Apr '08
28

Keliling Bandung dengan Angkot

Files under Diary | 12 Comments

Pernahkah anda melakukan suatu aktivitas yang menurut sebagian orang bisa dikatakan kurang kerjaan, buang-buang waktu, atau buang-buang uang, namun menurut anda aktivitas tersebut justru menyenangkan dan menantang?

Akhirnya, di sore hari itu aku berhasil mengajak suamiku berkelana naik angkot selama hampir 3 jam. Dari Dago ke Riung Bandung, beli bakso, kemudian kembali lagi ke Dago. Naik angkot sejauh 15 km (pergi-pulang) hanya untuk membeli dua mangkok bakso seharga Rp 5000.

Awalnya, sore itu kami bermaksud mencari makan di Simpang Dago. Bosan dengan aneka makanan di Simpang Dago, aku mengajak suamiku mencari makan di tempat lain. Akhirnya kami naik angkot Dago-Riung Bandung, sambil tengok kanan-kiri di sepanjang perjalanan, siapa tahu melihat warung makan yang menarik.

Dipati Ukur, Gasibu, Diponegoro, Citarum, Riau, Kosambi, Cicadas, Binong, terlewati sudah. Sampai ke jalan Soekarno-Hatta, lalu angkotnya muter, belok ke Cipamokalan, dan akhirnya masuk ke Perumahan Riung Bandung. Angkot melewati kompleks perumahan.

Akhirnya kami turun di kompleks perumahan, karena takut kalau ditanya sopirnya “turun di mana?” Kami makan di warung Bakso yang kami jumpai di kompleks perumahan tersebut. Setelah selesai makan, kami pun kembali naik angkot ke Dago, dengan sebelumnya memastikan bahwa kami tidak naik angkot yang sama dengan waktu berangkat tadi.

Dulu sebelum menikah, aku sering melakukan hal ini. Beberapa angkot yang pernah aku coba antara lain:

  • Angkot Cicaheum-Cibaduyut, sampai ke poll angkot di Cibaduyut.
  • Angkot Sadang Serang-Caringin, sampai ke Caringin (Kopo).
  • Angkot Dipati Ukur-Panghegar Permai, ternyata ga sampai Panghegar Permai, angkotnya muter di jalan.
  • Angkot Sadang Serang-Gede Bage, cuma sampai Ujung Berung.

Bukan kurang kerjaan lho ya… Meskipun naik angkot tanpa tempat tujuan pasti, perjalanannya itu yang aku nikmati. Bisa mengetahui kehidupan kota Bandung, kalau dipikir-pikir sampai sekarang lebih banyak daerah yang belum aku kutahui daripada yang sudah aku ketahui. Dan naik angkot ini cukup aman, karena biarpun tersesat pasti dapat kembali lagi (dengan naik angkot yang sama).


Artikel terkait:
Apr '08
23

Sebuah Perjalanan (bagian 3-habis)

Files under Perjalanan | Leave a Comment

Acara ’serah terima’ ini berakhir jam 22.30. Bayangkan, habis dari Maghrib sampai jam segini, aku sendiri sebenarnya udah ga betah berada di sana sejak jam 21.00. Kebanyakan hiburannya, acara intinya sendiri cuma sebentar.

Keesokan harinya, akad nikah dimulai pukul 9.00 sampai pukul 10.00. Setelah itu aku dan suamiku pulang dulu ke rumah karena kakak iparku datang dari Sukoharjo untuk mengantar komputer suamiku. Setelah itu kami ke KUA untuk mengurus surat nikah, yang intinya suamiku telah lunas membayar mahar yang dulu masih dihutang. Alhamdulillah…

Habis itu kami kembali lagi ke walimahan kakakku. Acaranya selesai jam 14.00. Hmm, kalau dihitung-hitung hari ini kami menempuh perjalanan dengan motor lebih dari 50 kilometer :D

Malamnya, kami kembali ke Bandung. Rencananya mau naik kereta Lodaya yang berangkat jam 21.00. Ternyata tiket kereta Lodaya untuk tempat duduk yang bersebelahan sudah habis. Jadi akhirnya kami naik kereta api Turangga yang berangkat jam 23.00.

Oya, aku sempat melihat Kamal di stasiun Yogya saat dia mau naik kereta Lodaya, tapi dari kejauhan dan Kamal tidak melihat aku. Lagipula aku ragu itu benar-benar Kamal atau bukan. Esoknya aku tanya ke Kamal, eh ternyata benar yang aku lihat tersebut adalah dirinya.

Sekian liputan ‘Sebuah Perjalanan’-ku ke Yogya selama 2 hari 1 malam, plus 2 malam di kereta. Sungguh perjalanan yang melelahkan, tapi menyenangkan.


Artikel terkait:
Apr '08
22

Sebuah Perjalanan (bagian 2)

Files under Perjalanan | Leave a Comment

Aku dan suamiku tiba di Yogya jam setengah 4 pagi. Kami langsung naik becak menuju rumahku, tarifnya Rp 15 ribu. Sampai di rumah udah masuk waktu Subuh. Setelah shalat Subuh, kami langsung tidur (kan capek habis perjalanan jauh). Bangun jam 6 pagi, langsung mandi, dan bersiap-siap ke rumah mertua.

Biasanya aku ke rumah mertua naik kereta Prambanan Ekspress sampai di Solo, lalu naik kereta Bengawan sampai ke Sukoharjo.

Pukul 06.20 kami berangkat menuju stasiun. Kami menunggu taksi yang lewat dekat rumah, ternyata ga ada taksi yang lewat. Akhirnya naik becak ke stasiun Lempuyangan, kali ini cuma bayar Rp 12 ribu (soalnya nawar). Becaknya jalan lambat banget, sampai di stasiun jam 7 lebih dikit. Jadinya… kami ketinggalan kereta Prameks deh, dan juga ketinggalan kereta Bengawan. Kereta Bengawan jurusan Solo-Wonogiri ini cuma berangkat satu kali dalam sehari yaitu jam 9 pagi.

Nanya ke petugas di stasiun, dijawab bahwa kereta Prameks selanjutnya baru datang jam setengah 9. Langsung aja kami menuju ke stasiun Tugu, untuk mencari kereta lain tujuan Solo selain Prameks.

Kami tiba di stasiun tepat ketika kereta Sancaka (tujuan Surabaya lewat Solo) berangkat. Ya sudah, kayanya memang takdirnya kami harus naik kereta Prameks jam setengah 9.

Pukul setengah 9 keretanya datang, dan langsung berangkat ke Solo. Tiba di Solo sekitar jam 10. Kami lalu naik bus menuju Sukoharjo. Tiba di Sukoharjo sekitar jam 11, dan tiba di rumah mertua sekitar jam setengah 12.

Pukul 2 siang kami pulang menuju Yogya, berharap bisa naik kereta Prameks jam 3 sore. Akhirnya kami tidak ketinggalan kereta lagi, kami bisa naik kereta jam 3, tapi ternyata penuh sekali dan terpaksa berdiri.

Karena tidak kuat berdiri lama dan berdesak-desakan (padahal cuma 1 1/2 jam), ketika kereta berhenti di Klaten, kami pun turun. Kami melanjutkan naik bis menuju Yogya. Dan tiba di terminal Yogya jam 5 sore.

Dari terminal kami naik bis TransJogja menuju rumahku. Bis TransJogja ini mirip dengan bis TransJakarta, hanya ukurannya lebih kecil. Ruangan bis ber-AC dan untuk menaikinya harus membeli tiket seharga Rp 3000 dahulu. Alhamdulillah, halte bis ini dekat dengan rumahku, sehingga tidak perlu berjalan jauh sampai rumah.

Tiba di rumah, tak ada waktu istirahat buat kami. Setelah shalat Asar (yang mepet banget ke waktu Maghrib) dan shalat Maghrib, kami beserta keluargaku mengantar kakakku untuk mengikuti upacara ’serah terima’ pengantin wanita ke keluarga pengantin pria.

Oya, acara pernikahan kakakku ini diadakan di rumah mempelai lelaki. Jadi di rumahku sepi-sepi aja, tidak seramai waktu pernikahanku dulu.


Artikel terkait:
Apr '08
21

Sebuah Perjalanan (bagian 1)

Files under Perjalanan | 1 Comment

Akhir minggu kemarin benar-benar perjalanan yang melelahkan (juga menyenangkan). Setelah 4 bulan tidak mudik, akhirnya aku berkesempatan untuk mudik ke rumah orang tua dan mertua.

Sebenarnya kami kemarin tidak berencana mudik, karena memang tidak ada libur panjang. Baru ketika hari Kamis kami dapat kabar bahwa kakak perempuanku akan menikah di hari Senin (ngasih taunya mendadak banget), kami memutuskan untuk mudik.

Suamiku sendiri memang sudah merencakanan hari Jumat akan cuti, karena akan mengantarkanku cek kesehatan. Dengan adanya berita ini, maka suamiku memperpanjang cutinya sampai hari Selasa. Sedangkan aku sendiri sudah 3 hari tidak masuk kerja karena sakit.

Seperti biasa, suamiku tiba di Bandung sekitar jam 1 dini hari. Paginya, setelah suamiku beristirahat, kami langsung menuju ke Prodia. Setelah selesai dicek, kami langsung menuju ke ITC Kebon Kalapa untuk mencari kado buat kakakku. Padahal waktu itu aku masih sedikit sakit, tapi sakitnya jadi tidak terasa karena aku pergi bersama suamiku ^_^

Siang harinya, ketika suamiku sedang shalat Jumat, aku mendapat telepon dari Rumah Zakat, bahwa besok Sabtu ada tes komputer dan wawancara. Aku memang sedang mendaftar untuk ikut Acceleration Program, yaitu training manajemen selama 3 bulan. Akhirnya, diputuskan bahwa kami akan mudik Sabtu malam.

Sabtu pagi, aku berangkat untuk mengikuti tes komputer dan wawancara. Peserta tes ini sebanyak 6 orang dari Bandung dan sekitar 15 orang dari Jakarta. Karena yang dari Bandung tesnya duluan, jadi hasilnya diumumkan saat itu juga.

Dan hasilnya…

Karena pas diwawancarai aku bilang begini:
“Sebenarnya cita-cita saya ingin jadi ibu rumah tangga,…”

Jadi, pas pengumuman hasil bapaknya bilang begini:
“Tadi anda bilang ingin jadi ibu rumah tangga kan? Jadi saya rasa program ini tidak cocok bagi anda…”

Alhamdulillah, aku tidak diterima. Mungkin kalau aku diterima aku bakal tambah pusing. Tiga bulan training di suatu tempat yang aku tak tahu di mana. Pasti banyak targetku yang tak terlaksana :D

Akhirnya aku pulang ke kos. Sampai di kos langsung kambuh penyakitku yang lain, pusing plus mual-mual. Sampai aku nangis menahan sakit sambil memelas ke suamiku kalau aku gak ikut mudik. Tapi suamiku cuma nyuruh aku istirahat. Akhirnya aku tidur setelah beroleskan minyak kapak.

Begitu bangun, siap-siap shalat Maghrib jamak Isya’. Soal sakit dipending dulu. Kami langsung naik angkot menuju ke stasiun, beli tiket (alhamdulillah masih dapat tempat) Lodaya, beli makan, dan langsung deh istirahat di kereta.


Artikel terkait:
Apr '08
16

Majalah-majalah yang Mendewasakanku

Files under Buku | 7 Comments

Selain suka membaca buku, aku juga suka membaca majalah. Koleksi majalahku kurang lebih sama dengan koleksi bukuku, sekitar 200 buah (dulu sih lebih banyak, tapi kebanyakan udah aku berikan ke orang lain, karena menuh-menuhin rak bukuku). Aku tidak pernah langganan majalah, jadi majalah-majalah tersebut aku peroleh dengan membeli secara eceran, baik majalah baru maupun bekas.

Berikut majalah-majalah yang ada di rak bukuku:

Ummi
Majalah favoritku. Aku memiliki koleksinya sejak tahun 2001 (tidak semua edisi). Majalah ini cocok untuk wanita dewasa atau ibu-ibu, tapi laki-laki juga boleh baca, terbukti suamiku suka membaca majalah ini. Rubrik-rubrik yang ada seperti : Mutiara Dakwah, Kolom Ayah, Sirah Shahabiyah, Kesehatan Keluarga, Pangan Halal, Psikologi Anak, Mar’ah Shalihah, Konsultasi ASI, dsb. Cocok lah buat calon ibu seperti aku ^_^

Tarbawi
Bahasannya ringan. Enak dibaca karena banyak hikmah dan kisah-kisah yang dapat diambil pelajaran. Koleksi yang aku punya sejak tahun 2001 (tidak semua edisi).

Annida
Majalah remaja. Dulu aku sering beli, sekarang udah jarang. Segmennya remaja SMP-SMA-kuliah.

Karima
Majalah remaja juga. Bahasanya enak banget (lebih enak daripada Annida). Tapi sayang, majalah ini sudah tidak terbit lagi. Terakhir terbit tahun 2002 lalu.

Auladi
Majalah buat orang tua, terutama yang memiliki anak kecil. Bahasanya enak, dan muraaah… cuma Rp 3.000.

Nikah
Majalah buat pasangan yang akan menikah ataupun setelah menikah. Menurutku bahasanya terlalu ‘kaku’. Ga pernah beli lagi.

Anggun
Majalah pra nikah, banyak nampilin mode-mode baju pengantin. Sayangnya… banyak tabarujnya.

Sabili
Lebih ke arah politik dan dakwah. Menurutku bahasanya agak ‘keras’.

Saksi
Sama seperti Sabili. Tapi bahasanya lebih enak.

Al Izzah
Majalah favoritku jaman dulu, sekarang nyari-nyari kok ga pernah nemu ya?

Percikan Iman
Majalahnya Pak Aam. Dulu sempat jadi majalah favorit, sekarang ga lagi.

Entrepreneur Indonesia, Pengusaha, Bisniskita, Mix
Dulu sering beli majalah-majalah ini, waktu aku terkena virus entrepreneur.

PC Media, PC Plus, dan majalah-majalah komputer lainnya
Dulu sering beli, sekarang ga pernah. Selain mahal, lebih enak browsing-browsing aja untuk mendapatkan info terbaru di dunia IT.

Tabloid Nova
Pernah beli, lumayan ada rubrik yang bagus. Tapi kebanyakan gosipnya.

Tabloid Nakita
Tabloid untuk para ibu, ada rubrik Menyambut si Kecil, Dunia Bayi, Dunia Batita, Dunia Prasekolah, Kesehatan, Problema Suami Istri, dll. Dan enaknya kita bisa download semua artikel dari edisi 1 sampai sekarang (463) di http://tabloid-nakita.com. Aku juga hobi download nih, tapi baru sampai edisi 15 yang aku download.

Di antara majalah-majalah (atau tabloid) di atas, hanya ada dua yang aku buat indeks artikelnya, yaitu majalah Ummi dan tabloid Nakita. Aku catat judul tiap rubrik untuk setiap edisi. Sehingga jika aku membutuhkannya, tinggal aku search, dan aku pun mudah menemukannya.


Artikel terkait:
  • Page 1 of 2
  • 1
  • 2
  • >