Alkisah pada zaman dahulu ada seseorang yang telah membunuh 99 jiwa, kemudian ia ingin bertaubat. Ia menghadap seorang ‘alim kemudian menanyakan halnya. Sang ‘alim menjawab, “Tidak ada taubat bagimu”. Maka dibunuhlah sang ‘alim tersebut hingga genap 100 jiwa melayang di tangannya.
Kegelisahannya akan taubat membuat ia mencari orang ‘alim lain. Jawaban yang didapatnya dari sang ‘alim sungguh menenangkan jiwanya, “Selalu terbuka pintu taubat untukmu. Pergilah engkau ke suatu tempat di mana banyak orang taat kepada Allah, ikutilah mereka dan jangan kembali ke negerimu.”
Ia pun menuruti perintah sang ‘alim. Dalam perjalanan ia meninggal dunia. Malaikat rahmat dan malaikat siksa bertengkar soal tempat kembalinya. Allah SWT mengutus malaikat lain untuk menjadi penengah di antara keduanya. Maka diukurlah jarang yang terbentang antara mayatnya dan dua tempat tersebut. Jika lebih dekat ke negeri yang ditinggalkannya, maka malaikat siksalah yang berhak memegang ruhnya. Jika lebih dekat ke negeri tujuan, maka malaikat rahmatlah yang memegang ruhnya. Sungguh, Allah telah memerintahkan pada bumi yang dituju agar mendekat dan meminta bumi yang ditinggalkan menjauh. Ternyata, ia lebih dekat ke negeri tujuan. Perbedaan jaraknya tidak lebih dari sejengkal. Maka ruhnya pun dipegang oleh malaikan rahmat.
Maha Suci Allah yang memiliki ampunan seluas langit dan bumi, yang membentangkan tangan rahmat-Nya pada tiap-tiap malam untuk menerima taubat orang-orang yang melakukan dosa di siang hari dan mengulurkan tangan pemurah-Nya di tiap-tiap siang agar bertaubat orang-orang yang berdosa di malam hari. Dan Allah berjanji, pintu taubat ini akan selalu terbuka bagi siapa pun yang mau mengetuknya hingga matahari terbit dari barat.
Artikel terkait:
Posted by Amorita Kurnia Dewi |
2 Comments »
Kita bisa berencana atas apa yang ingin kita lakukan serta berharap atas apa yang ingin kita capai. Ada kalanya apa yang kita rencanakan atau kita inginkan terwujud, namun ada kalanya pula rencana dan keinginan kita pupus tak berbekas.
Manusia berencana, berusaha, dan berharap. Allah yang menentukan dan menjatuhkan takdir. Segala perkara baik dan buruk yang menimpa kita adalah hak mutlak Allah. Tugas kita hanyalah menata diri dan hati kita menyikapi perkara baik dan buruk, menyenangkan dan menyedihkan tersebut.
Benarkah ada takdir buruk? Sebenarnya hanyalah masalah sudut pandang, bagaimana kita memandang perkara. Apa yang di mata kita buruk, misalnya suatu keinginan yang tidak tercapai, bisa saja bernilai baik di mata Allah. Demikian pula sebaliknya, apa yang kita anggap baik, bisa saja tidak bernilai di mata Allah.
wa ‘asa an takrahu syaiaw wa huwa khairul lakum, wa ‘asa an tuhibbu syaiaw wa huwa syarrul lakum.
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu.
(QS. Al Baqarah: 216)
Artikel terkait:
Posted by Amorita Kurnia Dewi |
1 Comment »
Ada cerita tentang seorang ibu yang harus bekerja keras demi perut dan pendidikan anak-anaknya. Setiap pagi, kala sang fajar belum menampakkan diri, ia telah bergegas bangun. Menunaikan kewajiban pada Rabbnya lalu menyiapkan sarapan ala kadarnya. Berbekal lembaran lusuh hasil penjualan kemarin, ia berbelanja sayur mayur dan bahan mentah lainnya. Belum lagi pukul enam pagi, dagangannya telah siap dijenguk para pelanggan.
Menjelang tengah hari, ia bersiap-siap pulang karena tak ingin tertinggal adzan Dhuhur. Setelah kewajibannya tunai, dibantu anak sulungnya yang mulai besar, ia meracik dan memasak sisa dagangan agar tak terbuang sia-sia. Dengan senyumnya yang ramah ia berkeliling menawarkan makanan siap santap pada tetangga dekat dan jauh. Di daerah itu, ia memang dikenal banyak orang. Mbok, ya ia cukup disapa Mbok. Mungkin tak seorang pun peduli siapa namanya.
Memang bukan cerita dan namanya yang penting, tapi semangat dan sikap optimisnya dalam menghadapi kehidupan yang perlu ditiru. Setiap pagi, kala keluar rumah menuju pasar, ia tak pernah berpikir soal berapa rupiah yang akan dibawa pulang untuk anak-anaknya. Ia berkata, Rezeki itu sudah diatur Gusti Allah. Gusti Allah ndak akan keliru.
Jika seorang penjual sayuran dengan kehidupan yang amat sederhana bisa tetap optimis dan tawakal menjalani kehidupan, tidakkah kita malu jika sering mengeluh, apalagi putus harapan akan adanya hari esok yang lebih baik…
Wa quli’malu fasayarallahu ‘amalakum wa rasuluhu wal mu’minun.
Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu.
(QS. At Taubah: 105)
Artikel terkait:
Posted by Amorita Kurnia Dewi |
1 Comment »

Foto ini diambil di mana ya?
Artikel terkait:
Posted by Amorita Kurnia Dewi |
4 Comments »