Apr
11

Pre Marital Check Up

Files under Kesehatan, Pernikahan | 1 Comment

Dulu sebelum menikah, aku bertanya pada teman-temanku yang telah menikah, apakah mereka melakukan tes kesehatan sebelum menikah? Hampir semua menjawab tidak.

Pre Marital Check Up atau cek kesehatan sebelum menikah, sepertinya masih kurang familiar dilakukan masyarakat di Indonesia. Padahal katanya di negara-negara barat sana, jangankan Pre Marital Check Up, General Check Up (cek kesehatan umum) wajib dilakukan setiap tahun untuk warga negaranya.

Dulu aku memang termasuk orang yang tak begitu peduli akan kesehatan. Tapi setelah aku jatuh sakit tahun lalu, aku jadi sangat peduli akan kesehatan. Itulah yang menyebabkanku harus mengikuti Pre Marital Check Up sebelum menikah.

Biaya Pre Marital Check Up ini bermacam-macam, kalau ingin yang murah bisa coba ke Rumah Sakit, di sana biaya berkisar mulai Rp 200 ribu. Kalau aku mengambil tes ini di Prodia, selain karena sudah langganan, aku suka dengan pelayanan dan suasana di Prodia yang kondusif.

Di Prodia, aku mengambil paket standard seharga Rp 875 ribu untuk wanita. Ada lagi paket plus yang biayanya mencapai di atas Rp 1.5 juta. Untuk wanita memang biayanya lebih mahal dua kali lipat daripada pria, karena bagian yang diperiksa lebih banyak daripada pria.

Dengan biaya Rp 875 ribu ini aku mendapat pemeriksaan berikut:

  • Pemeriksaan dokter
  • Hematologi rutin
  • Golongan darah
  • Rhesus faktor
  • Gambaran darah tepi
  • Hb Elektroforesis
  • Glukosa Puasa
  • Glukosa puasa (urine)
  • Glukosa 2 jam PP
  • Glukosa 2 jam PP (urine)
  • Anti-HBs
  • Anti-Toxoplasma IgG
  • Anti-Rubella IgG
  • Anti-CMV IgG
  • VDRL
  • Urine rutin

Aku datang ke Prodia dalam keadaan berpuasa 10 jam sebelumnya (minum air putih masih diperbolehkan). Selanjutnya darahku diambil sebanyak 4 tabung dan aku diminta memberikan sampel urin. Setelah itu aku disuruh makan pagi. Kemudian 2 jam setelah makan, darahku kembali diambil 1 tabung dan aku memberikan sampel urin lagi.

Sore harinya hasil pemeriksaanku sudah bisa diambil, dan aku mendapat fasilitas untuk berkonsultasi dengan dokter di Prodia ini. Alhamdulillah, hasilnya cukup baik. Tidak ada penyakit berbahaya yang berhubungan dengan gen dan keturunan yang aku idap.

Seyogyanya Pre Marital Check Up ini dilakukan 6 bulan sebelum menikah, tapi aku baru melakukannya 3 minggu sebelum menikah, ya… masih baik daripada aku tidak melakukannya sama sekali. Enam bulan sebelum nikah mah aku belum ketemu jodoh dan belum berpikiran akan menikah :)

Kenapa sih aku harus bayar mahal untuk mengikuti Pre Marital Check Up ini? Ya… karena kesehatan itu memang mahal harganya. Lebih baik kita mengetahui penyakit kita dari awal, daripada tahu belakangan ketika sudah parah bukan? Kalau hasil tes ini baik, alhamdulillah. Kalau hasilnya kurang baik, bisa segera diobati sejak dini.

Mar
6

Nafkah dan ‘Enak’

“Enak ya jadi istri, nafkah ditanggung suami”

Kalimat sindiran yang sering kudengar dari teman-temanku. Benarkah menjadi istri itu enak hanya karena nafkahnya ditanggung suami? Jika jawabannya “ya”, maka betapa sempit pemahaman ‘enak’ dan ‘ditanggung’ dalam kalimat di atas.

Apakah menjadi istri itu enak? Lihatlah bukankah mayoritas penghuni neraka adalah wanita. Mereka adalah para wanita yang tidak bersyukur pada suaminya. Menjadi istri, tidak bisa dibilang enak atau tidak, karena itu sudah takdir Allah. Menjadi istri, haruslah bersyukur, karena dengan syukur itulah ia dijauhkan dari neraka, dan menjadi calon bidadari syurga.

Nafkah ditanggung suami? Bukan berarti istri bebas menggunakan nafkah pemberian suami. Tetap saja nanti di akhirat pertanggungjawabannya sendiri-sendiri, tidak ada yang namanya pertanggungjawaban ditanggung suami. Seorang istri akan mempertanggungjawabkan nafkah yang telah diberikan suaminya, untuk apa nafkah tersebut ia gunakan, apakah ia gunakan untuk kebaikan atau sebaliknya.