Jul
16

Kuliner di Rumah dan Alergi Bawang Putih

Files under Diary | 4 Comments

Aku termasuk orang yang awam dalam hal memasak. Sebelum nikah, aku jarang masak. Kalau pun masak, cuma masakan-masakan sederhana seperti nasi goreng, sayur bening, sayur asem, sayur lodeh, sayur bobor, capcay, soto, gulai, rendang. Atau bikin puding, bubur sumsum, bubur candil, pokoknya aneka bubur-buburan lah. Paling banter masak spageti yang hasilnya hancur-hancuran (tapi tetep ku makan).

Karena aku ingin jadi ibu rumah tangga yang baik, aku bertekad harus bisa masak. Sempet nyesel juga, kenapa dulu ga belajar masak dari ibuku, padahal ibuku jago masak. Syukurlah aku sudah punya ratusan resep masakan dari majalah-majalah koleksiku, jadi ga perlu bingung kalau cari resep masakan.

Alhamdulillah, impian kami untuk punya kompor terkabul juga. Minggu lalu, kami membeli sebuah kompor gas portable seharga Rp 143.000,- Sengaja kami memilih yang portable supaya mudah dibawa, maklum namanya juga anak kos. Sedangkan tabung gasnya cukup murah, seharga Rp 4.000,- biasanya habis dalam waktu 1 minggu. Dengan memasak sendiri kami bisa menghemat uang makan kami. Dan tentu saja makanan yang kami makan lebih sehat karena bebas vetsin.

Tapi ada satu hambatan, aku ini alergi terhadap bawang putih. Bukan alergi akibat makan bawang putih, tapi alergi menyentuh bawang putih. Tiap aku menyentuh bawang putih, esoknya jariku jadi berbintik-bintik berisi air dan gatal. Biasanya sembuh dengan sendirinya setelah 1 minggu tidak menyentuh bawang putih.

Ada yang punya solusi bagaimana menghilangkan alergi ini?


Artikel terkait:
Jun
1

Alhamdulillah (lagi)

Files under Diary | 7 Comments

Alhamdulillah, setelah 9 bulan hidup berjauhan dengan suami, akhirnya mulai Juni ini kami bisa hidup bersama dalam satu atap. Meskipun statusnya masih ngontrak rumah yang bentar lagi habis masa kontraknya, suami juga masih nyari-nyari kerja, dan aku memilih bekerja di rumah, namun kami mensyukuri keadaan ini. Ya, kapan lagi kami bisa bersama-sama seperti ini, full day lagi.

Kalau aku pikir-pikir, aku punya kesamaan dengan Ust. M. Fauzil Adhim. Yaitu di awal pernikahan tinggal di rumah kontrakan dan sering berpindah-pindah. Pindah-pindah di sini maksudnya pindah dari satu sisi ruang ke sisi lain jika hujan lebat. Maksudnya, rumah (eh.. kamar) kontrakan sering bocor gitu lho.. :D Tapi alhamdulillah, sekarang udah jarang hujan.

Karena untuk saat ini kami belum dipenuhi kesibukan dan amanah, rencananya besok kami mau mudik ke Yogya-Solo selama seminggu. Udah dikangenin keluarga nih… :)


Artikel terkait:
May
27

40

Files under Diary | 8 Comments

Alhamdulillah, resolusi ke-8 ku akhirnya tercapai. Berat badanku sekarang udah mencapai kepala 4, meski masih di angka 40.

Jadi benar kata dokter yang merawatku dulu. Kenapa dulu berat badanku ga naik-naik? Karena makanan yang masuk ke tubuhku tidak diserap oleh tubuh, melainkan dimakan oleh virus-virus. Huh, mubazir kan, udah makan banyak-banyak ternyata cuma memberi makan makhluk lain.

Karena itu, hati-hati aja buat yang merasa udah makan banyak tapi berat badan ga naik-naik. Bisa jadi makanan yang dimakan tidak terserap oleh tubuh, mungkin diserap makhluk lain, mungkin penyerapan tubuhnya yang kurang baik, untuk lebih jelasnya konsultasikan saja ke dokter.

40 ini ternyata belum angka ideal. Soalnya menurut index berat badan ideal, angka tersebut masih berada di perbatasan berat badan normal dan underweight. Angka idealku sih 43 ke atas. Hehe… doakan saja ya supaya aku bisa mencapai angka tersebut :)


Artikel terkait:
May
16

Alhamdulillah…

Files under Diary | 6 Comments

Alhamdulillah… setelah hampir 9 bulan ini menjalani masa pengobatan intensif, aku dinyatakan sembuh!

Bagi yang telah mengenalku lebih lama, tentu masih ingat bulan Juli tahun 2007 kemarin (hari-hari menjelang wisudaku), aku menjalani rawat inap di Rumah Sakit. Kalau belum tahu, silakan baca cerita bersambung (1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10) ini :D

Episode itu sebenarnya belum berakhir…

Setelah cairan di paru-paruku diperiksa, hasilnya… aku dinyatakan positif mengidap penyakit tuberculosis (untuk selanjutnya disingkat TB).

Sebuah ujian yang cukup berat kuterima (waktu itu).

Tapi aku bersyukur… karena dilahirkan di jaman modern, di mana sudah tersedia obat-obat dan peralatan medis canggih untuk mengobati penyakitku. Berbeda dengan jaman dahulu, orang terkena TB itu harus diasingkan, dan kata seorang dokter “jaman dahulu orang kena TB pasti akhirnya mati” (maksudnya mati disebabkan penyakit tersebut). Kata-kata dokter tersebutlah yang membuatku bersemangat, bahwa aku harus sembuh, malu ah masak aku mati karena terserang TB.

TB adalah penyebab kematian orang tertinggi ketiga di dunia, setelah penyakit jantung dan kanker.

Tapi aku bersyukur… penyakit ini hanya menyerang paru-paruku. Sedangkan ada orang di luar sana yang menderita TB tulang, TB darah, TB otak, dan sebagainya. Mycobacterium tuberculosis memang bisa tinggal di bagian tubuh mana saja. Dan penyakit TB paru merupakan penyakit paling ringan dibanding TB-TB lainnya.

Untuk sembuh dari penyakit TB, penderita harus menjalani pengobatan intensif selama minimal 6 bulan. Selama itu, pengobatan tidak boleh terputus. Satu hari saja lupa minum obat, akan menyebabkan virus tersebut kebal, dan pengobatan harus diulang dengan dosis ditingkatkan. Jika setelah menjalani pengobatan tersebut, ternyata penderita tidak mengalami perkembangan ke arah lebih baik, maka dilanjutkan ke pengobatan berikutnya, yaitu pemberian injeksi (suntikan) setiap hari selama 3 bulan tanpa putus. Jika pengobatan tersebut gagal juga, maka penderita tersebut dinyatakan tidak dapat disembuhkan, dan untuk memperpanjang umurnya ia harus minum obat setiap hari selama hidupnya!

Ngeri ya? Aku juga merasa ngeri ketika mengetahui penyakit yang aku derita merupakan penyakit kronis.

Tapi aku bersyukur… meski aku mengidap TB, aku tidak merasa seperti orang sakit. Seorang temanku mantan penderita TB pernah bercerita bahwa pada saat sakit, ia sering mengalami batuk darah. Sedangkan aku, batuk aja hampir tidak pernah, kecuali saat menjelang disedot dulu. Aku hanya sering merasakan… rasa sakit di dada di awal waktu.

Dan aku bertekad, aku harus sembuh!

Awalnya, aku sering mengeluh, kenapa harus aku yang menderita penyakit ini? Aku yang dulu paling susah menelan obat, kini dipaksa menelan 10 butir obat setiap hari. Aku yang dulu paling takut melihat jarum suntik, kini harus merelakan lenganku diambil darah setiap minggu. Kenapa harus aku?

Tapi aku menemukan jawabannya. Kenapa harus aku yang menderita semua ini? Karena aku percaya, Allah sedang menyiapkan tempat terbaik untukku. Bukankah jika seseorang menghadapi cobaan, maka ada dua kemungkinan: azab dari Allah atas dosa-dosanya atau Allah akan mengangkat derajatnya.

Maka, aku bertekad mulai saat itu tak ada keluhan. Ketika aku harus menghadapi kenyataan yang tidak sesuai harapanku, maka kucoba untuk selalu tersenyum sambil berdoa, Ya Allah, jika sakitku ini merupakan azab atas dosa-dosaku di masa lalu, maka gugurkanlah dosa-dosaku. Ya Allah, jika sakitku ini merupakan kehendak-Mu yang ingin menaikkan derajatku, maka jadikan aku dalam golongan orang-orang yang sabar.

Aku sengaja menyembunyikan penyakitku ini pada teman-temanku, kecuali beberapa orang saja. Karena aku tidak ingin diperlakukan seperti orang sakit. Aku ingin tetap berktivitas seperti biasa, seperti orang sehat pada umumnya.

Satu ujian lagi… awal masa pengobatan ini adalah saat aku sedang ta’arufan sama calon suami. Dan calon suamiku waktu itu berniat mengundur hari pernikahan sampai aku sembuh. Padahal aku ingin cepat menikah, biar ada orang yang merawat aku ketika sakit. Tapi kalau namanya sudah jodoh, kan tak ada orang yang bisa memajukan atau memundurkan, buktinya kami telah menikah 7 bulan sebelum aku sembuh :D

Masa pengobatanku memakan waktu selama hampir 9 bulan. Dua bulan pertama aku bagaikan kelinci percobaan. Bermacam-macam obat diberikan, tapi tubuhku selalu menolaknya. Inilah mengapa setiap minggu aku harus menjalani tes darah, tes darah itu untuk memeriksa kondisi hatiku. Obat-obatan yang dikonsumsi dalam jumlah banyak setiap hari dapat memberikan efek buruk bagi hati. Aku bersyukur sekali, dokter yang menanganiku menyuruhku tes darah, karena ada dokter yang hanya memberikan resep obat tanpa memperhatikan dampak obat tersebut ke pasien.

Kini aku sudah sembuh, bukan penderita TB lagi, meski cacat di paru-paruku tak bisa hilang. Dulu aku pernah diceritakan temanku, kalau aku sembuh nanti, bekas luka di paru-paru tak kan hilang, ternyata benar. Ya, gpp lah. Emang siapa orang yang mau melihat foto thorax-ku? :)

Apakah ikhtiarku telah berakhir? Tentu ikhtiar tak pernah berakhir sepanjang hidup. Karena aku pernah menderita TB, maka aku akan lebih mudah terserang TB lagi daripada orang yang belum pernah menderita TB. Pengalaman ini membuatku lebih memperhatikan kesehatanku. Bahwa kesehatan itu sangat mahal harganya, memanglah benar. Selama masa pengobatan ini aku telah menghabiskan uang lebih dari Rp 10 juta. Memang, mencegah jauh lebih baik daripada mengobati.

Alhamdulillah… satu ujian telah berlalu… Aku percaya setiap penyakit pasti ada obatnya. Dan faktor utama penentu kesembuhan adalah faktor spiritual dan keyakinan untuk sembuh.


Artikel terkait:
May
7

Takut Menjadi Istri

Files under Diary | 4 Comments

Aku punya seorang teman akhwat, yang selama ini ia selalu merasa takut untuk menikah. Satu-satunya alasan kenapa ia takut menikah adalah karena ia takut menjadi istri.

Ketika aku bertanya, mengapa ia takut menjadi istri, ia pun dengan lancar menyebutkan belasan alasan:

  • istri harus patuh terhadap suami
  • istri harus menurut semua keinginan suami
  • jika suami minta istri melayaninya, istri harus memenuhinya saat itu juga
  • jika suami minta istri tidak bekerja, istri harus nurut
  • jika suami minta istri tidak boleh keluar rumah, istri harus nurut
  • jika suami beda pendapat dengan istri, istri harus mengalah
  • jika suami salah, maka istri tidak berhak menyalahkan suami
  • dan seabreg alasan lainnya.

Mungkin inilah akibat pemahaman terhadap Islam yang dangkal.

Sungguh, Islam tidak memperbudak perempuan, justru Islam sangat memuliakan perempuan. Memang seorang istri wajib mematuhi suaminya selama tidak melanggar larangan-Nya, tapi bukan berarti seorang istri meng-hamba pada suaminya.

Islam mengajarkan syura’ atau musyawarah dalam kehidupan, termasuk kehidupan suami istri. Suami tidak berhak memaksakan kehendaknya kepada istri. Suami tidak berhak memvonis istri, harus ini atau harus itu.

Bahkan, jika seorang suami memaksakan kehendaknya kepada istrinya, sehingga istri merasa tersakiti baik hati dan fisiknya, maka istri berhak mengadukan ke pengadilan. Dan jika pengaduannya diterima, maka jatuhlah talak satu kepadanya.

Menikah, bukanlah membuat diri menderita, namun membuat hati merasa lebih tenteram.


Artikel terkait: