Apr
16

Majalah-majalah yang Mendewasakanku

Files under Buku | 1 Comment

Selain suka membaca buku, aku juga suka membaca majalah. Koleksi majalahku kurang lebih sama dengan koleksi bukuku, sekitar 200 buah (dulu sih lebih banyak, tapi kebanyakan udah aku berikan ke orang lain, karena menuh-menuhin rak bukuku). Aku tidak pernah langganan majalah, jadi majalah-majalah tersebut aku peroleh dengan membeli secara eceran, baik majalah baru maupun bekas.

Berikut majalah-majalah yang ada di rak bukuku:

Ummi
Majalah favoritku. Aku memiliki koleksinya sejak tahun 2001 (tidak semua edisi). Majalah ini cocok untuk wanita dewasa atau ibu-ibu, tapi laki-laki juga boleh baca, terbukti suamiku suka membaca majalah ini. Rubrik-rubrik yang ada seperti : Mutiara Dakwah, Kolom Ayah, Sirah Shahabiyah, Kesehatan Keluarga, Pangan Halal, Psikologi Anak, Mar’ah Shalihah, Konsultasi ASI, dsb. Cocok lah buat calon ibu seperti aku ^_^

Tarbawi
Bahasannya ringan. Enak dibaca karena banyak hikmah dan kisah-kisah yang dapat diambil pelajaran. Koleksi yang aku punya sejak tahun 2001 (tidak semua edisi).

Annida
Majalah remaja. Dulu aku sering beli, sekarang udah jarang. Segmennya remaja SMP-SMA-kuliah.

Karima
Majalah remaja juga. Bahasanya enak banget (lebih enak daripada Annida). Tapi sayang, majalah ini sudah tidak terbit lagi. Terakhir terbit tahun 2002 lalu.

Auladi
Majalah buat orang tua, terutama yang memiliki anak kecil. Bahasanya enak, dan muraaah… cuma Rp 3.000.

Nikah
Majalah buat pasangan yang akan menikah ataupun setelah menikah. Menurutku bahasanya terlalu ‘kaku’. Ga pernah beli lagi.

Anggun
Majalah pra nikah, banyak nampilin mode-mode baju pengantin. Sayangnya… banyak tabarujnya.

Sabili
Lebih ke arah politik dan dakwah. Menurutku bahasanya agak ‘keras’.

Saksi
Sama seperti Sabili. Tapi bahasanya lebih enak.

Al Izzah
Majalah favoritku jaman dulu, sekarang nyari-nyari kok ga pernah nemu ya?

Percikan Iman
Majalahnya Pak Aam. Dulu sempat jadi majalah favorit, sekarang ga lagi.

Entrepreneur Indonesia, Pengusaha, Bisniskita, Mix
Dulu sering beli majalah-majalah ini, waktu aku terkena virus entrepreneur.

PC Media, PC Plus, dan majalah-majalah komputer lainnya
Dulu sering beli, sekarang ga pernah. Selain mahal, lebih enak browsing-browsing aja untuk mendapatkan info terbaru di dunia IT.

Tabloid Nova
Pernah beli, lumayan ada rubrik yang bagus. Tapi kebanyakan gosipnya.

Tabloid Nakita
Tabloid untuk para ibu, ada rubrik Menyambut si Kecil, Dunia Bayi, Dunia Batita, Dunia Prasekolah, Kesehatan, Problema Suami Istri, dll. Dan enaknya kita bisa download semua artikel dari edisi 1 sampai sekarang (463) di http://tabloid-nakita.com. Aku juga hobi download nih, tapi baru sampai edisi 15 yang aku download.

Di antara majalah-majalah (atau tabloid) di atas, hanya ada dua yang aku buat indeks artikelnya, yaitu majalah Ummi dan tabloid Nakita. Aku catat judul tiap rubrik untuk setiap edisi. Sehingga jika aku membutuhkannya, tinggal aku search, dan aku pun mudah menemukannya.

Oct
31

Aku dan Buku

Files under Buku | Leave a Comment

Sejak kecil aku suka membaca. Dari sejak duduk di bangku TK (atau sebelum TK) orang tuaku sering membelikanku majalah Bobo. Bobo adalah majalah pertamaku. Bobo disimbolkan sebagai seekor kelinci berkaki 2. Tokoh lain dalam majalah ini adalah Bona, Rongrong, Juwita, Sisirik, Nirmala, dan siapa lagi aku lupa. Wah, jadi teringat masa kecil nih.

Menginjak pertengahan SD, orang tuaku mulai berhenti membelikanku majalah Bobo. Dua buah majalah baru kini menjadi langganan rumah kami, yaitu majalah Gatotkaca dan Putera Kita. Menurutku, dua buah majalah ini, meski segmentnya sama buat anak-anak, namun lebih ‘dewasa’ daripada majalah Bobo. Isinya pun lebih berbobot dan lebih kaya nuansa ilmu.

Selama duduk di bangku SD, aku tidak pernah minta dibelikan buku, kecuali buku-buku pelajaran sekolah. Aku sepertinya malas untuk minta dibelikan buku, aku rasa sudah cukup membaca majalah-majalah yang dibelikan orang tuaku.

Menginjak bangku SMP, orang tuaku sudah tidak berlangganan majalah-majalah lagi. Aku mulai sibuk dengan tugas-tugas sekolah. Aku jadi sering ke Gramedia yang letaknya dekat dengan sekolahku. Namun aku hanya membaca-baca buku, aku tidak membeli buku karena uang sakuku hanya sedikit dan aku masih belum punya keinginan membeli buku.

Kelas 3 SMP, pertama kalinya aku membeli buku sendiri. Sekali lagi aku tekankan di sini, buku yang aku maksud adalah di luar buku pelajaran. Buku pertama yang aku beli berjudul ‘Permainan dan Teka-teki Bilangan’ karangan Kirsch dan Korn, seharga Rp 3.000,00. Ya, namanya juga pecinta matematika=) Aku sangat suka membaca buku ini. Beberapa bulan kemudian aku membeli buku karangan Brian Bolt, yang berjudul ‘Kumpulan Permainan dan Teka-teki Matematika yang Mengasyikkan’, seharga Rp 7.000,00. Inilah dua buah buku yang aku beli di bangku SMP. Banyak temanku yang suka membeli buku detektif semisal karangan Agatha Christie, komik-komik sebangsa Doraemon, Donal Bebek, dan sebagainya, tapi aku tidak berminat untuk membeli buku-buku semacam itu, terlalu sayang pikirku.

Menginjak bangku SMA, aku tidak pernah membeli buku lagi. Tugas-tugas sekolah telah menyibukkanku. Tapi aku tetap suka membaca.

Kelas 3 SMA, hari-hariku diwarnai dengan membaca buku, tentu saja buku pelajaran sekolah, buku persiapan Ebtanas, buku soal-soal UMPTN, dan buku-buku soal-soal IMO. Aku benar-benar jadi kutu buku. Aku tak punya waktu lagi untuk membaca buku-buku lain selain buku-buku itu.

Akhir SMA, beberapa hari setelah UMPTN, sebelum berangkat ke IMO, aku bersama teman-teman pembinaan IMO jalan-jalan ke Gramedia, tentu saja untuk melihat-lihat buku. Aku tertarik membeli buku ‘Chicken Soup for the Teenage Soul’, dan akupun membelinya. Buku ini kubawa juga saat aku ke Korea, tapi tak sempat kubaca di sana. Sayangnya, buku ini kini hilang, dipinjam teman tapi tak kunjung dikembalikan.

Kuliah di ITB, jauh dari orang tua, pergaulanku menjadi bertambah luas. Kebutuhan bertambah, dan aku harus mandiri karena jauh dari keluargaku. Seiring dengan semakin banyak pengalaman baru, aku pun jadi lebih banyak mengenal tentang buku-buku. Aku jadi sering membeli buku dan majalah, tentu saja bukan majalah Bobo lho!

Semoga sampai kapan pun, aku tetap suka membaca buku. Karena sebaik-baik teman adalah buku.

May
22

Nyesel Beli Buku

Files under Buku | Leave a Comment

Pernah ga nyesel beli buku? Maksudnya kita membeli sebuah buku, trus setelah kita baca kita merasa menyesal telah membelinya? Aku sering.

Ada penyesalan yang timbul begitu selesai aku membacanya, namun ada juga yang baru timbul beberapa tahun kemudian. Penyesalan yang timbul beberapa tahun setelahnya masih bisa kutolerir, berarti dulu aku tidak menyesal membeli buku ini, dengan kata lain aku sempat memperoleh manfaat dari buku ini. Buku-buku yang masuk kategori ini sekarang sudah tidak ada karena udah aku singkirkan berikan ke orang lain. Jahat banget ya, ngasih buku ke orang kok ya buku yang ga disukai. Tapi aku pikir itu lebih baik daripada kuumpat-umpat kusimpan terus. Semoga aja buku yang menurutku kurang bermanfaat ini bisa bermanfaat bagi orang lain.

Kategori kedua, buku yang aku sesali langsung setelah aku membacanya. Ini ada beberapa dan masih tersimpan dalam koleksiku. Kebanyakan berupa novel-novel yang menurutku ga bagus, padahal ada tulisan “best seller”-nya.

Kayanya aku harus membudayakan “membaca sebelum membeli”. Novel Ayat-ayat Cinta aku beli setelah aku membacanya dari temanku, demikian juga Dwilogi Diorama Sepasang AlBanna dan Dilatasi Memori, sebuah buku yang bagus Bahkan Malaikat pun Bertanya karya Jeffrey Lang juga aku beli setelah aku membaca habis buku itu dari temanku. Beberapa buku favoritku juga kubeli setelah aku membacanya terlebih dahulu.

May
14

Oleh-oleh dari Islamic Book Fair Bandung 2007

Files under Buku, Diary | Leave a Comment

Tanggal 5-13 Mei 2007 kemarin ada Islamic Book Fair Bandung 2007 yang diselenggarakan di Be Mall. Dibandingkan dengan pameran-pameran buku yang selalu diselenggarakan di bulan Februari dan Agustus, inilah pameran buku PALING BERKESAN menurutku, Meski aku hanya 4 kali datang ke sana, yaitu di hari Sabtu dan Ahad-nya. Berikut sedikit oleh-oleh dariku.

Aku sama sekali ga beli buku, memang tujuanku bolak-balik ke sini bukan untuk beli buku. Aku sudah punya list 30 buku yang akan aku beli, dan tidak di sini aku akan membelinya. Urusan beli buku aku udah percaya sama Kang Irfan di Gelap Nyawang. Aku ke sini hanya cari referensi siapa tau ada buku bagus yang bisa menggeser list 30 bukuku, ternyata tidak ada.

Seperti biasa, jika ada pameran buku aku selalu ‘barang bekas’. Setelah muter-muter keliling-keliling akhirnya aku temukan sebuah stan di mana menjual majalah bekas seharga Rp 2000/buah. Langsung aja aku beli 15 buah, sampai penjualnya kaget “Hah, dibeli semua?” Hehe.. sebenarnya ga semua kok, soalnya banyak juga majalah yang sudah aku punya, aku hanya beli yang belum ada dalam koleksiku.

Trus ke stan Fatahillah, lihat ada kaset-kaset diobral Rp 5000-an. Langsung aja aku beli 9 buah, padahal aku ga punya radio tape, gimana nyetelnya. Ah, itu urusan ntar, hehe.. sekarang sih nabung dulu (maksudnya nabung beli kaset sebanyak-banyaknya).

Ada kejadian yang sempat bikin aku sedikit kecewa. Di sore hari aku beli kasetnya Alginat, eh di malam harinya di acara konser Nada Bestari aku dikasih kaset Alginat tersebut GRATIS. Ah, tau gini aku ga usah beli, jadinya aku punya 2 kaset yang sama donk? Atau ada yang mau? kalau ada yang mau silakan kontak aku, ntar aku kasih 1 kasetnya, tapi dengan syarat ambil sendiri di Bandung ya, aku males kalau harus ngirim via pos.

Hampir tiap hari ada acara bedah buku, tapi tidak semua kuikuti. Aku hanya ikut bedah buku Yang Berjatuhan di Jalan Da’wah, Khadijah The True Love Story of Muhammad, Bahagiakan Diri dengan Satu Istri (bukunya Pak Cah), dan Don’t Worry.

Dan yang lebih seru ada konser nasyid tiap malam Ahad, yang sempat bela-belain aku pulang lewat jam 9 malam. Setidaknya aku bisa melihat lebih dekat grup nasyid The Fikr, Tashiru, EdCoustic, Star5, Nanda Bestari. Sayang sekali ga bisa ikut pas peluncuran album kedua Shaf Fix, karena acaranya pas aku ada jadwal ngajar. Eh, tapi di hari terakhir bisa ketemu Haris Shaf Fix di konsernya Nada Bestari.

May
3

Dari Gerakan ke Negara

Files under Buku | Leave a Comment

Belajar Cepat
Bertindak Bijak
Berkarya Besar

Adalah tulisan tangan Anis Matta di buku Dari Gerakan ke Negara yang kudapatkan ketika mengikuti bincang buku “Dari Gerakan ke Negara, Dari Bangku Kuliah ke Bangku Istana”, hari Sabtu kemariin. Buku ini adalah buku ke 170 (kapan nyampai 200 ya?) dalam koleksi bukuku.

Acara ini berlangsung cukup seru dan meriah, dengan pembicara selain Anis Matta adalah Brian Yuliarto, dosen FT ITB yang pernah menjadi ketua KAMMI Jepang.

Salah satu tulisan Brian Yuliarto yang aku ingat adalah tiga faktor yang mempengaruhi perubahan seseorang sebagai berikut:
1. Buku yang dibaca
2. Aktivitas yang dilakukan
3. Komunitas yang diikuti

Ah, harusnya kemarin aku bawa semua koleksi bukuku karya Anis Matta (Model Manusia Muslim, Mencari Pahlawan Indonesia, Biar Kuncupnya Mekar Jadi Bunga) untuk kuminta tanda tangannya serta.