Feb '06
26

Oleh-oleh dari Pesta Buku Bandung 2006 [3-habis]

Files under Diary | Leave a Comment

“Tebak jumlah judul buku di stan utama Mizan, berhadiah voucher buku senilai satu juta rupiah”

Tulisan tersebut membulatkan tekadku: aku harus menghitung jumlah judul buku di stan Mizan, dengan tepat!

Senin, 6 Februari 2006, aku datang tepat pukul 9 pagi ke gedung Landmark di mana acara Pesta Buku Bandung 2006 sedang berlangsung. Tujuanku cuma satu, menghitung jumlah judul buku di stan Mizan, demi… voucher buku senilai satu juta rupiah!

Tak lupa aku memohon doa restu kepada teman-temanku. “Doakan ya, semoga aku dapat hadiah buku”, demikian sms yang ku kirimkan ke temanku. Aku tak peduli temanku mengerti maksudku atau tidak.

Sengaja aku datang pagi-pagi, untuk menghindari berdesak-desakan dengan sesama pengunjung. Dan memang benar, suasana waktu itu memang sangat sepi. Sehingga memudahkan kosentrasiku untuk menghitung.

Berbekal pulpen dan kertas, aku mulai menggambar sketsa stan Mizan, dengan membaginya dalam empat kuadran. Kemudian aku mulai menghitung jumlah judul buku tiap rak, berhubung aku ga punya kalkulator, maka aku menjumlahkannya dengan kalkulator di HP ku.

Tidak lebih dari 1 jam, aku telah selesai menghitung. Ternyata ada 824 judul buku. Sementara di tanganku ada 2 kupon kuis. Kupon kuis ini kudapatkan setiap aku melakukan transaksi di stan Mizan ini.

Aku lantas berpikir, semakin banyak kupon semakin besar kemungkinan untuk menang kan? Jadi aku beli buku lagi, sengaja aku belinya satu per satu biar dapat banyak kupon.

Akhirnya, 6 kupon ada di tanganku. Aku berpikir, kalau keenam kupon ini atas namaku semua, pasti kemungkinan menangnya kecil. Jadi, aku sms ke beberapa temanku, “Alamat lengkap rumahmu di mana? Aku pinjam donk buat ikut kuis tebak buku.”

Enam kupon dengan enam nama yang berbeda ada di tanganku, sementara form jawabannya masih kosong. Aku bingung mau nulis jawaban berapa. Aku hanya menghitungnya sekali, dan aku malas kalau harus menghitung ulang lagi.

Kembali aku sms ke teman-temanku, lagi-lagi sms ya? Kali ini aku bertanya ke mereka sebaiknya aku ngasih jawaban berapa. Dan akhirnya, dari jawaban-jawaban itu aku analisis mana yang layak aku tulis di kupon.

Keesokan harinya, adalah hari pengumuman pemenang. Tak sabar aku menantinya, bahkan aku sampai bolak-balik ke stan Mizan untuk menanyakan kapan pengumumannya. Hi.. optimis banget ya!

Akhirnya, apa yang aku nantikan tiba juga. Melalui pengeras suara diumumkanlah siapa yang memenangkan kuis ini. Dan ternyata… tak satupun dari nama yang kutulis di kuponku disebut.

Andai kalian tau, bagaimana perasaanku saat itu. Aku merasa sangat kecewa.

……….
……….
……….

Tiada sesuatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Luhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.
(QS.57:22-23)

#agaknya aku tidak berbakat jadi penulis novel, buktinya kalimat-kalimatku di atas kacau banget!


Artikel terkait:
Feb '06
25

On Becoming a Writer

Files under Artikel | Leave a Comment

Barusan dapat tulisan bagus, dari blog teman.

“Tak resep yang lebih baik untuk menjadi penulis, kecuali dengan
menulis sekarang juga.”

“Penulis yang berbakat gagal menemukan banyak alasan untuk tidak
memulai tulisannya, sementara orang-orang yang berbakat sukses selalu
menemukan energi setiap kali gagal.”

“Seringkali yang membuat ujung pena terhenti menuangkan kata adalah
keinginan untuk melahirkan tulisan yang banyak disanjung orang,
sementara yang memecah kebuntuan adalah sikap apa adanya dalam
menuturkan kebenaran.”

“Banyak orang menunggu mood untuk menulis, sementara bagi yang
lainnya mood untuk menulis bangkit karena kuatnya keinginan
menyampaikan kebenaran”

“Andaikata dihadapkan padaku dua penulis, maka aku akan memilih yang
paling gigih. Tnapa bakat orang bisa menjadi penulis hebat. sementara
tanpa kegigihan seorang penulis berbakat tak berarti apa-apa.”

“Masalah yang paling mudah kita tulis apapaun yang kita yakini, kita
alami dan kita rasakan.”

“Seandainya semua orang memiliki kecerdasan yang sama dalam menulis,
maka kesabaranlah yang akan membuat engkau berbeda.”

“Tak ada hari esok bila kita memulai hari ini.”

“Sometimes accident is not accident at all.”

“Tak ada hambatan penulis yang paling besar kecuali ketkautan
dinilai. Tak ada pengendali yang lebih baik kecuali ketakutan menebar
kebatilan.”

“Resep menulis yang paling baik adalah tuangkan saja.”

“Gagasan yang baik sering tak tersampaikan karena kita sibuk
memikirkan bagaimana membuat awalan, Padahal awalan yang baik adalah
gagasan itu sendiri.”

Take from Inspiring words for Writers by Muhammad Fauzil Adhim
Juli 2005


Artikel terkait:
Feb '06
23

Oleh-oleh dari Pesta Buku Bandung 2006 [2]

Files under Buku | Leave a Comment

Sahabat terbaikku bertambah 13 buah.
Musuh terbesarku telah menyita uangku 250 ribu rupiah.

Sahabat terbaikku adalah musuh terbesarku.
Dialah… BUKU!!!


Artikel terkait:
Feb '06
22

Oleh-oleh dari Pesta Buku Bandung 2006 [1]

Files under Buku | Leave a Comment

Setidaknya, aku berhasil membuat seorang temanku iri padaku, hehe… Pasalnya, aku membeli novel The Road to Mecca dengan harga sangat miring. Harga aslinya Jilid I Rp 40.000,- dan Jilid II Rp 45.000,- Tapi di pameran kemarin aku membelinya seharga Rp 20.000,- dan Rp 22.500,- Diskon 50% dari penerbit Mizan.

Makasih buat penerbit Mizan, ntar cerita tentang novel ini kapan-kapan aja ya… :)


Artikel terkait:
Feb '06
21

Tentang Seorang Ikhwan

Kalau ada akhwat yang mempesona itu sih udah biasa, tapi kalau ada ikhwan yang mempesona kan jarang-jarang ada, hehe… Ups, sori! Jaga hati neng!

Tulisan ini terilhami dari salah satu postingan temanku, Adi. Di mana Adi pernah bercerita tentang seorang akhwat yang dijumpainya dalam perjalanan Jakarta-Bandung, akhwat (yang tidak dikenalnya) tersebut telah mengingatkan Adi tentang beberapa hal yang sempat dilupakannya. Mending baca sendiri ya, di postingan Adi ini, sekaligus kenalan sama Adi bagi yang belum kenal. Nih Di, aku bantuin promosi blogmu lho :)

Cerita ini tentang seorang ikhwan, yang aku jumpai dalam perjalanan dari MPI ke DT hari Ahad beberapa pekan yang lalu. Seorang ikhwan yang tidak aku kenal, dan aku pun tidak ingin kenalan dengannya (ngapain lah?)

Seperti biasa, selesai kajian di MPI banyak yang meneruskan untuk ikut kajian di DT. Jarak yang begitu dekat (hanya sekitar 1 km), membuat lebih enak berjalan kaki daripada naik angkot. Ya iya lah, kalau naik angkot kan harus ke jalan Setiabudi dulu.

Nah, waktu itu ada dua orang ikhwan berjalan di depanku. Tentang perawakannya aku udah lupa, ngapain juga nginget-inget! Satu orang di antaranya membuatku ‘terpesona’ karena perbuatannya. Inget ya, ini bukan masalah hati!

Mungkin kalian yang sering ke MPI sudah hafal bahwa di sekitar jalan keluar (Geger Kalong Hilir) ada banyak orang yang memiliki profesi ‘krida lumahing tangan’ (peminta-minta). Nah, si ikhwan tadi selalu ngasih uang ke setiap peminta-minta yang ada. Walau (yang aku lihat dari belakang) hanya sekeping uang untuk satu orang peminta-minta.

Hal ini mengingatkanku. Sudahkah aku bersedekah hari ini? atau bahkan pekan ini? Hmm… aku emang bukan orang yang memiliki banyak uang. Tapi aku jadi inget baju-bajuku di lemari ada beberapa yang jarang aku pakai lagi, buku-bukuku ada beberapa yang udah selesai aku baca, ilmuku ada yang belum aku sampaikan ke orang lain, dan masih banyak lagi.

Cerita selanjutnya, saat ayunan kakiku sampai di jalan Geger Kalong Tengah, ku lihat di tengah jalan ada ranting pohon tergetelak. Ikhwan itu lalu menyingkirkan (baca: menendang) ranting pohon tersebut ke tepi jalan.

Hal ini kembali mengingatkanku akan sebuah hadits “Engkau menyingkirkan sebuah duri di jalan, adalah sedekah”. Ya, sedekah tidak harus berwujud benda, tapi bisa juga perbuatan kita yang memberi kemudahan kepada orang lain. Bahkan senyum kita kepada saudara kita pun sedekah. Aku jadi mikir, hari ini aku udah senyum belum ya?

Ketika hampir sampai DT, kedua ikhwan tersebut mampir ke sebuah warung. Berarti selesai donk kisah ini. Masak aku harus ngikutin masuk ke warung untuk melihat akhlaqnya yang lain, hehe… Ntar niat ke DT nya berubah donk :) Ya sudah, berarti kita berpisah… Kecewa? Nggak lah!

Kejadian ini mengingatkanku akan kata Ali bin Abi Thalib, “Allah tidak mempertemukan kita dengan seseorang, kecuali ada pelajaran yang dapat kita ambil”. Juga taushiyah seorang kawan, “Setiap kejadian bukanlah tanpa makna, melainkan ia adalah tarbiyah dari Allah”.

Syukron, jazakallah akhi… atas ‘pelajaran’ yang telah kau berikan padaku. Semoga Allah senantiasa mengistiqomahkan setiap ayunan langkah kita.


Artikel terkait:
  • Page 1 of 2
  • 1
  • 2
  • >