Sejak kecil aku suka membaca. Dari sejak duduk di bangku TK (atau sebelum TK) orang tuaku sering membelikanku majalah Bobo. Bobo adalah majalah pertamaku. Bobo disimbolkan sebagai seekor kelinci berkaki 2. Tokoh lain dalam majalah ini adalah Bona, Rongrong, Juwita, Sisirik, Nirmala, dan siapa lagi aku lupa. Wah, jadi teringat masa kecil nih.
Menginjak pertengahan SD, orang tuaku mulai berhenti membelikanku majalah Bobo. Dua buah majalah baru kini menjadi langganan rumah kami, yaitu majalah Gatotkaca dan Putera Kita. Menurutku, dua buah majalah ini, meski segmentnya sama buat anak-anak, namun lebih ‘dewasa’ daripada majalah Bobo. Isinya pun lebih berbobot dan lebih kaya nuansa ilmu.
Selama duduk di bangku SD, aku tidak pernah minta dibelikan buku, kecuali buku-buku pelajaran sekolah. Aku sepertinya malas untuk minta dibelikan buku, aku rasa sudah cukup membaca majalah-majalah yang dibelikan orang tuaku.
Menginjak bangku SMP, orang tuaku sudah tidak berlangganan majalah-majalah lagi. Aku mulai sibuk dengan tugas-tugas sekolah. Aku jadi sering ke Gramedia yang letaknya dekat dengan sekolahku. Namun aku hanya membaca-baca buku, aku tidak membeli buku karena uang sakuku hanya sedikit dan aku masih belum punya keinginan membeli buku.
Kelas 3 SMP, pertama kalinya aku membeli buku sendiri. Sekali lagi aku tekankan di sini, buku yang aku maksud adalah di luar buku pelajaran. Buku pertama yang aku beli berjudul ‘Permainan dan Teka-teki Bilangan’ karangan Kirsch dan Korn, seharga Rp 3.000,00. Ya, namanya juga pecinta matematika=) Aku sangat suka membaca buku ini. Beberapa bulan kemudian aku membeli buku karangan Brian Bolt, yang berjudul ‘Kumpulan Permainan dan Teka-teki Matematika yang Mengasyikkan’, seharga Rp 7.000,00. Inilah dua buah buku yang aku beli di bangku SMP. Banyak temanku yang suka membeli buku detektif semisal karangan Agatha Christie, komik-komik sebangsa Doraemon, Donal Bebek, dan sebagainya, tapi aku tidak berminat untuk membeli buku-buku semacam itu, terlalu sayang pikirku.
Menginjak bangku SMA, aku tidak pernah membeli buku lagi. Tugas-tugas sekolah telah menyibukkanku. Tapi aku tetap suka membaca.
Kelas 3 SMA, hari-hariku diwarnai dengan membaca buku, tentu saja buku pelajaran sekolah, buku persiapan Ebtanas, buku soal-soal UMPTN, dan buku-buku soal-soal IMO. Aku benar-benar jadi kutu buku. Aku tak punya waktu lagi untuk membaca buku-buku lain selain buku-buku itu.
Akhir SMA, beberapa hari setelah UMPTN, sebelum berangkat ke IMO, aku bersama teman-teman pembinaan IMO jalan-jalan ke Gramedia, tentu saja untuk melihat-lihat buku. Aku tertarik membeli buku ‘Chicken Soup for the Teenage Soul’, dan akupun membelinya. Buku ini kubawa juga saat aku ke Korea, tapi tak sempat kubaca di sana. Sayangnya, buku ini kini hilang, dipinjam teman tapi tak kunjung dikembalikan.
Kuliah di ITB, jauh dari orang tua, pergaulanku menjadi bertambah luas. Kebutuhan bertambah, dan aku harus mandiri karena jauh dari keluargaku. Seiring dengan semakin banyak pengalaman baru, aku pun jadi lebih banyak mengenal tentang buku-buku. Aku jadi sering membeli buku dan majalah, tentu saja bukan majalah Bobo lho!
Semoga sampai kapan pun, aku tetap suka membaca buku. Karena sebaik-baik teman adalah buku.
Artikel terkait:
