Sebuah kisah nyata yang terjadi di penghujung tahun 2004.
HP ku berbunyi, ada sebuah sms dari seorang sahabat, sebut aja namanya XYZ. Astaghfirullah. Dari kata-katanya, sepertinya dia marah padaku.
Aku tak ingin kebiasaan burukku dahulu terulang lagi, mau menang sendiri dan merasa aku paling benar. Lagipula aku sudah sering marahan dengan dia, dan sungguh … itulah hal terburuk dalam persahabatan kami. Aku memang baru saja berbuat salah ke dia, kira-kira 1 minggu yang lalu, dan dia marah padaku. Alhamdulillah, kini kami sudah baikan kembali.
Tapi entah kenapa tiba-tiba dia mengirim sms padaku dengan kata-kata ini. Kata-kata kasar yang sangat menyinggung diriku, bahkan inilah pertama kalinya aku mendapat kata-kata yang sekasar ini.
seandainya aku tak mampu mengendalikan emosiku, tentu aku akan marah
seandainya aku tak ingat akan kebaikan-kebaikanmu, tentu aku akan membalas dengan kata-kata yang sama
Aku sempat berpikir apa yang harus aku lakukan. Sepertinya ada 3 kemungkinan :
1. Membalas dengan hal serupa
Namun aku tak tega untuk melakukannya. Aku telah berprinsip, jika ada orang yang bersikap buruk padaku, aku akan mengingat kebaikannya. Lagipula aku tau bahwa api akan semakin membara jika dibalas dengan api.
2. Membiarkannya
Ada yang berpendapat ini jalan terbaik. Apalah artinya bicara dengan orang marah. Mungkin masalah akan selesai dan suatu saat aku akan melupakannya. Tapi hal ini tidak membuat diriku tenang, aku akan selalu dihantui perasaan bersalah. Lagipula aku tak ingin berpisah dengan sahabatku sedang dia dalam keadaan marah padaku.
3. Membalas dengan hal yang tidak serupa
Api akan padam jika disiram air. Sedih juga aku menerima kata-kata seperti itu, eh… tapi aku kan ga boleh sedih.
Agaknya kesabaranku sedang diuji. Dua hari sikapnya tidak berubah. Kebetulan hari itu hari libur, jadi aku tidak bisa bertemu langsung dengannya, komunikasi hanya via sms. Beruntung aku dan dia sama-sama pakai IM3, jadi pulsa cuma berkurang Rp 100,- per sms.
Tak perlu aku tuliskan di sini apa yang ia katakan. Yang jelas aku menangis setiap sms darinya datang.
Sahabat,
Aku tak ingin kehilanganmu
Meski kau anggap aku terlalu buruk untuk menjadi sahabatmu
Aku ingin tetap menjadi sahabatmu
Dan aku ingin tetap menghargaimu sebagai seorang sahabat
Namun apabila kehendak-Nya lain
Apabila kita memang tidak berjodoh untuk menjadi sahabat
Aku rela melepaskanmu
Asalkan DIA tetap bersamaku
Dua malam aku tidur dengan hati tidak tenang, tapi kuserahkan saja apa yang akan terjadi esok pagi pada-Nya.
Keesokan harinya…………………
Datang sebuah sms, dari dia lagi.
“Selamat, Anda telah lulus dalam ujian Anger Management oleh dosen XYZ, …………. dst”
Gubrakzzzzzz…….!!!!
Jadi kemarin itu kamu ngerjain aku ya?
Duh, jadi sempet senam jantung gini
Tapi gpp, yang penting happy ending
Ada kemenangan yang telah kuraih
Dan ada hikmah yang dapat kupetik
Artikel terkait:
