Berikut beberapa hal kejanggalan dalam film Ayat-ayat Cinta:
1. Adanya ikhtilat antara Maria dengan Fahri dan teman-temannya. Terlihat dari adegan saat Maria membetulkan komputer Fahri, membantu Fahri mengerjakan proposal thesis -bahkan di situ terlihat Maria sedang mengetik dan salah seorang teman Fahri membacakannya di belakangnya hanya dengan mengenakan kaos dalam- Ada juga adegan Maria makan bersama teman-teman Fahri dalam 1 nampan.
Hal ini sangat aneh, karena Fahri dan teman-temannya adalah mahasiswa Al Azhar. Tidak sembarang orang bisa berkuliah di Al Azhar, seseorang harus hafal Qur’an 30 juz dan biasanya mereka jebolan pesantren di Indonesia. Dalam film ini teman-teman Fahri tidak tampak sebagai seorang ikhwan yang pastinya mengetahui akan adab pergaulan.
2. Fahri yang menjawab salam Maria
Fahri menjawab salam Maria dengan ucapan “Wa’alaikumsalam warahmatullah”. Bukankah itu tidak boleh? Masak mahasiswa Al Azhar tidak mengerti hal ini?
3. Cadar Aisha
Cadar yang dikenakan Aisha bisa aku katakan hanya sebuah aksesoris. Bahkan ada sebuah adegan di mana Aisha mengikat ujung jilbabnya, sedangkan ia memakai cadar. Hal yang aneh.
Sepanjang yang aku ketahui, orang-orang salafy bahkan orang-orang Arab pun tidak ada yang menggunakan cadar seperti model yang dipakai Aisha. Mereka mengenakan cadar untuk menutupi seluruh tubuh mereka, termasuk bentuk tubuh, dan menghindari kemencolokan. Pada bagian awal film ini, aku pikir cadar Aisha masih mirip dengan cadar orang-orang salafy, tapi mendekati akhir cerita, lama-lama kok berubah jadi agak ‘gaul’.
4. Adegan makan dan minum sambil berdiri
Meski adegan yang diperlihatkan tidak ‘pas’ makanan dan minuman masuk ke mulut, tapi sudah terlihat di film ini bahwa budaya makan dan minum sambil berdiri adalah hal biasa. Dan hal ini merupakan kontradiksi mengingat Fahri dan teman-temannya adalah mahasiswa Al Azhar.
5. Ta’aruf yang begitu singkat
Adegan ta’aruf antara Fahri dan Aisha begitu singkat. Seolah yang namanya ta’aruf itu hanya membuka cadar. Dan Fahri terlihat terpana begitu melihat wajah Aisha, dengan memandangnya dalam waktu lama. Adalah hal yang aneh bagi seorang ikhwan seperti Fahri -Al Azhar lagi- memandang wanita seperti itu.
6. Poligami
Poligami yang diperlihatkan dalam film ini merupakan contoh yang salah! Rasul tidak pernah menyatukan istri-istrinya dalam satu rumah. Bahkan Rasul menekankan bagi laki-laki yang berpoligami untuk memisahkan tempat tinggal istri-istri mereka. Nah loh! Di film ini -bahkan- terlihat kamar Aisha dan Maria bersebelahan.
7. Aisha shalat dengan mengenakan cadar
Bukankah ketika kita shalat, tidak boleh ada sesuatu yang menghalangi antara muka dengan tempat sujud kita.
8. Akhir cerita yang kurang ‘menyentuh’
Kalau di novelnya, akhir cerita ini sangat mengharukan -dan membuatku meneteskan air mata- Yaitu ketika Maria bermimpi sambil membacakan surat Maryam, sehingga Maria didatangi Bunda Maryam, dan memelas untuk bisa masuk surga. Bukankah ini bagian inti dari novel Ayat-ayat Cinta. Sayang sekali ‘bab Ayat-ayat Cinta’ dalam novel Ayat-ayat Cinta tidak dianggap dalam film ini -emang sulit kali ya menampilkan Bunda Maryam dalam film-
9. Dan masih banyak lagi adegan yang menurutku tidak pantas, seperti Maria dan Fahri yang berduaan di sungai Nil, adegan kontak fisik dengan lain jenis, dan adegan Aisha dan Nurul membuka jilbab -pemeran aslinya memang belum pakai jilbab ya?-
10. Lagu Ayat-ayat Cinta
Kalau aku cermati lagu Ayat-ayat Cinta, sepertinya lagu ini merupakan ungkapan isi hati Maria kepada Fahri. Dan inilah yang kurang aku sukai. Lagu ini lebih mengusung topik cinta kepada lawan jenis daripada cinta kepada Allah. Pantas saja kalau lagu ini tidak lulus ’sensor’ di radio MQFM
Maaf bagi pecinta film Ayat-ayat Cinta jika pendapatku kurang berkenan. Aku sih takutnya kalau ada orang awam yang menonton film ini, kemudian dia beranggapan “Ah, ternyata pergaulan mahasiswa Al Azhar -yang notabene hafidzul Qur’an- tidak berbeda dengan mahasiswa biasa. Dalam Islam juga bebas berikhtilat, makan sambil berdiri, dst. dst.”
Apa pun yang dilakukan Mas Hanung sebagai sutradara film Ayat-ayat Cinta cukup bagus. Semoga film Ayat-ayat Cinta menjadi pelopor film-film yang bernafasan Islam. Dan tentu saja, hari esok harus lebih baik dari hari kemarin, film Islam yang akan datang harus lebih baik dari film Ayat-ayat Cinta ini.
Artikel terkait:
