Jun '08
22

Jalan-jalan ke Unpad Jatinangor

Files under Perjalanan | 3 Comments

Desember kemarin, aku dan suamiku jalan-jalan ke kampus Universitas Padjadjaran di Jatinangor, Sumedang. Sebelumnya aku pernah ke kampus Unpad ini sebagai utusan dari ComLabs ITB untuk mengajar training Ganesha Digital Library.

Perjalanan menuju kampus Unpad Jatinangor cukup mudah. Kita bisa menggunakan bis kota jurusan Dipati Ukur-Jatinangor. Perjalanan memakan waktu sekitar 1 jam. Bis yang kita tumpangi masuk ke pintu tol Mohammad Toha, dan melewati jalan tol Padaleunyi sampai ke Cileunyi. Tarif yang kami keluarkan waktu itu hanya Rp 3.000,- Sekarang sih sudah naik menjadi Rp 4.000,-

Kampus Unpad Jatinangor tentu saja berbeda dengan kampus ITB.

Kampus Unpad lebih luas, untuk berpindah dari satu jurusan ke jurusan lain kita bisa menempuh perjalanan cukup jauh. Pemandangan alamnya pun lebih alami, dengan latar belakang alam pegunungan.

Karena kami ke Unpad pada hari Sabtu, maka situasi kampus ini sepi. Cukup capek juga jalan-jalan di sini. Akhirnya kami beristirahat di mushola Faperta Unpad, dan dengan pulasnya aku tertidur di sini :)


Artikel terkait:
Jun '08
15

SMA-ku Dulu dan Sekarang

Files under Perjalanan | 5 Comments

Desember lalu, SMA-ku mengadakan Lustrum Emas, dalam rangka HUT-nya yang ke-50. Setelah sekian lama tidak bersua, akhirnya aku diberi kesempatan lagi untuk bersilaturahim ke almamaterku.

Banyak perubahan di SMA-ku ini, tentu saja perubahan ke arah lebih baik. Beberapa bangunan baru, Masjid Al Uswah yang megah (dulunya cuma mushola kecil), serta fasilitas-fasilitas baru yang lain. Sempat iri juga nih, soalnya dulu sepertinya sekolahku tidak sebagus saat ini :D

Melihat ke ruang-ruang kelas, ada hal yang membuatku tertarik.

Oh, sekarang sistemnya lain dengan dulu. Kalau dulu ada ruang kelas 1-1, 1-2, 1-3, dst. Sekarang yang ada adalah Biology Class, Mathematic Class, Physics Class, dsb. Dulu, siswa menempati kelas yang sama dari jam pertama sampai jam terakhir dan guru mengunjungi kelas sesuai jam mengajarnya. Sekarang, guru menempati kelas yang ditentukan, siswa yang mengunjunginya. Jadi siswa yang berpindah-pindah dari jam pertama sampai terakhir. Kaya kuliah aja ya :)

Sekarang mari kita masuk ke ruang kelas.

Wah, sekarang tiap kelas ada TV dan DVD Playernya, juga ada OHP beserta layarnya. Bikin iri aja! Zamanku dulu di kelas ga ada TV, trus… OHP cuma ada satu di sekolah. Jadi kalau guru mau ngasih materi presentasi pakai plastik transparansi, kita harus ke Ruang Multimedia, dan karena ruangannya cuma satu, harus diatur-atur agar tidak bentrok dengan kelas lain.

Yah… zaman memang setiap saat berkembang. Dulu belum ada siswa yang memiliki HP, guru pun setahuku cuma satu orang yang punya. Sekarang… hampir setiap siswa punya HP, juga banyak yang bawa laptop ke sekolah.

Jadi ingat kata sayyidina Ali bin Abi Thalib : “Didiklah anak-anakmu, karena ia akan hidup di zaman yang berbeda denganmu!”


Artikel terkait:
Jun '08
8

Rihlah ke Dago Pakar dan Maribaya

Files under Perjalanan | Leave a Comment

Ingin berwisata di kota Bandung? Tapi ingin yang dekat-dekat saja? Bisa dicoba ke Dago Pakar dan Maribaya. Dago Pakar terletak di sebelah utara kota Bandung. Cukup 20 menit dari kampus ITB. Selain itu, dari Dago Pakar kita bisa berjalan kaki menuju Maribaya, ga jauh kok, cuma sekita 6 km, bisa ditempuh dengan kurang lebih 1.5 jam jalan kaki.

Itulah yang membuat kami (aku bersama suamiku) memutuskan untuk pergi ke sana. Sebelumnya aku sudah tiga kali ke Dago Pakar (ga bosen-bosen juga ya? :) ). Pertama, waktu mengikuti outbond Gamais saat tingkat dua dulu. Kedua, waktu mengikuti rihlah peserta Tahsin-Tahfidz Salman ITB. Dan ketiga, waktu mengikuti acara Unit Pelatihan ComLabs ITB. Ketiga-tiganya gratis lho :) Kalau ke Maribaya aku baru satu kali, yaitu ketika berekreasi bersama ibuku dan Renni, temanku. Sedangkan suamiku belum pernah sama sekali ke Dago Pakar dan Maribaya.

Kami berangkat dari Simpang Dago naik angkot jurusan Ciroyom-Ciburial, dan turun di dekat objek wisata Dago Pakar (ada petunjuknya kok!). Kemudian dilanjutkan berjalan kaki menuju pintu gerbangnya. Dago Pakar ini memiliki nama resmi Taman Hutan Raya Ir. H. Juanda.

Di sini terdapat patung Ir. H. Juanda. Siapakah beliau? Tanya orang yang asli Bandung aja ya :)

Juga terdapat taman-taman yang sejuk dan beberapa burung yang dipelihara. Karena berupa hutan, kawasan ini juga dapat digunakan sebagai area outbond.

Jika kita melangkah lebih dalam, kita akan menemukan Goa Belanda dan Goa Jepang. Konon, kedua goa ini dulunya digunakan sebagai tempat persembunyian ketika berperang. O ya, sebaiknya kalau mau masuk ke goa ini, bawa senter dari rumah. Karena di dalam goa gelap, dan banyak orang yang menyewakan senter dengan harga mahal.

Tak jauh dari kedua goa ini, kita akan menemukan jalan setapak menuju ke Maribaya. Medannya ringan kok, karena jalannya sendiri sudah diblok, cuma naik turunnya itu yang kadang bikin lelah. Tapi ga usah khawatir, di sepanjang jalan banyak tukang ojek menawarkan tumpangan. Lagi pula jalan kaki juga tidak terlalu lama, sekitar 1.5 jam saja, dan kita langsung tiba di Maribaya.

Di Maribaya, kita dapat menyaksikan beberapa air terjun, serta beristirahat sambil menikmati udara sejuk dan pemandangan yang indah. Tapi siap-siap aja ya, di sini banyak pengamen, dan mereka biasanya menyanyi berkelompok dan agak maksa gitu.

Dari Maribaya, kami pulang naik angkot jurusan Lembang, kemudian disambung angkot Ledeng-Cicaheum menuju ke kosan. Perjalanan pulang lebih jauh daripada perjalanan berangkat, karena jalannya agak muter.

# Di Maribaya ini aku terkenang, rekreasi terakhir dengan ibuku, tiga tahun silam.


Artikel terkait:
Jun '08
1

Alhamdulillah (lagi)

Files under Diary | 7 Comments

Alhamdulillah, setelah 9 bulan hidup berjauhan dengan suami, akhirnya mulai Juni ini kami bisa hidup bersama dalam satu atap. Meskipun statusnya masih ngontrak rumah yang bentar lagi habis masa kontraknya, suami juga masih nyari-nyari kerja, dan aku memilih bekerja di rumah, namun kami mensyukuri keadaan ini. Ya, kapan lagi kami bisa bersama-sama seperti ini, full day lagi.

Kalau aku pikir-pikir, aku punya kesamaan dengan Ust. M. Fauzil Adhim. Yaitu di awal pernikahan tinggal di rumah kontrakan dan sering berpindah-pindah. Pindah-pindah di sini maksudnya pindah dari satu sisi ruang ke sisi lain jika hujan lebat. Maksudnya, rumah (eh.. kamar) kontrakan sering bocor gitu lho.. :D Tapi alhamdulillah, sekarang udah jarang hujan.

Karena untuk saat ini kami belum dipenuhi kesibukan dan amanah, rencananya besok kami mau mudik ke Yogya-Solo selama seminggu. Udah dikangenin keluarga nih… :)


Artikel terkait: