Tiga Kali ke Klinik ITB
Rasa sakit di dada hilang, berpindah ke perut bagian kanan. Rasa sakit ini hanya datang tiap malam sekitar jam 10 malam, keesokan harinya aku tidak merasa sakit sama sekali. Aku sempat berpikir dan takut, jangan-jangan aku terkena usus buntu.
Klimaksnya, pada hari Minggu, 8 Juli seharian aku demam sangat tinggi. Seumur hidup baru kali ini aku merasa tubuhku sepanas ini. Sayangnya aku ga punya termometer, aku perkirakan suhu tubuhku di atas 40 derajat.
Keesokan harinya, Senin, 9 Juli aku ke Klinik ITB. Oleh dokternya aku didiagnosis terkena radang usus. Bukan usus buntu, kalau usus buntu itu sakitnya di perut bagian kanan bawah, sedangkan aku di kanan atas. Aku pun diberi obat.
Setelah minum obat, rasa sakit di perutku hilang namun panas badanku tak kunjung turun. Anehnya, panas tubuhku hanya terjadi pada malam hari. Aku merasa tubuhku serasa menjadi seterika, panaaaass sekali.
Jumat, 13 Juli aku ke Klinik ITB lagi, kali ini dokter (yang lain) bilang aku kena tipus. Aku dikasih beberapa obat, termasuk Paracetamol (obat turun panas). Jika kuminum obat tersebut, panas badanku turun, namun 6 jam kemudian badanku memanas kembali.
Senin, 16 Juli aku kembali ke Klinik ITB lagi, dengan keluhan sama ditambah aku menjadi batuk. Dokter (yang lain lagi) mengatakan aku kena asma. Aku pun dikasih obat batuk sekalian disuruh tes darah. Hasil tes darah menunjukkan aku negatif terkena tipus maupun DB.
Malam harinya aku ga bisa tidur, tubuhku memanas kembali. Dan kali ini aku tidak dikasih Paracetamol. Aku coba melakukan terapi mandiri, aku minum air yang banyak, panasku menjadi menurun. Alhasil, dari jam 12 malam sampai jam 6 pagi aku tidak tidur. Aku menghabiskan 2 botol Aqua besar (3 L) air putih, tentu saja selama waktu ini aku puluhan kali bolak-balik ke kamar mandi.
Akhirnya aku menyerah, Selasa, 17 Juli aku minta dibawa ke Hasan Sadikin. Aku udah pasrah nanti di sana aku akan diapain, termasuk disuruh opname.

