Jan
29

Tentang Seorang Lelaki Gondrong

Files under Diary | Leave a Comment

Di suatu sore hari, aku sedang duduk-duduk di koridor Salman. Pandanganku tertuju pada mahasiswa -tentunya aktivis-aktivis Salman- yang sedang rapat di sepanjang koridor timur Salman.

===OOT MODE ON===
Kangen!! Aku merasakan hal itu. Aku kangen sekali.

3-4 tahun silam, minimal satu pekan sekali aku selalu mengunjungi koridor timur Salman ini, untuk melakukan satu aktivitas yang terkadang menjemukan dan bikin ngantuk, yaitu rapat.

Siapa bakal menyangka bahwa aku adalah pemegang rekor pencetus rapat paling pagi di sebuah organisasi yang aku ikuti pada jamanku dulu. Sebenarnya waktu itu ceritanya begini. Aku mau ngadain rapat X pukul 06.00 (jam segini adalah jam biasa bagi kami untuk rapat, karena susahnya mencocokkan jam antar kami), tapi ternyata ada rapat Y pukul 06.00 juga yang harus aku (dan beberapa anak buahku) hadiri. Jadi, langsung saja aku majukan jam rapat X menjadi pukul 05.45. Alhamdulillah, banyak juga yang datang tepat waktu, meski kenyataannya rapat tersebut baru bisa dimulai pukul 05.50.
===OOT MODE OFF===

Itu tadi sekedar intermezzo aja, masalah kangen rapat sudah sedikit terobati dengan sering-sering main ke koridor Salman ini, walau cuma ngelihatin orang rapat -hah, kurang kerjaan banget-, tapi setidaknya itu sudah sedikit mengobati rasa kangenku.

Nah, inti postinganku kali ini aku ingin bercerita tentang pengalamanku saat sedang duduk-duduk di sini. Saat aku sedang duduk sendirian, aku didatangi seorang laki-laki, penampilannya gondrong dan tidak rapi. Dari penampilannya aku males menanggapi dia, tapi ga enak kalau bikin orang lain kecewa.

Dia bilang bahwa sebentar lagi ada peluncuran buku di Telkom (kalau aku ga salah denger sih), dia mengundangku untuk datang. Dia juga meminta alamat emailku dan dia ingin memberiku alamat emailnya. Pikirku saat itu, buat apa sih dia ngasih emailnya segala, kaya dia orang terkenal aja.

Dia tanya apakah aku punya kertas, aku bilang ga punya karena waktu itu aku memang ga punya kertas. Kebetulan waktu itu aku sedang memegang sebuah leaflet atau buletin kecil, dia langsung bilang “Boleh saya tulis di sini?” sambil menunjuk kertas yang aku pegang. Aku bilang aja silakan. Dan dia pun menuliskan emailnya di kertas itu. Eh, ternyata dia tidak cuma minta emailku, nomer HP ku pun dimintanya. Katanya biar bisa ngasih info kalau ada buku-buku baru. Ya sudah, aku kasih aja. Lumayan kan kalau sering dapat info buku baru.

Di suatu hari aku menerima sebuah sms yang ternyata dari orang itu, dia bilang akan ada acara peluncuran novel pertamanya. Aku hanya mengucapkan selamat saja, selanjutnya aku ga peduli, waktu itu aku memang lagi kurang mood untuk urusan kaya gini.

Beberapa bulan setelah pertemuanku dengannya, aku mendengar ada sebuah novel baru yang akhir-akhir ini sering dibedah, yang tentu saja menjadi novel best seller dalam waktu singkat. Aku cari-cari referensinya, ternyata benar novel ini benar-benar bagus. Aku pun memasukkan novel ini dalam daftar-buku-yang-ingin-aku-beli-nanti-kalau-aku-udah-punya-uang, tapi karena harganya mahal jadi aku belum bisa beli.

Beberapa waktu kemudian novel tersebut dibedah dalam sebuah acara bedah buku di ITB. Tentu saja aku datang, karena aku sangat penasaran dengan penulis novel tersebut. Terlebih di acara tersebut juga dihadiri oleh Gola Gong, penulis terkenal yang buku-bukunya sudah membanjiri pasaran.

Saat aku datang ke acara tersebut, ternyata oh ternyata… penulis novel itu adalah orang yang dulu aku temui di koridor Salman, yang dulu aku ‘mencuekinnya’, yang dulu aku agak malas menanggapinya. Penulis novel itu, tak lain dan tak bukan… adalah Andrea Hirata, dan novel yang sedang dibedah itu adalah Laskar Pelangi.

[the end]

[Sampai saat ini novel Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi (novel kedua Andrea Hirata) tetap menduduki posisi teratas dalam daftar-buku-yang-ingin-aku-beli-nanti-kalau-aku-udah-punya-uang]

Jan
18

Are You Lucky?

Files under Blog | Leave a Comment

Ini adalah postingan yang aku bikin dadakan, setelah melihat counter blogku sudah mencapai angka 9960. Pikirku, misi ini harus segera dilaksanakan.

Aku ingin memberi hadiah kepada pengunjung ke 10000 blogku ini.

Jadi, bagi kalian yang saat ini sedang membaca blogku, silakan lihat counter yang ada di bagian paling bawah sidebar, lihat angka berapa yang muncul.

Jika angka yang muncul adalah angka 010000, berarti Anda lah yang beruntung, menjadi pengunjung ke 10000 blogku.

Aku akan memberi hadiah kepada Anda -yang beruntung- dengan syarat Anda harus menunjukkan buktinya kepada saya.

OK…. OK….

=======================================

FAQ (Frequently Asked Question)

Q : Cara menunjukkan buktinya gimana?
A : Terserah Anda lah…

Q : Hadiahnya apa nih?
A : Terserah gue lah… hehehe… pokoknya nanti dilarang protes!!!

Jan
14

Ini yang Terbaik (bagian 4-tamat)

Files under Diary | Leave a Comment

Tulisan ini sudah pernah aku posting di sini, namun kembali aku edit dengan tambahan 3 tulisan sebelumnya. Bagi yang baru pertama kali mengunjungi blogku, silakan baca dulu 3 tulisanku sebelumnya.
—–

3 Januari 2007

Malam ini adalah malam pertama yang aku lalui tanpa ibu. Dan tentu saja malam ini adalah malam pertama ibuku di alam barzah. Seperti apakah di alam barzah sana? Tentu saja aku tidak tau. Aku berdoa semoga Allah memudahkan ibuku dalam menjawab pertanyaan di alam kubur, dan dijauhkan dari siksa kubur.

Malam ini aku tak bisa tidur, padahal tadi siang aku capek sekali. Aku ingin bercerita tentang pengalamanku sepanjang hari ini.

Aku mendapat berita bahwa ibuku meninggal dunia tadi pagi. SMS dari kakakku baru aku terima 1 jam setelah dikirim, tentu saja karena di kamarku jarang ada sinyal im3. Setelah menerima SMS dari kakakku, langsung saja aku telpon bulikku dan bulikku bilang aku akan segera dijemputnya untuk selanjutnya bersama-sama pulang ke Yogya.

Setelah itu aku langsung mandi dan mencuci bajuku. Maklum aku masih punya rendaman baju semalam, ga enak rasanya mudik sambil ninggali rendaman baju. Belum lagi tadi malam aku ga bisa tidur karena dispenserku bocor. Air galon yang kemarin sore masih penuh kini tinggal seperempatnya, sementara lantai kamarku tergenangi air, seperti kebanjiran. Jadi semalam aku sering-sering bangun untuk mengecek dan membetulkan letak dispenserku. Dan pagi ini aku tak punya banyak waktu untuk mengurusi dispenser ini. Aku biarkan aja airnya terus membanjiri kamarku, kalau aku pikir sih airnya tinggal seperempat galon, jadi bentar lagi juga pasti berhenti.

Setelah menjemur baju, bulikku pun datang. Aku langsung pergi bersama bulikku, paklikku, sepupuku, dan semua saudaraku yang di Bandung ini menuju Yogya. Sebenarnya aku ga suka melakukan perjalanan jauh naik mobil, kepalaku sering pusing kalau kelamaan naik mobil atau bis. Aku lebih suka naik kereta, kereta adalah satu-satunya kendaraan yang tidak pernah membuatku mabuk (selain becak tentunya).

Mobil dipacu dengan kencang, karena kata kakakku ibu akan dimakamkan jam 2 siang, sementara kami baru berangkat dari Bandung jam setengah 9 pagi.

Sudah kuduga hal ini akan terjadi. Semalam tak nyeyak tidur, makan pagi terlambat, sepanjang perjalanan aku menahan pusing. Mungkin lain kali aku harus minum Antimo sebelum melakukan perjalanan jauh. Makanan-makanan yang masuk ke perutku sepanjang perjalanan ini tak terasa nikmat. Keinginanku hanya satu, cepat sampai di tujuan.

Ibuku pasti sudah dimakamkan saat aku tiba, jadi aku tidak akan sempat menshalatkan ibuku. Agak sedih juga, seorang anak tidak bisa menshalati jenazah ibunya. Tapi tak mengapa, nanti saja shalat ghaib di rumah. Lagi pula aku agak-agak lupa bacaan shalat jenazah.

Pukul 4 sore, mobil yang kami tumpangi mulai memasuki proponsi DIY. Kami tidak langsung ke Yogya, tapi ke Ngepringan (di daerah Sleman) karena ibu dimakamkan di sana. Kami langsung menuju makam ibu. Di makam aku hanya membaca doa-doa yang aku hafal. Mata ini tak sanggup menangis, mungkin karena aku masih menahan pusing atau kerena belum bisa menangis.

Selepas dari makam, kami disambut saudara-saudara kami di sana. Karena sudah Maghrib kami segera pulang ke Yogya, ditambah lagi nanti malam di rumahku akan diadakan tahlilan.

Sampai di Yogya sekitar jam 7 malam, capek deh rasanya. Langsung aku mandi dan bantu-bantu nyiapin acara tahlilan.

Hari ini aku tak banyak bicara. Mulut ini sulit untuk berucap. Ah, biasanya di sini ada ibu, tempat melepas segala rasa penatku, tapi sekarang tak ada lagi. Sebagai anak bungsu, boleh dibilang aku kalau di rumah ini sangat manja pada ibuku. Tapi sekarang? Mungkin Allah memang menghendaki aku supaya tidak menjadi anak manja lagi.

Setelah acara tahlilan selesai, aku masih disibukkan dengan membereskan ruangan, dsb. Padahal badanku udah ga enak betul. Pukul 10 malam aku baru bisa bebas. Kurebahkan badanku di tempat tidur. Tempat tidur ini adalah kamarku waktu jaman SMA dulu, dan kamar yang sering digunakan ibuku selama beliau sakit.

Malam ini aku tak bisa tidur. Ada banyak hal yang menyebabkanku tak bisa tidur.

Pertama, kalau aku teringat bahwa malam ini adalah malam pertama ibu di alam kubur. Aku takut. Ya, aku takut membayangkan ibu sendirian di sana. Baru malam ini aku bisa menangis, setelah seharian aku ga bisa nangis.

Kedua, aku teringat masa-masaku dulu. Biasanya aku tidur di kamar ini dan ibu datang untuk menyelimutiku, dan aku selalu menolak untuk diselimuti, karena udara Yogya di malam hari cukup gerah. Ah, sekarang tak ada lagi ibu yang menyelimutiku. Sampai jam 12 malam aku terus menangis sampai aku tertidur.

Dan masih banyak lagi yang tentunya tidak bisa aku sebutkan satu per satu.

Keesokan harinya, aku lalui hari ini tanpa semangat. Hari ini terasa hampa, kekosongan melanda jiwaku. Jadi begini ya rasanya hidup tanpa ibu. Meski sudah bertahun-tahun jadi anak kos dan jauh dari ibu, baru kali ini aku merasa benar-benar “jauh-sekali” dengan ibu. Aku benar-benar merasa kehilangan.

Mengapa begitu cepat aku harus kehilangan ibuku, sementara cita-citaku belum tercapai.
Ibuku pintar masak, sedangkan aku tidak.
Ibuku pintar menjahit, sedangkan aku tidak.
Ibuku cepat pergi sebelum aku sempat belajar darinya.

Aku merasa hari-hariku penuh kekosongan di kota Yogya ini. Itulah sebabnya aku memutuskan segera kembali ke Bandung di hari ketiga. Jadi aku hanya selama 1 hari 2 malam saja di Yogya. Di Bandung aku merasa lebih tenang, ada teman-teman kos yang menemaniku, teman-teman di Comlabs yang bisa membuatku ceria, teman-teman di Salman (meski sekarang jarang kutemui), teman-teman di beberapa majlis ta’lim yang kuikuti, dan tentu saja ada radio MQFM yang setia menemaniku dari jam 4 pagi sampai 12 malam -halah, kok malah iklan-.

Sebelum pulang, aku membuka lemari baju ibuku. Aku cukup beruntung karena aku adalah ‘pewaris tunggal’ baju-baju ibuku. Hiks, pingin nangis lagi deh aku. Saat aku mematut-matutkan diriku dengan baju ibuku di depan cermin. Kalau kalian sekarang sering melihatku dengan baju baru, ketahuilah itu adalah baju-baju ibuku. Biarin kelihatan seperti orang tua, yang penting itu baju yang pernah dipakai orang yang paling aku cintai di dunia ini. Setidaknya aku ga perlu pusing ntar nikah pakai baju apa, kebayanya udah siap dari sekarang kok.

—–
Jika hari ini ibuku dipanggil-NYA, itu karena memang sudah takdir-NYA, sudah ditetapkan dalam Lauhul Mahfuzh-NYA. Bukankah sebelum kita lahir, sudah digariskan oleh Allah tentang usia, jodoh, dan rizki kita? Seperti yang dituliskan-NYA di salah satu ayat favoritku:

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira[1459] terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. Al-Hadid: 22-23)

Kalau Allah memisahkan aku dengan ibuku,
itu karena aku cukup kuat menghadapinya,
aku lebih kuat dari yang lain!!

Dan tentu saja aku yakin, ini yang terbaik bagiku!!

Jan
13

Ini yang Terbaik (bagian 3)

Files under Diary | Leave a Comment

Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisanku sebelumnya. Silakan baca dulu tulisan sebelumnya di bawah postingan ini *biar lebih nyambung*
—–

Kata seorang saudaraku, pemasangan selang bagi penderita hydrocepallus ataupun sejenisnya bersifat fifty-fifty (baca: untung-untungan). Jika sedang beruntung, pemasangan selang hanya dilakukan satu kali dan selang itu dapat digunakan untuk seumur hidup tanpa masalah. Namun jika tidak sedang beruntung, pemasangan selang akan menimbulkan banyak masalah, dan harus sering dilakukan operasi ulang untuk memperbaikinya. Kondisi kedua inilah yang dialami oleh ibuku.

Untuk mempersingkat tulisanku, aku tidak menuliskan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada bulan November dan Desember. Intinya kondisi ibuku tidak menentu, kadang terlihat sehat, kadang harus terbaring di rumah sakit. Yang jelas, ibuku tiga kali harus dioperasi untuk diperbaiki selangnya.

2 Januari 2007

Aku mendapat kabar yang sangat menyedihkan. Kakakku bilang kondisi ibuku semakin memburuk. Sudah tidak bisa makan dan berkomunikasi, kesadaran pun kurang dari 20%. Makan tidak bisa lewat mulut, tapi harus pakai sonde.

Pikiranku menerawang, teringat akan almarhum kakekku yang mengalami hal serupa 2 tahun lalu. Makan harus pakai sonde. Dulu aku sering menangis saat aku ‘menyuapi’ kakekku lewat sonde. Dan sekarang, ibuku yang mengalami hal demikian. Aku tak bisa membayangkan.

Semalam aku menangis. Andaikan penderitaan itu bisa digantikan, aku memilih biarlah aku menggantikan ibuku menjalani penderitaan ini.

Pintaku (pertama) pada Allah, bukankah sakit itu penggugur dosa? Aku meminta gugurkanlah dosa-dosa ibuku melalui sakitnya ini.
Pintaku (kedua) pada Allah, ringankanlah penderitaan ibuku. Aku ikhlas jika KAU ambil ibuku, karena ibuku tak lain adalah milik-MU jua.
Pintaku (ketiga) pada Allah, jika penderitaan ini adalah proses sakaratul maut yang harus dilalui ibuku, maka cepatkanlah prosesnya.

3 Januari 2007

Allah mengabulkan pinta kedua dan ketigaku. Allah ambil kembali ibuku pada pukul 05.24 waktu RS Sardjito Yogya.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (nulisnya yang bener ya… soalnya ada beberapa temanku yang nulis kalimat ini aja salah).

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. (QS. Al-Anbiya’: 35)

—–
(tu bi kontinyud lagi ya…)

Jan
12

Ini yang Terbaik (bagian 2)

Files under Diary | Leave a Comment

10 September 2006

Tanpa rencana sebelumnya, malam ini tiba-tiba aku memutuskan untuk mudik besok. Mudik dadakan lah istilahnya. Setelah beberapa hari sebelumnya mendapat kabar bahwa ibuku sakit.

11 September 2006

Lima tahun tragedi WTC, sebenarnya dalam benak ini ingin bikin postingan tentang konspirasi tragedi tersebut, setelah aku membaca buku yang satu ini, tapi ga jadi. Hari ini aku mudik ke Yogya. Naik kereta api, tuut… tuut… tuut…

14 September 2006

Aku mengantar ibuku ke Rumah Sakit Dr. Sardjito. Di RS ini ternyata penuh orang. Ternyata rumah sakit sudah menjadi salah satu tempat ‘favorit’ orang. Antrinya pun berjam-jam. Setelah antri lama, ibuku pun dipanggil untuk diperiksa.

O ya, aku belum cerita. Ibuku menderita penyakit hydrocepallus, ada cairan di rongga kepala, ga tau bagian mana. Kalau pada bayi biasanya diikuti dengan pembesaran kepala, pasti kalian sering lihat di TV atau media lain kan? Tapi kalau pada orang dewasa tidak diikuti pembesaran kepala.

Gejalanya ditandai dengan pusing-pusing. Tapi bukan pusing biasa, tekanan darah ibuku pun tidak rendah. Sudah 14 kali ibuku mencoba pengobatan alternatif, tapi hasilnya nihil. Dokter menyarankan untuk operasi, tapi ibuku takut. Akhirnya, pada kesempatan ini ibuku pasrah, dan bersedia untuk dioperasi.

Seharian ini aku habiskan waktuku di rumah sakit. Ibuku diambil darahnya (ga tanggung-tanggung tuh ngambilnya), trus di-rontgen, kemudian mencari kamar karena dokter meminta ibuku untuk opname.

Setelah itu, sebelum pulang dulu untuk mengambil baju dan persiapan, kami pergi ke kantin di rumah sakit ini untuk makan. Masih kuingat betul, ibuku memesan soto dan aku memesan somay karena aku lagi malas makan, juga tempe mendoan dan ayam goreng. Aku tak pernah menyangka sebelumnya, bahwa makan ini adalah makan-terakhirku-bersama-ibuku-di-kantin.

Malamnya, aku kembali ke Bandung. Beberapa hari kemudian ibuku dioperasi, dipasangi selang dari kepala ke dada, dan sudah bisa pulang ke rumah.

—–

7 Oktober 2006

Aku masih ingat, malam ini malam 15 Ramadhan, purnama tertutup mendung, semendung hatiku. Sehabis shalat tarawih, aku langsung menuju stasiun. Malam ini kembali aku naik kereta api menuju Yogya. Alhamdulillah, aku tidak begitu mengantuk, rencana semula ingin menambah hafalan Qur’an di kereta bisa terlaksana, meski hanya nambah setengah bagian awal QS. Al-Mursalat (surat terakhir juz 29). Btw, QS. Al-Mursalat ini mirip dengan QS. Ar-Rahman, ada sebuah ayat yang sering diulang-ulang.

8 Oktober 2006

Sampai di Yogya pukul setengah 4 pagi. Tentu saja aku menunggu terang untuk pulang ke rumah, jam segini kan belum ada bis kota. Sayup-sayup terdengar suara Imsak berkumandang, disusul suara azan Subuh. Aku pun shalat subuh di mushola stasiun. Pukul 5 pagi hari sudah agak terang, aku pun pulang ke rumah naik bis kota.

Karena semalam hanya tidur sebentar, sampai rumah aku pun tidur dan baru bangun siang harinya. Aku langsung ke rumah sakit. Ibuku opname lagi karena harus operasi ulang, ada ketidakberesan di selangnya.

Malam ini aku tidur di rumah sakit, tepatnya tidur di atas kursi di samping ibuku. Tentu saja semalam aku tak bisa tidur nyenyak, tidur di atas kursi sangatlah tidak nyaman.

Aku tak pernah menyangka sebelumnya, bahwa malam ini adalah malam-terakhirku-bersama-ibuku-di-rumah-sakit.

—–

24 Oktober 2006 - 2 November 2006

Liburan lebaran, aku mudik ke Yogya. Ibuku di rumah saja, tidak di rumah sakit. Ibuku menghabiskan sebagian besar waktunya di atas tempat tidur, tapi ibuku masih bisa menerima tamu-tamu yang datang ke rumah.

2 November 2006

Saatnya aku kembali ke Bandung. Seperti biasa aku mencium tangan ibuku saat berpamitan. Aku tidak menyangka, bahwa pertemuan kali ini adalah pertemuan-terakhirku-dengan-ibuku-di-dunia-ini.

—–
(tu bi kontinyud)