Ketegaran Akhlaq
Mereka menghayati betapa nikmatnya ketika ragam persoalan hidup yang senantiasa membutukan akal dijawab Islam. Memuaskan. Mereka tersenyum. Tak perlu lagi bingung menduakan dunia dan akhirat. Mereka tertawa, tak lagi merancukan hak Allah dan hak manusia. Mereka bersujud, mendekati Allah di keheningan. Dan mereka membukakan tangan, mencari ridhaNya di keramaian.
Mereka mentaati dalam hati yang hangat, ketika Allah dan Rasul telah mengikat. Mereka menyelami lautan karunia Allah dengan kejernihan tahmid, kebeningan syukur, dan kemurnian pengabdian. Mereka mengarungi titis-titis musibah dengan percik-percik sabar, kelembutan qanaah, dan harmoni tawakkal.
Bukankah kehidupan ini rasanya hanya nikmat dan musibah? Bukankah iman itu memang setengahnya adalah syukur, dan separonya adalah sabar? Bukankah dua-duanya membuat Allah, ridhaNya, dan surga kiat dekat?
Artikel terkait:
