Feb
26

Workshop dan Product Selling IEC2

Files under Perjalanan | Leave a Comment

Jumat-Minggu, 23-25 Februari 2007 lalu, 35 tim dari penjuru tanah air berkumpul di ITB untuk mengikuti serangkaian acara Workshop dan Product Selling IEC2. Kami adalah 35 semifinalis dalam lomba IEC2, suatu lomba inovasi bisnis yang diselenggarakan oleh KM ITB. Alhamdulillah, kami telah berhasil menyisihkan lawan-lawan kami dari total 224 tim.

Adalah aku, Nugroho, Bayu, Dendy, Dhani, dan Tina, tergabung dalam sebuah tim, eh bukan … lebih tepatnya asalnya 4 buah tim. Satu bulan yang lalu kami mengirimkan 4 buah proposal bisnis. Tiga proposal dari ideku, yaitu Islamic Tamagotchi, Sari Jeruk Nipis dalam Botol, dan Tepung Telur. Sebenarnya hanya ide pertama lah yang benar-benar tercetus dari dalam pikiranku, dua ide yang lain aku dapatkan setelah browsing-browsing di internet. Proposal terakhir adalah ide dari Bayu, yaitu Bazigur’s Bandoenk’.

Boleh dikata kami kurang memiliki perencanaan dalam mengikuti lomba ini. Publikasi lomba ini sudah ada sejak 2 bulan yang lalu, tapi tim kami baru terbentuk beberapa hari sebelum deadline pendaftaran. Proposal pun baru selesai dibuat dan kami kirim beberapa jam sebelum deadline pengumpulan.

Alhamdulillah, akhirnya ada satu proposal kami yang lolos semifinal, yaitu Islamic Tamagotchi, proposal yang berasal dari ideku. Tidak sia-sia kami mengeluarkan uang Rp 80.000,- untuk biaya pendaftaran lomba.

Beginilah kalau kegiatan dilaksanakan di kampus sendiri, selama tiga hari perwakilan dari timku pun estafet. Aku kebetulan di hari Jumat ga bisa ikut, jadi digantiin yang lain, demikian juga yang lain. Jadi intinya selama tiga hari itu, tim kami ganti-ganti orang untuk mengikuti acara ini.

Hari Sabtu dan Ahad acara Product Selling, di acara ini sudah tidak boleh ganti-ganti orang lagi. Jadilah aku dan Nugroho yang ikut, meski terpaksa kami membatalkan acara lain kami, karena yang lain lebih ga bisa ikut.

Sabtu sore kami diajak pergi ke Giant Pasteur, kami diberi waktu 2 jam untuk berbelanja dengan jatah Rp 200.000,- per tim. Untuk kemudian pada malam harinya, belanjaan kami diolah, dan keesokan harinya kami jual.

Ini pertama kalinya aku berbelanja bahan makanan sampai hampir habis Rp 200.000,- dalam satu hari, kalau belanja buku sampai habis Rp 200.000,- dalam satu hari sih udah sering. Untung aja belanjanya ga pakai uang sendiri, kalau pakai uang sendiri ga mau lah.

Bingung juga nih kami mau belanja apa. Akhirnya setelah putar sana putar sini sambil berdiskusi panjang lebar, kami membeli [SENSOR], [SENSOR], dan [SENSOR].

Karena bahan yang kami beli berupa [SENSOR], jadi baru bisa kami olah besok paginya, dan itu artinya … aku harus kerja sendiri. Karena tentu saja asrama putra dan putri dipisah. Urgh … kerja sendiri, bayangkan! Tim lain sih enak, mereka bisa mengolah bahannya malam ini juga.

Sebelum tidur aku berpesan ke panitia agar dibangunkan jam 3 pagi. Karena dompet dan HP disita panitia, jadi aku ga punya alarm. Ternyata oh ternyata … panitianya ga bangunin aku, aku pun bangun kesiangan, jam 4 pagi. Panik deh rasanya membayangkan tim lain udah siap, tapi timku belum sendiri.

Langsung aja aku kerja keras mengolah bahan-bahanku. Alhamdulillah, ada Fitra dari tim lain, yang satu kamar denganku, bantuin aku. Akhirnya sampai jam 6 pagi persiapanku belum selesai, tapi karena sudah dikejar-kejar panitia jadi aku sudahi saja. Tanpa sempat mandi, aku langsung menuju bis yang sudah menanti dan menuju kampus ITB.

Kami diberi waktu sekitar 4 jam untuk menjual produk kami. Ini juga pengalaman pertamaku jualan di Sabuga, kalau jualan di tempat lain sih udah pernah dulu. Saingan penjual ya teman sendiri dalam lomba ini. Ah, hasil yang kudapat sangat buruk. Omzet penjualan sangat jauh di bawah target dari panitia. Ya sudahlah, kayanya tim-tim yang lain pun banyak mengalami hal serupa.

Acara selanjutnya adalah membuat laporan keuangan. Ternyata laporannya sangat simple bentuknya, padahal timku udah menyiapkan perhitungan yang mendetail, sampai HPP segala dan sebagainya, ternyata tidak terpakai.

Acara terakhir adalah workshop tentang Pemasaran, dan diakhiri dengan foto bersama. Nah ini fotonya.

Serangkaian acara Workshop dan Product Selling IEC2 telah berakhir. Aku senang bisa menambah ilmuku dan juga menambah teman-teman baru.

Tugas selanjutnya adalah membuat Business Plan, yang harus dikumpulkan paling lambat tanggal 12 Maret 2007.

**Aku punya referensi situs bagus, yang isinya tentang ide-ide bisnis. Kebanyakan isinya tentang bisnis yang sudah ada di luar negeri tapi belum ada di Indonesia. Silakan buka http://budea.com.

Feb
17

Virus tktq.net

Files under Diary | Leave a Comment

Berawal dari email seorang teman yang dikirim ke milis SMAku, aku kerajingan untuk mengerjakan permainan di tktq.net. Terlebih saat aku memajang status di YMku tentang permainan ini, teman-temanku di ComLabs pun terserang virus ini.

Ini adalah permainan yang mengasyikkan. Permainan ini memiliki level yang semakin lama semakin sulit. Untuk berpindah ke level berikutnya, kita harus menuliskan jawaban kita pada URL kita. Jika jawaban kita benar, maka akan membawa kita ke soal level berikutnya.

Pada permainan ini juga terdapat sebuah forum, di mana anggotanya dapat saling memberikan clue. Dan tentu saja clue-clue yang terlalu mengarah pada jawaban, akan disensor oleh adminnya.

Waktu pertama kali main, baru sampai level 19.
Hari ini udah sampai level 31, sistem kebut dalam sehari ^_^

Menurutku permainan ini sangat bagus, bisa mencerdaskan diri sendiri, setidaknya melatih otak untuk berpikir hal-hal logis setelah sekian lama istirahat. Tapi hati-hati, sekali main bisa bikin ketagihan, bisa bikin kita lupa waktu, lupa untuk mengerjakan hal-hal lain. Karena itu, pikirkan dulu baik-baik jika ingin mengikuti permainan ini.

**Ternyata tktq.net itu ikutan-ikutan dari teka-teki sebelumnya yang sudah ada. Coba lihat kedua teka-teki ini : Godtower dan Notporn. Kedua teka-teki tersebut mirip dengan tktq.net. Parahnya, banyak orang yang posting di internet tentang jawaban kedua teka-teki tersebut, ah jadi ga seru. Aku sih memprediksikan bentar lagi pasti juga bakal banyak orang yang posting jawaban tktq.net.

Feb
14

Mahar

Hari Ahad kemarin adalah hari yang membahagiakanku. Aku bertemu kembali dengan sahabat lamaku yang telah berpisah selama 1.5 tahun. Sahabatku itu Insya Allah akan menikah tanggal 23 Februari 2007 nanti.

“Sebenarnya mau ngasih Rp 23.022.007,00 tapi berhubung ga punya uang segitu, jadi diturunin jadi Rp 230.207,00.” katanya. Jumlah uang itu sama dengan tanggal pernikahan mereka.

Ketika temanku tersebut mampir ke kosanku dan kami ngobrol berdua di dalam kamarku, terjadil dialog sbb:
Aku : “Maharmu apa lagi selain uang?”
Temenku : “Emas” (aku lupa tidak menanyakan berapa gramnya)
Aku : “Apa lagi?”
Temenku : “Seperangkat alat shalat”
Aku : “Berupa apa?”
Temenku : “Sajadah, mukena, dan Al Qur’an”
Aku : “Al Qur’an yang seperti apa?”
Temenku : “Yang ada tajwidnya”
Aku : “Ooo… yang warna-warni itu ya?”
Temenku : “Iya” (hmm… ini kan Qur’an impianku juga)
Aku : “Kamu ga minta mahar hafalan Qur’an?”
Temenku : “Hafalan QS. Ar-Rahman”
Aku : “Udah hafal belum?”
Temenku : “Belum”

Aku kagum pada temanku tersebut. Ya … aku selalu kagum pada siapa saja yang menyertakan hafalan Al Qur’an sebagai salah satu mahar pernikahannya. Meski harus ‘dihutang’ karena belum hafal.

Sebagai wanita, wajar kalau biasanya wanita meminta mahar berupa uang, perhiasan atau harta lainnya. Dan itu sah-sah aja. Bukankah wanita itu makhluk yang mencintai keindahan? Namun ada hadist yang mengatakan bahwa wanita yang paling berkah adalah yang paling ringan maharnya. Ingat kisah Ummu Sulaim dan Abu Thalhah kan? Aku sangat kagum dengan Ummu Sulaim, beliau hanya meminta mahar berupa keislaman Abu Thalhah, padahal Abu Thalhah itu laki-laki yang kaya raya.

Apa sih sebenarnya arti mahar itu? Menurut pemahaman banyak orang, mahar berarti suatu kewajiban bagi laki-laki terhadap perempuan yang akan dinikahinya. Tidak ada batasan tertentu dalam pemberian mahar ini. Namun menurutku, mahar lebih dari sekedar pemberian untuk memenuhi kewajiban. Menurutku mahar bermakna simbol pernikahan, seperti apakah pernikahan yang kita harapkan.

Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan dengan tulisanku ini. Aku pribadi kurang begitu memilih mahar berupa benda-benda materi, seperti uang, perhiasan, dan harta lainnya. Mahar yang paling aku sukai adalah hafalan Al Qur’an. Aku menganggap mahar adalah “harta” yang digunakan calon suami kita untuk “membeli” kita dari orang tua kita. Tinggal kita nilai sendiri, seberapa berhargakah diri kita? Apakah diri kita bisa “dibeli” dengan uang? Ataukah diri kita begitu mahal harganya, sehingga uangpun tidak cukup untuk membelinya.

Banyak orang menikah menjadikan Al Qur’an dan seperangkat alat shalat sebagai maharnya. Akan tetapi betapa sayangnya jika Al Qur’an dan alat shalat tersebut hanya dipajang, tidak pernah dibaca atau digunakan. Sungguh keliru dengan makna yang terkandung di dalamnya. Mahar berupa Al Qur’an dan seperangkat alat shalat tentu saja bermakna bahwa rumah tangga yang dibangun haruslah dihidupkan dengan bacaan Al Qur’an dan ibadah kepada Allah. Salah besar jika mahar tersebut malah dijadikan pajangan atau disimpan di tempat yang rapat supaya tidak mudah rusak.

Feb
8

Jalan-jalan ComLabs 2007

Files under Perjalanan | Leave a Comment

Ahad, 28 Januari 2007 lalu kembali ComLabs mengadakan acara jalan-jalan. Kali ini tujuannya ke Curug Layung dan Curug Cimahi. Cerita lengkapnya silakan baca di tulisan Narpen ini.

Hmm… agaknya ada yang ngefans sama aku nih, sampai-sampai fotoku dipajang dan dibahas di blognya ^_^