Di suatu sore hari, aku sedang duduk-duduk di koridor Salman. Pandanganku tertuju pada mahasiswa -tentunya aktivis-aktivis Salman- yang sedang rapat di sepanjang koridor timur Salman.
===OOT MODE ON===
Kangen!! Aku merasakan hal itu. Aku kangen sekali.
3-4 tahun silam, minimal satu pekan sekali aku selalu mengunjungi koridor timur Salman ini, untuk melakukan satu aktivitas yang terkadang menjemukan dan bikin ngantuk, yaitu rapat.
Siapa bakal menyangka bahwa aku adalah pemegang rekor pencetus rapat paling pagi di sebuah organisasi yang aku ikuti pada jamanku dulu. Sebenarnya waktu itu ceritanya begini. Aku mau ngadain rapat X pukul 06.00 (jam segini adalah jam biasa bagi kami untuk rapat, karena susahnya mencocokkan jam antar kami), tapi ternyata ada rapat Y pukul 06.00 juga yang harus aku (dan beberapa anak buahku) hadiri. Jadi, langsung saja aku majukan jam rapat X menjadi pukul 05.45. Alhamdulillah, banyak juga yang datang tepat waktu, meski kenyataannya rapat tersebut baru bisa dimulai pukul 05.50.
===OOT MODE OFF===
Itu tadi sekedar intermezzo aja, masalah kangen rapat sudah sedikit terobati dengan sering-sering main ke koridor Salman ini, walau cuma ngelihatin orang rapat -hah, kurang kerjaan banget-, tapi setidaknya itu sudah sedikit mengobati rasa kangenku.
Nah, inti postinganku kali ini aku ingin bercerita tentang pengalamanku saat sedang duduk-duduk di sini. Saat aku sedang duduk sendirian, aku didatangi seorang laki-laki, penampilannya gondrong dan tidak rapi. Dari penampilannya aku males menanggapi dia, tapi ga enak kalau bikin orang lain kecewa.
Dia bilang bahwa sebentar lagi ada peluncuran buku di Telkom (kalau aku ga salah denger sih), dia mengundangku untuk datang. Dia juga meminta alamat emailku dan dia ingin memberiku alamat emailnya. Pikirku saat itu, buat apa sih dia ngasih emailnya segala, kaya dia orang terkenal aja.
Dia tanya apakah aku punya kertas, aku bilang ga punya karena waktu itu aku memang ga punya kertas. Kebetulan waktu itu aku sedang memegang sebuah leaflet atau buletin kecil, dia langsung bilang “Boleh saya tulis di sini?” sambil menunjuk kertas yang aku pegang. Aku bilang aja silakan. Dan dia pun menuliskan emailnya di kertas itu. Eh, ternyata dia tidak cuma minta emailku, nomer HP ku pun dimintanya. Katanya biar bisa ngasih info kalau ada buku-buku baru. Ya sudah, aku kasih aja. Lumayan kan kalau sering dapat info buku baru.
Di suatu hari aku menerima sebuah sms yang ternyata dari orang itu, dia bilang akan ada acara peluncuran novel pertamanya. Aku hanya mengucapkan selamat saja, selanjutnya aku ga peduli, waktu itu aku memang lagi kurang mood untuk urusan kaya gini.
Beberapa bulan setelah pertemuanku dengannya, aku mendengar ada sebuah novel baru yang akhir-akhir ini sering dibedah, yang tentu saja menjadi novel best seller dalam waktu singkat. Aku cari-cari referensinya, ternyata benar novel ini benar-benar bagus. Aku pun memasukkan novel ini dalam daftar-buku-yang-ingin-aku-beli-nanti-kalau-aku-udah-punya-uang, tapi karena harganya mahal jadi aku belum bisa beli.
Beberapa waktu kemudian novel tersebut dibedah dalam sebuah acara bedah buku di ITB. Tentu saja aku datang, karena aku sangat penasaran dengan penulis novel tersebut. Terlebih di acara tersebut juga dihadiri oleh Gola Gong, penulis terkenal yang buku-bukunya sudah membanjiri pasaran.
Saat aku datang ke acara tersebut, ternyata oh ternyata… penulis novel itu adalah orang yang dulu aku temui di koridor Salman, yang dulu aku ‘mencuekinnya’, yang dulu aku agak malas menanggapinya. Penulis novel itu, tak lain dan tak bukan… adalah Andrea Hirata, dan novel yang sedang dibedah itu adalah Laskar Pelangi.
[the end]
[Sampai saat ini novel Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi (novel kedua Andrea Hirata) tetap menduduki posisi teratas dalam daftar-buku-yang-ingin-aku-beli-nanti-kalau-aku-udah-punya-uang]
