Nov '05
4

Bagian 4 dari 10 tulisan

Files under Artikel | Leave a Comment

Cintaku, aku menang selalu!

Inilah kompetisi berkorban, berlari menuju Allah. Seperti dia yang takjub pada keindahan surga, ‘Umar bin Al Hammam. “bakh… bakh… ”, katanya. Waktu menghabiskan sebuah kurma yang sudah ada di mulut terasa begitu lama baginya untuk menyambut seruan kompetisi. Inilah perasaan seorang pemenang. Ia memuntahkan kurma itu dan mengatakan, “Aku mencium wanginya surga dari baik bukit ini”.
Medan Badar dan Uhud menjadi saksi betapa banyak kompetisi agung ini terjadi. Bahkan di antara ayah yang pincang dan anak yang terlalu belia, sampai salah satunya berkata, “Kalau saja bukan surga tujuan kita, tentu aku akan mengalahkan ayah…”.
Takkan surut walau selangkah. Takkan henti walau sejenak. Cita kami hidup mulia atau mati syahid mendapat surga (shoutul harakah : gelombang keadilan).


Artikel terkait:
Nov '05
3

Bagian 3 dari 10 tulisan

Files under Artikel | Leave a Comment

Ketegaran Akhlaq

Mereka menghayati betapa nikmatnya ketika ragam persoalan hidup yang senantiasa membutukan akal dijawab Islam. Memuaskan. Mereka tersenyum. Tak perlu lagi bingung menduakan dunia dan akhirat. Mereka tertawa, tak lagi merancukan hak Allah dan hak manusia. Mereka bersujud, mendekati Allah di keheningan. Dan mereka membukakan tangan, mencari ridhaNya di keramaian.
Mereka mentaati dalam hati yang hangat, ketika Allah dan Rasul telah mengikat. Mereka menyelami lautan karunia Allah dengan kejernihan tahmid, kebeningan syukur, dan kemurnian pengabdian. Mereka mengarungi titis-titis musibah dengan percik-percik sabar, kelembutan qanaah, dan harmoni tawakkal.
Bukankah kehidupan ini rasanya hanya nikmat dan musibah? Bukankah iman itu memang setengahnya adalah syukur, dan separonya adalah sabar? Bukankah dua-duanya membuat Allah, ridhaNya, dan surga kiat dekat?


Artikel terkait:
Nov '05
1

Bagian 1 dari 10 tulisan

Files under Artikel | Leave a Comment

Menjemput keajaiban dua kalimat

Maka gemuruhlah Makkah dan Madinah oleh lantunan takbir dan talbiyah, ketika sunyi membungkam Roma dan Konstatinopel dalam kekakuan dogma.
Maka hangatlah diskusi-diskusi di Bashrah dan Kufah, saat Genoa dan Venesia dihantui inkuisisi.
Maka bersinarlah perpustakaan Kairo, ketika para dukun komat-kamit di kegelapan Lissabon.
Maka gemerlaplah Baghdad oleh lantunan ayat di semarak malam, ketika Paris gulita sejak senja dalam takhayul dan mitos.
Maka gemericiklah air mancur Damaskus dalam kesucian thaharah ketika para “bangsawan” di London menganggap mandi sebagai aktivitas berbahaya.
Maka berdengunglah ayat-ayat Allah menjelang buka puasa dengan sajian kurma, yoghurt, serta buah segar di balkon-balkon pualam Cordoba dan Granada, saat Kathedral di Wina dan Biara di Bern menutup makan malam dengan pudding darah babi.


Artikel terkait: