Jun
29

Pasca Sidang

Files under Diary | Leave a Comment

Dulu aku punya impian, setelah sidang nanti aku akan ‘bersenang-senang’ selama satu bulan, maksudnya aku ga ingin memeras otak dan keringat terlalu berat selama satu bulan ini, pingin istirahat dulu, pingin nyantai dulu, pingin menyalurkan hobby sepuas-puasnya.

Tapi ternyata… justru pasca sidang ini pikiranku tambah berat. Malam hari, setelah siangnya aku sidang, aku sudah menangis lagi. Ah… kadang aku merasa ‘benci’ pada diriku, kenapa aku begitu melankolis.

Gimana nyantai selama sebulan? Buat daftar wisuda aja bayar Rp 225.000, jilid buku TA habis Rp 53.000, untuk sidang habis Rp 50.000, nyetak foto habis Rp 40.000 (gara-gara salah cetak). Belum lagi tagihan kos yang belum kubayar, padahal kosku udah mau habis dan aku belum punya uang sama sekali untuk bayar.

Duh… semoga tidak stres lagi.

Jun
24

Terima Kasih (lagi)

Files under Diary | Leave a Comment

Aduh, kok lupa ya nyantumin nama Wahyudi Arifandi? Padahal nih orang yang sangat berjasa bagiku. Maaf ya kk, ucapan terima kasihnya aku tulis di blogku aja ya…

Siapa lagi ya yang kelupaan?

Jun
23

Terima Kasih

Files under Diary | Leave a Comment

Bagi yang namanya tak tertulis di bawah ini, nama kalian sudah aku tulis secara tidak langsung kok di nomor 16.

  1. Jajaran staf Program Studi Teknik Informatika ITB, terutama Bapak Rinaldi Munir selaku pembimbing Tugas Akhir ini, Ibu Harlili dan Bapak Kridanto Surendro selaku penguji sidang Tugas Akhir, Bapak Rila Mandala selaku penguji seminar Tugas Akhir, serta Bapak Rasidi, Bapak Ade, dan Ibu Tita selaku pegawai tata usaha.
  2. Ibunda dan Ayahanda, atas segala didikan, pengorbanan, restu, dan kasihnya.
  3. Kakak-kakak penulis, Mas Freddy, Mbak Diena, Mbak Asih, serta keponakan penulis, Dik Hasnan dan Dik Husna.
  4. Keluarga Bapak Sunaryo di Bandung.
  5. Keluarga Bapak Sukiman dan Ibu Lili di Bandung.
  6. Mas S*** di M***, atas doa dan semangatnya.
  7. Sahabat seperjuangan : Iwan B.K., Bistok, dan Vantonny.
  8. Teman-teman IF’00 : Katini, Angga, Habib, Helmy, Devina, Ita, Nia, Yunita, Endang, Agus, Anil, dan Lukas.
  9. Adik-adik kelas penulis : Farah, Inoi, Yoga, Sandy, Anita, dan Izza.
  10. Sahabat-sahabat penulis : Mbak Niken dan Mas Arif, Diana, Nia, Dik Shofi, Taufik, Nugroho, dan Karso.
  11. Afrendy Bayu dan Maliki, yang telah menghadiri seminar Tugas Akhir penulis.
  12. Teman-teman Gamais ’00 : Ika, Lia, Nina, Ika Yanti, Nita, Hera, Fahdiana, dan Ami.
  13. Segenap staf ComLabs ITB : Mas Iyan, Mas Arief, Mas Moel, Mas Okky, Kang Nana, Kang Asep, Mbak Nur, Mbak Dewi, Iwan, Iban, dan Kang Dede.
  14. Teman-teman ComLabs ITB : Novi, Indri, Tina, Meidya, Wisnu, Bagus, Feri, Kamal, Hendra, Mas Mochamad, Rizky, Koko, Andra, dan Fajar.
  15. Teman-teman kos yang selalu ceria : Mbak Dwi, Mbak Bainah, Ary, Vitta, Esti, Rina, Arha, Evi, Dini, Iim, Purwanti, dan Dwi.
  16. Dan pihak-pihak lain yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.
Jun
11

Susahnya Nabung

Files under Diary | Leave a Comment

Dulu waktu SD aku ini rajin menabung, tapi sekarang susahnya minta ampun. Padahal rekening tabungan aku punya beberapa, tapi semuanya sama, saldo hanya beberapa ribu rupiah. Ya, gimana donk, tiap aku ke bank untuk menabung, pasti keesokan harinya aku ke ATM untuk mengambilnya. Aku ini paling ga tahan nyimpen uang di bank (apalagi di dompet), pasti tiap ada uang sisa aku selalu tergoda untuk beli buku.

Sejak kelas 5 SD aku udah terbiasa dikasih uang saku per bulan. Uang saku pertamaku adalah Rp 5000 per bulan. Kemudian mulai meningkat, waktu SMA uang sakuku Rp 50.000 per bulan. Waktu SMA juga bisa dibilang aku masih rajin menabung.

Menginjak bangku kuliah, aku menuntut meminta uang saku Rp 500.000 per bulan. Mulai saat itu aku kenal yang namanya buku, dan sejak itulah aku tidak lagi rajin menabung. Tapi alhamdulillah uang saku selalu cukup, aku boleh dibilang orang yang sangat hemat untuk makan.

Beberapa tahun terakhir ini, aku tidak meminta uang saku lagi, meski kadang orang tua ga ‘tega’ -karena aku satu-satunya anak yang hidup di rantau- kalau aku ga dikasih uang saku, jadi kadang sering dikirimi. Ya, aku seneng-seneng aja dikirimi uang saku (baca: berharap), meski aku ga mau minta. [tak terhitung terima kasih buat almarhum ibu, yang sering merasa tidak tega anaknya tanpa uang saku]

Beberapa tahun terakhir inilah, aku mulai kenal yang namanya hutang-piutang. Ga tanggung-tanggung, kalau dulu paling pinjam uang Rp 20.000 ke teman kosku saat kiriman belum datang, sekarang aku dah berani pinjam uang dalam jumlah jutaan. Saat aku pindah kontrakan baru, beli laptop, semuanya berkat bantuan temanku yang baik sekali padaku mau pinjemin aku uang. Ya, aku kini merasa bahwa hidup paling tidak enak adalah saat kita punya hutang, hati merasa tak tenang, sering mikir kalau misalnya aku mati besok siapa yang bayar utangku, kalau ga dibayar kan berarti aku dosa. Aku kapok punya hutang, saat ini aku mencoba semaksimal mungkin ga akan berhutang lagi, kapok!! [buat teman yang pernah ngasih piutang, kalau kamu baca tulisan ini, makasih banget ya... udah banyak membantuku 'hidup', aku janji deh ga akan berhutang lagi, semoga Allah membalas kebaikan padamu. amin]

Kata temenku, sebaiknya kita bikin rencana keuangan tiap bulan. Justru inilah, rencana keuanganku tak tentu. Yang aku bikin sih malah rencana pembelian buku tiap bulan. Sebenarnya pengeluaran pokokku tiap bulan ga begitu besar. Untuk makan paling aku habis Rp 50.000 per minggu, jadinya sekitar Rp 200.000 per bulan. Alhamdulillah aku udah biasa puasa Senin-Kamis atau Daud. Ya, kalau diirit-irit seirit-irit mungkin, aku cukup dengan pengeluaran Rp 300.000 per bulan, di luar biaya kos (kosku aku bayar per tahun). Toh kosku dekat dengan kampus, jadi ga ngluarin uang transport. Aku juga ga pernah punya agenda belanja bulanan -seperti yang sering dikatakan teman-temanku- aku beli sabun ya ketika sabun itu habis, aku beli pasta gigi ya ketika pasta gigiku udah habis, itupun belinya di minimarket dekat kos. Aku paling males kalau pergi ke supermarket apalagi hipermarket.

Nah, yang bikin susah nabung itu, karena begitu besar gharizahku untuk beli buku dan teman-temannya. Sebulan aku bisa habis Rp 200.000 bahkan lebih untuk beli buku, majalah, dan sebangsanya. Ya, buku adalah hartaku yang paling berharga. Investasi masa depan, aku beli buku bukan untuk kubaca sendiri, melainkan bakal kuwariskan untuk anak-anakku dan keluargaku kelak.

Jun
1

Diary

Files under Diary | Leave a Comment

Suka nulis diary? Semacam tulisan berisikan catatan-catatan harian. Aku ga ingat berapa diary yang telah kumiliki, dan semuanya bernasib tragis, kusobek-sobek dan kubuang ke tempat sampah.

Entah kenapa, dulu pas jaman SD bahkan sampai SMA, kalau aku ultah temen-temenku suka ngasih aku kado diary.

Pertama kali aku nulis diary pas SD, kelas empat kalau ga salah. Dan isi diaryku bener-bener tulisan anak SD. Misal, hari ini ulangan matematika, hari ini nonton film kartun Tazmania di TV, dan tentu saja tulisan-tulisan tentang cinta monyet.

Ya, seperti kubilang tadi, diary-diaryku selalu bernasib tragis. Beberapa hari atau bulan setelah aku tulisi, aku baca kembali, dan dengan penuh emosi kusobek-sobek tulisan yang aku anggap ga mutu itu.

Kelas 3 SMP, aku beli diary yang ada gemboknya, dan selalu kusembunyikan biar orang lain ga ada yang tau. Aku isi diary itu dengan foto-fotoku, foto temen-temenku, dan juga cerita-ceritaku yang super duper mellow -waktu itu aku belum tau arti istilah mellow- Dan hasilnya, diary itu aku sobek-sobek dan kumasukkan ke tempat sampah tepat 3 jam lalu, ya 3 jam sebelum aku menulis postingan ini.

Ah sudahlah, diary-diary itu penuh dengan kisahku di jaman jahiliyahku dulu. Biarlah kenangan tersebut hilang, karena terlalu memalukan untuk diingat.

Kalau sekarang, aku punya diary online, yaitu blog ini. Mau kuhapus? Ga bakal deh.. :D