Di awal menikah kami sudah mengambil pilihan bahwa selama 9 bulan ke depan kami akan menjalani hidup terpisah. Alhamdulillah, 7 bulan sudah terlewati. Dan selama ini kami mampu menjalaninya dengan baik-baik saja.
Atas request mbak Indri, aku akan mencoba memaparkan tipsku.
Pertama, aku dan suamiku sudah terbiasa hidup ’sendiri’ sebagai anak kos. Jadi harusnya tidak masalah jika setelah menikah harus berpisah. Bukankah sebelum menikah juga berpisah (pasti donk!). Dengan menikah, kami harus bisa membuktikan bahwa kami lebih dewasa! Memang, kadang merasa kangen jauh dari suami. Tapi masak sih cuma ditinggal sebentar udah nangis. Kalau cuma ditinggal sebentar udah nangis, bagaimana jika ditinggal selamanya? Seorang muslimah harus kuat! Harus tegar! Allah lebih mencintai umatnya yang kuat daripada yang lemah. Toh, nasibku tidak seberat Siti Hajar yang ditinggalkan Nabi Ibrahim di gurun pasir tanpa bekal apapun selain keimanannya kepada Allah.
Kedua, titipkan suami pada Allah. Aku percaya suamiku akan baik-baik saja, karena aku telah meminta kepada Allah untuk menjaganya.
Ketiga, percaya bahwa apa menimpa diri kita adalah takdir Allah. Saat ini Allah sedang menakdirkan kami hidup terpisah. Pasti ada hikmah di balik hal ini. Mungkin Allah ingin menjadikan kami pribadi yang lebih dewasa dan mandiri.
Keempat, jadikan setiap kesempatan bertemu menjadi hal yang berkualitas. Kuantitas pertemuan kami memang kurang, tapi semoga kualitasnya bisa optimal.
Kelima, mumpung masih punya banyak waktu luang (tidak terganggu suami), lakukan aktivitas sebanyak-banyaknya. Plus belajar menjadi seorang istri yang baik. Bisa jadi setelah tinggal bersama suami, aktivitas pribadi berkurang.
Mungkin kalau aku teruskan, bisa panjang sekali. Intinya sih satu, jalin hubungan yang baik dengan Allah. Seorang yang hatinya terpaut kepada Allah, tidak akan bersedih akan masalah yang dihadapinya. Jangan sampai aktivitas ibadah menurun karena tidak ada suami. Apalagi sekarang tarif telepon udah murah. Kami membudayakan setiap kami menelepon harus melakukan muraja’ah (menyetorkan hafalan Qur’an). Setidaknya, ada nilai ibadah di setiap komunikasi kami.
Salah satu adegan dalam film Ayat-ayat Cinta, adalah Aisha merasa cemburu kepada Maria setelah Fahri berpoligami. Padahal sebelumnya Aisha sendiri yang meminta Fahri menikahi Maria.
Kisah tersebut mengingatkanku pada keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihis salam.
Beberapa tahun setelah Nabi Ibrahim menikahi Sarah, mereka belum dikaruniai keturunan. Sarah, seorang istri yang sangat pemurah menawarkan Nabi Ibrahim untuk menikahi Hajar, khadimat (pembantu) mereka. Setelah Nabi Ibrahim menikahi Hajar, Hajar melahirkan seorang anak bernama Ismail.
Lambat laun, Sarah merasa cemburu kepada Hajar. Kecemburuan itu disampaikan kepada Nabi Ibrahim. Akhirnya Nabi Ibrahim meminta petunjuk kepada Allah, lalu Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk mengasingkan Hajar dan bayinya ke suatu tempat jauh dari mereka.
Dalam keluarga Nabi Muhammad pun, kecemburuan sering terjadi. Aisyah dan Hafshah pernah ngerjain salah seorang istri Rasul lainnya (sayang aku lupa namanya) agar Rasul menjauh darinya. Sebabnya satu, kecemburuan. Aisyah bahkan pernah menumpahkan makanan hasil masakan istri Rasul lainnya di depan para shahabat.
Sepertinya memang susah memanajemen rasa cemburu. Apakah aku pernah merasa cemburu pada suamiku? Selama ini tidak pernah (atau belum ya?). Karena teman-teman suamiku hampir semua laki-laki. Dan alhamdulillah, suamiku sangat menjaga pergaulannya.
“Enak ya jadi istri, nafkah ditanggung suami”
Kalimat sindiran yang sering kudengar dari teman-temanku. Benarkah menjadi istri itu enak hanya karena nafkahnya ditanggung suami? Jika jawabannya “ya”, maka betapa sempit pemahaman ‘enak’ dan ‘ditanggung’ dalam kalimat di atas.
Apakah menjadi istri itu enak? Lihatlah bukankah mayoritas penghuni neraka adalah wanita. Mereka adalah para wanita yang tidak bersyukur pada suaminya. Menjadi istri, tidak bisa dibilang enak atau tidak, karena itu sudah takdir Allah. Menjadi istri, haruslah bersyukur, karena dengan syukur itulah ia dijauhkan dari neraka, dan menjadi calon bidadari syurga.
Nafkah ditanggung suami? Bukan berarti istri bebas menggunakan nafkah pemberian suami. Tetap saja nanti di akhirat pertanggungjawabannya sendiri-sendiri, tidak ada yang namanya pertanggungjawaban ditanggung suami. Seorang istri akan mempertanggungjawabkan nafkah yang telah diberikan suaminya, untuk apa nafkah tersebut ia gunakan, apakah ia gunakan untuk kebaikan atau sebaliknya.
Perlukah mengatur keuangan keluarga?
Sejak aku duduk di bangku SD ibuku mengajariku mengatur keuangan. Aku diberi uang saku di awal bulan untuk kupergunakan selama sebulan. Setiap hari aku mencatat pemasukan dan pengeluaranku. Namun lama-lama aku jadi malas mencatat.
Sekarang, setelah menikah aku kembali melakukan rutinitas tersebut, mencatat pemasukan dan pengeluaranku setiap hari. Tujuanku untuk mempermudah mengontrol keuangan, mengetahui seberapa besar kebutuhanku per bulan, dan mengevaluasi seberapa besar tingkat konsumsiku.
Aku mencatat arus keuangan keluarga dalam format Excel, sekedar untuk memudahkan saja. Berikut adalah bagian-bagian dalam laporan keuanganku:
Kas Awal - diisi awal bulan
Tabel Anggaran - per kategori, diisi awal bulan, bisa diubah sewaktu-waktu
Arus Kas, meliputi tanggal, uraian, kategori, dan nilai - diisi tiap hari
Arus Tabungan, segala sesuatu yang berhubungan dengan tabungan - diisi optional
Arus Hutang, segala sesuatu yang berhubungan dengan hutang - diisi optional
Tabel Tabungan - di-generate dari Arus Tabungan
Tabel Hutang - di-generate dari Arus Hutang
Tabel Pemasukan - di-generate dari Arus Kas
Tabel Pengeluaran - di-generate dari Arus Kas
Tabel Sisa - Tabel Anggaran dikurangi Tabel Pengeluaran
Cash In - total pemasukan
Cash Out - total pengeluaran
Cash Flow - total pemasukan dikurangi total pengeluaran
Kas Akhir - Kas Awal ditambah dengan Cash Flow
Tampak rumit? Tidak juga. Bikinnya saja yang agak rumit, tapi makainya gampang kok. Yang harus diisi tiap hari hanya bagian Arus Kas. Arus Tabungan dan Arus Hutang jarang, Kas Awal hanya tiap awal bulan, Tabel Anggaran bisa diubah-ubah sesuai kebutuhan, yang lainnya bekerja otomatis.