Nov '08
16

Selalu Ada Kemudahan dalam Setiap Kesempitan

Sesuai janji Allah, di setiap kesulitan selalu ada kemudahan, bahkan ada yang menyebutkan satu kesulitan diapit oleh dua kemudahan. Tentu saja, untuk keluar dari kesulitan menuju kemudahan kita harus berikhtiar. Ikhtiar bisa dilakukan dengan tenaga, harta, pikiran, dan tentu saja yang tidak boleh lupa ikhtiar dengan DOA.

Manusia adalah makhluk yang lemah. Sekuat apapun kita berusaha, jika Allah tidak mengabulkan, maka usaha kita tak akan berhasil. Di sinilah pentingnya ikhtiar doa. Karena Allah telah berjanji akan mengabulkan permohonan orang yang berdoa pada-Nya.

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. Al Baqarah: 186)

Dalam ayat di atas, terlihat bahwa ketika berdoa dan memohon kepada Allah, hendaklah kita menyertainya dengan keimanan dan ketakwaan. Nah, berarti selain berdoa kita harus senantiasa menjaga diri kita agar selalu di jalan tersebut. Bisa jadi Allah tidak mengabulkan doa kita, karena kita masih sering berbuat maksiat. Semoga kita semua selalu istiqomah di jalan-Nya :)


Artikel terkait:
Nov '08
11

Jangan Takut Gagal!

Jangan takut untuk terus mencoba dan mencoba! Kegagalan bukan akhir dari segalanya. Seorang Thomas Alfa Edison butuh seribu kali untuk menemukan listrik. Seorang Einstein butuh dicap sebagai “anak idiot” untuk menjadi jenius. Bahkan Rasulullah pun harus dicaci dan dimaki untuk menjadi panutan nomor satu di dunia ini.

Hidup ini ibarat game. Kita butuh usaha keras untuk memenangkan pertandingan. Beberapa strategi kita terapkan. Sampai suatu saat kita harus menghadapi kesulitan untuk memenangkannya.

Di sinilah kita harus berani gagal. Karena takut gagal hanya akan membuat kita tak berani mencoba. Bukankah orang yang tak pernah gagal adalah orang yang tak pernah mencoba?

Bagaimana jika kita gagal?

Gampang saja. Tinggal restart kembali “permainan” kita. Bukankah kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda? Dan bukankah pengalaman adalah guru terbaik bagi kita?


Artikel terkait:
Nov '08
2

Life is Problem

Kata Reza M. Syarief, Life is Problem, hidup adalah masalah. Selama kita hidup, kita akan selalu menghadapi masalah. Hanya orang mati yang tidak punya masalah.

Setidaknya, ada tiga hikmah Allah memberikan kita masalah.

Pertama, masalah membuat kita menjadi dewasa. Dengan adanya masalah, kita akan berpikir untuk menyelesaikannya. Semakin banyak masalah yang kita hadapi, semakin kaya pikiran kita dalam menyelesaikannya, semakin kaya pengalaman hidup kita.

Kedua, masalah membuat kita merubah hidup kita. Allah tidak akan merubah keadaan kita, sehingga kita merubah keadaan yang ada dalam diri kita sendiri. Masalah membuat kita selalu dinamis untuk bergerak, bertindak, dan melangkah.

Ketiga, masalah membuat kita semakin yakin bahwa dalam setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Ketika kita telah berhasil menyelesaikan masalah, kita akan merasakan kemudahan. Masalah membuat kita yakin bahwa Allah akan selalu menolong hamba-Nya.

Bagaimana jika suatu masalah tidak bisa terselesaikan? Atau mungkin kita sering mendengar ada orang stres karena menghadapi masalah?

Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. (QS. Ali Imran: 159)

Ikhtiar manusia sangat terbatas. Maka Allah memerintahkan kita untuk bertawakkal setelah berikhtiar. Bertawakkal artinya berserah diri, tunduk dan ikhlas atas hasil jerih payah kita. Jika memang ikhtiar kita berakhir dengan kegagalan, itulah takdir Allah. Dan Allah tidak pernah salah memberi takdir, karena Dia-lah yang Maha Mengetahui yang terbaik bagi kita.

Jadi, kita lah yang menentukan, apakah suatu masalah akan membuat citra diri kita positif atau negatif. Apakah kita akan berkata “God, I have a big problem” ataukah berkata “Hey problem, I have a big God.”


Artikel terkait:
Sep '08
24

Kematian

Files under Kontemplasi | 1 Comment

Entah kenapa akhir-akhir ini aku banyak berpikir tentang kematian. Banyak orang telah meninggalkan kita, kembali kepada-Nya. Kita pun tinggal mengunggu waktu untuk menyusulnya.

Penyebab orang mati bermacam-macam. Ada orang mati karena sakit, sebelum mati tentu ia merasakan puncaknya sakit. Ada orang mati karena kecelakaan di jalan, sebelum mati tentu ia merasakan sakit (misal: tertabrak, sampai berdarah-darah). Ada orang mati tenggelam di air, sebelum mati tentu ia merasakan sakit (ga bisa bernapas, air masuk ke paru-paru). Ada orang mati dibunuh, sebelum mati ia juga merasakan sakit (dipukul, ditusuk). Ada orang mati karena berdesak-desakan, sebelum mati ia pun merasakan sakit (kehabisan nafas, terinjak-injak).

Ada tidak ya, orang yang tidak merasakan sakit ketika mati?

Semua orang yang mati itu, telah mengalami sakaratul maut. Bagaimana rasanya sakaratul maut. Berikut ketika Rasulullah menghadapi sakaratul maut:

“Jibril, betapa sakitnya, sakaratul maut ini.” Perlahan terdengar desisan suara Rasulullah mengaduh.
Sedetik kemudian terdengar Rasulullah memekik kerana sakit yang tidak tertahankan lagi.
“Ya Allah, dahsyat sekali maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku,” pinta Rasul pada Allah.

Rasul saja kesakitan menghadapi sakaratul maut, bagaimana kita nanti?

Mendengar kabar ada orang meninggal, aku selalu berpikir “Orang itu telah mengalami masa paling menyakitkan dalam hidupnya”. Bagaimana ketika aku mati nanti? Mampukah aku menghadapi sakitnya sakaratul maut? Mampu atau tak mampu, kita semua pasti dan harus menghadapinya.

Nenekku meninggal karena sakit, beberapa hari sebelum meninggal beliau sering berteriak-teriak karena sakit yang dideritanya. Begitu pula ketika kakekku akan meninggal, meski beliau sudah tak bisa berkata-kata lagi, tapi aku yakin beliau merasakan sakit tiada tara. Pun demikian ketika ibuku meninggalkanku, beberapa hari sebelumnya ibu sudah tak mampu membuka mulutnya sehingga untuk makan harus lewat hidung, aku yakin ibu juga merasakan sakit. Makanya, sehari sebelum ibu meninggal, ketika kutahu sakit ibuku sudah semakin parah, aku memohon pada Allah supaya mempercepat proses sakaratul maut ibu. Aku tak tega melihat ibu menderita terlalu lama. Dan paginya, ketika ibu meninggal, aku merasa lega, sakaratul maut itu telah berakhir.

Aku tak tahu bagaimana aku mati kelak. Rasanya tak begitu penting membayangkan seperti apa kematian kita kelak. Toh sudah jelas, setiap sakaratul maut itu sakit. Yang lebih penting adalah bagaimana kita mempersiapkan agar ketika mati kita berada dalam keadaan husnul khatimah, bukan su’ul khatimah.

Taushiyah dari Aa’ Gym:

Jangan sampai kita mati dalam keadaan bermaksiat kepada-Nya. Mulut sering tak sadar menyenandungkan kemaksiatan, siapa tahu di situlah akhir hidup kita. Setiap saat, jangan pernah kita berhenti mengingat-Nya, karena kita tak tahu kapan ajal kita. Kematian bisa datang kapan saja, dan tak ada satu pun yang dapat menduganya.

Taushiyah dari Ustadz Budi Prayitno:

Kadang kita berpikir, kenapa ya ada orang shaleh yang akhir hidupnya mengenaskan. Itu karena Allah sangat mencintainya. Allah ingin mencuci dosa-dosanya di akhir hayatnya. Ketika ia mati, sakit yang ia rasa telah membersihkan dosa-dosanya. Sehingga ketika ia menghadap Allah, ia sudah bersih dari dosa.

Indah betul ya? Jadi ingat para syuhada’ yang syahid di medan perang. Mereka begitu merindukan mati di medan perang, karena mereka tahu, mereka sedang menjemput syurga.


Artikel terkait:
Sep '08
23

Di-”lupa”-kan

Files under Kontemplasi | 3 Comments

Coba hitung tanpa kalkulator, berapa nilai dari 1.026 x 325 ?

Jawabnya sudah pasti, yaitu 325.800.

Entah kenapa, di pagi itu aku menghitung 1.026 x 325 hasilnya adalah 326.800. Tiga kali aku menghitung pakai coret-coretan, hasilnya sama 326.800.

Beberapa jam kemudian, aku mencocokkan hasil hitunganku dengan suamiku. Ternyata hasil hitungan suamiku 325.000. Kami pun bertukar coret-coretan kami. Kata suamiku, “Nah, ini kamu yang salah, 5 + 1 + 9 itu hasilnya 15, bukan 16″. Setelah kuteliti kembali coretanku, aku baru sadar. Ternyata aku salah menghitung 5 + 1 + 9 sama dengan 16.

Aku pun bertanya, “Kenapa ya aku bisa salah menghitung 5 + 1 + 9 sama dengan 16. Kok bisa tiga kali menghitung salah semua? Padahal aku menghitungnya di tiga waktu yang berbeda”.

Suamiku menjawab dengan singkat, “Mungkin Allah sengaja membuat kamu lupa”.

Aku berpikir, betul juga ya. Otakku ini kan ciptaan Allah. Jadi mudah saja jika Allah ingin mengatur bagaimana kerja ciptaan-Nya itu. Peristiwa ini juga memberiku hikmah, sepandai-pandainya orang berusaha, tanpa ijin Allah usahanya ga akan berhasil. Jadi, harusnya ga ada tuh orang yang merasa tinggi hati.


Artikel terkait:
Aug '08
13

Taubat

Files under Kontemplasi | 2 Comments

Alkisah pada zaman dahulu ada seseorang yang telah membunuh 99 jiwa, kemudian ia ingin bertaubat. Ia menghadap seorang ‘alim kemudian menanyakan halnya. Sang ‘alim menjawab, “Tidak ada taubat bagimu”. Maka dibunuhlah sang ‘alim tersebut hingga genap 100 jiwa melayang di tangannya.

Kegelisahannya akan taubat membuat ia mencari orang ‘alim lain. Jawaban yang didapatnya dari sang ‘alim sungguh menenangkan jiwanya, “Selalu terbuka pintu taubat untukmu. Pergilah engkau ke suatu tempat di mana banyak orang taat kepada Allah, ikutilah mereka dan jangan kembali ke negerimu.”

Ia pun menuruti perintah sang ‘alim. Dalam perjalanan ia meninggal dunia. Malaikat rahmat dan malaikat siksa bertengkar soal tempat kembalinya. Allah SWT mengutus malaikat lain untuk menjadi penengah di antara keduanya. Maka diukurlah jarang yang terbentang antara mayatnya dan dua tempat tersebut. Jika lebih dekat ke negeri yang ditinggalkannya, maka malaikat siksalah yang berhak memegang ruhnya. Jika lebih dekat ke negeri tujuan, maka malaikat rahmatlah yang memegang ruhnya. Sungguh, Allah telah memerintahkan pada bumi yang dituju agar mendekat dan meminta bumi yang ditinggalkan menjauh. Ternyata, ia lebih dekat ke negeri tujuan. Perbedaan jaraknya tidak lebih dari sejengkal. Maka ruhnya pun dipegang oleh malaikan rahmat.

Maha Suci Allah yang memiliki ampunan seluas langit dan bumi, yang membentangkan tangan rahmat-Nya pada tiap-tiap malam untuk menerima taubat orang-orang yang melakukan dosa di siang hari dan mengulurkan tangan pemurah-Nya di tiap-tiap siang agar bertaubat orang-orang yang berdosa di malam hari. Dan Allah berjanji, pintu taubat ini akan selalu terbuka bagi siapa pun yang mau mengetuknya hingga matahari terbit dari barat.


Artikel terkait:
Aug '08
12

Takdir

Files under Kontemplasi | 1 Comment

Kita bisa berencana atas apa yang ingin kita lakukan serta berharap atas apa yang ingin kita capai. Ada kalanya apa yang kita rencanakan atau kita inginkan terwujud, namun ada kalanya pula rencana dan keinginan kita pupus tak berbekas.

Manusia berencana, berusaha, dan berharap. Allah yang menentukan dan menjatuhkan takdir. Segala perkara baik dan buruk yang menimpa kita adalah hak mutlak Allah. Tugas kita hanyalah menata diri dan hati kita menyikapi perkara baik dan buruk, menyenangkan dan menyedihkan tersebut.

Benarkah ada takdir buruk? Sebenarnya hanyalah masalah sudut pandang, bagaimana kita memandang perkara. Apa yang di mata kita buruk, misalnya suatu keinginan yang tidak tercapai, bisa saja bernilai baik di mata Allah. Demikian pula sebaliknya, apa yang kita anggap baik, bisa saja tidak bernilai di mata Allah.

wa ‘asa an takrahu syaiaw wa huwa khairul lakum, wa ‘asa an tuhibbu syaiaw wa huwa syarrul lakum.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu.

(QS. Al Baqarah: 216)


Artikel terkait:
Aug '08
11

Bekerjalah

Files under Kontemplasi | 1 Comment

Ada cerita tentang seorang ibu yang harus bekerja keras demi perut dan pendidikan anak-anaknya. Setiap pagi, kala sang fajar belum menampakkan diri, ia telah bergegas bangun. Menunaikan kewajiban pada Rabbnya lalu menyiapkan sarapan ala kadarnya. Berbekal lembaran lusuh hasil penjualan kemarin, ia berbelanja sayur mayur dan bahan mentah lainnya. Belum lagi pukul enam pagi, dagangannya telah siap dijenguk para pelanggan.

Menjelang tengah hari, ia bersiap-siap pulang karena tak ingin tertinggal adzan Dhuhur. Setelah kewajibannya tunai, dibantu anak sulungnya yang mulai besar, ia meracik dan memasak sisa dagangan agar tak terbuang sia-sia. Dengan senyumnya yang ramah ia berkeliling menawarkan makanan siap santap pada tetangga dekat dan jauh. Di daerah itu, ia memang dikenal banyak orang. Mbok, ya ia cukup disapa Mbok. Mungkin tak seorang pun peduli siapa namanya.

Memang bukan cerita dan namanya yang penting, tapi semangat dan sikap optimisnya dalam menghadapi kehidupan yang perlu ditiru. Setiap pagi, kala keluar rumah menuju pasar, ia tak pernah berpikir soal berapa rupiah yang akan dibawa pulang untuk anak-anaknya. Ia berkata, Rezeki itu sudah diatur Gusti Allah. Gusti Allah ndak akan keliru.

Jika seorang penjual sayuran dengan kehidupan yang amat sederhana bisa tetap optimis dan tawakal menjalani kehidupan, tidakkah kita malu jika sering mengeluh, apalagi putus harapan akan adanya hari esok yang lebih baik…

Wa quli’malu fasayarallahu ‘amalakum wa rasuluhu wal mu’minun.

Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu.

(QS. At Taubah: 105)


Artikel terkait:
Jan '08
16

Kecil Itu Indah

Tidak selamanya hal yang kecil tidak ada artinya.

Ingatkah tentang kisah seorang pelacur, yang melihat seekor anjing kehausan, kemudian ia mengambil sepatunya untuk dijadikan timba dan menimba air dari sebuah sumur, untuk diberikan kepada anjing yang kehausan itu. Ternyata rasa kasihnya kepada seekor binatang lebih berat timbangannya daripada dosa-dosa di masa lalunya.

Ada sebuah hadits yang mengatakan bahwa kelak ada orang yang bermain-main di dahan pohon di surga, dikarenakan orang itu selama hidup di dunia suka menyisihkan dahan-dahan pohon pengganggu jalan.

Abu Dhomdhom, seorang yang sangat miskin sampai-sampai dia tak mampu bersedekah dengan harta, ternyata ia mampu “bersedekah” dengan cara mengikhlaskan perilaku buruk orang lain kepadanya.

Jaman dahulu, orang-orang miskin mengadu kepada Rasulullah. Mereka iri kepada orang-orang kaya, yang dengan mudah bisa bersedekah dengan hartanya. Rasulullah pun menjawab, “Setiap tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir yang kalian ucapkan adalah sedekah.”

Bahkan, senyum untuk saudara kita juga bernilai sedekah di mata Allah.


Artikel terkait:
Jan '08
15

Sepenggal Paragraf dari Novel DSA

Dakwah bagaikan susunan dari kepingan-kepingan puzzle. Logika sederhana dari cara berpikir yang sederhana. Kepingan pertama, jihad fisik. Dilakukan oleh orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dengan berperang. Keping kedua, orang-orang yang berjuang dengan hartanya. Orang-orang kaya yang dermawan, para pengusaha yang membuka lapangan kerja, pendiri yayasan dan panti asuhan. Keping ketiga dan selanjutnya, orang-orang yang berjihad dengan ilmunya. Untuk keping yang ketiga ini, jumlahnya banyak sekali karena ilmu sendiri multidisipliner.
Hanya segitukah jumlah keping yang ada? Tidak. Tidak sama sekali. Jumlah keping itu masih banyak.
(Ari Nur Utami: Diorama Sepasang AlBanna, hal. 33)

Semoga di antara keping itu, termasuk orang yang berjihad lewat tulisan. Amiin.

Nuun, wal qalami wama yasturuun
Nuun, demi pena dan apa yang mereka tulis
(QS. Al Qalam: 1)


Artikel terkait:
  • Page 1 of 2
  • 1
  • 2
  • >