Dua tahun silam, seorang teman (ikhwan) sesama aktivis di Masjid Salman berkata padaku sambil bergurau, “Rit, mulai sekarang aku manggil kamu ‘akhwat matre’ deh! Habis tiap kali ketemu kamu pasti ngomongin duit sih” Ah, rasanya ingin ketawa kalau aku mengingatnya.
Memang sih, waktu itu aku lagi seneng-senengnya megang-megang uang, bukan buat aku sih. Dan aku termasuk salah satu orang yang lagi senang bikin usaha. Saking senangnya, mungkin tiap hari omonganku ya tentang uang aja, hehe=)
Tapi setelah aku pikir-pikir tidak salah juga kalau aku disebut ‘akhwat matre’. Karena emang aku tiap hari pasti butuh duit, buat makan, naik angkot, beli buku, dll, meski aku bukan orang yang tergila-gila dengan uang. Ah, aku menerima aja jatah uang saku yang diberikan padaku, syukur-syukur kalau ada tambahan uang dari penghasilan sendiri, tapi itu insidental sih.
Apakah manusia tidak bisa hidup tanpa uang? Tidak juga, toh manusia tidak makan uang kan? Di jaman dahulu sebelum ada uang manusia juga tidak mati karena tidak ada uang. Namun sekarang, di mana uang menjadi alat tukar yang paling utama. Manusia berlomba untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, uang digunakan sebagai alat pengumpul kekuasaan, seolah-olah kebahagiaan manusia ditentukan oleh jumlah uang yang dimilikinya. Jaman memang sudah berubah.
Artikel terkait:

#1 By unknown
on 7 Aug 2007 | Reply
Sama seperti aku dulu bahkan hingga sekarang, semua orang melihatku bahwa aku identik dengan orang yang hanya memikirkan uang, tapi yah gimana lagi makan,sekolah,angkot,kos, semuanya perlu biaya yang tidak sedikit di jaman yang serba susah ini. Asal kita tetap ingat kepadaNya dan mencari rejeki yang halal toh tidak ada salahnya. Uang memang bukan segalanya, tapi segalanya membutuhkan uang.
Yup betul, terima kasih udah mengingatkan