Sep
14

Sahabat

Files under Diary | Leave a Comment

14 April 2007

Lama kau pergi jauh dari diriku
Menghilang jauh entah ke mana
Puas sudahku mencari diri mu
Pelusuk duniaku panjangkan langkahku

Mereka bilang kau tak punya apa-apa
Namun bagiku engkaulah kisah silamku
Cerita lama kisah suka dan duka bersamamu

Pasti kita kan bertemu
Setelah sekian waktu
Wahai sahabatku

Pasti kita kan bertemu
Meleraikan rindu
Wahai sahabatku

Firdaus - Sahabat

24 April 2007
Tak kuduga secepat ini terjadi.
Bertemu seorang sahabat, setelah 7 tahun berpisah.

9 September 2007
Dan sekarang, bersama sahabatku
Duduk di kursi pelaminan…

Skenario Allah memang begitu indah :)

Sep
13

Bersiaplah Menjadi Ibu

Files under Artikel | Leave a Comment

Ibu adalah sebuah sekolah, yang apabila engkau persiapkan (dengan baik), berarti engkau telah mempersiapkan suatu bangsa dengan dasar yang baik.

Ungkapan seorang penyair di atas menggambarkan betapa besarnya peran seorang ibu dalam membentuk sebuah generasi yang kelak akan menentukan kualitas suatu bangsa. Ibu adalah sekolah -bahkan sekolahan pertama- bagi anak-anaknya. Ibu bagaikan wadah pendidikan yang mengajarkan dan mendidik berbagai macam ilmu dalam kehidupan anak-anaknya dengan cinta dan kasih sayang. Sebagai pendidik awal, ibulah yang pertama kali meletakkan fondasi dasar -terutama dalam aspek keimanan- kepada anak dalam proses pendewasaan mental dan pematangan jiwa.

Gambaran pentingnya tugas seorang ibu tercakup dalam pernyataan yang diungkapkan oleh Dr. A. Madjid Katme, Presiden Asosiasi Dokter Muslim di London dalam Konferensi Dunia tentang Wanita di Beijing yang ia tuturkan berikut ini:

“Tugas keibuan adalah pekerjaan yang paling terhormat dan membutuhkan ketrampilan di dunia ini. Dan terlaksananya tugas ini sangat penting bagi pemeliharaan dan perlindungan anak terutama di masa awal-awal pertumbuhannya. Walaupun tugas keibuan sebenarnya adalah tugas yang full time, tak berarti ayah sebagai pencari nafkah tak ikut bertanggung jawab. Tak ada satu jenis pekerjaan pun yang dapat merampas seorang ibu dari tugas keibuannya. Dan tak ada seorang pun yang dapat mengambil alih tugas keibuan tersebut.”

Bagi seorang muslimah, betapapun beratnya tugas seorang ibu tetapi keimanan dan harapannya akan iming-iming surga memotivasinya untuk rela dan bersungguh-sungguh menjadi seorang ibu. Apalagi Islam memberikan kedudukan dan penghormatan yang tinggi terhadap seorang ibu. Seorang ibu muslimah dapat menjadi salah satu penentu seseorang untuk meraih surga seperti sabda Rasulullah saw., berikut ini:

“Surga itu di bawah telapak kaki ibu.”

Untuk membentuk generasi muslim yang tangguh dan bertaqwa, tidaklah cukup hanya dengan menghadirkan anak-anak yang cerdas saja, melainkan anak-anak yang optimal dari berbagai segi seperti biofisik, psikososial, kultural, dan ruhiyah serta melingkupi skala dunia dan akhirat. Maka untuk mencetak generasi dengan kriteria di atas, dibutuhkan para ibu yang handal, oleh karena itu para muslimah yang kelak akan menjadi calon ibu harus mempersiapkan dirinya untuk menjadi ibu harapan umat. Persiapan ini tidak hanya harus dilakukan setelah menikah, tetapi dapat dimulai saat seorang wanita masih lajang agar ketika ia memasuki perannya sebagai ibu, ia sudah siap melaksanakan tugas keibuannya.

Sep
12

Tentang Nazhar

Files under Pernikahan | Leave a Comment

Nazhar berarti melihat calon suami/istri sebelum menikahinya. Islam menganjurkan kita melakukan nazhar sebelum menikah. Adab nazhar, menurut Abdullah Nashih Ulwan :
- nazhar dibolehkan hanya setelah memiliki keputusan untuk menikahi.
- hanya boleh melihat muka dan telapak tangan.
- boleh melihat berkali-kali supaya lebih jelas.
- boleh bercakap-cakap selama nazhar, dianjurkan juga untuk mengenal suara calon suami/istri.
- boleh nazhar tanpa diketahui pihak yang dinazhar.
- tidak boleh berkhalwat.

Sep
11

Ta’aruf, perlu ga sih?

Files under Pernikahan | Leave a Comment

Ta’aruf, sebuah kata yang tak asing lagi di kalangan aktivis da’wah. Ta’aruf adalan proses mengenal, lebih khusus lagi proses mengenal calon suami/istri.

Ta’aruf tidaklah wajib, tidak termasuk dalam rukun nikah. Nikah tanpa ta’aruf pun tetap sah. Ta’aruf hukumnya sunnah. Ta’aruf bertujuan untuk mengenal dengan baik calon, melengkapi data-data yang belum diketahui, saling bertukar pikiran, dan memahami keluarga masing-masing.

Biasanya ta’aruf dilakukan melalui perantara, bisa orang tua, saudara, teman, atau murabbi calon yang bersangkutan. Jarang yang melakukan ta’aruf secara berdua saja. Ta’aruf yang hanya dilakukan berdua sangat rawan penyakit hati, bahkan tak ujung berbuah ma’siat, dan tak ada bedanya antara ta’aruf dan pacaran.

Ada beberapa cara melakukan ta’aruf. Yang paling populer di kalangan aktivis da’wah adalah melalui murabbinya. Kita diminta mengisi biodata, kemudian murabbi kita akan mencarikan calon yang tepat buat kita. Hal ini berkemungkinan kita akan dipertemukan dengan ikhwan/akhwat yang tidak kita duga sebelumnya, atau barangkali kita sama sekali tidak mengenalnya. Nah, dari ta’aruf inilah kita baru mengenal calon kita.

Namun bagaimana jika kita sudah memiliki keinginan terhadap seorang ikhwan/akhwat pilihan kita sendiri, atau dengan kata lain sudah ‘naksir’ duluan. Ya, silakan aja. Toh ta’aruf tidak selalu kita yang disodori biodata calon kita, kita bisa memilih dengan siapa kita akan berta’aruf.

Apakah ta’aruf harus lewat murabbi? Sebenarnya ini masalah kemantapan hati. Ta’aruf lewat murabbi insya Allah akan menjamin ta’aruf kita benar-benar ‘bersih’. Namun jika kita merasa ada perantara lain yang lebih baik, silakan aja. Atau bagi yang sudah tidak memiliki murabbi, bisa melalui perantara lain yang kita percayai.

Kalau menurut aku sih perantara terbaik dalam ta’aruf adalah keluarga, entah itu orang tua atau kakak/adik. Sebab beliau-beliaulah yang lebih mengetahui tentang diriku, mengetahui yang terbaik buatku.

Sep
10

Persiapan Menuju Pernikahan

Files under Pernikahan | Leave a Comment

Berikut 5 persipan menjelang pernikahan yang paling utama menurutku. Aku tulis secara singkat aja ya.

1. Persiapan ruhiyah
Meliputi aqidah yang bersih, amal yaumi yang terjaga, dan ibadah shahih sesuai quran dan sunnah.

2. Persiapan fikriyah/ilmu
Minimal memahami (pernah membaca terjemahan dan tafsir) QS. An Nisa dan QS. An Nur, oya ada satu lagi yaitu QS. At Tahrim, mengerti fiqh munakahat, hak dan kewajiban suami dan istri, tarbiyatul aulad, dsb.

3. Persiapan jasadiyah/fisik
Meliputi pola makan yang sehat dan benar, kebersihan diri dan lingkungan, perawatan tubuh, penjagaan penampilan.

4. Persiapan ma’isyah
Lebih ke arah kesiapan mencari nafkah -tidak harus mapan dulu, asal punya kemauan untuk mapan-, punya skill dan keahlian.

5. Persiapan psikis/mental
Meliputi pengkondisian diri menerima orang lain dalam hidupnya, pengkondisian keluarga dan sosial.

Sebenarnya masih banyak, itu yang ada di pikiranku aja. Kalau ada yang mau nambahin silakan.