ke Bandung. Rencananya mau naik kereta Lodaya yang berangkat jam 21.00. Ternyata tiket kereta Lodaya untuk tempat duduk yang bersebelahan sudah habis. Jadi akhirnya kami naik kereta api Turangga yang berangkat jam 23.00.

Oya, aku sempat melihat Kamal di stasiun Yogya saat dia mau naik kereta Lodaya, tapi dari kejauhan dan Kamal tidak melihat aku. Lagipula aku ragu itu benar-benar Kamal atau bukan. Esoknya aku tanya ke Kamal, eh ternyata benar yang aku lihat tersebut adalah dirinya.

Sekian liputan ‘Sebuah Perjalanan’-ku ke Yogya selama 2 hari 1 malam, plus 2 malam di kereta. Sungguh perjalanan yang melelahkan, tapi menyenangkan.


Artikel terkait:
Apr '08
22

Sebuah Perjalanan (bagian 2)

Files under Perjalanan | Leave a Comment

Aku dan suamiku tiba di Yogya jam setengah 4 pagi. Kami langsung naik becak menuju rumahku, tarifnya Rp 15 ribu. Sampai di rumah udah masuk waktu Subuh. Setelah shalat Subuh, kami langsung tidur (kan capek habis perjalanan jauh). Bangun jam 6 pagi, langsung mandi, dan bersiap-siap ke rumah mertua.

Biasanya aku ke rumah mertua naik kereta Prambanan Ekspress sampai di Solo, lalu naik kereta Bengawan sampai ke Sukoharjo.

Pukul 06.20 kami berangkat menuju stasiun. Kami menunggu taksi yang lewat dekat rumah, ternyata ga ada taksi yang lewat. Akhirnya naik becak ke stasiun Lempuyangan, kali ini cuma bayar Rp 12 ribu (soalnya nawar). Becaknya jalan lambat banget, sampai di stasiun jam 7 lebih dikit. Jadinya… kami ketinggalan kereta Prameks deh, dan juga ketinggalan kereta Bengawan. Kereta Bengawan jurusan Solo-Wonogiri ini cuma berangkat satu kali dalam sehari yaitu jam 9 pagi.

Nanya ke petugas di stasiun, dijawab bahwa kereta Prameks selanjutnya baru datang jam setengah 9. Langsung aja kami menuju ke stasiun Tugu, untuk mencari kereta lain tujuan Solo selain Prameks.

Kami tiba di stasiun tepat ketika kereta Sancaka (tujuan Surabaya lewat Solo) berangkat. Ya sudah, kayanya memang takdirnya kami harus naik kereta Prameks jam setengah 9.

Pukul setengah 9 keretanya datang, dan langsung berangkat ke Solo. Tiba di Solo sekitar jam 10. Kami lalu naik bus menuju Sukoharjo. Tiba di Sukoharjo sekitar jam 11, dan tiba di rumah mertua sekitar jam setengah 12.

Pukul 2 siang kami pulang menuju Yogya, berharap bisa naik kereta Prameks jam 3 sore. Akhirnya kami tidak ketinggalan kereta lagi, kami bisa naik kereta jam 3, tapi ternyata penuh sekali dan terpaksa berdiri.

Karena tidak kuat berdiri lama dan berdesak-desakan (padahal cuma 1 1/2 jam), ketika kereta berhenti di Klaten, kami pun turun. Kami melanjutkan naik bis menuju Yogya. Dan tiba di terminal Yogya jam 5 sore.

Dari terminal kami naik bis TransJogja menuju rumahku. Bis TransJogja ini mirip dengan bis TransJakarta, hanya ukurannya lebih kecil. Ruangan bis ber-AC dan untuk menaikinya harus membeli tiket seharga Rp 3000 dahulu. Alhamdulillah, halte bis ini dekat dengan rumahku, sehingga tidak perlu berjalan jauh sampai rumah.

Tiba di rumah, tak ada waktu istirahat buat kami. Setelah shalat Asar (yang mepet banget ke waktu Maghrib) dan shalat Maghrib, kami beserta keluargaku mengantar kakakku untuk mengikuti upacara ’serah terima’ pengantin wanita ke keluarga pengantin pria.

Oya, acara pernikahan kakakku ini diadakan di rumah mempelai lelaki. Jadi di rumahku sepi-sepi aja, tidak seramai waktu pernikahanku dulu.


Artikel terkait:
Apr '08
21

Sebuah Perjalanan (bagian 1)

Files under Perjalanan | 1 Comment

Akhir minggu kemarin benar-benar perjalanan yang melelahkan (juga menyenangkan). Setelah 4 bulan tidak mudik, akhirnya aku berkesempatan untuk mudik ke rumah orang tua dan mertua.

Sebenarnya kami kemarin tidak berencana mudik, karena memang tidak ada libur panjang. Baru ketika hari Kamis kami dapat kabar bahwa kakak perempuanku akan menikah di hari Senin (ngasih taunya mendadak banget), kami memutuskan untuk mudik.

Suamiku sendiri memang sudah merencakanan hari Jumat akan cuti, karena akan mengantarkanku cek kesehatan. Dengan adanya berita ini, maka suamiku memperpanjang cutinya sampai hari Selasa. Sedangkan aku sendiri sudah 3 hari tidak masuk kerja karena sakit.

Seperti biasa, suamiku tiba di Bandung sekitar jam 1 dini hari. Paginya, setelah suamiku beristirahat, kami langsung menuju ke Prodia. Setelah selesai dicek, kami langsung menuju ke ITC Kebon Kalapa untuk mencari kado buat kakakku. Padahal waktu itu aku masih sedikit sakit, tapi sakitnya jadi tidak terasa karena aku pergi bersama suamiku ^_^

Siang harinya, ketika suamiku sedang shalat Jumat, aku mendapat telepon dari Rumah Zakat, bahwa besok Sabtu ada tes komputer dan wawancara. Aku memang sedang mendaftar untuk ikut Acceleration Program, yaitu training manajemen selama 3 bulan. Akhirnya, diputuskan bahwa kami akan mudik Sabtu malam.

Sabtu pagi, aku berangkat untuk mengikuti tes komputer dan wawancara. Peserta tes ini sebanyak 6 orang dari Bandung dan sekitar 15 orang dari Jakarta. Karena yang dari Bandung tesnya duluan, jadi hasilnya diumumkan saat itu juga.

Dan hasilnya…

Karena pas diwawancarai aku bilang begini:
“Sebenarnya cita-cita saya ingin jadi ibu rumah tangga,…”

Jadi, pas pengumuman hasil bapaknya bilang begini:
“Tadi anda bilang ingin jadi ibu rumah tangga kan? Jadi saya rasa program ini tidak cocok bagi anda…”

Alhamdulillah, aku tidak diterima. Mungkin kalau aku diterima aku bakal tambah pusing. Tiga bulan training di suatu tempat yang aku tak tahu di mana. Pasti banyak targetku yang tak terlaksana :D

Akhirnya aku pulang ke kos. Sampai di kos langsung kambuh penyakitku yang lain, pusing plus mual-mual. Sampai aku nangis menahan sakit sambil memelas ke suamiku kalau aku gak ikut mudik. Tapi suamiku cuma nyuruh aku istirahat. Akhirnya aku tidur setelah beroleskan minyak kapak.

Begitu bangun, siap-siap shalat Maghrib jamak Isya’. Soal sakit dipending dulu. Kami langsung naik angkot menuju ke stasiun, beli tiket (alhamdulillah masih dapat tempat) Lodaya, beli makan, dan langsung deh istirahat di kereta.


Artikel terkait:
Dec '07
11

Telur Lempar

Files under Perjalanan | Leave a Comment

Sewaktu aku ke tempat tinggal suamiku di Sukoharjo, malamnya kami lewatkan dengan jalan-jalan ke kota Solo. Perjalanan Sukoharjo-Solo cukup jauh, memakan waktu sekitar 1 jam dengan sepeda motor.

Kami mampir ke sebuah lesehan kaki lima, sekedar beristirahat sambil menikmati roti bakar dan susu murni. Penasaran dengan salah satu menu yang bernama Telur Lempar, kami pun memesannya.

Tadinya aku kira Telur Lempar ini adalah telur yang dilempar-lempar, mungkin dilempar-lempar di wajan (digoreng), atau mungkin adonan telur campur tepung yang dilempar-lempar supaya bercampur. Ternyata dugaanku salah besar!

Telur Lempar adalah kuning telur (mentah) yang dicampur madu. Disajikan di cawan kecil. Cara memakannya langsung ditelan, sehingga tidak terasa bau amisnya. Tapi aku lebih suka memakannya sedikit demi sedikit, sehingga terasa manis madunya bercampur dengan telur.

Sebenarnya waktu kecil aku sering makan Telur Lempar. Biasanya dimakan langsung atau dicampur dengan jamu. Hanya saja di Yogya tidak mengenal istilah Telur Lempar. Atau mungkin nama Telur Lempar hanya ada di kota Solo ya?


Artikel terkait:
Dec '07
10

Taman Kyai Langgeng, Dulu dan Sekarang

Files under Perjalanan | Leave a Comment

Jauh hari sebelum menikah, aku menginginkan acara bulan madu kami -yang cuma sehari ini- ke Taman Kyai Langgeng, Magelang. Kenapa aku memilih TKL? Karena menurutku objek wisata ini masih terasa sejuk dan asri, terlebih letaknya di dekat lereng Gunung Merapi.

Sebelumnya aku pernah mengunjungi objek wisata ini sebanyak tiga kali. Pertama, saat aku masih duduk di bangku TK. Saat ini kami diajak piknik ke Adisucipto dan TKL. Yang masih kuingat, waktu itu aku naik mobil-mobilan di taman lalu lintasnya.

Kedua, saat aku duduk di kelas 1 SD. Aku pergi ke TKL bersama keluargaku. Yang aku ingat waktu itu, di sana banyak kolam ikannya.

Kemudian yang ketiga, saat aku duduk di kelas 3 SD. Aku ke TKL dalam rangka piknik perpisahan kelas 6 di SD-ku. Yang kuingat di sana banyak tempat ayunannya.

Yang jelas, tiga kali ke TKL, benar-benar mengesankan, objek wisata yang indah.

Dan sekarang, 17 tahun sejak kunjungan terakhirku, TKL udah banyak berubah.

* Dulu hawanya sejuk-sejuk dingin, sekarang panas
* Kolam-kolam ikannya sudah tidak ada ikannya, airnya pun keruh
* Ayunannya masih ada, tapi beberapa sudah rusak
* Sepi pengunjung
* Fasilitas (seperti perahu di sungai, kereta mini) tidak dioperasikan

Meski sempat merasa kecewa karena tidak seperti yang kubayangkan, setidaknya kami sudah dihibur oleh satwa-satwa yang jarang kami lihat, seperti kelelawar, monyet, bangau, merak, kakatua, dan beberapa jenis burung lainnya.


Artikel terkait: