Mar '08
31

‘Keanehan’ Film Ayat-ayat Cinta

Files under Diary | 5 Comments

Berikut beberapa hal kejanggalan dalam film Ayat-ayat Cinta:

1. Adanya ikhtilat antara Maria dengan Fahri dan teman-temannya. Terlihat dari adegan saat Maria membetulkan komputer Fahri, membantu Fahri mengerjakan proposal thesis -bahkan di situ terlihat Maria sedang mengetik dan salah seorang teman Fahri membacakannya di belakangnya hanya dengan mengenakan kaos dalam- Ada juga adegan Maria makan bersama teman-teman Fahri dalam 1 nampan.

Hal ini sangat aneh, karena Fahri dan teman-temannya adalah mahasiswa Al Azhar. Tidak sembarang orang bisa berkuliah di Al Azhar, seseorang harus hafal Qur’an 30 juz dan biasanya mereka jebolan pesantren di Indonesia. Dalam film ini teman-teman Fahri tidak tampak sebagai seorang ikhwan yang pastinya mengetahui akan adab pergaulan.

2. Fahri yang menjawab salam Maria
Fahri menjawab salam Maria dengan ucapan “Wa’alaikumsalam warahmatullah”. Bukankah itu tidak boleh? Masak mahasiswa Al Azhar tidak mengerti hal ini?

3. Cadar Aisha
Cadar yang dikenakan Aisha bisa aku katakan hanya sebuah aksesoris. Bahkan ada sebuah adegan di mana Aisha mengikat ujung jilbabnya, sedangkan ia memakai cadar. Hal yang aneh.

Sepanjang yang aku ketahui, orang-orang salafy bahkan orang-orang Arab pun tidak ada yang menggunakan cadar seperti model yang dipakai Aisha. Mereka mengenakan cadar untuk menutupi seluruh tubuh mereka, termasuk bentuk tubuh, dan menghindari kemencolokan. Pada bagian awal film ini, aku pikir cadar Aisha masih mirip dengan cadar orang-orang salafy, tapi mendekati akhir cerita, lama-lama kok berubah jadi agak ‘gaul’.

4. Adegan makan dan minum sambil berdiri
Meski adegan yang diperlihatkan tidak ‘pas’ makanan dan minuman masuk ke mulut, tapi sudah terlihat di film ini bahwa budaya makan dan minum sambil berdiri adalah hal biasa. Dan hal ini merupakan kontradiksi mengingat Fahri dan teman-temannya adalah mahasiswa Al Azhar.

5. Ta’aruf yang begitu singkat
Adegan ta’aruf antara Fahri dan Aisha begitu singkat. Seolah yang namanya ta’aruf itu hanya membuka cadar. Dan Fahri terlihat terpana begitu melihat wajah Aisha, dengan memandangnya dalam waktu lama. Adalah hal yang aneh bagi seorang ikhwan seperti Fahri -Al Azhar lagi- memandang wanita seperti itu.

6. Poligami
Poligami yang diperlihatkan dalam film ini merupakan contoh yang salah! Rasul tidak pernah menyatukan istri-istrinya dalam satu rumah. Bahkan Rasul menekankan bagi laki-laki yang berpoligami untuk memisahkan tempat tinggal istri-istri mereka. Nah loh! Di film ini -bahkan- terlihat kamar Aisha dan Maria bersebelahan.

7. Aisha shalat dengan mengenakan cadar
Bukankah ketika kita shalat, tidak boleh ada sesuatu yang menghalangi antara muka dengan tempat sujud kita.

8. Akhir cerita yang kurang ‘menyentuh’
Kalau di novelnya, akhir cerita ini sangat mengharukan -dan membuatku meneteskan air mata- Yaitu ketika Maria bermimpi sambil membacakan surat Maryam, sehingga Maria didatangi Bunda Maryam, dan memelas untuk bisa masuk surga. Bukankah ini bagian inti dari novel Ayat-ayat Cinta. Sayang sekali ‘bab Ayat-ayat Cinta’ dalam novel Ayat-ayat Cinta tidak dianggap dalam film ini -emang sulit kali ya menampilkan Bunda Maryam dalam film-

9. Dan masih banyak lagi adegan yang menurutku tidak pantas, seperti Maria dan Fahri yang berduaan di sungai Nil, adegan kontak fisik dengan lain jenis, dan adegan Aisha dan Nurul membuka jilbab -pemeran aslinya memang belum pakai jilbab ya?-

10. Lagu Ayat-ayat Cinta
Kalau aku cermati lagu Ayat-ayat Cinta, sepertinya lagu ini merupakan ungkapan isi hati Maria kepada Fahri. Dan inilah yang kurang aku sukai. Lagu ini lebih mengusung topik cinta kepada lawan jenis daripada cinta kepada Allah. Pantas saja kalau lagu ini tidak lulus ’sensor’ di radio MQFM :)

Maaf bagi pecinta film Ayat-ayat Cinta jika pendapatku kurang berkenan. Aku sih takutnya kalau ada orang awam yang menonton film ini, kemudian dia beranggapan “Ah, ternyata pergaulan mahasiswa Al Azhar -yang notabene hafidzul Qur’an- tidak berbeda dengan mahasiswa biasa. Dalam Islam juga bebas berikhtilat, makan sambil berdiri, dst. dst.”

Apa pun yang dilakukan Mas Hanung sebagai sutradara film Ayat-ayat Cinta cukup bagus. Semoga film Ayat-ayat Cinta menjadi pelopor film-film yang bernafasan Islam. Dan tentu saja, hari esok harus lebih baik dari hari kemarin, film Islam yang akan datang harus lebih baik dari film Ayat-ayat Cinta ini.


Artikel terkait:
Mar '08
30

Komentarku tentang Film Ayat-ayat Cinta

Files under Diary | 10 Comments

Tahun lalu, ketika terdengar kabar bahwa novel Ayat-ayat Cinta akan difilmkan, aku termasuk yang mengatakan tidak setuju. Dengan alasan, sangat sulit membuat film yang mengisahkan keindahan Islam seperti novel Ayat-ayat Cinta.

Alhamdulillah, akhir tahun kemarin aku diberi kesempatan berjumpa Kang Abik di acara bedah buku di Masjid Salman. Komentar Kang Abik tentang novelnya yang akan difilmkan sangat positif, Kang Abik ingin bersilaturahim kepada orang-orang yang ‘kurang suka membaca buku’ dengan film Ayat-ayat Cinta ini.

Mulai saat itulah, pikiranku berubah. Aku jadi merindukan hadirnya film Ayat-ayat Cinta. Bahkan aku mengangendakan untuk nonton di bioskop bersama suamiku. Begitu menarik kah film ini bagiku? Sampai aku yang seumur hidup baru dua kali ke bioskop (waktu kelas 1 SD bersama keluargaku dan waktu SMU bersama teman-temanku) mengagendakan hal ini?

Aku pertama kali membaca novel Ayat-ayat Cinta awal tahun 2005 lalu, dengan meminjamnya dari temanku. Membacanya, membuatku tak berhenti meneteskan air mata. Di setiap babnya, hampir pasti ada kutipan ayat Qur’an, hadits, ataupun ibrah lainnya yang serasa ‘menohok’ diriku. Aku jadi merasa masih banyak pelanggaran (terhadap agama) yang sering ku lakukan.

Kembali ke masalah film, akhirnya film Ayat-ayat Cinta selesai diproduksi, termasuk bajakannya yang lebih cepat beredar daripada film aslinya. Aku pun mendapatkan bajakan film tersebut di salah satu FTP di kampusku. Aku download, dan aku tonton di rumah.

Kesan pertama saat menonton film tersebut adalah ‘aneh’. Kebetulan aku sudah membaca beberapa komentar orang terhadap film ini, aku tidak begitu kaget melihat ‘keanehan’ di film ini. Terutama jalan cerita yang banyak berubah dari novelnya.

Setelah melihat komentar-komentar orang tentang film ini, aku bisa menarik suatu kesimpulan.

Bagi orang yang belum pernah membaca novel Ayat-ayat Cinta, film ini sangat bagus. Ya memang, dibandingkan film-film pop atau film-film cinta jaman sekarang. Mana ada film-film cinta sekarang yang islami. Dan di film Ayat-ayat Cinta ini, label islaminya cukup terlihat.

Namun, bagi orang yang sudah pernah membaca novel Ayat-ayat Cinta, termasuk para aktivis da’wah, banyak yang kecewa dengan hadirnya film ini, termasuk aku. Memang, kalau aku lihat film ini bagus, tapi sayang nilai-nilai islamnya jadi tidak tersampaikan dengan benar.

Menurutku, film Ayat-ayat Cinta ini lebih pantas disebut “film cinta yang dilabeli islam” daripada “film islami”. Tapi biarlah, karena film Ayat-ayat Cinta tidak sama dengan novel Ayat-ayat Cinta.

Trus, apakah aku jadi menonton film ini di bioskop. Tidak! 20ribu rupiah masih termasuk harta mewah bagiku, bisa buat makan malam selama seminggu. Meski kata orang, film yang asli banyak perbedaan dengan film bajakannya, tapi aku sudah bisa menangkap jalan ceritanya.


Artikel terkait:
Mar '08
6

Nafkah dan ‘Enak’

Files under Diary, Keluarga | 7 Comments

“Enak ya jadi istri, nafkah ditanggung suami”

Kalimat sindiran yang sering kudengar dari teman-temanku. Benarkah menjadi istri itu enak hanya karena nafkahnya ditanggung suami? Jika jawabannya “ya”, maka betapa sempit pemahaman ‘enak’ dan ‘ditanggung’ dalam kalimat di atas.

Apakah menjadi istri itu enak? Lihatlah bukankah mayoritas penghuni neraka adalah wanita. Mereka adalah para wanita yang tidak bersyukur pada suaminya. Menjadi istri, tidak bisa dibilang enak atau tidak, karena itu sudah takdir Allah. Menjadi istri, haruslah bersyukur, karena dengan syukur itulah ia dijauhkan dari neraka, dan menjadi calon bidadari syurga.

Nafkah ditanggung suami? Bukan berarti istri bebas menggunakan nafkah pemberian suami. Tetap saja nanti di akhirat pertanggungjawabannya sendiri-sendiri, tidak ada yang namanya pertanggungjawaban ditanggung suami. Seorang istri akan mempertanggungjawabkan nafkah yang telah diberikan suaminya, untuk apa nafkah tersebut ia gunakan, apakah ia gunakan untuk kebaikan atau sebaliknya.


Artikel terkait:
Mar '08
5

Rp 0,01 per detik

Files under Diary | 4 Comments

YOOOOOOOW….. (ikut-ikutan siapa ya?)

Sekarang tarif telepon sesama IM3 turun. Agaknya IM3 ga mau kalah dengan dua operator lain yang pasang tarif sampai Rp 0,5 per detik dan Rp 0,1 per detik, tentu saja tidak mulai detik pertama. Hmm… strategi untuk menarik pelanggan tentunya, bagi masyarakat Indonesia ini sangat mudah tergiur iklan.

Siapa yang tidak tergiur melihat iklan tarif telepon yang segitu murah? Baru setelah kita perhatikan dengan seksama, eh… ternyata ada tulisan “mulai detik ke …” atau “setelah … menit panggilan”, Tentunya tulisan tersebut keciiilll banget, dibandingin tulisan nol koma sekian detik yang gede banget.

Aku tidak akan membahas beberapa iklan operator yang sepertinya “menipu konsumen yang tidak jeli” tersebut. Kabarnya nanti awal April tarif telepon semua operator akan turun, jadi wajar lah kalau mulai sekarang para provider tersebut berebut pasang iklan tarifnya paling murah.

Alhamdulillah, penurunan tarif telepon ini membawa angin segar bagi dunia telekomunikasi kami (baca: keluarga kami). Kalau biasanya dalam sehari kami nelpon cuma 2 menit, biar dapat gratis sms seharian. Kecuali kalau ada urusan yang penting banget, nelpon bisa sampai setengah jam, akibatnya pulsa langsung berkurang 30 ribu. Nah… Sekarang kami bisa nelpon sepuasnya, karena yang dihitung cuma 90 detik pertama yang menghabiskan Rp 1.350. Setelah itu tarifnya cuma Rp 0,01 per detik. Jadi nelpon setengah jam pun tarifnya ga akan lebih dari Rp 1.500.

Akibatnya, kupingku sering kepanasan dan leherku pegal-pegal.


Artikel terkait: