Allah suka kalau kita perkasa
Mendaki bukit cahaya, Jabal Nuur, betapa dekat rasa rindu pada saat Jibril membawa risalah untuk jagad, mendekap Muhammad… “Bacalah… bacalah… bacalah…”. Saat melangkah ke gua Tsur membayang suasana teror dipenuhi rasa takut, lalu kalimat manusia mulia begitu menenangkan, “Laa tahzan, innallaaha ma’anaa… Jangan takut, jangan sedih, Allah bersama kita…”.
Antara shafa dan marwah, lari kecillah.. seperti Hajar kebingungan saat Ismail kehausan. Lalu Zam! Zam! Hentakan kakinya memancarkan mata air… Cicipilah, karena ia diserahkan pada niat kita yang meminumnya. Buka lengan kanan saat thawaf, berlari-lari kecillah… Allah suka pada hambaNya yang menunjukkan kekuatan, seperti para sahabat di hadapan Quraisy Musyrikin.
Tetapi kepada Ar-Rahman, kumohon ampunan dan kemampuan menghantam, keras memapas buih lautan. Atau hentakan mematikan, di tangan yang dahaga. Menghujam tombak, menembus kulit dan jantung. Hingga.. mereka katakan saat lalui pusaraku. Semoga Allah mengarahkanmu, inilah ksatria yang mentaati Tuhannya.. (Abdullah ibn Rawahah, saat berangkat ke Perang Mu’tah).
Artikel terkait:
