Nov '05
9

Bagian 9 dari 10 tulisan

Files under Artikel | Leave a Comment

Pedang waktu di leherku

Ambil waktu untuk berpikir, ini adalah sumber kekuatan.
Ambil waktu untuk bermain, ini adalah waduk kemudaaan yang abadi.
Ambil waktu untuk membaca, ini adalah dasar kebajikan.
Ambil waktu untuk berdoa, ini adalah kekuatan terbesar di bumi.
Ambil waktu untuk mengasihi dan dikasihi, iman adalah kasih sayang dan bukan kebencian.
Ambil waktu untuk menjalin persaudaraan, ini adalah jalan menuju kebahagiaan.
Ambil waktu untuk bergurau, ini adalah pelumas terbaik.
Ambil waktu untuk bershadaqah, hidup ini terlalu singkat untuk menjadi egois.
Ambil waktu untuk bekerja, waktu adalah harga keberhasilan.
Tetapi…
Jangan gunakan waktu untuk kesia-siaan.


Artikel terkait:
Nov '05
8

Bagian 8 dari 10 tulisan

Files under Artikel | Leave a Comment

Atur diri dan berbarislah agar dicintai

Jangan tanya apakah Yahudi yang tinggal di Israil itu Dzimmi atau Harbi.
Kalau anak SD kita di sini diajari, “Jika ani mempunyai 5 buah jeruk, lalu satu jeruk ia makan dan dua yang lain diminta kakaknya, berapa jeruk ani yang masih ada?”. Maka anak-anak SD israil telah diajari, “Jika ada 500 tentara Arab, 100 orang di antaranya telah kita tembak mati dan 200 lainnya melarikan diri, ada berapa lagi tentara Arab yang harus kita tembak mati?”.
Betapa mengakar struktur permusuhan itu dibangun!

Da’wah ini, Islam ini, kata seorang pembimbing keputrian saya di pesantren dulu, tidak hanya perlu orang pintar, tetapi lebih dari itu, ia sangat memerlukan orang yang shalih yang bisa dan bersedia ditata. Ya, meminjam istilah ‘Ali Radhiyallahu ‘Anhu Al haq bilaa nizham. Yaghlibhul bathiil binizham, kebenaran tak tertata, pasti terkalahkan oleh kebatilan terstruktur. Menata adalah syarat cinta. Menata diri, dan menata barisan kita.

“Sesungguhnya Allah mencintai orang yang berperang di jalanNya dengan berbaris-baris teratur, seakan mereka adalah bangunan yang kukuh tersusun”. (Ash Shaff : 4).


Artikel terkait:
Nov '05
7

Bagian 7 dari 10 tulisan

Files under Artikel | Leave a Comment

Bikin Otak selalu ting!

Betapa Islam sejak mula, menempatkan akal dalam posisinya yang paling nyaman. Ia tidak dikungkung oleh belenggu otoritas. Tetapi ia berjalan dalam ketaatan kepada Allah dan rasulNya. Ia berkelana, menjelajah penjuru bumi, memasuki tubuh manusia, mengintip aktivitas sel-sel, lalu mengangkasa, mengambil cuaca, terus ke antariksa, memuaskan rasa ingin tahu, lalu mendarat lagi, berbagi untuk memudahkan kehidupan insani.

Islam memulai derak yang mendenyutkan kehidupan itu dari motivasi agung peribadahan, ketaatan. Saat perhitungan waris dan perhitungan zakat begitu rumit dengan angka Romawi, lahirlah angka nol dan aljabar. Saat sang Nabi mencontohkan wewangi, dahsyatlah riset-riset tentang Alkemi. Saat kebersihan menjadi bagian dari iman, lahirlah sabun. Saat dunia Islam makin luas, lahirlah pemetaan astronomis, astrolab, dan ilmu navigasi. Saat kesehatan disebut berharga oleh sang Nabi, muncullah dokter-dokter yang mumpuni.


Artikel terkait:
Nov '05
6

Bagian 6 dari 10 tulisan

Files under Artikel | Leave a Comment

Allah suka kalau kita perkasa

Mendaki bukit cahaya, Jabal Nuur, betapa dekat rasa rindu pada saat Jibril membawa risalah untuk jagad, mendekap Muhammad… “Bacalah… bacalah… bacalah…”. Saat melangkah ke gua Tsur membayang suasana teror dipenuhi rasa takut, lalu kalimat manusia mulia begitu menenangkan, “Laa tahzan, innallaaha ma’anaa… Jangan takut, jangan sedih, Allah bersama kita…”.
Antara shafa dan marwah, lari kecillah.. seperti Hajar kebingungan saat Ismail kehausan. Lalu Zam! Zam! Hentakan kakinya memancarkan mata air… Cicipilah, karena ia diserahkan pada niat kita yang meminumnya. Buka lengan kanan saat thawaf, berlari-lari kecillah… Allah suka pada hambaNya yang menunjukkan kekuatan, seperti para sahabat di hadapan Quraisy Musyrikin.
Tetapi kepada Ar-Rahman, kumohon ampunan dan kemampuan menghantam, keras memapas buih lautan. Atau hentakan mematikan, di tangan yang dahaga. Menghujam tombak, menembus kulit dan jantung. Hingga.. mereka katakan saat lalui pusaraku. Semoga Allah mengarahkanmu, inilah ksatria yang mentaati Tuhannya.. (Abdullah ibn Rawahah, saat berangkat ke Perang Mu’tah).


Artikel terkait:
Nov '05
5

Bagian 5 dari 10 tulisan

Files under Artikel | Leave a Comment

Siapa takut jatuh kaya?!

Jangan dulu menggunakan ‘Utsman dan ‘Adburrahman ibn ‘Auf sebagai contoh. Khawatirnya kita nanti jadi jatuh PeDe. Yang standard dulu saja lah…
Mari periksa fasilitas yang dipakai untuk memudahkan da’wah dan jihad Rasulullah. Kendaraan misalnya, Al Qashwa, unta putih beliau adalah unta yang sangat tangkas, berkualitas tinggi, gesit, kecepatannya mengagumkan, dan sangat sehat. Duldul, keledai beliau hadiah dari Muqaiqus, sangat kuat dan kukuh jalannya. Bahkan berumur panjang hingga masa kepemimpinan Mu’awiyah Radhiyallahu ‘Anhu. Kuda beliau juga adalah yang tertangkas, tergesit, dan tercepat.
Pedang komandonya Dzul Lujjain. Jangan ragukan kualitas logamnya, ketajamannya, tempaannya, dan kehalusan pembuatannya. Bahkan ada yang menyebutkan beberapa kilogram emas diperlukan untuk membuat suatu lapisan komando. Ini adalah bagian yang sangat berkilat jika ditimpa sinar matahari untuk memberi kode dan aba-aba kepada pasukan di kejauhan. Apa ini sesuatu yang murah? Sama sekali tidak. Ada pasti yang akan menyimpulkan. Kalau begitu soal fasilitas yang memudahkan ibadah dan jihad kita harus pilih yang terbaik. Ya mesti tetap dalam proporsinya.


Artikel terkait:
Nov '05
4

Bagian 4 dari 10 tulisan

Files under Artikel | Leave a Comment

Cintaku, aku menang selalu!

Inilah kompetisi berkorban, berlari menuju Allah. Seperti dia yang takjub pada keindahan surga, ‘Umar bin Al Hammam. “bakh… bakh… ”, katanya. Waktu menghabiskan sebuah kurma yang sudah ada di mulut terasa begitu lama baginya untuk menyambut seruan kompetisi. Inilah perasaan seorang pemenang. Ia memuntahkan kurma itu dan mengatakan, “Aku mencium wanginya surga dari baik bukit ini”.
Medan Badar dan Uhud menjadi saksi betapa banyak kompetisi agung ini terjadi. Bahkan di antara ayah yang pincang dan anak yang terlalu belia, sampai salah satunya berkata, “Kalau saja bukan surga tujuan kita, tentu aku akan mengalahkan ayah…”.
Takkan surut walau selangkah. Takkan henti walau sejenak. Cita kami hidup mulia atau mati syahid mendapat surga (shoutul harakah : gelombang keadilan).


Artikel terkait:
Nov '05
3

Bagian 3 dari 10 tulisan

Files under Artikel | Leave a Comment

Ketegaran Akhlaq

Mereka menghayati betapa nikmatnya ketika ragam persoalan hidup yang senantiasa membutukan akal dijawab Islam. Memuaskan. Mereka tersenyum. Tak perlu lagi bingung menduakan dunia dan akhirat. Mereka tertawa, tak lagi merancukan hak Allah dan hak manusia. Mereka bersujud, mendekati Allah di keheningan. Dan mereka membukakan tangan, mencari ridhaNya di keramaian.
Mereka mentaati dalam hati yang hangat, ketika Allah dan Rasul telah mengikat. Mereka menyelami lautan karunia Allah dengan kejernihan tahmid, kebeningan syukur, dan kemurnian pengabdian. Mereka mengarungi titis-titis musibah dengan percik-percik sabar, kelembutan qanaah, dan harmoni tawakkal.
Bukankah kehidupan ini rasanya hanya nikmat dan musibah? Bukankah iman itu memang setengahnya adalah syukur, dan separonya adalah sabar? Bukankah dua-duanya membuat Allah, ridhaNya, dan surga kiat dekat?


Artikel terkait:
Nov '05
1

Bagian 1 dari 10 tulisan

Files under Artikel | Leave a Comment

Menjemput keajaiban dua kalimat

Maka gemuruhlah Makkah dan Madinah oleh lantunan takbir dan talbiyah, ketika sunyi membungkam Roma dan Konstatinopel dalam kekakuan dogma.
Maka hangatlah diskusi-diskusi di Bashrah dan Kufah, saat Genoa dan Venesia dihantui inkuisisi.
Maka bersinarlah perpustakaan Kairo, ketika para dukun komat-kamit di kegelapan Lissabon.
Maka gemerlaplah Baghdad oleh lantunan ayat di semarak malam, ketika Paris gulita sejak senja dalam takhayul dan mitos.
Maka gemericiklah air mancur Damaskus dalam kesucian thaharah ketika para “bangsawan” di London menganggap mandi sebagai aktivitas berbahaya.
Maka berdengunglah ayat-ayat Allah menjelang buka puasa dengan sajian kurma, yoghurt, serta buah segar di balkon-balkon pualam Cordoba dan Granada, saat Kathedral di Wina dan Biara di Bern menutup makan malam dengan pudding darah babi.


Artikel terkait:
Oct '05
26

Keutamaan Shalat Tarawih (bagian 6-habis)

Files under Artikel | Leave a Comment

Pada malam kedua puluh enam, Allah mengangkat pahalanya selama empat puluh tahun.

Pada malam kedua puluh tujuh, ia dapat melewati shirath pada hari kiamat.

Pada malam kedua puluh delapan, Allah mengangkat baginya seribu derajat dalam surga.

Pada malam kedua puluh sembilan, Allah memberinya pahala seribu haji yang diterima.

Pada malam ketiga puluh, Allah berfirman, “Hai hamba-Ku, makanlah buah-buahan surga, mandilah dari air Salsabil dan minumlah dari telaga Kautsar. Akulah Tuhanmu, dan engkau hamba-Ku”

(HR. Majalis)

Rasulullah SAW sangat menaruh perhatian pada shalat tahajjud yang dilaksanakan pada bulan Ramadhan ini. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa bangun malam untuk menjalankan shalat pada bulan Ramadhan, disertai iman, dan karena ingin memperoleh perkenan (ridha) ilahi, dosanya akan diampuni.” (HR. Bukhari). Dan ada pula hadits yang menerangkan bahwa Rasulullah membangunkan istri-istri beliau untuk menjalankan shalat tarawih (HR. Bukhari).

(Sumber : www.myquran.com tanggal 25 Oktober 2001)


Artikel terkait:
Oct '05
23

Keutamaan Shalat Tarawih (bagian 5)

Files under Artikel | Leave a Comment

Pada malam kedua puluh satu, Allah membangun untuknya sebuah gedung dari cahaya.

Pada malam kedua puluh dua, ia datang pada hari kiamat dalam keadaan aman dari setiap kesedihan dan kesusahan.

Pada malam kedua puluh tiga, Allah membangun untuknya sebuah kota di dalam surga.

Pada malam kedua puluh empat, ia memperoleh dua puluh empat doa yang dikabulkan.

Pada malam kedua puluh lima, Allah Ta’ala menghapuskan darinya azab kubur.


Artikel terkait: