9 September 2007
Alhamdulillah, tibalah hari yang selama ini aku nanti-nantikan, hari pernikahanku.
06.00
Aku udah siap, udah makan, udah mandi. Tinggal menunggu periasnya datang. Kebanyakan orang yang akan menikah merasa deg-degan, tapi kok aku ga merasa deg-degan ya, perasaanku biasa saja. Bahkan aku merasa menikmati jam-jam di akhir masa lajangku ini, rasanya jam-jam ini lama sekali berjalan.
07.30
Periasnya datang, ada 3 orang. Aku pun dirias. Riasannya tebal sekali dan berlapis-lapis, macam-macam benda ditimpakan ke wajahku. Huh, tau gini aku ga mau dirias. Padahal dari awal aku udah bilang ingin riasan yang sederhana saja. Trus, aku disuruh memejamkan mata, tiba-tiba alisku digunting. Hiks … ga sempat menolak deh. Ya Allah, ampunillah aku, padahal aku tau kalau Allah melaknat wanita yang meminta dipotong alisnya. Tapi kan aku ga tau kalau alisku akan digunting, aku juga ga minta kok. Aku jadi merasa sebel sama ibu-ibu perias ini.
Trus, sekarang rambutku mau diapain lagi? Aku bilang supaya rambutku jangan diapa-apain. Tapi ibunya bilang “Saya ini sedang merias Anda. Anda harus patuh sama saya.” Langsung aja aku jawab “Yang dirias kan saya, saya ga mau diginiin.” Setelah itu terjadi perdebatan antara aku dan si ibu perias. Ibunya udah nyiapin roncean melati untuk dipakai di atas jilbabku, tapi aku ga mau pakai. Gimana mau pakai, aku kan udah pakai jilbab dobel plus hiasan bunga plus phashmina, masak mau ditambah melati lagi. Ibunya jadi sebel dan berkata “Saya nih sudah nyiapin roncean melati dari rumah, masak ga jadi dipakai” Aku pun ga kalah sebelnya dan kujawab “Ya udah, nanti semuanya dibayar penuh, tapi mau pakai atau ga itu terserah saya.” Akhirnya ibu itu pun diam. Emang siapa sih yang nikah? Yang nikah kan aku, aku cuma minta mereka merias wajahku, sekali lagi wajahku, itu aja. Soal hiasan apa aja yang aku pakai ya terserah aku donk!
08.30
Mas Yan udah datang ke rumahku, tapi perias-perias ini belum selesai ‘melukis’ wajahku, padahal aku udah bosen dirias. Saat mereka mau mengoleskan sesuatu -benda berkelip-kelip- ke kelopak mataku, aku langsung menolak dan aku menyuruh agar mereka segera mengakhiri aktivitasnya. Akhirnya selesai juga riasanku. Dan aku berharap mereka segera keluar dari kamarku.
08.45
Aku hanya punya waktu 15 menit untuk ganti baju pengantin dan pakai jilbab. Pakai jilbabnya ini yang lama. Tapi karena aku sudah berlatih, jadi bisa kuselesaikan dalam 15 menit. Pertama, pakai jilbab sutra warna putih, sesuai warna kebaya yang ku pakai, kemudian dilapis dengan jilbab sutra warna emas, dikasih hiasan bunga melingkar kepala, dan terakhir dilapisi phashmina. Jadi deh, jilbab cantik pertama kreasiku.
09.00
Sebelum akad dimulai, ada acara pribadi antara aku dan Mas Yan dengan ditemani kakakku, yaitu pencicilan penyetoran mahar. Aku meminta mahar berupa hafalan juz ‘amma, dan Mas Yan menyanggupinya walaupun belum hafal seluruh juz ‘amma. Pada hari ini Mas Yan baru menyetorkan 1/3 hafalan juz ‘amma.
09.30
Acara setor mahar telah selesai, tinggal menunggu acara akad yang akan dimulai pukul 10.00. Sudah 30 menit menjelang acara dimulai, tapi keluarga calon mempelai pria belum datang. Kami sudah sepakat, apabila sampai pukul 10.00 keluarga mempelai pria belum datang, maka akad tetap akan dilangsungkan tanpa disaksikan keluarga mempelai pria.
09.50
Keluarga mempelai pria datang sebanyak 15 orang, sambil membawa banyak sekali bingkisan.
Bersambung…
Artikel terkait:
Posted by Amorita Kurnia Dewi |
No Comments »