Sep '07
13

Bersiaplah Menjadi Ibu

Files under Artikel | 3 Comments

Ibu adalah sebuah sekolah, yang apabila engkau persiapkan (dengan baik), berarti engkau telah mempersiapkan suatu bangsa dengan dasar yang baik.

Ungkapan seorang penyair di atas menggambarkan betapa besarnya peran seorang ibu dalam membentuk sebuah generasi yang kelak akan menentukan kualitas suatu bangsa. Ibu adalah sekolah -bahkan sekolahan pertama- bagi anak-anaknya. Ibu bagaikan wadah pendidikan yang mengajarkan dan mendidik berbagai macam ilmu dalam kehidupan anak-anaknya dengan cinta dan kasih sayang. Sebagai pendidik awal, ibulah yang pertama kali meletakkan fondasi dasar -terutama dalam aspek keimanan- kepada anak dalam proses pendewasaan mental dan pematangan jiwa.

Gambaran pentingnya tugas seorang ibu tercakup dalam pernyataan yang diungkapkan oleh Dr. A. Madjid Katme, Presiden Asosiasi Dokter Muslim di London dalam Konferensi Dunia tentang Wanita di Beijing yang ia tuturkan berikut ini:

“Tugas keibuan adalah pekerjaan yang paling terhormat dan membutuhkan ketrampilan di dunia ini. Dan terlaksananya tugas ini sangat penting bagi pemeliharaan dan perlindungan anak terutama di masa awal-awal pertumbuhannya. Walaupun tugas keibuan sebenarnya adalah tugas yang full time, tak berarti ayah sebagai pencari nafkah tak ikut bertanggung jawab. Tak ada satu jenis pekerjaan pun yang dapat merampas seorang ibu dari tugas keibuannya. Dan tak ada seorang pun yang dapat mengambil alih tugas keibuan tersebut.”

Bagi seorang muslimah, betapapun beratnya tugas seorang ibu tetapi keimanan dan harapannya akan iming-iming surga memotivasinya untuk rela dan bersungguh-sungguh menjadi seorang ibu. Apalagi Islam memberikan kedudukan dan penghormatan yang tinggi terhadap seorang ibu. Seorang ibu muslimah dapat menjadi salah satu penentu seseorang untuk meraih surga seperti sabda Rasulullah saw., berikut ini:

“Surga itu di bawah telapak kaki ibu.”

Untuk membentuk generasi muslim yang tangguh dan bertaqwa, tidaklah cukup hanya dengan menghadirkan anak-anak yang cerdas saja, melainkan anak-anak yang optimal dari berbagai segi seperti biofisik, psikososial, kultural, dan ruhiyah serta melingkupi skala dunia dan akhirat. Maka untuk mencetak generasi dengan kriteria di atas, dibutuhkan para ibu yang handal, oleh karena itu para muslimah yang kelak akan menjadi calon ibu harus mempersiapkan dirinya untuk menjadi ibu harapan umat. Persiapan ini tidak hanya harus dilakukan setelah menikah, tetapi dapat dimulai saat seorang wanita masih lajang agar ketika ia memasuki perannya sebagai ibu, ia sudah siap melaksanakan tugas keibuannya.


Artikel terkait:
Sep '07
8

Tips Persiapan Ramadhan

Files under Artikel | 2 Comments

Ramadhan kian dekat, berikut beberapa tips untuk persiapan Ramadhan.

Pertama, I’dad Ruhi Imani, yakni persiapan ruh keimanan

Orang–orang yang saleh biasa melakukan persiapan ini seawal mungkin sebelum datang Ramadhan. Bahkan mereka sudah merindukan kedatangannya sejak bulan Rajab dan Sya’ban. Biasanya mereka berdoa : “Ya Allah, berikanlah kepada kami keberkatan pada bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah kami kepada Ramadhan.”

Dalam rangka persiapan ruh keimanan itu, dalam surah At-Taubah Allah melarang kita melakukan berbagai maksiat dan kedzhaliman sejak bulan Rajab. Tapi bukan berarti di bulan lain dibolehkan. Hal ini dimaksudkan agar sejak bulan Rajab kadar keimanan kita sudah meningkat. Boleh dikiaskan, bulan Rajab dan Sya’ban adalah masa pemanasan (warming up), sehingga ketika memasuki Ramadhan kita sudah bisa bisa menjalani ibadah shaum dan sebagainya itu bak sudah terbiasa.

Kedua, adalah I’dad Jasadi, yakni persiapan fisik

Untuk memasuki Ramadhan kita memerlukan fisik yang lebih prima dari biasanya. Sebab, jika fisik lemah, bisa-bisa kemuliaan yang dilimpahkan Allah pada bulan Ramadhan tidak dapat kita raih secara optimal. Maka, sejak bulan Rajab Rasulullah dan para sahabat membiasakan diri melatih fisik dan mental dengan melakukan puasa sunnah, banyak berinteraksi dengan al-Qur’an, biasa bangun malam (qiyamul-lail), dan meningkatkan aktivitas saat berkecimpung dalam gerak dinamika masyarakat.

Ketiga, adalah I’dad Maliyah, yakni persiapan harta

Jangan salah faham, persiapan harta bukan untuk membeli keperluan buka puasa atau hidangan lebaran sebagaimana tradisi kita selama ini. Memersiapkan harta adalah untuk melipatgandakan sedekah, karena Ramadhanpun merupakan bulan memperbanyak sedekah. Pahala bersedekah pada bulan ini berlipat ganda dibandingkan bulan-bulan biasa.

Keempat, adalah I’dad Fikri wa ‘Ilmi, yakni persiapan intelektual dan keilmuan

Agar ibadah Ramadhan bisa optimal, diperlukan bekal wawasan dan tashawur (persepsi) yang benar tentang Ramadhan. Caranya dengan membaca berbagai bahan rujukan dan menghadiri majelis ilmu tentang Ramadhan. Kegiatan ini berguna untuk mengarahkan kita agar beribadah sesuai tuntunan Rasulullah SAW, selama Ramadhan. Menghafal ayat-ayat dan doa-doa yang berkait dengan perbagai jenis ibadah, atau menguasai berbagai masalah dalam fiqh puasa, juga penting untuk dipersiapkan.

Semoga persiapan kita mengantarkan ibadah shaum dan berbagai ibadah lainnya, sebagai yang terbaik dalam sejarah Ramadhan yang pernah kita lalui.

(Dari berbagai sumber)


Artikel terkait:
Sep '07
1

Kebingungan Sebuah Masjid

Files under Artikel | 1 Comment

karya : Bang Ahmad, Jogja

Ramadhan akan datang
Akupun sangat senang
Tanpa repot mengundang
Akan banyak manusia datang

Ramadhan baru tiba
Seribu pasang sendal berjajar didepan sana
Berduyun-duyun manusia terpana
Menatap penceramah yang menggelora

Di sepuluh malam pertama
Shaf begitu rapi tertata
Dari depan hingga ke belakangnya
Tenda-pun dipasang untuk sisanya

Di sepuluh malam kedua
Masih puluhan shaf yang ada
Tapi kini lebih banyak yang tua
Berkeriput dan seperti menunggu akhir usia

Di sepuluh malam ketiga
Hanya lima shaf yang tersisa
Tenda yang terpasang kini tiada guna
Tinggal jadi tempat berteduhnya sepeda

Ramadhan telah pergi
Aku heran dengan hal ini
Tiada manusia yang menyadari
Apakah ini Ramadhan yang tak terpatri

Kini Aku kesepian kembali
Sama nasibnya seperti sebelas bulan sebelum Ramadhan
Yang mendatangiku hanya dia-dia lagi
Sajadah yang terpasang banyak tak tergunakan

Sebenarnya Aku kebingungan
Bagaimana mestinya manusia diingatkan
Agar mereka mendatangiku setiap waktu
Pengajian diadakan hanya bikin jemu

Maka, cuma satu yang kuinginkan
Agar ruanganku kembali penuh kegiatan
Dan ribuan sandal kembali berjajaran
Yakni dengan mengharap kembali datangnya Ramadhan

* Parangtritis, 1 Ramadhan 1426 H
Semoga ini harapan yang diteriakkan banyak masjid

karya : Bang Ahmad, Jogja


Artikel terkait:
Mar '07
22

Who is Your Idol?

Files under Artikel | 1 Comment

“Dik, siapa tokoh idolamu?”
“Doraemon!!”
“Lho kok Doraemon?”
“Doraemon itu hebat kak, bisa ngluarin apa saja dari kantong ajaibnya. Trus kalau mau ke sekolah bisa pakai baling-baling bambu, enak kan bisa terbang. Kalau mau jalan-jalan ke luar negeri, tinggal pakai pintu ajaib. Kalau mau lihat kita di masa depan tinggal pakai mesin waktu. Kalau mau ke luar angkasa, tinggal pakai … apa sih namanya pokoknya bisa langsung ke luar angkasa deh … Trus apa lagi ya? Banyak deh kak …”

“Neng, siapa idolamu?”
“Sheila on 7″
“Kenapa emang?”
“Lagu-lagunya bagus kak, saya suka lagu-lagunya. Saya punya koleksi kasetnya dari album perdana sampai albumnya yang terakhir lho. Saya juga punya posternya, besar, saya pasang di kamar saya. Oya, minggu depan ada konsernya lho kak. Saya udah beli tiketnya nih, mahal memang, tapi kan bisa minta ke ortu. Kakak udah beli belum? Ntar kehabisan lho!”

“Siapa tokoh idola Bapak?”
“Hidayat Nur Wahid”
“Kenapa?”
“Adik rajin mengikuti berita kan? Baru-baru ini akan ada pembagian laptop senilai Rp 21 juta untuk para anggota DPR. Hidayat Nur Wahid termasuk salah satu yang menolaknya. Bayangkan dik, pemerintah sampai mengeluarkan dana bermilyar-milyar hanya untuk membelikan laptop untuk para anggota DPR. Emangnya para anggota DPR pada ga punya uang untuk beli laptop sendiri?”

“Siapa tokoh idola Nenek?”
“Ibu Raden Ajeng Kartini”
“Kenapa?”
“Kalau ga ada beliau, kamu ga bisa sekolah nduk. Bersyukurlah kamu bisa sekolah, ga kaya nenek yang ga pernah mengenyam bangku sekolah, ga bisa baca-tulis, jadi nenek sering ditipu orang. Bersyukurlah nduk, kamu bisa jadi orang pinter. Manfaatkan kepinteranmu untuk memajukan negara ini, biar bangsa kita tidak gampang ditipu bangsa lain.”


Artikel terkait:
Jan '07
11

Ini yang Terbaik (just a story)

Files under Artikel, Diary | Leave a Comment

Ada sebuah cerita yang cukup kondang, begini ceritanya:

Ada seorang raja memiliki seorang pengawal, pengawal tersebut mempunyai kebiasaan (baca: latah) mengucapkan kalimat “ini yang terbaik”. Pada suatu hari sang raja mengajak pengawal tersebut berburu. Pengawal tersebut adalah seorang penembak jitu. Saat melihat hewan buruan di depan mata, pengawal tersebut segera maju ke depan dan membidikkkan senapannya ke arah hewan buruan tersebut.

“DORRR!!!”
“Aduuuuhhh!!!”

Lho? Hewan buruan kok bisa mengatakan aduh? Ternyata bidikan pengawal tersebut meleset. Senapan tersebut mengenai jempol sang raja. Sang raja pun protes kenapa jempolnya ditembak.

Seperti kebiasaannya, pengawal langsung mengatakan “Ini yang terbaik, Baginda”.
“Terbaik apanya? Jariku putus kamu katakan terbaik?” sahut sang raja.
“Ini yang terbaik, Baginda” jawab pengawal lagi.

Tentu saja sang raja marah dan menjebloskan pengawal tersebut ke penjara.

Beberapa waktu kemudian, kerajaan sang raja diserbu oleh gerombolan kanibal. Gerombolan kanibal tersebut langsung menguasai kerajaan. Seluruh rakyat ditangkap, dan satu per satu dimakan gerombolan kanibal tersebut. Sampai tinggal sang raja sendiri yang masih hidup.

Akhirnya sang raja ditangkap dan siap mereka makan. Namun salah seorang dari kanibal tersebut tiba-tiba melihat jempol sang raja.

“Woi, manusia ini berbahaya. Lihat, dia tidak punya jempol. Kalau dia kita makan, akan membawa sial bagi kita. Sebaiknya kita lepaskan saja dia” kata kanibal tersebut.

Kanibal-kanibal yang lain segera memeriksa jempol sang raja, ternyata benar jempolnya tidak ada. Ternyata para kanibal ini hanya mau memakan manusia yang tanpa cacat. Satu bagian tubuh cacat, mereka percaya akan membawa kesialan bagi mereka.

Akhirnya sang raja dilepaskan. Betapa gembiranya hati sang raja. Langsung dia menuju penjara dan mencari pengawalnya yang dulu telah menembak jempolnya.

“Terima kasih pengawalku, berkat tembakanmu pada jempolku, aku tidak menjadi mangsa kanibal tersebut” kata sang raja.
Dan seperti biasa, pengawal hanya berkata “Ini yang terbaik, Baginda”.

—–
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 216)

Cerita di atas sebenarnya baru intermezzo dari apa yang ingin aku ceritakan di blog ini. Silakan baca postinganku selanjutnya.


Artikel terkait: