Dari TMII, rencananya kami akan ke UI. Kami naik angkot ke terminal Kampung Rambutan (tarif Rp 2.500,- per orang), kemudian dilanjutkan naik angkot ke Depok (tarif Rp 5.000,- per orang). Di Depok kami mampir membeli Roti Unyil seharga Rp 600,- per buah.
Kami melanjutkan dengan naik angkot ke UI. Tiba-tiba hujan turun sangat deras, sedangkan kami tidak membawa payung. Karena tidak memperhatikan jalan, kami pun kebablasan sampai jauh. Kami turun dari angkot kemudian menyeberang untuk naik angkot yang berlawanan arah. Karena menurut kami cuaca kurang bersahabat, ditambah hari sudah mulai malam, kami memutuskan untuk menunda rencana kami ke UI. Akhirnya kami menuju ke rumah teman suami di Bogor. Kami naik angkot menuju ke Universitas Pancasila. Di stasiun UP kami membeli tiket KRL ke Bogor. Kami menarik nafas lega, setidaknya bisa beristirahat sejenak. Tapi sebenarnya ini baru awal dari pengalaman tak terlupakan itu.
KRL jurusan Bogor datang, tapi penuh sekali, jadi kami tidak naik. KRL kedua datang tak begitu lama, tak jauh berbeda juga, tetap penuh seperti sebelumnya. Akhirnya, harapan kami tinggal pada KRL terakhir. Yang ternyata sama penuhnya dengan dua sebelumnya, tapi kami memaksakan untuk naik.
Nah, di sinilah kami untuk pertama kalinya merasakan berada di tengah-tengah ratusan orang dalam KRL. Desak sana, desak sini, kaki terinjak-injak, badan susah bernafas. Tak jarang suara umpatan terdengar dari kanan-kiri kita. Makin lama, makin banyak penumpang yang naik, apalagi di UI banyak mahasiswa yang baru pulang kuliah. Suatu kesalahan besar kami berdiri dekat pintu, jadi lebih sering terdorong-dorong. Ah, aku jadi ingat, orang-orang yang mati karena berdesak-desakan, entah karena antri zakat atau nonton konser, mungkin keadaannya lebih parah dari yang kualami ini.
Akhirnya, aku berhasil menyelinap ke tengah gerbong, sedikit bisa bernafas lega karena lebih nyaman daripada di dekat pintu. Ketika hampir sampai Bogor, satu per satu penumpang turun, dan akhirnya aku dapat tempat duduk juga setelah satu jam-an berdiri. Dalam hati kami, kapok deh naik KRL ‘rasa sarden’ ini di jam pulang kantor.
Kami tiba di stasiun Bogor, dan langsung menuju rumah teman suamiku di daerah Dermaga, dekat kampus IPB. Rutenya adalah naik angkot 03 ke Bubulak (tarif Rp 2.500,- per orang), kemudian ganti angkot 05 ke Ciampea (tarif Rp 2.500,- per orang).
(bersambung)
Artikel terkait:
- Jalan-jalan ke Monas, Ragunan, TMII, Kebun Raya Bogor, UI, dan Masjid Kubah Mas (part 6)
- Jalan-jalan ke Monas, Ragunan, TMII, Kebun Raya Bogor, UI, dan Masjid Kubah Mas (part 7-habis)
- Jalan-jalan ke Monas, Ragunan, TMII, Kebun Raya Bogor, UI, dan Masjid Kubah Mas (part 5)
- Jalan-jalan ke Monas, Ragunan, TMII, Kebun Raya Bogor, UI, dan Masjid Kubah Mas (part 2)
- Jalan-jalan dari Dago Atas ke Punclut






