Dec '05
30

Catatan Akhir Tahun (1): Makna Tahun Baru

Files under Diary | 4 Comments

Ketika aku mengucapkan “Selamat Tahun Baru” kepada seorang temanku, ia berkata “Apa sih makna tahun baru? Apa bedanya tahun baru dengan hari-hari biasa?”

Tahun baru, kenapa harus ada tahun baru?
Kalau ga ada tahun baru, trus setelah bulan Desember bulan apa coba?
Tahun baru, harus ada. Setidaknya sebagai penanda bahwa kita telah melewati masa satu tahun. Bisa juga sebagai penghitung berapa usia kita saat ini. Misal usia kita 20 tahun, itu berarti kita telah 20 kali mengelilingi matahari, gratis lagi.

“Maka nikmat tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?”


Artikel terkait:
Dec '05
30

Catatan Akhir Tahun (2): Tentang Blog

Files under Diary | 1 Comment

Alhamdulillah, saat ini tepat satu tahun aku menjadi seorang blogger. Kucoba membaca ulang tulisan-tulisanku, kata seorang temanku, tulisanku kadang bisa membuatnya tertawa atau terdiam. Tapi kok kalau aku yang baca tulisanku, rasanya aku malu sendiri ya..

Teringat kisah beberapa waktu yang lalu, saat aku mudik aku bongkar lemari belajarku, aku temukan buku diary-ku jaman SD, SMP, SMA dulu. Itu lho, buku diary kecil yang ada gemboknya, yang selalu aku sembunyikan dari siapapun. Kubuka lembar demi lembar, rasanya aku tak sanggup membacanya. Langsung aku sobek-sobek, dan aku buang!!

Satu tahun menjadi blogger, sepertinya blog ini belum bisa disebut blog yang baik. Belum bisa sebagai sarana menyampaikan kebenaran, malah menjadi media peluapan ego dan emosiku. Apakah blog ini akhirnya akan aku delete juga, seperti nasib buku diary-ku jaman sekolah dulu? Ah, doakan aku yang lagi belajar ini ya..


Artikel terkait:
Dec '05
30

Catatan Akhir Tahun (3): Tentang Studi

Files under Diary | 1 Comment

Selama aku menulis di blog ini, aku tak pernah menuliskan masalah studiku. Kenapa ya? Sepertinya aku malu untuk mengatakan bahwa aku masih berstatus sebagai mahasiswa (baca: belum lulus-lulus). Padahal temen-temenku udah banyak yang lulus, nikah, dan punya anak :D

Terima kasih buat teman-teman yang sering ‘menghiburku’:
“Nanti kan akhirnya kamu lulus juga, tinggal tunggu waktu”
“Allah tau yang terbaik bagimu, termasuk kapan kamu lulus”
“Kamu cuma belum ditakdirkan untuk lulus, seperti halnya orang yang belum ditakdirkan untuk dapat jodoh”
“Orang lebih percaya pada mahasiswa ITB daripada alumni ITB lho”

Aku pun kadang juga memiliki rasa untuk membela diri:
“Menjadi mahasiswa ITB itu kan keren, sayang kalau dilepas”
“Aku memang tidak bisa lulus tepat waktu, tapi aku akan lulus pada waktu yang tepat”
dan masih banyak lagi… :)

Ah sudahlah, aku tak ingin berbicara banyak masalah studi, malu!

Buat ’sahabat seperjuanganku’: Niken, Renni, Irma, Anil, Agus, Anas, Zaki BI, yuk semangat.. ga baik lho terlalu cinta sama almamater :D


Artikel terkait:
Dec '05
30

Catatan Akhir Tahun (4): Tentang Sahabat

Files under Diary | Leave a Comment

Alhamdulillah, di tahun 2005 ini aku menemukan banyak sahabat baru. Sahabat di dunia nyata maupun di dunia maya.

Hijrahku dari asrama putri ITB ke kampung Simpang Dago (daerah pasar nih) menjadikan aku memiliki sahabat-sahabat baru.
Niken, Ary, Vita, Mba Dwi, dan segenap penghuni Dago 186, tetangga sebelah yang pintunya selalu terbuka 24 jam, awas ada pencuri!
Irma, sahabat lama yang selalu bisa menghiburku, yang sekarang rajin nginep di lab, duh jadi sering kesepian aku.
Dan masih banyak lagi…

Sahabat di dunia maya tak kalah banyak juga.
Ada Catur dan Awan, alumni Teknik Planologi ITB angkatan 2000, yang sekarang sama-sama kerja di Bappenas, meski mereka beda divisi, bahkan gedung, tapi gajinya tetap sama, dan sama-sama suka ngomong ‘kaclut’ (artinya apa ya?).
(Dulu) ada Adi Onggoboyo, yang tulisannya begitu enak dibaca, tapi sekarang menghilang dari dunia per-blog-an.
Ada Zaki EL01 yang suka ngomong ‘kikuk’.
Ada Yustika yang suka bola.
Ada Yuti yang kadang aku susah memahami tulisannya, bahasanya lumayan ‘tinggi’.
Ada Mita yang tiba-tiba ngasih kejutan dengan undangan walimahannya.
Ada Sigit yang… ah, no comment :)

Dan masih banyak lagi, aku jarang bertemu mereka, bahkan ada yang sama sekali belum pernah ketemu aku (ya kan Cat?), tapi aku selalu membaca blog mereka. Kenapa? Ya, karena aku suka membaca tulisan orang, itu aja.

Sebenarnya masih banyak sahabatku di dunia maya, tapi ga bisa aku tulis semua. Buat yang namanya tidak tertulis, gpp ya.. aku pikir nama-nama di atas telah cukup mewakilkan kalian :)


Artikel terkait:
Dec '05
30

Catatan Akhir Tahun (5): Tentang Lingkungan Tempat Tinggal

Files under Diary | 2 Comments

Terima kasih buat:
Ibu kosku, yang sering ngangkatin jemuranku yang udah kering, kalau aku males ngambil, wuaaa… dasar!! jangan ditiru ya..
Bapak kosku, yang pernah nawarin untuk ngantar aku ke stasiun saat mudik karena khawatir ga ada angkot pas hari raya, juga ngantar ke dokter saat aku sakit.
Ibu penjual mie ayam, yang telah menunjukkan padaku tempat kos yang nyaman ini.
Bapak penjual somay, yang sering mangkal siang hari di samping kosku.

Dan juga…
Mereka, para pedagang Pasar Simpang Dago.
Kalau aku pingin martabak telor, aku pilih martabaknya Pak Sofyan yang asli Cilacap, sambil mengetes bahasa jawa kramaku supaya ga lupa.
Kalau aku pingin martabak manis, aku pilih martabak Legit yang murah meriah, aku suka rasa dobel pisang, ingat lho DOBEL PISANG (ada dobelnya, biar mantap!) dan bukan rasa keju, coklat, atau sebagainya. Cuma 5ribu perak.
Kalau aku pingin es shanghai, aku pilih es shanghai Fadhillah, aku dan Diana telah menjuluki ini es shanghai paling enak di dunia.
Kalau aku pingin bubur kacang hijau, aku tinggal nyeberang jalan, langganan nih, kacang hijau pakai susu itu yang paling enak, hanya 2500 perak.
Kalau aku pingin roti bakar, aku pilih yang di tikungan Tubagus Ismail, aneka rasa.
Tapi sayang, kalau aku pingin pisang bakar, harus ke Cafe Madtari di dekat bypass Sulanjana.
Pagi-pagi, di sini ada kue pukis yang cukup murah, 250 perak per kue. Kalau sore hari harga kue pukis di sini jadi 600 perak per kue lho.
Sore-sore, ada molen campur yang sangat menggoda hati. Molen isi pisang itu biasa, tapi pernah coba ga molen isi coklat, kacang hijau, nanas dan nangka? Tapi harganya naik, dari 250 perak menjadi 300 perak.
Kalau aku pingin ikan bakar, aku pilih ikan bakar asli Ponorogo, asik ada temen buat ngomong jawa lagi.
Kalau aku ingin ayam… hehe, aku ga suka ayam tuh, jadi ga pernah beli ayam.
Oya.. ada satu yang terlupa. Kalau aku pingin durian, di sini tiap siang menjelang sore ada mobil durian. Murah lho, kalau di supermarket harga durian bisa mencapai 70ribu per buah. Di sini satu buah durian ada yang cuma 12ribu (hasil tawar menawar).
Sayangnya, bubur ayam di sini sangat mahal, 7ribu perak per porsi, tapi lumayan banyak juga sih.
Trus, aku belum menemukan sate kambing yang seenak saat aku tinggal di asrama dulu.

Pasar Simpang Dago, benar-benar tak ada matinye!
Pagi hari jam 3 sudah ramai akan pedagang sayuran, sampai menjelang siang hari. Siang hari baru terlihat agak sepi, inilah saat di mana kemacetan di daerah Simpang Dago boleh dibilang minim. Tapi pedagang di dalam pasar juga masih banyak. Sore hari, pedagang-pedagang sayuran udah pada pulang, mulailah berdiri tenda-tenda pedagang dari martabak, roti bakar, sampai makanan-makanan berat. Mereka berjualan sampai tengah malam menjelang pagi. Setelah mereka pulang, kembali lagi pagi-pagi pedagang sayuran menggelar jualannya, sampai bikin jalanan macet.

Denger-denger, Pasar Simpang Dago mau digusur, oh NO!!
Bukan hanya mereka para pedagang itu yang akan kehilangan pekerjaannya, aku juga akan sangat kehilangan!


Artikel terkait: